Padepokan Witasem
Prosa Liris

Darah itu Kental, Jo!

Aku bicara dengan diriku tentang kamu dan dia.

Aku menangkap getar suaraku melenggang, memasuki duniaku.

Ia menaiki jalan terjal sebelum tiba di serambi hatiku. Ia menuruni lorong sempit lalu berhenti.

Singgah di tempat berselimut kabut.

“Gerah,” ia berkata padaku.

Aku melihatmu menggeleng. Kamu lirih bersuara, “Hentikan. Kamu tidak mampu duduk berlama waktu di sini. Kamu akan berhenti bergerak.”

Ia berpaling padamu, busa lembut terbit dari setiap lubang dari permukaannya.

“Engkau berjalan dengan beban berat. Punggungmu sarat dengan timbunan tanpa arti. Pergilah, lihatlah harapan itu. Masa yang engkau gunakan sebagai jeda kelak berubah menjadi satu daya pembunuh.” Ia berkata di bawah tajam sinar mentari.

Aku mendengarnya dan aku pikir sekarang tiba waktunya untuk berbekam.

Related posts

Leave a Comment