Agung Sedayu lantas memulai penjelasan sejak pertemuan terakhir dengan Pangeran Selarong di tepi Kali Progo di wilayah Kademangan Sangkal Putung, termasuk kesepakatan pembagian wilayah yang menjadi tanggung jawab keamanan orang-orang yang akan ditunjuk kemudian. Secara berurutan, Agung Sedayu menerangkan pula pemeriksaan yang dilakukannya bersama Pandan Wangi.
“Itu wilayah yang sangat luas,” ungkap lirih Prastawa perihal penjelajahan yang mencakup dua dusun dan segala yang mengelilinginya. Kepala keamanan ini pula yang menjadi orang pertama yang mengeluarkan pendapat pada saat Agung Sedayu mengurai penjelasan. Mpu Wisanata serta Ki Gede Menoreh menyimpan anggapan yang sama dengan Prastawa, tapi agaknya mereka berdua lebih dapat menahan diri.
“Tidak ada jejak atau permukiman asing di setiap daerah yang kami datangi,” kata Agung Sedayu menutup keterangan.
Pandan Wangi menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lalu berkata, “Tidak ada yang terlewat sama sekali.” Kemudian menghadapkan wajah pada ayahnya lantas berucap lagi, “Kami berkesimpulan bahwa mereka, pasukan yang mundur dari Sangkal Putung, mengambil jalan melingkar. Jalur yang terpisah satu wilayah seluas satu pedukuhan.”
Mendengar dua kalimat dari dua orang yang berbeda, Kinasih mengangguk-angguk dengan penilian tertentu untuk Pandan Wangi.
Sementara dalam hati, Ki Gede memuji kedalaman ingatan Agung Sedayu dalam hati. Lantas dia berpaling pada Mpu Wisanata, katanya, “Akankah Mpu berkenan mengulurkan tangan?”
“Tidak ada pekerjaan yang dapat merepotkan saya jika itu demi tanah ini,´jawab Mpu Wisanata disertai senyum mengembang.
“Prastawa?” tanya Ki Gede dengan pancaran wibawa yang luar biasa.
Seperti sudah memahami maksud pemimpin Tanah Perdikan itu, Prastawa mengangguk. Pertanyaan dari Ki Gede untuk Mpu Wisanata adalah permintaan agar bersedia memberi pengajaran kanuragan pada pengawal. Oleh sebab itu, Prastawa pun segera membuat bayangan kasar mengenai tempat dan waktu berlatih bagi pengawal yang terpilih.
Lebih lanjut, Ki Gede kemudian mengatakan bahwa Sukra dan Kinasih pun telah menyampaikan pesan-pesan yang harus diterimanya. Tapi sepeti Sukra pula, Ki Gede tidak mengurai isi pesan Agung Sedayu di depan Mpu Wisanata maupun Prastawa.
Prastawa mengerutkan kening. Dia bertanya dalam hati, mengapa ada yang seolah disembunyikan darinya?
Seolah dapat membaca jalan pikiran keponakannya itu, Ki Gede kemudian berkata, “Aku kira sudah waktunya Angger Prastawa untuk mengerti bahwa tidak semua rencana dapat dituangkan dalam satu pertemuan. Segala sesuatu masih membutuhkan bahan tambahan sebelum benar-benar masak. Selain itu pula agar tidak ada perasaan tergesa-gesa dalam setiap perencanaan. Tanah Perdikan dalam bahaya, kita semua sadar hal itu. Tapi aku akan merasa lebih aman bagi setiap orang dengan tetap bersikap tenang dan waspada.”
Prastawa memandang Agung Sedayu, Pandan Wangi dan Mpu Wisanata tapi ternyata tiga orang itu tidak menunjukkan perubahan pada raut wajah atau bahasa tubuh. Itu berarti mereka bisa menerima keputusan Ki Gede tanpa merendahkan kedudukan dirinya. Prastawa lantas mengangguk dengan legawa. Karena masih ragu menempatkan Kinasih dalam rancangannya, Prastawa lantas tidak merasa perlu membutuhkan pendapat Kinasih.
“Ki Gede,” kata Agung Sedayu, “bila pembicaraan sudah dianggap cukup, saya mohon izin untuk menengok keadaan rumah dan juga Ki Jayaraga.”
