Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Lanjutan Api di Bukit Menoreh

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 6

Ki Rangga Agung Sedayu dengan daya ingat sangat tajam segera membandingkan dengan keadaan pesanggrahan Poh Pitu di masa lalu. Terkenang olehnya sikap Ki Jayaraga yang tidak dapat menahan diri untuk segera membuka sumbatan. Karena air yang mengaliri sawah-sawah di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya telah  dibendung oleh orang-orang Ki Tumenggung Wirataruna, maka ia mendatangi pesanggrahan bersama-sama Ki Jayaraga dan beberapa orang Tanah Perdikan. Dalam peristiwa itu, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu dapat menghindarkan perkelahian yang lebih jauh setelah bertemu dengan Ki Tumenggung Wirataruna.  Dalam pertemuan di pesanggrahan yang terjadi pada tengah malam, penglihatan tajam Ki Rangga Agung Sedayu mampu memahat pada dinding jantungnya setiap sudut dan pertanda yang ada di sekitarnya. Keningnya berkerut, ia sedikit terkejut atas perubahan yang banyak terjadi di sekitar pesanggrahan. Dinding yang terbuat dari kayu-kayu kelapa setinggi orang dewasa berdiri mengelilingi halaman pesanggrahan. Beberapa rumah kecil berdiri dan teratur rapi mengelilingi pesanggarahan. Lampu-lampu minyak serba sedikit tergantung di bagian depan rumah-rumah kecil yang bertebaran di sekitar pesanggrahan. Selain itu, beberapa utas tali yang panjang melintang di atas permukaan danau.

“ Dua utas tali melintang di atas air? Untuk apakah? Apa sebenarnya yang terjadi di sini?” desis Agung Sedayu dalam hatinya. Gelapnya malam agaknya tidak menjadi penghalang bagi Agung Sedayu untuk mengamati keadaan di balik dinding kayu.

Halaman pesanggrahan diterangi berupa oncor biji jarak terpasang dengan tangkai panjang di beberapa tempat. Dalam keremangan yang menyelemuti halaman tidak terlihat orang melakukan kegiatan. Suasana begitu sepi dan sunyi. Namun Ki Rangga Agung Sedayu belum merasa perlu untuk menyalurkan tenaganya untuk menembus kegelapan. Ki Rangga Agung Sedayu  mengawasi dari atas sebatang pohon trembesi yang tumbuh di dekat regol halaman. Tak jauh darinya, Ki Lurah Sanggabaya juga melakukan pengamatan dengan memeriksa tali temali yang mengikat kayu kepala yang tegak berdiri menjadi dinding. Gerimis semakin tipis namun angin sedikit kencang datang melanda lereng Merapi. Dalam pada itu, kedua orang dari pasukan khusus mengetahui sekelompok orang berjalan menuju ke arah mereka. Ki Lurah Sanggabaya merapatkan punggungnya membelakangi dinding kayu, sementara Ki Rangga Agung Sedayu menyamarkan kehadirannya dengan bertelungkup pada dahan tempatnya berjongkok.

Tatap tajam Agung Sedayu menembus keremangan, ia dapat melihat senjata yang tergantung di pinggang satu dua orang. Sedangkan yang lain ada yang menjinjing tombak panjang. Dan ada satu orang yang mengalungkan rantai pada lehernya. Melihat langkah kaki mereka yang terayun, Agung Sedayu dapat memastikan jika para perondan adalah sekumpulan orang terlatih.

loading...

“Mungkin saja mereka ini selapis dengan pasukan khusus. Tetapi aku tidak boleh gegabah,” katanya dalam hati.

Beberapa langkah di belakang regol, ada sebuah batu yang cukup besar. Agaknya Ki Tumenggung Wirataruna sengaja menempatkan sebongkah batu hitam itu agar halaman mengesankan pemandangan yang wajar. Satu orang diantara mereka berjalan ke batu hitam dan duduk diatasnya. Teman-temannya segera berhenti dan duduk di sekelilingnya.

“Apakah Eyang Kalayudha menjatuhkan perintah untuk menyerang pedukuhan induk?” tanya orang yang duduk di atas batu untuk pertama kali.

“Tentu akan menjadi sesuatu yang menyenangkan kalau itu benar terjadi,” kata orang yang menjinjing tombak panjang.

“Ki Sukmana, kau pasti telah membayangkan harta benda yang ada di dalam rumah-rumah besar milik para saudagar? Berhentilah berpikir seperti itu. Kita berada di sini untuk satu tujuan agung. Kita akan mendudukkan Pangeran Ranapati. Dengan begitu, sudah barang tentu Pangeran Ranapati membalas jasa kita,” kata orang yang memulai percakapan.

