Agung Sedayu lantas menerangkan segala yang diketahuinya di depan tiga orang yang mempunyai pengaruh penting di Jati Anom. Dari peristiwa kebakaran yang menimpa pasar induk di Tanah Perdikan Menoreh, perkelahian di tepi Kali Progo hingga gelanggang pertempuran di sungai Jati Anom. Secara berurutan dan begitu jelas ia mengisahkan semuanya, tetapi ia belum menyinggung tentang keberadaan Swandaru. Derap jantung Agung Sedayu berpacu lebih cepat dibandingkan kuda-kuda yang berada di garis depan. Ia membutuhkan ketenangan berlebih untuk mengatasi gejolak dalam hatinya.

Malam telah melewati pertengahan dan Agung Sedayu belum menyinggung keadaan Swandaru. Sementara Ki Widura, Sabungsari dan Ki Untara masing-masing menampakkan raut wajah sungguh-sungguh untuk menyimak kata demi kata dari senapati pasukan khusus Mataram itu. “Kita akan membicarakan tentang siasat terbaik setelah kedudukan pengikut Raden Atmandaru atau Pangeran Ranapati telah diketahui secara persis,” berkata Ki Tumenggung Untaradirga. “Kita juga masih menunggu laporan para petugas yang sedang mengumpulkan bahan di Tanah Perdikan. “

“Aku pikir sebaiknya engkau juga mengabarkan perihal ini pada Ki Patih Mandraka,” kata Ki Widura.

“Saya tidak ingin membantah pendapat Paman, tetapi waktu yang kita miliki hanya selonggar ini,” tanggap Ki Untara dengan melingkarkan telunjuknya pada ibu jari.

“Aku dapat melihat itu,” ucap Ki Widura, “kita semua dapat menilainya. Namun demikian, Jati Anom tidak dapat meninggalkan Mataram meski dengan pandangan sempit, kita dapat berdalih bahwa keadaan sangat mendesak. Apapun itu, kehadiran Raden Atmandaru di wilayah ini adalah satu gangguan bagi Mataram. Ki Patih Mandraka dan Panembahan Hanykrawati sudah semestinya tahu.”

Ki Tumenggung Untaradirga tidak dapat menolak pendapat pamannya. Ketika itu, panggraita Untara mendesaknya untuk melihat Agung Sedayu. Untara tidak dapat dikelabui bahwa sebenarnya ia dapat merasakan suasana hati adiknya. Tetapi ia menahan diri dan menunggu hingga Agung Sedayu menyatakan ke permukaan.

Tatap mata Untara ternyata sanggup menyusup masuk ke dalam jantung Agung Sedayu, lalu menjelajah setiap rongga yang berada di hatinya. Merasa bahwa kakaknya tengah memandang penuh arti padanya, Agung Sedayu dengan mata sedikit tergenang lalu memaksa diri untuk mengungkap perihal Swandaru.

“Anda sekalian telah paham dan benar-benar mengerti kedudukan adi Swandaru di dalam hati saya. Jadi saya ingin katakan bahwa saya tidak mengetahui dengan sebenarnya keberadaan adimas Swandaru untuk saat ini,” suara Agung Sedayu menggelepar sendu.

Tiga orang di sekitarnya mengeluarkan seruan tertahan. Walau mereka sedikit bingung menerima kenyataan bahwa Swandaru telah menghilang, tetapi ketiga berkeras untuk menunggu kata-kata selanjutnya dari Agung Sedayu.

Ia berusaha menahan diri untuk tidak menempatkan kedudukannya sebagai orang yang lalai dan ia akan menjelaskannya pada mereka. “Mungkin saya dapat dianggap bersalah atau lalai, tetapi perkelahian itu, kekuatan Ki Suladra benar-benar berada di ambang batas tertinggi,” Agung Sedayu mengenangkan untuk mereka, “bahwa pertaruhan memang sungguh-sungguh terjadi.”