“Apakah itu berarti Angger tidak bermalam di sini?” tanya Ki Gede.
Sebenarnya cukup berat bagi Agung Sedayu menolak permintaan pemimpin Tanah Perdikan itu, tapi keadaan sedang tidak memungkinkan karena Pandan Wangi juga membutuhkan waktu agar dapat bicara dengan ayahnya. Lantas, bagaimana dengan Kinasih? Tentu tak pantas baginya untuk bermalam kemudian berdiam di rumah Ki Gede Menoreh.
Senapati Mataram ini mengangguk, lalu jawabnya, “Saya mungkin akan menghabiskan malam bersama Ki Jayaraga. Pagi-pagi, saya harus segera menemui Ki Lurah Sanggabaya dan juga Glagah Putih di barak pasukan.”
“Demikianlah yang memang seharusnya Angger jalani,” kata Ki Gede Menoreh dengan kepala mengangguk dalam-dalam. Walau sempat mengharapkan waktu lebih lama agar dapat berbincang dengan Agung Sedayu seperti masa lalu, pemimpin Tanah Perdikan itu paham keadaan.
Agung Sedayu diikuti Mpu Wisanata dan Prastawa beranjak bangkit dari duduk masing-masing lalu meminta diri pada Ki Gede, Pandan Wangi dan Kinasih. Mereka bertiga berjalan beriringan melintasi halaman, regol kediaman lalu mengayun langkah pada arah rumah Agung Sedayu.
Setibanya di depan rumah yang dibangun ulang itu, Agung Sedayu pun berpisah dengan Mpu Wisanata dan Prastawa. Mereka berdua segera menjurus ke arah rumah masing-masing.
Ternyata Ki Jayaraga sudah menunggu kedatangan Agung Sedayu. Dia duduk tenang di beranda depan. Ketika tampak Agung Sedayu melangkah masuk halaman, Ki Jayaraga segera berdiri menyambut pemimpin pasukah khusus Mataram itu.
“Kedatangan saya ternyata merepotkan Kyai juga rupanya,” ucap Agung Sedayu sambil sedikit membungkuk di depan Ki Jayaraga.
“Tidak, tidak perlu seperti ini, Ngger.” Ki Jayaraga cepat mengangkat bahu Agung Sedayu. Lelaki yang juga menurunkan ilmunya pada Glagah Putih itu segera mengajak Agung Sedayu berkeliling selagi suasana cerah.
Pembangunan ulang rumah yang diawasi oleh Ki Jayaraga ternyata melampaui angan Agung Sedayu. Bangaunan baru itu tampak lebih kokoh dan dapat diangap sebagai bagian dari pemandangan alam perbukitan Menoreh. Rumah yang begitu asri dengan sejumlah pohon yang baru dirampingkan.
“Terima kasih, Kyai,” ucap Agung Sedayu.
“Sudahkah, Ngger. Ini semua adalah kewajiban saya sebagai anggota keluarga.”
Sambil berkeliling, Ki Jayaraga juga mengatakan beberapa hal terkait keadaan terakhir di Tanah Perdikan. Meski Agung Sedayu tidak bertanya atau memintanya melakukan itu, tapi Ki Jayaraga sadar tanggung jawab senapati Mataram itu. Bahkan Ki Jayaraga juga mengulang pesan Agung Sedayu yang disampaikan Sukra sebelumnya. Guru Glagah Putih itu ingin memastikan bahwa Sukra tidak melewatkan sesuatu yang mungkin dianggap penting oleh Agung Sedayu.
“Apakah Sukra mengatakan bahwa dia menempuh jalur yang tidak dilewati banyak orang?” tanya Agung Sedayu.
“Kinasih yang mengatakan itu, Ngger. Sukra, seperti biasa, hanya mengatakan dan melakukan yang Angger perintahkan. Tidak lebih,” jawab Ki Jayaraga diikuti senyum mengembang.
Agung Sedayu bersenyum pula sambil mengangguk, lalu berkata, “Itulah agaknya yang akhirnya Sukra mendapat penilaian sebagai anak yang ingin menyelesaikan segala sesuatu lebih cepat, tapi bukan tergesa-gesa.”
Ki Jayaraga mengangguk dalam-dalam.