“Tidak perlulah Ki Jawardi membohongi diri. Apakah ada perbedaan antara mengambil harta saudagar dengan berharap imbalan? Sedangkan kita sebenarnya sudah mengerti bahwa perselisihan ini mungkin tidak akan memberi apapun kepada kita,” berkata Ki Sukmana yang kemudian menyandarkan tombak di depan dadanya.

“Tentu saja perbedaan itu tetap ada, Ki Sukmana,” kata Ki Jawardi. Lalu katanya lagi,” aku datang kemari meninggalkan rumah dan pesanggrahan bukan untuk sebuah kekayaan semata. Ada sesuatu yang lebih besar daripada kekayaan.”

“Akan tetapi perbedaan itu pada akhirnya menjadi tidak ada, Ki Jawardi,” kata orang yang bersenjata rantai.

Ki Jawardi menatap tajam orang itu. Mereka terdiam untuk beberapa lama. Sambil menarik nafas dalam-dalam, Ki Jawardi berkata,” Ki Lambeyan, kau mencurigai aku jika aku memang mengharapkan imbalan?”

“Jika begitu, maka memang seperti itulah yang kau bayangkan. Ki Jawardi, dengan mengambil peran dalam perselisihan ini sebenarnyalah kita memang berharap akan ada perubahan dalam kehidupan kita ini. Mungkin saja Ki Jawardi akan mengubah pesanggrahan menjadi lebih besar dengan kekuasaan yang dilimpahkan oleh Eyang Kalayudha. Mungkin juga teman-teman yang lain juga seperti itu. Seperti kata Ki Sukmana, mengapa kita membohongi diri sendiri?” orang bersenjata rantai yang bernama Ki Lambeyan menatap lurus Ki Jawardi. Sepasang matanya menatap tajam Ki Jawardi seakan mengaduk-aduk isi hati orang yang berbicara dengannya.

Jantung Ki Jawardi berdentang keras. Katanya,” tutup mulutmu! Setan buduk, kau menuduh orang tanpa bukti. Sedangkan kau bukanlah orang yang harus aku patuhi.” Sekelebat bayangan putih tiba-tiba teracung ke Ki Lambeyan.

“Kau menantangku perang tanding?” tanya Ki Lambeyan.

“Jika itu menjadi jalan untuk menutup mulutmu, marilah kita lakukan!” Ki Jawardi tangkas mengawali denga tata gerak pembukaan. Tak kalah sigap, Ki Lambeyan mengurai rantainya dan kedua kakinya  merendah. Ia sudah siap untuk menerima serangan pertama Ki Jawardi. Sorot mata Ki Jawardi seakan membakar tubuh lawannya. Ia melebarkan jarak kedua kakinya dengan kaki kanan bergeser surut. Tubuhnya sedikit merunduk. Seperti harimau, ia siap menerjang lawannya.

Tiba-tiba kawan-kawannya mengacu senjata mengelilingi Ki Jawardi dan Ki Lambeyan. Kedua orang ini mengedarkan pandangan berkeliling. Agaknya mereka menyadari bahwa satu perkelahian yang tidak jelas akan terjadi.

“Orang-orang bodoh,” kata seorang yang bersenjata pedang seraya bangkit dari duduknya. Perlahan ia bertepuk tangan, lalu katanya, ”cara kalian berpikir sungguh tak dapat aku mengerti. Kita berkumpul di sini dengan satu tujuan. Di balik tujuan itu sudah barang tentu kita telah menyimpan satu tujuan pribadi. Sebenarnyalah kita berada di sini dibawah pimpinan Eyang Kalayudha. Sekalipun kita sendiri belum tentu dapat merebut kekuasaan itu dari Panembahan Hanyakrawati.”

Kemudian ia berkata lagi, ”Jarak pedukuhan induk cukup dekat dari sini. Kekuatan pasukan khusus juga telah kita ketahui. Tetapi Eyang Kalayudha belum mendapatkan bahan tentang kemampuan mereka. Terlebih Ki Lurah Sanggabaya menolak permintaan Eyang Kalayudha untuk berbalik arah. Perwira tua yang tidak dapat berpikir panjang itu dapat menjadi hambatan bagi kita. Karena kita tidak dapat menempatkan orang di dalam barak pasukan khusus. Sedangkan kita semua mengetahui jika pasukan pengawal Pajang nyang sekarang ini telah bertambah jumlahnya dan sudah barang tentu kemampuan mereka ada peningkatan.”

