Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Lantak, Lantak! Aku Bernyanyi

Masih belum jemu membuat prosa liris secara keroyokan..dengan semangat 45, serombongan emak kembali menggelar liris yang lumayan panjang..berpeluh mata dan keringat dingin, bara menyala tuntaskan latihan terakhir..

Inilah mereka yang patut dibanggakan! Kelas Prosa Liris Wonderland.

===================

Menggenggam di sudut ruang.
Gores pena, ia lepaskan,”Maaak, tak penat kau susui aku.”
Ia berteriak, menangis, menendang namun kau bahagia.
Kau penuhi udara kala ia tertawa.

Memandang separuh wajahnya.
Melihatnya berjalan di antara pundak lelaki.
Mengantarnya.
Emak, ia melihat temaram. Orang berkata “Sabar”.
Ia tak akan kembali.

Tania, perempuan muda terlihat renta. (Ki Banjar Asman)

Pasi wajahmu kini. Ringkih belulang terbalut nestapa.
Sendiri.
Tiada lagi yang mengasihi.
Sepi.
Saput duniawi menyingkir pergi. Seiring pudarnya pesona ragawi.

“Aku tak akan menyerah! Aku pasti kembali!”

Besar tekadmu mengalahkan bongkah daging durjana yang menggerogoti dada.
Kau tipu diri dan berkata,”Aku akan sembuh dan kembali menari.”
Namun kemudian, kau tak berdaya.

Tania, kau segera dilupakan. (Betty)

Kusut!

Seorang perempuan setengah baya penjaja kenikmatan dunia. Berdiri di persimpangan untuk tiga anaknya yang butuh suapan.

“Kau terkutuk, Tania!” teriak bulan di langit gelap.

“Tahu apa kau? Pernahkah kau rasa getir hidupku? Tidak!” Tania berteriak dan menangis.

Umur telah beranjak, tak juga menyurutkan langkahnya tiap malam untuk menunggu lelaki pencari kasih sayang ganda. Berkubang lendir tengah malam, banyak lelaki membantu hidupnya yang penuh rintih dan dosa.

Tania, perempuan dalam gelap malam.
( Wimala Anindita )

Mengenang masa kecilnya, hanya menambah goresan pilu yang menyesakkan dada.

“Merpatiku terbang dan pergi.”

Desahnya sambil berlinang.
Berharap waktu bisa diputar.
Tania sadar bahwa itu mustahil menjadi nyata.

Memandang bingkai penuh gambar. Mengusapnya sesekali. Berharap itu adalah pipì mungilnya.

“Doakan Emak di sini, Nak.”

Tak lelah emak menanti di kursi goyang, tengadah tangan emak berdoa.

Tania, seorang Ibu yang tengah merindu. (Mey Ameida)

Angin malam berhembus dingin. Menerpa wajah keriput yang menikmati kepulan asap sebatang rokok.

“Bertobatlah, perempuan pendosa!” rutuk bintang di sisi purnama.

“Persetan kalian para pengutukku! Kalian tak pernah paham beban kehidupan yang kulalui!” sengit perempuan setengah baya berkain katun berwarna merah menyala.

Desah liar semakin menjadi-jadi.

Liar meradang ketika keringat bercampur keringat yang lain. Mengguyur celah tebing milik tuan dalam semalam.

Tangan kurus melipat lembar uang dan menyelipkan di balik kutang tuanya.
Semua demi tiga mulut kecil dan dua sosok keriput yang mesti ditanggung hidupnya.

Tania, perempuan setengah tua berwajah pucat, terpaksa tersenyum pahit bercampur tangis.

Geram bergejolak di benaknya.

Tania benci pada kehidupan yang dirasanya tak pernah adil. (Pearl)

“Kau sudah renta, tak senikmat dulu lagi!”
Lelaki gemuk bau kecut itu menghinaku, sambil melempar selembar uang.

Di atas kasur apek yang sudah kumal, aku terisak. (Denok)

“Tuhan, inikah yang Kau sebut jalan hidup yang tertulis?”

Memberikan masa muda dan kemolekan tubuhku pada lelaki yang tak kucinta. Menyungging senyum dengan penuh perih.
Aku tak pernah mau mati dalam peluk lelaki durjana.

Tania, perempuan dua puluhan menebus hutang bapaknya.
(Mey Ameida)

“Tinah!” Sebuah suara memanggilku.
Hanya orang-orang kampung yang tau nama itu.
Tinah, perempuan muda kembang desa sudah lama mati!
Aku berlari sekencang-kencangnya. Tubuh kotor ini tak pantas berjumpa mereka lagi.

“Ibuuu!” Makin jauh aku berlari suara itu semakin dekat. Tersandung-sandung aku minggat, meninggalkan bangsat tua berkumis tebal bau rokok dengan gigi kuning terselip sisa-sisa makanan. Busuk!