Mereka ternyata memutari rumah yang dibangun ulang itu. Ketika sampai di bagian depan, Ki Jayaraga meminta Agung Sedayu lebih dulu masuk ke dalam. Sesaat kemudian, dua orang tersebut telah duduk di pringgitan. Wedang sere dan jahe pun ternyata sudah tersaji di atas tikar pandan bersanding dengan pala pendem yang masih hangat.
“Silakan, Ngger.” Ki Jayaraga menggeser satu mangkuk kecil ke depan Agung Sedayu, selanjutnya pala pendem dan wedang sere menjadi pengantar yang membuat perbincangan itu larut tanpa terasa.
“Terima kasih, Kyai. Sepertinya Kyailah yang lebih pantas menjadi pemilik rumah ini daripada saya yang justru meninggalkannya saat tidak dapat lagi dihuni,” kata Agung Sedayu.
“Itu sebuah musibah, Ngger. Tidak ada orang yang berharap kekacauan masuk dalam kehidupannya. Serangan dan kerusuhan yang membakar tanah ini beberapa waktu lalu menjadi sebab beberapa perubahan, termasuk keberadaan Angger sekalian. Segala yang terjadi di rumah ini, yang lalu maupun yang akan datang, tetap tidak mengubah kedudukan Angger Sedayu sebagai yang punya rumah,´ucap Ki Jayaraga dengan wajah sungguh-sungguh. “Saya adalah orang yang sekedar ikut berteduh dari panas dan hujan.”
Punggung timur Merapi tampak semakin gelap. Mendung pun terlihat seperti gulungan tapi tidak berbentuk tetap.
Ki Jayaraga bangkit, menyalakan pelita dari minyak jarak lalu menempatkannya di tengah ruangan. Suasana tak lagi pekat seperti sebelumnya.
“Sepertinya Angger sudah mendapatkan bahan yang cukup dari Ki Gede,” kata Ki Jayaraga. “Mungkin aku tidak dapat menambah lebih banyak dari yang telah Agngger dapatkan.”
Sambil menggeleng, Agung Sedayu berkata. “Tidak, Kyai. Justru akan banyak tambahan penting yang datang dari Panjenengan. Tanpa mengabaikan keterangan Ki Gede Menoreh, tapi arahan beliau cukup jelas mengarah pada Kyai.”
“Aku belum mengerti maksud Ki Rangga,” ucap Ki Jayaraga.
“Kyai, dalam keseharian, lebih banyak berada di sawah maupun ladang. Kyai pula bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Maka saya pun berpikir segala yang tampak dan juga didengar oleh Kyai tentu berbeda dengan Ki Gede,” jelas Agung Sedayu.
“Tapi orang-orang yang menemui Ki Gede bukan orang sembarangan. Mereka pasti mempunyai pengaruh dengan bentangan yang beraneka ragam,” ucap Ki Jayaraga, “tentu pedagang yang datang dari pesisir akan membawa kabar yang berbeda dengan orang-orang dari timur atau selatan. Keterangan yang ada di tangan Ki Gede sudah tentu jauh lebih lengkap. Sejak Angger pergi ke Sangkal Putung lalu menyerahkan kepemimpinan pasukan khusus untuk sementara waktu pada Ki Lurah Sanggabaya, para petugas sandi diperintahakan memberi laporan pada Ki Gede. Aku harap keputusan Ki Lurah Sanggabaya tidak lantas menjadi pemicu Angger menjadi tidak puas. Banyak orang di Tanah Perdikan ini, termasuk aku pula, yang beranggapan bahwa Tanah Perdikan dan pasukan khusus adalah satu kesatuan. Mereka adalah manunggal dengan segala kelebihan dan kekurangan. ”
“Tapi Ki Gede dapat saja mendengarkan keterangan yang tidak persis dengan kenyataan, Kyai,” kata Agung Sedayu yang dapat menerima penjelasan Ki Jayaraga tanpa rasa keberatan pada keputusan penggantinya sementara waktu. Bila mereka juga menyamar, tentu saja itu adalah keadaan yang sangat menantang, pikir Agung Sedayu.
“Maksud Ki Rangga adalah seseorang dapat saja memberi keterangan palsu pada Ki Gede?” tanya Ki Jayaraga meyakinkan dirinya sendiri setelah merenungkan ucapan senapati Mataram di depannya.
