0%
Still working...

Bondan – Bara di Borobudur (Kilas Kisah Bab 4; Tapak Ngliman) Bag 2

Dironda43 kali

Malam yang pekat menjadi pelindung bagi Ken Banawa, Ki Swandanu, Bondan, dan Ki Hanggapati saat mereka menyusup ke sebuah pedukuhan yang belum mereka kenal. Dari balik semak dan kegelapan, mereka mengamati rombongan saudagar Ki Sukarta yang sedang mencari tempat bermalam, sembari menangkap percakapan-percakapan yang mengandung isyarat tentang bahaya yang mengintai.

Penyelidikan mereka membawa temuan yang semakin menggelisahkan. Nama-nama berpengaruh, rencana penyergapan, serta kabar mengenai hadiah dari Tanah Menoreh menuju Sri Jayanegara muncul dalam pembicaraan para peronda. Bondan harus menahan gejolak hati ketika menyadari bahwa rombongan Ki Sukarta berada dalam ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar pemeriksaan biasa.

Ketegangan memuncak di banjar pedukuhan selengkapnya dapat dibaca di kategori Tapak Ngliman ketika Ki Jagabaya memerintahkan seluruh pengawal Ki Sukarta menyerahkan senjata. Penolakan dari pihak Menoreh hampir saja berubah menjadi bentrokan terbuka. Di tengah suasana yang memanas, seorang pemuda bernama Jalutama tampil dengan sikap tenang dan berhasil meredakan keadaan untuk sementara.

Sementara perhatian seluruh orang tertuju pada perselisihan di banjar, Ken Banawa dan Ki Swandanu memanfaatkan kesempatan untuk memeriksa isi pedati. Penemuan mereka membuktikan bahwa rombongan Ki Sukarta membawa muatan yang jauh lebih berharga daripada sekadar barang dagangan, sehingga kecurigaan terhadap tujuan perjalanan itu semakin menguat.

Setelah memperoleh berbagai petunjuk penting, keempat penyusup memilih mundur sebelum fajar menyingsing. Namun malam itu meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Di balik perjalanan Ki Sukarta dan kemunculan Jalutama, tersimpan persoalan besar yang tampaknya baru saja membuka awal dari rangkaian peristiwa berikutnya.

  • Kerusuhan di Tanah Perdikan, mungkinkah itu usaha pengalihan isu dari tujuan sebenarnya? Itu pula yang diungkapkan di depan Pangeran Purbaya. Tapi, sayang seribu sayang, saat itu Agung Sedayu tampaknya tidak ada pendukung politik yang sangat kuat. Mari kita bersatu di belakang Agung Sedayu agar tidak merasa sendiri ketika Sebuah Laporan Diungkapkan.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.