Ki Rangga Agung Sedayu mendengar percakapan dengan jelas. Gelora perasaannya segera membakar jantungnya. Terjawab sudah kegelisahan hatinya tentang Ki Lurah Sanggabaya. Tetapi ia telah mendapatkan kepastian bahwa Ki Lurah Sanggabaya tidak akan memutar arah berhadapan dengannya. Selain itu, Ki Rangga Agung Sedayu tercekam perasaan betapa Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh akan dilanda badai hebat yang mungkin terjadi tidak lama lagi. Kematian, bencana dan semua jerih payah akan luruh dalam satu peperangan. Kehidupan Tanah Perdikan Menoreh akan mundur barang sejenak. Keraguan merambati hati Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga Agung Sedayu dapat saja membawa pasukan khusus di Menoreh dan pasukan yang dipimpin Ki Tumenggung Untara di jati Anom untuk menyerang pesanggrahan kapan saja. Akan tetapi ia sendiri belum mengetahui secara pasti tentang kekuatan kelompok orang yang dipimpin Eyang Kalayudha. Sedangkan waktu terus berjalan dan kekuatan mereka sudah barang tentu dapat bertambah kuat.

“Aku telah turut serta di dalam pasukan khusus sejak pertama kali dibentuk. Mereka akan dapat mengatasi kelompok penentang ini. Akan tetapi aku belum mengetahui kemampuan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk saat ini,” desis Ki Rangga Agung Sedayu membatin.

Namun Ki Rangga Agung Sedayu adalah murid utama Kiai Giringsing dan satu-satunya orang yang berada di puncak tertinggi Perguruan Orang Bercambuk, maka ia dapat melakukan pengamatan ke dalam dirinya. Dalam pada itu, ia juga mampu mengurai persoalan dan memberi penilaian lebih mendalam. Hampir semua orang yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, Mataram hingga pesisir utara telah mendengar nama besar Kiai Gringsing sebagai orang bercambuk yang menggetarkan. Selain itu para pemimpin di Mataram juga telah mempunyai penilaian bahwa dalam diri Ki Rangga Agung Sedayu ada watak serta pengaruh Kiai Gringsing. Rakyat Tanah Perdikan Menoreh mempunyai perjalanan panjang tentang kesedihan dan duka lara. Dari perang antar saudara hingga serangan dari Kecruk Putih telah mereka lewati bersama-sama. Ia segera mengendapkan perasaannya, Ki Rangga Agung Sedayu merasa ia harus mengingat kebersamaan itu. Ia harus berpikir cepat dan dapat mengambil satu putusan dalam waktu dekat.

Orang-orang yang duduk di batu hitam terdiam sejenak mendengar ucapan orang yang bersenjata pedang. Kemudian orang itu berkata lagi, ”seharusnya kalian dapat berpikir lebih jernih dan menelusuri landasan sesungguhnya bergabung dengan Eyang Kalayudha. Karena sering kali kita masih terpengaruh dengan omongan orang lain terhadap diri kita.”

“Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain terhadapku. Aku selalu mengamati diriku sendiri. Bergabung dengan Ki Lurah Sanggabaya dan Eyang Kalayudha telah menjadi seperti kehormatan untukku,” berkata Ki Jawardi.

“Apakah itu berarti kau dapat memahami alasan Eyang Kalayudha memerintahkan kita melakukan ronda?” orang bersenjata pedang yang berbaju lurik ketan itu melanjutkan dengan pertanyaan. Sejenak mereka terdiam dengan pertanyaan itu. ”Ki Jalatunda memang berwawasan luas.  Kiai berkata benar,” kata Ki Lambeyan,” tentu Eyang Kalayudha mempunyai landasan pemikiran yang kuat atas perintah itu.”

“Bagus. Tentu kau tahu kehebatan orang-orang Menoreh yang telah membuat Ki Rambetaji belum kembali hingga larut malam ini,” kata Ki Jalatunda yang terlihat gagah dengan jenggot tipis yang memenuhi dagunya. Tubuhnya cukup tinggi dan lengannya nampak kekar berotot. Dengan mata terbelalak, semua kawan memandang dirinya. Mereka tidak percaya jika Ki Rambetaji yang berilmu tinggi dan merupakan pimpinan satu pesanggrahan yang disegani di wilayah timur dapat ditangkap oleh orang-orang Menoreh.

“Apakah ia tertangkap?” tanya ia orang yang juga bersenjata pedang yang berperawakan sama besarnya dengan Ki Jalatunda.

