Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

Lingkaran pertarungan kembali terbentuk. Mereka saling menekan, melibat dan melindas penuh keyakinan. Cambuk meliuk, selendang membelit. Dentuman halus berulang-ulang menggedor bagian dalam dan pusat tenaga. Sekarang, ruang di antara mereka seperti sudah tiada.

Gerakan makin rapat. Ujung cambuk menekan rongga dada Ki Garjita. Selendang membalas, berputar dan menghantam ujung cambuk bergantian dengan badan cambuk. Tampak sudah kehebatan masing-masing orang.

Tanah bergetar pelan.

”Berhentilah,” seru Ki Garjita. “Mari kita hentikan perkelahian tidak berguna ini.”

Namun Swandaru tidak tampak mengendurkan tekanan. Kalimat Ki Garjita seakan berubah menjadi minyak yang disiram di atas jerami yang terbakar tinggi. Perasaan Swandaru seolah terpanggang. Serangannya semakin membadai.

Dalam waktu itu, Ki Garjita dapat melihat sorot mata Swandaru mengungkapkan sesuatu yang sedang menyala sekaligus sesuatu yang lain.

“Apakah dia menyimpan dendam, sakit hati atau putus asa?” batin Ki Garjita menyeruak tiba-tiba. Tapi pikiran tidak berdiam lama ketika tata gerak Swandaru mulai berubah menjadi lebih buas dan liar.

Perkembangan pertarungan semakin menggetarkan.

Sehingga Ki Garjita sendiri pun tiba pada perasaan yang mungkin sama dengan Swandaru: tidak ada jalan selain bertahan atau menyerang agar keluar dalam keadaan hidup!

Dua orang itu cepat terlibat dalam pertarungan yang seakan semakin tidak terkendali. Mereka saling membenturkan kemampuan pada tingkat puncak.

Loncatan panjang dan pendek selalu diikuti sabetan maut dari dua senjata yang berwatak sama: cambuk dan selendang. Sekali-kali, dua senjata itu mengarah pada sasaran yang sama; kadang-kadang dua ujung senjata bertumbuk di dekat kepala, pada waktu lain bertabrakan di sekitar lambung.

Dua senjata sama-sama meliuk hebat seperti ular kecil tapi berkekuatan raksasa.

Gelanggang perkelahian bergeser, berpindah di permukaan parit dangkal. Air setinggi lutut kerap bermuncratan membawa pasir dan kerikil yang kemudian berhamburan; menembus batang pohon pisang, menancap pada batang sengon. Cara mereka menghidnar serangan pun tak lagi meloncat jauh atau pendek, ke samping atau ke belakang, tapi juga bergulingan di bantang parit yang dangkal itu. Melenting lagi dengan ringan, lalu saling menerkam dengan nyali yang sama garangnya.

Perkelahian memakan waktu yang cukup lama. Sejauh itu, keseimbangan masih terjaga. Belum terlihat nyata salah seorang berada di bawah tekanan. Tapi bocah-bocah gembala sudah pergi membawa rasa ngeri yang mencekam sekaligus membingungkan nalar mereka.

Pada akhirnya, Swandaru merasa harus melepaskan lawannya. Dia melompat surut dan masih dalam keadaan siaga. Tatap matanya tajam menusuk. Pikirannya membentarng bahwa dia sudah tidak lagi membawa kedudukan sebagai petinggi kademangan, tidak lagi sebagai menantu Ki Gede Menoreh yang dihormati. Di tempat itu, dirinya adalah orang asing dan tidak dikenal banyak orang. Maka kehormatan terasa seperti bunyi yang tidak meninggalkan gema.

Di depan Swandaru, Ki Garjita tegak menunggu dengan kain basah bercampur pasir. Mereka hanya saling memandang dengan dada naik-turun, senjata masih terurai. Meski demikian, mereka mengambil jeda bukan karena lelah tapi ada sesuatu yang sedang menyumbat jalan pikiran dan perasaan masing-masing.

Ki Garjita berkata terlebih dulu, “Terima kasih karena memberi saya kesempatan untuk bernapas.”

Swandaru tahu persis orang di depannya itu tidak atau belum lelah. Orang itu pembunuh yang gagal  merenggut Sekar Mirah. “Aku mempunyai alasan untuk membunuhmu, Ki Sanak. Dan aku juga tahu kau adalah orang yang dapat membunuh tanpa alasan. Sangkal Putung adalah bukti nyata.”

Ki Garjita bernapas dengan arus berat. Dia paham arti ucapan itu. Saat Swandaru menyebut Sangjal Putung, Ki Garjita tergerak untuk mengujinya. “Anda masih mengingat kademangan itu.”

“Tempat aku dilahirkan dan berkembang dengan berbagai cerita yang ada untuk dikenang, meski sebagian memang lebih baik dihapuskan.” Suara Swandaru terdengar dingin dan datar. Tidak ada gurat perasaan di wajahnya.

Ki Garjita menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kitab Kyai Gringsing sebenarnya sedang menunggu Ki Swandaru, tapi ternyata kitab itu tidak berada di tangan yang tepat. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat.”

