Ki Gede menarik napas dalam-dalam. Sekilas muncul sebuah pendapat di dalam benaknya bahwa Kinasih mempunyai daya tarik yang luar biasa untuk seorang wanita. Tanpa berprasangka buruk, tapi Ki Gede teringat ungkapan awan hitam yang pernah dikemukakan oleh Ki Waskita belasan tahun silam. Tapi kemudian dia berkata, “Tentu sangat menarik jika kau izinkan kami mendengar latar belakang kedatanganmu. Hanya saja, aku kira sekarang belum menjadi saat yag tepat untuk menjadi pendengar yang baik.”
Kinasih tersenyum ramah kemudian berucap, “Saya mendengar Ki Gede.”
Tak salah, pikir Ki Gede Menoreh bahwa gadis itu menyimpan kecerdasan cukup dan juga kekuatan yang tersembunyi. Tapi segalanya menjadi benderang nantinya. Pemimpin Tanah Perdikan itu kemudian sepenuhnya menghadapkan wajah pada Sukra, lalu berkata, “Tentu kau datang dengan bekal yang sangat penting dari Ki Rangga.”
Sukra mengangguk.
“Baiklah, kau dapat memulainya sekarang,” kata Ki Gede.
Sukra tidak lantas melakukan perintah itu. Bahkan pengawal Tanah Perdikan itu seolah bersikap aneh. Sepasang matanya sedikit bergerak ke samping, lalu menarik kepala.
Mungkin Ki Gede tahu bahwa pemuda itu merasa tidak nyaman, kemudian mengeluarkan ucapan yang ditujukan pada beberapa orang yang berada di sekitar pringgitan. “Kalian dapat meninggalkan tempat. Kami berterima kasih sekali atas perhatian dan kepedulian kalian semua.”
Tak lama kemudian, langkah kaki pun berderap menjauh dari pringgitan. Bahkan Prastawa pun merasa bahwa dirinya pun menjadi orang yang dimaksud dalam ucapan Ki Gede. Kepala pengawal itu pun meminta diri. “Kita akan bertemu lagi di lain waktu dan mungkin ada pembicaraan sedikit. Aku ingin tahu pengalamanmu di kampung seberang,” kata Prastawa pada Sukra.
Sukra mendengus dengan wajah seolah tidak peduli.
Sepeninggal orang-orang, Sukra lantas menyampaikan pesan-pesan Agung Sedayu dengan kalimat-kalimat yang singkat. Berulang-ulang Ki Gede mengerutkan kening, berpikir keras untuk memahami penyampaian Sukra.
Sebenarnya Sukra bukan termasuk orang yang lambat berpikir atau sulit menyampaikan pendapat. Tapi dia cenderung untuk mempersingkat penjelasan karena beberapa sebab yang di antaranya adalah terhalang rasa gugup. Ki Gede adalah orang yang luar biasa bagi Sukra, mungkin sama seperti Kyai Gringsing dengan Swandaru maupun Agung Sedayu. Perbedaan kedudukan dan juga kepribadian Ki Gede yang mampu mengayomi seluruh orang Tanah Perdikan menjadikan Sukra merasa tak perlu bertele-tela dalam meneruskan pesan-pesan Agung Sedayu. Lebih cepat, lebih baik lalu dia pergi melihat rumah Agung Sedayu yang roboh karena imbas pertarungan Ki Jayaraga melawan Ki Garu Wesi, pikir Sukra.
Dalam kesempatan itu, Kinasih seperti sedang mengungkap keluasan ruang pikiran dan ketajaman nalarnya. Meski tanpa sengaja dia melakukan, tapi Ki Gede Menoreh merasa lebih mudah mengerti isi pikiran Agung Sedayu yang disampaikan Sukra. Untuk beberapa waktu lamanya, Kinasih menjadi penerjemah Sukra bagi Ki Gede Menoreh. Sepanjang waktu itu pula, pemimpin Tanah Perdikan tersebut harus terus menahan diri melihat Sukra yang geram pada dirinya sendiri. Tapi kegeraman yang justru ternyatakan dengan cara yang menggelikan.
“Bagaimanapun, mereka berdua telah menempuh bahaya hingga berada di depanku saat ini,” ucap Ki Gede dalam hati. Maka berkembanglah rasa sayang Ki Gede pada anak muda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
Waktu seakan terasa berlangsung lebih cepat ketika mereka bertiga sedang membicarakan pertempuran yang pecah di Watu Sumping. Sukra secara mendadak dapat bicara lepas dan tidak terjebak pada sifat aslinya yang agak kaku. Pembicaraan semakin cair ketika Kinasih menambahkan beberapa bagian yang terlewati Sukra atau memang tidak dialami pengawal Tanah Perdikan itu.
Ketika senja hampir menapakkan jejak di wilayah Tanah Perdikan Menoreh, Ki Gede kemudian berkata, “Sukra, bilik untukmu sudah disiapkan. Jika mau, engkau dapat bermalam di sini.”
Sukra mengangguk tapi itu tidak berarti dia menerima saran Ki Gede. Bahkan Ki Gede Menoreh pun tahu bahwa hampir tidak mungkin bagi Sukra untuk bermalam di tempatnya.
