0%
Still working...

Membidik 5 – Agung Sedayu Mengungkap Rahasia Raden Atmandaru

Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat

Dironda 245 kali

“Seperti apakah laporan dari petugasmu, Agung Sedayu?” Pertanyaan Untara terdengar seperti sabetan benda tajam yang menggores jantung Agung Sedayu. Saat itu ia merasa sulit membedakan kedudukan Untara sebagai seorang tumenggung atau sebagai kakaknya.

Namun keadaan telah menyadarkan Agung Sedayu bahwa pertanyaan kakaknya telah menempatkan Untara sebagai seorang tumenggung. Hanya saja ia membutuhkan waktu sejenak.

“Ya. Saya akan menguraikan laporan dengan gamblang walau nantinya akan memunculkan dua pendapat yang berbeda. Raden Atmandaru atau yang disebut sebagai Panembahan Tanpa Bayangan adalah orang yang sama dengan yang kita kenal sebagai Pangeran Ranapati. Sejumlah pengamatan dan penyelidikan yang kami lakukan selalu bermuara pada satu sosok, pada satu orang saja dan selalu orang yang sama.

“Salah satu kelemahan kami pada saat melakukan pengamatan adalah kami tidak mampu melihat pergerakan yang sebenarnya mengalir sangat deras di bawah telapak kaki Raden Atmandaru. Sungguh, para petugas kami tidak dapat mengetahui jika sebenarnya ada sekumpulan orang dalam jumlah cukup besar, mungkin segelar sepapan, yang telah siap mengangkat senjata untuk menggantikan Panembahan Hanykrawati.”

Mendengar penjelasan Agung Sedayu, Untara mengusap dagunya lalu katanya, “Saya tidak atau belum dapat membenarkan kesimpulanmu. Karena satu hal telah mengangguku, maka aku ingin bertanya padamu, bagaimana engkau dapat melonggarkan ikatan dengan Mataram?”

“Sesuatu yang tidak mungkin dapat saya lakukan adalah melepas ikatan itu, Kakang. Mungkin saya dapat dinilai telah melakukan kecerobohan, mungkin itu benar. Tetapi..”

“Engkau menemui pilihan sulit jika itu menyangkut kitab dari Kiai Gringsing?” sahut Ki Widura sebelum Agung Sedayu menuntaskan jawabannya.

“Benar.”

“Ataukah karena karunia yang telah bersemayam di dalam Sekar Mirah?” Untara menambahkan.

Seperti orang yang tengah menerima tuduhan-tuduhan dalam sebuah pengadilan, Agung Sedayu merasa tidak begitu nyaman dengan lontaran pertanyaan yang mengarah padanya. Tetapi ia bukan orang yang bersalah walau orang akan menganggapnya telah ceroboh. Tetapi bukankah aku juga mempunyai keterbatasan? Pikir Agung Sedayu.

“Paman, Kakang dan engkau, Sabungsari. Saya tidak akan mencoba menjelaskan itu semua karena saya pikir jika keterangan-keterangan dari petugas sandi telah dikumpulkan maka segalanya akan menjadi benderang,” ucap Agung Sedayu setelah menarik napas dalam-dalam.

Ketiga orang itu mengangguk setuju. Namun Sabungsari menjadi serba salah karena ia berpikir telah berada dalam waktu yang keliru. Walaupun begitu, ia percaya bahwa Agung Sedayu akan melewati malam di beranda dengan cara yang istimewa.

Agung Sedayu lantas menerangkan segala yang diketahuinya di depan tiga orang yang mempunyai pengaruh penting di Jati Anom. Dari peristiwa kebakaran yang menimpa pasar induk di Tanah Perdikan Menoreh, perkelahian di tepi Kali Progo hingga gelanggang pertempuran di sungai Jati Anom. Scara berurutan dan begitu jelas ia mengisahkan semuanya, tetapi ia belum menyinggung tentang keberadaan Swandaru. Derap jantung Agung Sedayu berpacu lebih cepat dibandingkan kuda-kuda yang berada di garis depan. Ia membutuhkan ketenangan berlebih untuk mengatasi gejolak dalam hatinya.

Malam telah melewati pertengahan dan Agung Sedayu belum menyinggung keadaan Swandaru. Sementara Ki Widura, Sabungsari dan Ki Untara masing-masing menampakkan raut wajah sungguh-sungguh untuk menyimak kata demi kata dari senapati pasukan khusus Mataram itu. “Kita akan membicarakan tentang siasat terbaik setelah kedudukan pengikut Raden Atmandaru atau Pangeran Ranapati telah diketahui secara persis,” berkata Ki Tumenggung Untaradirga. “Kita juga masih menunggu laporan para petugas yang sedang mengumpulkan bahan di Tanah Perdikan. “

“Aku pikir sebaiknya engkau juga mengabarkan perihal ini pada Ki Patih Mandraka,” kata Ki Widura.

“Saya tidak ingin membantah pendapat Paman, tetapi waktu yang kita miliki hanya selonggar ini,” tanggap Ki Untara dengan melingkarkan telunjuknya pada ibu jari.

“Aku dapat melihat itu,” ucap Ki Widura, “kita semua dapat menilainya. Namun demikian, Jati Anom tidak dapat meninggalkan Mataram meski, dengan pandangan sempit, kita dapat berdalih bahwa keadaan sangat mendesak. Apa pun itu, kehadiran Raden Atmandaru di wilayah ini adalah satu gangguan bagi Mataram. Ki Patih Mandraka dan Panembahan Hanykrawati sudah semestinya tahu.”

  • Membidik, ini satu bagian dari kisah seru adu siasat antara Raden Atmandaru vs Agung Sedayu. Bukan sekadar pendekar tapi juga jenius militer. Ini bukan promosi meski terkesan begitu.
  • Siasat yang kadang tak begitu rumit tapi terasa menghentak karena sebagian atau seluruhnya itu bertujuan menghancurkan jiwani lawan. Seperti yang dikatakan oleh seseorang: “Apakah engkau telah menjadi bodoh atau Sangkal Putung memang berisi orang-orang bodoh macam sepertimu?” di Geger Alas Krapyak 21.
  • Dan karena fakta sejarah bahwa Jawa sudah kedatangan bangsa asing, maka novel Bara di Borobudur pun juga menghadirkan peran mereka dalam rangkaian kisah. Pendadaran 3 menjadi langkah pertama.

 

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.