Swandaru menautkan alis lalu menggeleng. “Aku tidak merasa ada kepentingan maupun kebutuhan denganmu.” Swandaru menggeser kaki, melangkah keluar dari parit, mengarahkan keinginan menuju pedukuhan terdekat. Cambukmya sudah terselip ke tempat semula, sebagai sabuk di pinggang.

Ki Garjita mengikutinya lagi dari jarak terukur dan tidak lagi sembunyi-sembunyi.

Mereka berjalan depan-belakang tanpa ada pembicaraan. Lorong semak dan pematang menelan suara langkah mereka pelan-pelan seolah mendukung mereka agar tidak banyak bicara.

Ki Garjita sekali-kali menggerakkan tangan membersihkan pakaian dari pasir yang menempel, tapi pikirannya bekerja keras. Rencana ditata ulang: Swandaru bukan orang biasa. Terlalu matang untuk menjadi pengembara, terlalu cerdas untuk dibiarkan menguap begitu saja.

“Dia mempunyai kemampuan. Bentuk dan arah pun sudah ditetapkan sejak semula. Kelahirannya dapat disusun kembali dengan perkembangan dan tujuan yang lebih jelas serta mumpuni,” ucap Ki Garjita dalam hati. Dia sudah mendengar sepak terjang Swandaru. Kelahiran kembali dapat memberi makna dan arti lebih. Apabila itu terjadi, di mata Keraton, Swandaru adalah orang luar yang akan masuk perhitungan selain Agung Sedayu. Swandaru dapat dianggap sebagai ancaman baru, tapi juga dapat disambut sebagai teman baru. Itu masalah waktu, pikirnya.

Swandaru sendiri melangkah dengan batin yang tidak lebih ringan. Dia memutuskan untuk menjauh dari hiruk pikuk persoalan seperti orang yang keluar dari pusaran air, masih terengah meski sudah di tepi. Dia ingin sepi. Dia butuh ruang tanpa kekuasaan, tanpa aturan, nama dan akibat. “Apakah aku mampu bertahan di sana? Tanpa itu semua?” Pertanyaan ini menggema sangat keras.

Angin lewat di antara pepohonan. Ada dua orang dengan niat berbeda, berjalan di jalan setapak yang sama yang mengarahkan kaki ke pedukuhan di samping hutan. Baik Swandaru maupun Ki Garjita sama-sama menyimpan rencana yang belum siap diuji oleh sikap maupun kata-kata, tapi langkah mereka tetap seirama.

Regol pedukuhan menyambut kedatangan mereka berdua tanpa suara.

Dari dalam pedukuhan terdengar samar-samar riuh yang tidak biasa saat hari masih terang. Itu terdengar seperti ada keramaian, seperti ada hiburan ketika tawa terdengar di antara ketipak bunyi kendang.

Beberapa lelaki tampak berdiri di dekat pendapa, wajah mereka tidak sepenuhnya tegang. Seorang bocah berlari kecil membawa kendi, lalu berhenti ketika melihat rombongan datang.

Tak lama kemudian, rombongan yang tidak banyak orang itu berhenti di alun-alun pedukuhan, di depan banjar. Di sudut halaman, kain berwarna cerah terjulur sejajar dengan obor-obor yang telah disiapkan. Pedukuhan yang terletak cukup jauh dari Sangkal Putung itu tampaknya sedang menyiapkan sebuah perayaan kecil.

Swandaru tidak pernah membohongi dirinya sendiri soal itu. Perempuan dan tayub bukan sekadar kesenangan singgah. Dua keadaan itu adalah caranya agar tetap merasa hidup. Itu adalah caranya untuk mengingat bahwa tubuh bukan hanya alat bertarung atau wadah kanuragan, tapi juga tempat berpulangnya kesenangan.

Di balik langkah yang tampak tenang, ada kenangan tentang tawa yang tidak menuntut, sentuhan yang tidak menghakimi, dan irama tayub yang membuat dunia berhenti sejenak dari urusan benar-salah. Di lingkaran tayub, Swandaru tidak pernah menukar kedudukan atau harga diri. Di dalam keadaan itu, Swandaru merasa dirinya adalah orang yang bernapas dengan tari dan kendang.

Pergi berarti menjauh dari sumber nyala itu. Bertahan berarti kembali terseret ke pusaran yang ditinggalkannya dengan susah payah.

Budi mengajarkan pengendalian, pikir Swandaru dengan nada pahit, rasa meneguhkan batasan. Tapi hidup bukan sekadar budi dan rasa saja, bukan hanya batasan dan pengendalian saja.

Ki Garjita menangkap kegamangan itu tanpa perlu menoleh. Dia sudah cukup lama membaca orang untuk tahu, kesunyian Swandaru bukan jenis yang lahir dari kekosongan. Dia dapat memahami keadaan Swandaru. Yah, salah satunya adalah mereka pernah berseberangan di Sangkal Putung. Bagi Ki Garjita, selama seseorang masih bisa terguncang oleh perempuan dan tayub berarti orang tersebut belum menjadi patung hidup. Masih ada gairah yang menyala, tinggal butuh sedikit sentuhan sebagai awal.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 13 – Perintah Agung Sedayu: Persiapkan Segalanya!

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 33 – Gaung Keras dari Gunung Kendil

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.