“Aku tidak tahu. Eyang Kalayudha juga tidak membuat satu kesimpulan sebelum ia mengirim kita mencari Ki Rambetaji di pedukuhan sekitar.”

“Apakah itu berarti kita membawa banyak orang, Ki Jalatunda?” bertanya Ki Lambeyan.

“Aku belum mengetahui itu. Besok pagi-pagi Eyang Kalayudha akan membicarakan dengan kita tentang Ki Rambetaji. Ki Tapa Damar saat ini juga berada di luar pesanggrahan. Ia sedang berada di sekitar barak pasukan khusus.”

Jantung Ki Rangga Agung Sedayu berdentang keras. Pikirannya melayang ke barak pasukannya. Tetapi Ki Rangga Agung Sedayu merasa tenang karena ia tahu kemampuan lurah-lurah prajuritnya. Ia yakin pasukan khusus akan dapat mengatasi keadaan bila Ki Tapa Damar membuat kekacauan di sana. Dalam waktu itu, Ki Rangga Agung Sedayu juga dicekam bayangan kelompok orang yang sedang diamatinya datang menyerbu Tanah Perdikan Menoreh esok pagi. Kekacauan akan menimpa rakyat tanah perdikan. Satu serangan mendadak akan dapat melumpuhkan pedukuhan induk. Ia sementara berharap Ki Lurah Sanggabaya dapat menahan diri.

Sebenarnyalah Ki Lurah Sanggabaya tidak dapat menahan diri. Ia menggeretakkan giginya, otot wajahnya menjadi tegang. Tanpa sadar ia telah mengetrapkan puncak ilmunya. Akan tetapi ia segera teringat tugasnya untuk mengamati pesanggrahan belum selesai. Sambil menarik nafas dalam-dalam,”aku harus dapat mengendalikan diri. Pengamatan ini belum selesai dan aku tidak tahu kemampuan lima orang itu” katanya dalam hati.

Ki Jalatunda menoleh ke belakang. Ia dalam sekejap mendengar hela nafas, lalu tidak lebih cepat dari mata berkedip ia tidak mendengar apa-apa lagi. Dengan memejamkan mata, ia mengangkat tangan meminta kawan-kawannya untuk diam. Ia memusatkan nalar budinya untuk menangkap suara yang tidak berasal dari kelompoknya. Tak lama kemudian keheningan menyelimuti keadaan sekitar halaman. Lima orang pengikut Eyang Kalayudha, Ki Rangga Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Sanggabaya telah mengambil sikap yang sama. Mereka berdiam diri, saling menunggu satu gerakan atau kesalahan dari pihak yang berseberangan.

Tujuh orang itu semakin dalam memusatkan nalar budi akan tetapi belum dapat menyerap bunyi yang mencurigakan. Keraguan menjalari Ki Jalatunda meskipun ia masih meyakini satu hela nafas sempat terdengar olehnya.

Gerimis masih mengguyur lereng perbukitan Menoreh. Sesekali suara petir menggelegar dan bergulung-gulung di langit. Akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang bergerak atau bersuara. Punggung  Ki Lurah Sanggabaya menempel rapat pada dinding dan ia duduk di atas satu tumitnya. Gemblengan keras yang diterimanya di masa muda saat masih menjadi lurah prajurit yang berada dalam kesatuan pasukan khusus dapat membuatnya bertahan untuk diam cukup lama. Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu masih menempel rapat pada dahan tempatnya bertengger.

Ki Jalatunda memberi tanda dengan kedua tangan meminta empat orang kawannya untuk menyebar memeriksa bagian luar dinding halaman. Empat kawannya melayang melompati dinding dengan begitu ringan. Mereka mendaratkan kakinya dengan suara yang begitu pelan.

“Mereka itu orang-orang berilmu tinggi. Mungkin saja berada dalam lapisan yang sama dengan Ki Rambetaji.” Agung Sedayu berdesis dalam hatinya dengan mata yang lurus melihat pergerakan lima orang di depannya.

 

catatan : tulisan ini adalah naskah  LADBM yang terakhir ditayangkan. Selanjutnya Adalah KITAB KIAI GRINGSING

 

Wedaran Terkait

Tentang Kelanjutan Api di Bukit Menoreh

kibanjarasman

Pengumuman : Tidak Melanjutkan ADBM

kibanjarasman

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 5

Ki Banjar Asman

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 4

Ki Banjar Asman

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 3

Ki Banjar Asman

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 2

Ki Banjar Asman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.