Aku Tania, bunga idaman hati yang tersesat tak tau jalan kembali.
(Silvie)

Aku menyanyi dalam sunyi
Meraba dunia dalam hampa
Menggadaikan diri demi sesuap nasi
Menjual kemuliaan untuk kehinaan abadi.

“Tania! Aku sedang butuh. Ibumu keluar rumah sejak pagi.”

Aku ikuti bapak yang bersabuk cemeti.

Aku Tania, yang meranggas di usia muda.
(Mulya Indra)

Aku menyisir jalan setapak.
Bercengkrama dengan getah karet.
Kasar ditanganku adalah hadiah kemiskinan.
Kebun karet itu menjadi surga bersama suamiku.
“Kau masih kenyal seperti dahulu,” aku bercanda.

Malam pekat pecah oleh tangisku.

“Apakah kamu mirip denganku?” tanya emak ketika menggendongku.

Dunia mengenalku sebagai Tania, yang sering kau katakan ayu. (Tutty)

Sepasang matanya mengerjap. Menghimpun cahaya sebanyak mungkin dari biliknya yang sepi. Tubuhnya terbaring.
Kedua tangan memegang dadanya yang seperti tertintih beban berat. Ada tawa mengiringi napas yang tersengal.

“Akhirnya kau menang!”

Suaranya tercekat di kerongkongan. Dia sempat mengutuk kepulan asap tembakau yang tanpa sengaja terpapar ke paru-parunya. Mengendap di sana menyisakan tarikan napas patah. Namun dia tersenyum, dalam gelap dia temukan cahaya.

Rupanya dia menyadari kehadiranku, meski aku menyusup pelan lalu mengambil jantungnya. Matanya terbelalak.

Dialah, Tania perempuan dalam bilik yang sepi. ( Murni)

Teriakan menggema hingga ujung gang. Perempuan itu menangis sambil memeluk anak lelakinya yang tersenyum sambil menciumnya. Sebuah map merah pada tangan kirinya.

“Terimakasih Tuhan, anakku sudah sarjana,” katanya di tengah isak tangis.

“Berbahagialah perempuan tua! Perjuanganmu tak sia-sia,” sahut seekor merpati di depan rumahnya.

Terbayar sudah semua sakit dan perih selama masanya bernapas. Luka yang pernah tergores tak terasa lagi di kulit keriput.
Tak pernah terpikir olehnya untuk memoles wajah, sebab masa depan anaknya adalah yang utama.

Tania, perempuan yang berjuang untuk keluarga ( Wimala Anindita )

Pagi buta kau jerang harapan
Di balik adonan ote-ote, kau sisipkan impian.
Nyanyianmu merdu saat buluh kau tiupkan.
Seketika api gemertak membesar

“Mana kopiku!” Teriak lelaki tambun bersarung, yang tergeletak di ranjang besi tua.
Mendengkur sepanjang hari, layaknya buaya tua.
Kau seduh kopi segera, sebelum lelaki tambun itu murka.

Berteriak membelah pagi, merobek hati!

“Tambahkan racun! Tak guna suami sepertinya!”

“Tidak! Membunuhnya sama saja matikan harap. Bersua kekasih sejati, pada waktu yang telah Dia tentukan!”

Tania, perempuan pendiam bersabar menanti waktu pulang. ( Lina )

Adat leluhur menjauhkan kedua mataku dari pelita kehidupan. Mampu mengeja huruf dan melukis kata menjadi serpihan bintang yang tak mungkin kugenggam.

Kemustahilan nan sejati.

Aku menjadi buta.

“Tak perlu ilmu tinggi, karena kau akan berakhir di sudut ranjang, Tania.” Perempuan tak beda dengan tempat persinggahan. Seperti itulah kata mereka.

Serupa titah dan kutukan, ujaran romo menghempasku ke jurang terdalam dan kelam.

Aku Tania, wanita bangsawan yang dikebiri haknya. (Mey Ameyda)

Mataku nanar.
Menatap sepasang kekasih bergandeng tangan.
Saling melempar senyuman.
Ku gigit ujung bajuku.

Keras dan lebih keras lagi.

Agar isakku tak terdengar.
Sebuah tangan kecil menyentuhku.

“Apakah itu ayahku, Bu?”

Aku tak mampu menjawabnya. Hanya desahan nafas panjang, lalu pergi.

Tania, perempuan muda yang menjadi layu. (Ari)

Aku Tania, perempuan seribu wajah. Meratap, menari dan bernyanyi bersama pilar yang kokoh.

Sumber gambar https://lenadaku.wordpress.com/2013/04/17/apa-harus-menangis-dulu/

Related posts

2 comments

Mey Ameida 10/08/2019 at 01:55

Membaca lagi ini untuk mengenang waktu empat bulan lalu. Demi mendapat kobaran api semangat yang padam nyala. Tanpa sadar saya paling banyak nulis saking semangatnya, baru ngeh setelah baca barusan???

Reply
ki banjar asman 12/08/2019 at 05:29

Oh, terima kasih rela menengok kami, mbak.

Reply

Leave a Comment