Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 73 – Gondang Wates

Lawan Sayoga lekas berkelit dan sangat gesit. Gerak Ki Sarjuma begitu tangkas, dan sepertinya kelincahan itu sama sekali tidak berhubungan dengan usianya yang menuruni lembah. Sepasang kakinya berayun sungguh hebat serta sulit dibedakan antara serangan dan pertahanan. Sekelebat ia terlihat mengangkat kaki untuk menghindari tebas senjata Sayoga, seketika itu pula kakinya menyerang bagian tubuh yang mematikan.

Perkelahian yang tidak dapat dikatakan berat sebelah apabila pengamatan berdasarkan yang berada pada dua tangan mereka. Dua telapak tangan Ki Sarjuma adalah senjata yang tak kalah mematikan bila dibandingkan dengan senjata tajam.  Bahkan, kekuatan yang tersimpan pada tangan kosong itu jauh lebih berbahaya karena desir anginnya mampu membuat kulit pohon terkelupas. Begitu seru perkelahian yang terjadi pada lingkaran Sayoga, maka jarak tidak lagi menjadi pembeda yang cukup besar. Adakala mereka berkelahi dalam jarak sangat dekat dan cukup rapat, tak jarang mereka berkelahi dalam jarak menengah. Sejauh itu pertarungan mereka sepertinya menjadi puncak pertempuran di Watu Sumping.

Nyaris sepanjang jalan yang berada di sebelah selatan banjar pedukuhan telah dipenuhi lingkaran-lingkaran kecil perkelahian. Bukan perang campuh meski sebagian orang tiba-tiba berbalik lalu menyerang lawanyang berada di belakang punggung mereka. Itu tidak saja dilakukan pasukan Raden Atmandaru, para pengawal pedukuhan pun berbuat sama. Setiap lingkaran begitu rapi salaing mengurung lingkaran yang lain. Kadang-kadang mereka berloncatan bertukar lawan. Siasat yang dirancang Agung Sedayu seakan berubah menjadi dinding yang sanggup membatasi gerakan lawan yang kebanyakan telah bersenjata telanjang. Pertempuran belum berlangsung lama, belum ada orang yang roboh di antara mereka, meski demikian peperangan tidak berjalan lambat.

Ki Panuju yang terikat pada perkelahian tidak seimbang mengenali kebanyakan anak-anak muda Gondang Wates. “Mereka sering menyambangi padepokan Ki Widura. Mungkinkah mereka juga menguasai cambuk?” pikiran Ki Panuju bertanya-tanya. Ki Panuju tidak segera membuat perintah, ia lebih memilih untuk menggeser lingkar perkelahiannya sambil bertanya-tanya tentang kedudukan Marmaya.

loading...

“Saya melihatnya di sayap utara, Ki Lurah,” jawab seorang pengawal sebelum mencampuri perkelahian Ki Panuju.

“Tarik seorang kawan, aku akan mencari Marmaya,” kata Ki Panuju.

“Segera!” sahut pengawal dan kemudian ia bersuit nyaring dengan nada yang hanya dikenali oleh kelompoknya. Bergegaslah datang dua pengawal yang secara hebat menyerbu pasukan Raden Atmandaru yang memenuhi lingkar perkelahian Ki Panuju.

Rupanya pengawal pedukuhan telah dapat membedakan lawan dan kawan. Mereka mengenali tanda pembeda yang melingkar pada bagian atas setiap lengan lawan. Marmaya yang memberi tahu perbedaan itu setelah mengingat keras setiap tanda yang melekat pada lawan.

Di sayap utara, Marmaya melakukan gebrakan yang luar biasa. Ia terkurung oleh tiga orang lawan yang berkelahi dengan sengit. Tubuhnya berkelebat dan menghindari serangan demi serangan dengan tangkas. Kaki dan tangan Marmaya bergerak cepat namun belum mengubah kedudukan. Ia masih terhimpit aliran serang yang menggelora dari barisan lawan.

