0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 42 – Panglimunan Usai Perang Tanding

Dironda 60 kali

Lantas pembicaraan sedikit melebar ke datangnya orang-orang dari beberapa perguruan kanuragan. Dari sejumlah orang yang terlihat oleh Ki Garu Wesi saat sedang mengamati diam-diam, dia mengatakan mengenali beberapa orang.

“Di barak ini, banyak prajurit yang menyimpulkan keadaan yang ssetiap kali mereka pulang dari perondaan,” ucap Ki Sor Dondong yang ternyata mempunyai banyak keterangan. “Dari banyak jalur dan pategalan kecil di sekitar Tanah Perdikan terlihat lebih dari satu kelompok orang mulai bermukim. Sebagian malah berada di lereng Gunung Kunir dan dusun di dekat perbukitan itu. Tapi sepertinya mereka tidak membuat keributan, tidak pula menunjukkan diri sebagai orang yang sedang mencari perkara.”

Ki Garu Wesi memicingkan mata. “Mungkin belum.”

Sambil mengangguk, Ki Sor Dondong berkata, “Benar, kegaduhan di pasar dan benturan di perkemahan utara pedukuhan induk dapat menjadi tanda bahaya.”

“Ada kemungkinan mereka berasal dari lingkungan yang sama dengan Raden Atmandaru,” lanjut Ki Garu Wesi.

Sorot mata Ki Sor Dondong berubah tapi dia tidak mengatakan sesuatu. Hanya masih menjadi ganjalan saja dalam hatinya.

Ki Garu Wesi berkata lagi, “Saya belum yakin tapi orang yang menjadi lawan Ki Tumenggung mempunyai bukti.”

Ki Sor Dondong menarik napas panjang. “Panglimunan?”

Ki Garu Wesi mengangguk perlahan.

Setelah menunduk agak lama, Ki Sor Dondong berkata pelan, “Mereka tidak datang hanya untuk melihat perang tanding.”

Ki Garu Wesi tidak menyela.

“Kita sudah sama tahu akhir dari kedatangan mereka,” Ki Sor Dondong meneruskan, “Walau akhirnya mereka harus pupus harapan tapi sebaiknya kita waspada dengan keadaan ini.”

Ki Garu Wesi memandang wajah Ki Sor Dondong lekat-lekat. Kemudian berkata, “Saya pikir juga demikian. Menoreh sedang didatangi orang-orang yang membawa tujuan lain.”

Ki Sor Dondong mengangkat kepala dan berucap lirih, “Saya pikir meski tidak berhubungan sama sekali, tapi perang tanding seolah telah menjadi perhatian atau alasan kedatangan sebagian besar orang.”

“Kitab Kyai Gringsing,” tegas Ki Garu Wesi walau suaranya cukup pelan. Kemudian dia meneruskan perkataannya dengan banyak hal yang terjadi di Pancuran Watu Item hingga datangnya seorang perusuh.

“Ki Tumenggung dalam keadaan yang tidak baik untuk menerima dua serangan,” ucap Ki Garu Wesi lalu menerangkan lebih rinci perihal perusuh tersebut.

Ki Sor Dondong tampak mengangguk berulang, mendengarkan penuh seksama sambil sekali-kali menanyakan sesuatu yang memancing perhatiannya.

  • “Apakah itu berarti kita akan merebut kademangan?” Percakapan yang mengingatkan pada masa ketika Mongol menyerang Jawa. Tapi Pendadaran 2 sedang tidak mengulang kisah itu.

Suasana seketika terasa meningkat tegang ketika Ki Garu Wesi mengubah nada suaranya.

“Orang itu,” kata Ki Garu Wesi lebih dingin dan tatap matanya berubah tajam. “Saya merasakan ada sesuatu yang merambat di dalam rongga dada. Seperti merayap atau bergetar… Semacam, oh bukan, seperti sedang menggelitik meski itu juga tidak cukup tepat.”

“Apakah seperti ini?” tanya Ki Sor Dondong sambil menggerak-gerakkan dua tangan di udara tapi tanpa bentuk. “Seperti bulu ayam saat dimasukkan ke dalam telinga? Terasa tapi tidak terlihat, menggelitik tapi tidak menyakitkan?” Ki Sor Dondong mencoba memastikan rasa yang menjadi akibat benturan tenaga cadangan.

“Nah, nah. Mungkin, mungkin sudah dekat semacam itu,” sahut Ki Garu Wesi cepat. “Yah, kita anggap seperti itu.”

Ki Sor Dondong merenung agak lama. Dia mencoba mengingat segala yang pernah dilihat dan dikenalnya selama di dunia kanuragan. Satu atau dua pengalaman lantas muncul dalam kenangan tapi dia tidak langsung mengungkapkan di depan Ki Garu Wesi. Ki Sor Dondong tidak ingin ada kesalahan dalam kesimpulannya, maka dia pun menjadi lebih berhati-hati.

