Kerumunan orang. Begitu banyak. Mengucap kata yang tidak jelas kau dengar. Pada waktu itu, aku melihatmu berada di dekat mereka. Aku memandangmu dengan heran. Aku terpana. Kau menatap mereka dengan ja...
Terurai. Ia bertemu denganku di sudut kota. Necis. Perlente dan kewanitaan berpadu dalam dirinya. Ia panjang cerita tentang usahanya. Ia berkata tentang kawannya yang memenuhi alun-alun kota kelahiran...
Mentari masih malu menampakkan cahayanya tapi aku sudah duduk dekat tungku, walau ada resah itu namun harapan tak pernah padam mengintip dari celah dedaunan. Sementara itu. Di sudut lain aku memperhat...
Liris ini disusun secara terpisah. Berawal dari tugas yang saya berikan melalui WA status. Tiap cantrik mentrik mengirim bait-bait di bawah melalui jalur pribadi. Mereka tidak akan tahu mana yang hasi...
Dia terbahak-bahak. Menggema. Menggetarkan pohon-pohon kering di pekarangan Pak Kemplo. “Eladalah (kata seru Jawa)! Tobat tobat!” seru Pak Kemplo berlarian dengan dua tangan memegang kening. Orang-or...
Masih belum jemu membuat prosa liris secara keroyokan..dengan semangat 45, serombongan emak kembali menggelar liris yang lumayan panjang..berpeluh mata dan keringat dingin, bara menyala tuntaskan lati...
Tak mudah terbakar. “Aku gelisah”, ucapnya ketika rusa menelannya bulat-bulat. Aku bukan pencabut nyawa. Riang manusia melukis tubuhku. Bahkan mereka mengandalkan aku saat musim hujan tiba...
Ki Rangga Agung Sedayu dengan daya ingat sangat tajam segera membandingkan dengan keadaan pesanggrahan Poh Pitu di masa lalu. Terkenang olehnya sikap Ki Jayaraga yang tidak dapat menahan diri untuk se...
Kegelisahan mulai mencekam Ki Sanggabaya. Seandainya bukan karena tugas dan rencana yang telah disusun bersama dengan Ki Rangga Agung Sedayu, ia sudah barang tentu meninggalkan tempat itu. “Malam tela...



