Padepokan Witasem
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 65

“Maaf, Ki Lurah. Saya mengerti tapi sekarang bukan saat yang baik untuk berbeda pendapat,” kata Agung Sedayu menegaskan sikapnya. Kembali ia memandang orang-orang Jati Anom lalu bersuara lantang, “Aku minta kalian meninggalkan tempat ini. Masalah ini bukan sekedar hidup mati Ki Widura maupun Sabungsari. Pulanglah, kembalilah dan Ki Untara akan menjelaskan pada kalian.”

Sebenarnya Ki Panuju setuju dengan keputusan Agung Sedayu, namun demikian, ia juga merasa heran atas perintah mundur tersebut. Dalam pengamatannya, sebenarnya mereka dapat bertahan untuk melawan ketiga orang pengikut Panembahan Tanpa Bayangan. “Jika prajurit yang baru datang bersama Sabungsari dikerahkan lalu ditambah KI Rangga sendiri, maka sebenarnya tidak ada alasan untuk kembali ke barak. Ki Untara sudah pasti akan mengirim bantuan susulan.” Ki Panuju menggerakkan kaki dengan hati berat.

Dan pemikiran Agung Sedayu sudah tentu berbeda dengan Ki Panuju. Pertimbangan Agung Sedayu adalah Ki Widura dan Sabungsari akan dapat menemaninya dan memberi perlawanan seimbang. “Meski kedudukan paman dan Sabungsari berada di bawah telapak kaki seekor gajah, namun kerja sama akan membuat perbedaan,” demikian isi pikiran Agung Sedayu. Maka keselamatan para gembala dan prajurit menjadi perihal utama yang dipikirkannya.

Perhitungan Agung Sedayu tidak benar-benar masak dan ia sangat menyadari keadaan Sabungsari serta Ki Widura. Tetapi ia tidak ada jalan lain yang sanggup mengulur waktu hingga Ki Untara datang ke arena pertempuran.

Sementara itu, Ki Garu Wesi telah melepas ikatannya dengan Ki WIdura. Ia telah merasa unggul dan memang Ki Garu Wesi bukan lawan yang sepadan bagi Ki Widura. “Apabila orang ini adalah bagian dari Perguruan Orang Bercambuk, maka sebenarnya ia tidak memalukan. Usia telah menjadi penghalang baginya untuk menjejak pada lapisan lebih tinggi,” batin Ki Garu Wesi. Lantas dengan kehadiran Agung Sedayu, Ki Garu Wesi telah memutuskan untuk membiarkan Ki Widura bergabung bersama keponakannya.

Dari belakang punggung Agung Sedayu, Sabungsari telah bangkit dan kembali menata gerak dasarnya. Ia memberi tanda ada anak buahnya serta penggembala agar lekas meninggalkan wilayah sungai. Sedikit ia mendongak dan sinar rembulan tidak cukup terang untuk menyinari mereka. Setipis cahaya bulan, setipis itu pula hati Sabungsari menghadapkan wajah pada saat itu. Ia dapat mengerti perintah Agung Sedayu yang meminta orang-orang menjauh, dan ia juga tahu kemampuan Agung Sedayu serta Ki Widura. “Tetapi aku tidak cukup waktu untuk mengukur tiga perusak Jati Anom,” kata hati Sabungsari. Sedangkan ia sendiri nyaris roboh oleh Ki Tunggul Pitu.

Malam telah menghamparkan selubungnya, dan di bawah gerimis cahaya bulan tampak enam orang berdiri dalam jarak tak beraturan. Agung Sedayu melihat Ki Widura sedikit jauh terpisah darinya dan Sabungsari. Kedudukan Ki WIdura sangat riskan dan berada di ujung ranting yang rapuh. Apabila benturan terjadi, maka Ki Widura akan mudah dikepung oleh dua orang yang berada di hadapannya, Ki Garu Wesi dan Ki Hariman.

Enam orang itu hanya saling memandang tetapi kekuatan yang tidak kasat mata telah bergelora sangat hebat. Keinginan, semangat dan besarnya hasrat untuk keluar sebagai pemenang benar-benar membakar dada tiga pengikut Raden Atmandaru.  Sementara tiga orang yang menjadi lawan mereka berada di ambang keraguan yang nyaris tanpa batas. Ki Widura seperti dapat mendengar suara hati keponakannya dan Sabungsari. Dari jarak yang seukuran selemparan batu kali, Ki Widura bersuara dengan tegas, “Kali ini mungkin kita akan mati tanpa ada saksi, setelah itu mereka dapat membakar tubuh kita. Lalu padukuhan ini yang menjadi sasaran berikutnya. Agung Sedayu, engkau tahu itu!

“Kita akan meninggalkan orang yang sebenarnya sedang menunggu kabar selamat dan mungkin harapan mereka tidak akan pernah terwujud. Sabungsari, Agung Sedayu, tidak ada lorong yang mengerikan melebihi sejengkal jarak dengan kematian. Tidak ada harapan yang lebih baik selain membiarkan matahari kembali terbit setiap hari.”

Ki Widura menutup kata-katanya dengan lecutan cambuk yang berdentum perlahan namun menghantam isi dada Ki Garu Wesi yang berada dalam jarak paling dekat dengannya. Sekejap kemudian perkelahian yang bukan perang tanding telah meledak! Ledakan yang benar-benar keras, sangat keras!

Related posts

Leave a Comment