“Kyai,” Ki Sor Dondong berkata tiba-tiba dengan pandang mata tajam pada Ki Garu Wesi. “Sejauh Anda berdekatan dengan Raden Atmandaru, apakah belum pernah beliau berkata walau sedikit dari Panglimunan?”

Ki Garu Wesi menggeleng, lalu menjawab, “Bahkan saya tidak pernah melihat Raden Atmandaru berlatih ilmu kanuragan atau mesu raga dalam waktu tertentu.”

“Saya dapat mengerti,” ucap Ki Sor Dondong disertai anggukan kepala.

Ki Sor Dondong masih diam sesaat sesudah mengucapkan kalimat terakhirnya. Pandangannya tidak lagi tertuju pada Ki Garu Wesi, tapi seperti sedang menelusuri sesuatu yang jauh di dalam ingatan.

Ki Garu Wesi pun tidak tampak mendesak agar segera diberi jawaban. Dia tidak begitu membutuhkan tapi melihat kejadian itu sebagai pengalaman dan juga bagian pengetahuan yang menarik. Keningnya berkerut tipis. Sesekali menarik napas lebih dalam seolah mencoba memanggil kembali rasa aneh yang sempat menyusup ke dalam dadanya.

Suasana di ruangan itu menjadi tenang ketika terdengar langkah kaki mendekat dari luar.

Seseorang muncul di depan pintu—Agung Sedayu masuk sambil membawa sebuah mangkuk kecil dan kendi air. Dia berhenti sesaat ketika mendapati dua orang itu sedang memandang arah berlainan tanpa kata. Meski demikian, dia tidak menunjukkan keheranan. Dengan tenang dia meletakkan barang yang dibawanya di dekat pembaringan.

“Kyai,” katanya sambil menundukkan kepala pada Ki Sor Dondong, “saya datang untuk melihat keadaan Anda.”

Ki Sor Dondong tersenyum lalu mengangguk, katanya, “Saya, Ki Tumenggung. Terima kasih.”

Agung Sedayu lalu duduk di sisi pembaringan, memeriksa keadaan Ki Sor Dondong sebagaimana yang telah dilakukannya beberapa kali sebelumnya. Jemarinya menyentuh beberapa bagian. Sekali-kali keningnya tampak berkerut.

Ki Garu Wesi memandang Agung Sedayu sekilas tapi tidak membuka pembicaraan.

Beberapa waktu berlalu.

Agung Sedayu menarik tangannya lalu berkata pelan, “Mudah-mudahan sudah dapat berlatih lagi dalam waktu dekat.”

“Akhirnya saya dapat merindukan saat itu datang kembali,” kata Ki Sor Dondong bernada hormat, mengangguk lagi.

Agung Sedayu tersenyum lalu berdiri.

Namun sebelum sempat melangkah menjauh, Ki Sor Dondong berkata, “Ki Tumenggung.”

Agung Sedayu berhenti lalu menoleh, melihat Ki Sor Dondong bertukar pandang dengan Ki Garu Wesi dan saling mengangguk.

“Apakah Ki Tumenggung ada kelonggaran waktu?” tanya Ki Garu Wesi.

Agung Sedayu sedikit mengerutkan kening lalu menjawab, “Silahkan, Kyai.” Sambil berkata demikian, dia melangkah hendak mengambil bangku yang tersandar tidak jauh dari dinding.

Namun Ki Garu Wesi ternyata lebih cepat—segera bangkit dan mendorong bangkunya sendiri sedikit ke depan. “Silakan.”

Pemimpin pasukan khusus tesebut seketika membungkuk ringan sambil mengangkat tangan seolah hendak menahan.

Tetapi Ki Garu Wesi tetap memegang sandaran bangku itu. “Silahkan.”

Tumenggung Mataram itu tersenyum. Untuk sesaat keduanya tampak saling mendahului dalam penghormatan—yang satu mempersilakan, yang lain enggan menerimanya.

Agung Sedayu akhirnya menerima—duduk tanpa banyak bunyi, sementara Ki Garu Wesi menarik bangku lain lalu kembali ke tempatnya semula.

Tak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk menyelaraskan dri dengan pembahasan yang sangat menarik itu. Mereka tidak membatasi pengertian tentang Panglimunan pada satu anggapan semata, sebab pengalaman Ki Garu Wesi dan Agung Sedayu justru membuka dua sudut pandang yang berlainan, meskipun membicarakan ilmu yang sama.

Dalam pembicaraan itu, dua tahanan Mataram itu pun dapat merasakan bahwa Agung Sedayu ternyata tidak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin prajurit yang disegani. Senapati Mataram itu bertanya dan menanggapi pendapat mereka dengan cara yang wajar.

Maka muncul kemudian perasaan yang jauh lebih menggelisahkan bagi Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong.