Ketika Ki Panuju dapat melihat bayangan Marmaya, lurah Mataram itu segera berteriak, “Marmaya! Hanya mereka yang boleh tumbang di tanah ini!”

Tanpa menoleh sumber suara, Marmaya tersentak! Ia sadar bahwa ia berkelahi tanpa senjata, sedangkan cambuk masih rapi membelit pinggannya. Tanpa suara Marmaya mengurai benda lunak berukuran panjang, menyentak sendal pancing dan segera menerjang barisan pengepungnya. Begitu cambuk Marmaya berkelebat memenuhi udara, sekejap itu pula kepungan menjadi sedikit longgar.

“Hey, orang-orang Gondang Wates! Keluarkan senjata kalian. Senjata yang sangat akrab dengan kalian!” suara Marmaya terdengar mengguntur.

Tiba-tiba puluhan cambuk pengawal pedukuhan segera meledak-ledak. Menyambar setiap bagian tubuh lawan. Meskipun belum memperlihatkan perkembangan mendadak, namun ledakan yang beruntun memecahkan udara Gondang Wates telah mengirimkan rasa jerih pada lawan mereka.

Perlahan-lahan kepungan tidak lagi serapat sebelumnya. Dalam waktu itu, pengawal Gondang Wates seperti mendapatkan tenaga baru dan semangat baru. Mereka yakin dapat menguasai keadaan ketika pertempuran semakin memakan tempat lebih luas. Jangkauan senjata para pengawal membuat perubahan tetapi masih dapat diimbangi oleh kemampuan pribadi para pengikut Raden Atmandaru.

Ki Dirgasana, yang berada puluhan langkah dari Marmaya, mengetahui perkembangan itu dan ia dapat menduga bahwa penyebab utama adalah pemilik suara yang mengguntur sebelumnya. Ia berusaha keluar dari kepungan gelar pengawal yang menyusun barisan berderet-deret tiga. Ki Dirgasana yang  menguasai ilmu tinggi dapat merasakan bahwa tidak mudah baginya melepaskan diri dari tekanan deret tiga pengawal pedukuhan.  Namun dengan lambaran tenaga cadangan dan olah gerak yang hebat, pemimpin pasukan Raden Atmandaru ini dapat keluar kepungan dengan bersusah payah. Ia melesat, menerabas dan membuat jalan darah sehingga banyak gelar pengawal yang menjadi kacau-balau.

Tubuh Ki Dirgasana meluncur deras, sesekali melayang di atas kepala pengawal pedukuhan sambil tetap menebar serangan maut. Sesaat lagi ia akan tiba dan berhadap-hadapan dengan Marmaya!

Keributan-keributan yang terjadi di sepanjang jalur Ki Drigasana memancaing perhatian orang yang menjadi mangsanya. Marmaya berpaling, sekilas ia melihat bayang yang seperti terbang sangat deras sedang membidik ke arahnya!

“Aku tidak takut mati, tetapi pengawal pedukuhan membutuhkan satu suara!” tegas Marmaya dalam hatinya. Maka ia berdiri dengan sikap menantang Ki Dirgasana.

Benturan keras terjadi!

Cambuk Marmaya mematuk bagian bawah kaki Ki Dirgasana, tetapi lawannya sangat gesit berkelit dengan gerakan yang luar biasa sulit. Sekejap kemudian mereka bertukar serangan lalu mendadak Marmaya menjauh, berlarian di sela-sela lingkaran perkelahian dan keadaan pun kembali menjadi kacau.

“Sipat kucing! Pengecut!” maki Ki Dirgasana dengan geram saat mendapat Marmaya selau berusaha menghindari tatapan langsung dengannya.

Wedaran Terkait

Kiai Plered – 83 Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 88 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 87 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 86 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 85 – Randulanang

kibanjarasman

2 comments

Joehardono 08/05/2021 at 21:40

Alhamdulillaah.
Matur nuwun Ki Banjarasman…

Reply
kibanjarasman 30/05/2021 at 11:01

matur nuwun rawuhipun ki

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.