Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 43

Bergegas bangkit seorang yang dituakan oleh para pengawal lalu diikuti oleh ketiga rekannya, sedikit tertatih mereka meninggalkan gelanggang pertarungan dahsyat di awal malam. Cahaya bulan tak cukup sampai untuk menyerang perjalanan mereka, sedikit bintang yang menempel di dasar langit tetapi mereka mengenal sangat baik tanah wilayah itu maka jalan pintas segera menjadi tujuan utama. Meski jalan mereka cukup lambat karena akibat getaran-getaran dahsyat belum sepenuhnya menyingkirkan, tubuh mereka segera lenyap di sebuah jalan setapak menurun. Mereka menyusuri anak sungai yang mempunyai jalur lintas di belakang pedukuhan induk. Para pengawal akan tiba di rumah Ki Gede Menoreh dalam waktu seukuran rebusan singkong.

Pada waktu itu, Empu Wisanata telah tajam mengamati peningkatan kabut yang masih setinggi mata kaki tetapi semakin pekat dan tebal. Kerapatan unsur-unsur pembentuk kabut atau asap putih itu mampu menghambat gerak lincah Sayoga. Kedua matanya menyipit.

‘Tetapi aneh! Mengapa lawan Sayoga seolah tidak terpengaruh?’ Empu Wisanata tidak ingin pikiran buruk datang menjebaknya, ia menepis jauh, ‘Ketinggian ilmunya akan membatasi gerak-geriknya. Mustahil lawan Sayoga berbuat curang.’

Ia bertambah heran ketika musuh Sayoga tak kunjung meningkatkan serangan, sedangkan menurut pendapatnya Ki Sarjuma mendapat satu keuntungan besar. Lalu Empu Wisanata menoleh pada Ki Malawi dan ia mendapat jawaban.

loading...

Di tengah perkelahian Sayoga merasa kedua kakinya seolah lengket, ia kesulitan menggeser dua telapaknya. Walau berat ketika diangkat namun Sayoga mengabaikannya, ia berpikir panjang dan cukup baik, penyesuaian. Gerak kakinya mengikuti daya yang ia kerahkan saat menggeser, satu siasat yang dianggap orang lain sebagai awal perubahan. Keadaan akan dikuasai oleh musuh Sayoga, begitu pikir orang. Ki Sarjuma dan Ki Malawi beranggapan demikian, bahkan Empu Wisanata.

‘Kepulan putih ini sangat dingin. Ia seperti ribuan temali yang berserakan di mana-mana. Tidak ada ruang kosong untuk menjejakkan kaki. Ini sungguh gila. Sangat gila.’ Bola mata Sayoga masih mengikuti gerak Ki Sarjuma. Namun dari sudut di bawah kelopak ia tahu jika kepulan asap yang dingin dan sedang membelit kakinya adalah jalan utama menuju negeri orang mati. Kini ia mencoba mengarahkan tenaga hisap Serat Waja ke bagian bawah, lalu mengangkatnya sedikit, diarahkan pada Ki Sarjuma.

Percobaan pertama, berhasil! Kabut dapat didorongnya pada pinggang lawannya. Kabut itu begitu mudah disibak oleh Ki Sarjuma dengan sekali kibas lengannya. Dalam hatinya ia mengakui keuletan dan keberanian Sayoga untuk mencoba menggedor dengan ilmu yang bukan miliknya. Tetapi pada usaha yang kedua, Sayoga merasakan jika kepul asap putih itu seolah mempunyai bobot ratusan kati! Dengan segenap daya ia mencoba menghisap seperti usaha pertama namun gagal.

Ia kerahkan segenap tenaga untuk mendorongnya namun kabut itu seolah memiliki mata. Ia berbalik dan menyambar dada Sayoga seperti jilatan api yang berkobar.

Sayoga dapat mengelak dengan mencondongkan tubuh ke samping. Ketenangan tak lagi betah berlama-lama mendampinginya. Sayoga tanpa mengurangi tekanan ayunan pedang, perlahan-lahan mulai berayun dalam kebingungan. Ia mencoba menerka maksud Ki Sarjuma yang tak kunjung datang menyerangnya. Sayoga sadar sepenuhnya jika ia berada dalam kedudukan yang tidak lagi menguntungkan.

Wajah Ki Sarjuma membeku ditambah sorot mata yang dingin maka Sayoga seperti melihat mayat yang dibangkitkan. Tidak ada gurat perasaan yang tersirat dari bagian muka Ki Sarjuma, tiada seringai senyum bengis yang sebelumnya masih terlihat menghias bibirnya.

‘Apakah dunia telah berhenti berputar?’ bisik hati Sayoga.

Empu Wisanata dengan wawasan dan pengalamannya telah dapat menduga akhir dari pertarungan. Orang, yang mendapat kehormatan dari Ki Gede Menoreh untuk tinggal di Tanah Perdikan dengan anugerah sebidang tanah yang cukup luas, ini dihinggapi rasa bimbang. Sekejap ia merasa ragu dengan keputusannya.

“Ini pertarungan yang tidak adil!” katanya dalam hati. “Tetapi jika aku menyerang Ki Malawi, maka kepulan itu akan berubah menjadi gumpalan yang menghancurkan dada Sayoga. Bukan pekerjaan mudah jika menyesaikan masalah secara tiba-tiba memasuki perkelahian. Walau pun mereka telah berlaku curang, namun aku tidak dapat membiarkan anak itu meregang nyawa!”

Wedaran Terkait

Jati Anom Obong 9

kibanjarasman

Jati Anom Obong 8

kibanjarasman

Jati Anom Obong 70

kibanjarasman

Jati Anom Obong 7

kibanjarasman

Jati Anom Obong 69

kibanjarasman

Jati Anom Obong 68

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.