Terlebih Ki Garu Wesi yang, bahkan, belum sekalipun meminta maaf atau menyatakan penyesalan atas pokalnya pada masa silam yang berakibat kehancuran rumah Agung Sedayu. Ketenangannya pun muncul dan tenggelam sepanjang pembicaraan itu. Namun begitu, dia tak segan berbagi wawasan dan pandangan pada Agung Sedayu dan juga Ki Sor Dondong.

Sementara Ki Sor Dondong sendiri sempat pula bertanya pada dirinya, di dalam hati, apakah keputusannya menghantam pangkal ilmu Glagah Putih adalah suatu kesalahan sehingga dirinya terluka parah pada bagian dalam?

Glagah Putih, anggaplah, adalah orang yang membuatnya terluka. Agung Sedayu adalah orang yang memberinya waktu untuk pulih. Perbedaan yang cukup tajam meski mereka berdua sama-sama terikat pada satu penyanggah yang sangat kuat: kemanusiaan. Maka Ki Sor Dondong pun kadang terseret arus yang tidak membuatnya nyaman dan tenang.

Yah, percakapan itu seolah menjadi bukti atau titik kesadaran bahwa mereka berdua belum cukup kuat untuk menjaga hati agar lebih mapan sekalipun Agung Sedayu berada di hadapan mereka.

Udara terasa mulai cukup panas ketika Agung Sedayu harus meminta diri untuk kewajiban berikutnya. Ki Garu Wesi mengantarkannya hingga pintu bilik Ki Sor Dondong.

“Luka-luka Ki Tumenggung…,” ucap pelan Ki Garu Wesi lalu seketika menghentikan kalimat.

“Tidak perlu dikhawatirkan,” kata Agung Sedayu sembari mengangguk. Dia kemudian mengatakan beberapa hal pada Ki Garu Wesi, terutama pesan agar tak segan melarutkan diri dengan prajurit dari Jati Anom.

Ki Garu Wesi sedikit membungkuk sambil berkata, “Saya, Ki Tumenggung.”

Demikianlah kemudian Agung Sedayu bergeser ke bilik rawat Swandaru. Nyi Banyak Patra dan Kinasih sudah berada di dalam ketika dia memasuki ruangan.

“Angger Sedayu,” sapa Nyi Banyak Patra.

Agung Sedayu sedikit membungkukkan badan lalu mengangguk.

Kinasih yang berdiri tidak jauh dari kepala pembaringan segera melangkah mundur. Mula-mula hanya setapak, lalu berhenti sesaat sebelum akhirnya bergeser lagi hingga berada dekat pintu. Sesudah menundukkan kepala sebentar pada Agung Sedayu, dia keluar dan berdiri di luar bilik tanpa suara. Tidak perlu dicemaskan, pikirnya saat sekials memperhatikan keadaan Agung Sedayu.

Agung Sedayu pun tidak menaruh perhatian lebih dari sekejap. Pandangannya segera tertuju pada Swandaru.

Swandaru sedang memejamkan mata. Napasnya cukup teratur meski sesekali ada kesulitan yang ingin lepas dari sana.

Agung Sedayu mendekat lalu duduk. “Bagaimana keadaan Swandaru, Nyi Ageng?”

Nyi Banyak Patra menjawab, “Sudah lebih tenang sejak beberapa saat lalu. Pelemahan itu memang berakibat panjang tapi tidak akan membuatnya kesulitan bertahan hidup.”

Agung Sedayu mengangguk. Jemarinya menyentuh dada Swandaru sebentar, lalu berpindah memeriksa beberapa bagian yang dianggap perlu. Keningnya sedikit berkerut, tetapi tidak lama.

“Jangan banyak bergerak,” katanya pada Swandaru yang terpejam.

Swandaru bergerak sedikit. Kelopak matanya terbuka sesaat. Pandangannya tampak belum pulih sepenuhnya. Memandang sebentar lalu kembali memejamkan mata. Tidak ada kata-kata.

Agung Sedayu berkata lagi padanya, “Beristirahatlah.”

Sesudah itu dia mengangguk pada Nyi Banyak Patra lalu melangkah keluar.

Kinasih yang berdiri di luar bilik segera bergeser memberi jalan. Agung Sedayu melewatinya tanpa berhenti dan tanpa mengubah langkah.

Kinasih menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat wajah dan masuk lagi ke dalam bilik.

  • Kinasih, tokoh baru yang sering mempengaruhi perjalanan kisah Kitab Kyai Gringsing. Dia baru dikenalkan pada khalayak ramai di Bab 6 Geger Alas Krapyak (seingat saya).atau di Kyai Plered ya?
  • Peristiwa besar berturut-turut mengguncang Tanah Perdikan Menoreh. Setelah perang tanding Pancuran Watu Item, berikutnya adalah rencana menyerang barak.Pastikan serangan ke barak ini benar ditulis di Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh, bukan serial lain seperti Bondan atau Toh Kuning.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.