“Bagaimana itu?” bertanya Untara seraya menutup wajah dengan sepenuh telapak tangan.

“Pilihan yang ada bukanlah jalan yang sama-sama memberi ketenangan. Saya tidak dapat mengurangi tekanan, karena jika itu terjadi, saya akan kehilangan nyawa dan adi Swandaru semakin dapat dipastikan bakal jatuh ke tangan mereka. Pada saat kami bertempur, adi Swandaru telah terkulai. Ia roboh tanpa daya meski untuk mengangkat lengannya. ” Himpitan di dalam dada Agung Sedayu benar-benar membuatnya sulit bernapas longgar. “Namun dengan mengimbanginya dengan segenap ilmu, saya dapat mempertahankan diri namun yang terjadi benar-benar di luar perkiraan.”

“Ya, ya, aku dapat mengerti suasana itu,” Ki Widura menanggapinya.

“Paman,” lanjut Agung Sedayu, “sebenarnya rencana untuk menculik adi Swandaru telah mereka nyatakan secara terbuka. Saya mendengar itu karena mereka berbincang keras.”

“Mereka telah merencanakan itu?” tanya Sabungsari.

“Boleh jadi itu adalah sebuah susulan ketika mereka tidak menemui harapan untuk meringkus kami berdua.” Usai Agung Sedayu mengucap kata, Ki Untara mengulangi secara singkat keterangan itu. Ia dengan bersungguh-sungguh meyakinkan dirinya sendiri bahwa adiknya telah berusaha sekuat tenaga, sementara Ki Widura dan Sabungsari pun sama sekali tidak meragukan Agung Sedayu.

Setelah berusaha menenangkan diri, Sabungsari memberi pendapatnya, “Ki Tumenggung. Kepastian tentang rencana sepertinya tidak dapat dilakukan sekarang. Pembahasan tentang kakang Swandaru dan keadaan lain sepertinya membutuhkan waktu yang berbeda dari suasana sekarang.”

“Anak lelaki satu-satunya dari pemimpin Sangkal Putung telah diculik orang…hmmm… Itu akan menjadi aib besar bagi Mataram jika mereka mendengungkan itu hingga pelosok negeri,” geram Ki Untara. Ia mengambil napas sejenak, lalu berkata lagi, “Tetapi itu adalah kenyataan yang harus kita terima dan kita akui sebagai musibah.”

“Musibah?” Ki Widura mengerutkan kening.

Agung Sedayu mengangguk, ia menyela, “Musibah karena adi Swandaru mempunyai peran penting ketika Panembahan Senapati membuka Alas Mentaok. Peran yang terus dijalankannya dengan baik hingga peralihan pimpinan.”

“Tentu saja, tentu saja,” gumam Ki Widura setelah menerima penjelasan masuk akal dari Agung Sedayu. “Tentu saja mereka mempunyai harga jika harus melepaskan Swandaru.”

Ki Untara berpaling pada adiknya, kemudian katanya pada Agung Sedayu, “Ambillah masa untuk istirahat. Engkau akan beristirahat di sini, di bilik yang menjadi tempatmu di masa lalu. Mungkin itu, karena aku berharap seperti itu, bahwa engkau akan memulihkan segenap hati dan perasaanmu. Di tempat itu, mungkin engkau akan mengingat kembali kata-kata ayah atau gurumu. Mungkin engkau akan terbenam ke dalam sesuatu yang tidak aku tahu dan memang tidak akan dapat diketahui oleh siapapun di sini. Hanya engkau, Agung Sedayu.”

“Aku akan kembali ke garba ibu. Aku tidak tahu apa yang akan muncul dalam pikiranku bila telah berada di dalam bilik itu. Mungkin benar kata kakang Untara bahwa aku sedapatnya mampu melihat ke bagian dalam diriku. Sekalipun bilik itu lebih sering dalam suasana gelap, bisa jadi, matahari akan bersinar cerah di dalamnya.” Hati Agung Sedayu mengungkap kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *