Dironda 74 kali
Ketika Agung Sedayu terlibat dalam perang tanding melawan Ki Suladra, Swandaru berada dalam keadaan tidak berdaya dan menjadi sasaran orang-orang yang hendak membawanya pergi. Mereka menganggap pengetahuan Swandaru tentang kekuatan Tanah Perdikan dan Mataram sangat berharga.
Di tengah keadaan itu, Agung Sedayu menghadapi lawan yang memiliki kemampuan luar biasa. Dia sempat terjebak dalam keraguan, tetapi akhirnya menyadari bahwa keberanian bukan sekadar kesiapan menghadapi kematian.
Pertarungan mencapai puncaknya ketika cambuk Agung Sedayu berhadapan dengan kekuatan Ki Suladra dan Swandaru tetap berada di tangan orang-orang yang tidak diketahui keberadaannya.
Sementara itu di Jati Anom, Ki Untara menerima laporan bahwa sejumlah kelompok kecil telah memasuki Menoreh dan bergerak dengan cara yang sulit dideteksi.
Dengan hilangnya Swandaru serta munculnya kelompok-kelompok tersembunyi di Menoreh, persoalan yang dihadapi Agung Sedayu dan Mataram ternyata telah berkembang menjadi ancaman yang jauh lebih luas.
- Sebenarnya pertarungan belumlah mencapai puncaknya di Jati Anom Obong. Sebabnya adalah kisah masih bergulir dan berkembang hingga Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Pangeran Parikesit bergumam lirih mengulang ucapan Arya Penangsang, ”Ki Tumenggung Adiwangsa.” Adipati Hadiwijaya segera menatapnya, lurus, lalu berkata, “Lihatlah bagian ini, Gerbang Demak 1.”
- Tapi sebagian orang menolak. Buktinya adalah Sukra menggerakkan tangan agar Simbara berada lebih dekat dengannya lalu berkata pula, “Jika tidak, aku berada di Bara Bukit Menoreh 7.”