Lantas Ki Gede Menoreh berpaling pada Kinasih lalu mengatakan, “Untukmu sepertinya tidak ada pilihan lagi selain tinggal di rumah ini sampai batas waktu yang kau tetapkan untuk dirimu sendiri.”
“Tentu saya sangat senang dapat mengenal Ki Gede dan Nyi Pandan Wangi yang sebentar lagi tiba di rumah ini,” ucap Kinasih dengan senyum mengembang.
Mendengar nama Pandan Wangi disebut, Ki Gede merasa ada sedikit gejolak dalam hatinya, hanya saja, itu bukan waktu yang tepat untuk diungkap.
“Selagi hari masih terang, Sukra, kau dapat melihat-lihat rumah Ki Rangga,” kata Ki Gede kemudian, “Ki Jayaraga pasti senang melihatmu. Beliau terus berada di sana mengawasi pembangunan ulang rumah Ki Rangga.”
Raut wajah Sukra tiba-tiba berubah. Yah, rumah itu adalah tempat yang penuh dengan kenangan. Perkenalannya dengan Glagah Putih serta Ki Jayaraga berawal dari sana. Teringat pula dia dengan pliridan yang dulu banyak ditebar di sungai-sungai yang ada di sekitar pedukuhan induk. Tangan Sukra mengepat!
“Kau dapat ajak serta Kinasih, Sukra,” lanjut Ki Gede.
Kinasih mengangguk karena dia ingin tahu keadaan selanjutnya rumah Agung Sedayu. Tapi Sukra telah kembali bersikap dingin.
“Ki Gede,” kata Sukra lalu membungkuk hormat pada Ki Gede Menoreh sebelum berlalu dari pringgitan. Dia tidak berkata-kata pada Kinasih tapi membiatkan gadis itu berjalan di belakangnya.
Ki Gede tersenyum ketika melepas kepergian dua anak muda itu. Setelah kembali menyandarkan punggung, Ki Gede menarik napas panjang sambil berkata dalam hati, “Pandan Wangi, apakah kau baik-baik saja?”
Tentu saja Ki Gede Menoreh harus menjaga diri dari pertanyaan yang mengarah pada pribadi Pandan Wangi. Tapi nalarnya masih tajam untuk memperkirakan keadaan Pandan Wangi. Dari pengungkapan Sukra bahwa Swandaru menjadi tahanan rumah itu menjadi laporan yang tidak baik yang harus diterimanya. Maka jelas sudah dugaan Ki Gede mengarah pada ujung yang semakin tajam.
Seorang pengawal kemudian datang memenuhi panggilan Ki Gede.
“Pergilah diam-diam ke rumah Ki Prastawa. Gunakan beberapa kata sandi pada beliau,” perintah Ki Gede pada pengawal tersebut.
“Saya, Ki Gede.” Tanpa banyak kata serta prasangkan macam-macam, pengawal itu lantas berjalan melalui longkangan kemudian keluar dari pintu butulan. Melindungi diri dari pengamatan sesame pengawal atau mata-mata lawan, pengawal itu melintas beberapa pekarangan yang ditumbuhi pohon pisang dan lainnya menuju rumah Prastawa.
Sejurus kemudian, Sukra dan Kinasih tiba di rumah Agung Sedayu. Pada beberapa bagian luar bangunan masih tampak sejumlah orang yang bekerja menuntaskan tanggung jawab masing-masing. Orang-orang yang mengetahui kedatangan Sukra pun melambai kan tangan tapi tidak beranjak. Tapi Sukra tidak keberatan dengan sikap mereka karena keadaan memang tidak memungkinan. Maka pengawal Tanah Perdikan itulah yang menghampiri dan menanyakan kabar satu demi satu orang-orang yang sedang bekerja. Canda tawa dan ucapan ramah pun mengubah senja menjadi ceria.
Menyadari banyak pandangan mata mengarah pada Kinasih, Sukra pun tidak segera mengenalkan gadis itu pada orang-orang. Justru dia lebih sering berkata, “Mengapa kalian tidak bertanya langsung padanya?”
“Tapi, baiklah, kalian bertanya sekarang dan Ki Lurah.”
“Ki Gede nantilah yang menjawab semuanya.”
Mereka pun menyambut ucapan itu dengan gelak tawa ringan. Semua orang merasa lega mendengar kabar yang dibawa Sukra bahwa Kademangan Sangkal Putung kembali aman. Mereka pula turut bahagia saat mengetahui Nyi Sekar Mirah telah melahirkan bayi perempuan mungil. Mereka pun melemparkan candaan bahwa putri Agung Sedayu akan meneruskan kegemaran Sukra menjelajahi sungai lalu memasang pliridan.
Nyatalah kemudian bahwa senja di rumah Agung Sedayu benar-benar ceria dengan suara tawa yang benar-benar lepas.
Datang dari halaman samping, Ki Jayaraga telah hadir pula. Lelaki gagah yang berani mengakui kesalahan karena ingin membalas dendam demi tiga muridnya itu menyambut Sukra dengan hangat.
“Marilah, Angger berdua, kita masuk ke dalam,” ajak Ki Jayaraga pada Sukra maupun Kinasih.
Kinasih menyambut ajakan itu dengan bahasa tubuh sangat baik. Sekalipun raut wajah Ki Jayaraga tidak menunjukkan perubahan, tapi dia dapat menduga latar belakang Kinasih. Sedangkan Sukra sudah memasuki rumah terlebih dulu, bahkan sebelum Ki Jayaraga selesai mengucapkan kata-kata.
Sukra berkeliling sebentar. Keningnya kadang tampak berkerut tapi dia tidak mengucap sesuatu pun.
Pada kesibukannya yang ringan yaitu menyiapkan sekedar hidangan, Ki Jayaraga mengetahui hal itu. Pastilah ada sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya, Ki Jayaraga menduga dalam hatinya.
Sebenarnyalah Sukra memang merasa sedikit aneh. Bilik yang ditempatinya tampak baru dan dia merasa seolah menjadi orang asing ketika masuk ke dalamnya. Saat berada di sekitar pakiwan, dia juga merrasa aneh. Namun demikian, Sukra cepat menyadari bahwa rumah itu seluruhanya dibangun dengan bahan-bahan yang baru. Maka sisa minyak atau debu pun sudah tergantikan. Sukra lantas merebung sejenak, kemudian dia berkata, “Tidak ada yang berubah dari rumah ini, Kyai. Tata ruang dan hampir semuanya masihlah dapat dikatakan sama dengan sebelumnya.”
Ki Jayaraga mengangguk. “Aku hanya membantu memberi gambaran sesuai yang tersimpan dalam ingatan. Walau sebenarnya ada keinginan untuk membicarakan itu semua dengan Ki Rangga, tapi keadaan sama sekali tidak memberi kelonggaran.”
“Ki Lurah menjadi orang yang tiba-tiba sulit ditemui,” sahut Sukra. Seperti sadar dengan sesuatu yang tiba-tiba datang dalam pikirannya, Sukra bertanya pada Ki Jayaraga, “Di manakah anak itu sekarang?”
Ki Jayaraga tersenyum, menggeleng lalu menaik napas dalam-dalam. Ki Jayaraga ingin meluruskan cara Sukra saat menyebut Glagah Putih, tapi lelaki sepuh itu lantas membatalkan niat,.. Bagaimanapun, hanya Sukra dan Glagah Putih saja yang tahu kedekatan hubungan antar mereka. Bila Glagah Putih tidak keberatan atau bahkan merasa kehilangan jika mendadak Sukra mengubah panggilan, bukankah itu sama saja dengan membatasi hubungan mereka? Ki Jayaraga memikirkan itu sambil menatap lekat gerak gerik Sukra.
“Rupanya ada perubahan dari kedudukan dan penempatan dirinya,” ucap Ki Jayaraga dalam hati. Langkah kaki Sukra dan setiap pergerakannya cukup memberi bahan bagi guru Glagah Putih itu. Setelah mematahkan sebatang lidi sepanjang kelingking, Ki Jayaraga lantas melemparkannya pada Sukra disertai sedikit kekuatan.
“Orang tua!” seru Sukra sambil menarik kepala. Kurang dari sejengkal saja dari wajahnya ketika batang lidi itu melintas di depannya.
“Kau banyak mengalami peningkatan, Ngger,” puji Ki Jayaraga. “Tentu Ki Glagah Putih bangga pada dirimu.” Baru saja timbul niat untuk mengarahkan Sukra atas panggilan yang sesuai dengan keadaan seseorang, ucapan Sukra pun membuatnya geli. Betapa tidak, Sukra pun menyebut dirinya sebagai orang tua saja.
Wajah Sukra yang sempat tegang lalu mendingin kemudian bergumam tak jelas sambil bersungut-sungut.
Setelah menunjuk pada arah tertentu, Ki Jayaraga kemudian berkata pada Sukra, “Dia berada di barak pasukan khusus sejak pertempuran di Karang Dawa. sekali-kali datang ke pedukuhan induk untuk beberapa keperluan.”
Sukra diam saja. Tapi Ki Jayaraga mengerti bahwa dirinya tak perlu menerangkan tempat-tempat yang pasti didatangi oleh Glagah Putih.
“Apakah kau bermalam di sini atau kediaman Ki Gede? ” tanya Ki Jayaraga.
“Mengapa kebanyakan orang-orang bertanya itu? Bukankah aku adalah orang sini juga yang dapat tidur di segala tempat?” Sukra berkata dengan muka bersungut.
Ki Jayaraga tersenyum lalu menoleh pada Kinasih. Mereka sepakat melalui pandang mata bahwa demikianlah Sukra adanya.
“Tidak ada yang berubah dalam dirinya,” ucap Ki Jayaraga dengan wajah menghadap Kinasih. “Aku dapat membayangkan perjalanan kalian berdua sejak dari Sangkal Putung hingga rumah ini.”
“Tidak terlalu menyulitkan, Kyai,” ucap Kinasih.
