Dironda 30 kali
Malam di Tanah Perdikan Menoreh menyimpan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan. Sayoga terus mengerahkan kemampuan hingga batas yang belum pernah disentuhnya. Ilmu yang berkembang di dalam dirinya memberi kekuatan yang mengejutkan, tetapi pada saat itulah batas antara keberanian dan kenekatan menjadi begitu tipis.
Empu Wisanata melihat lebih banyak daripada yang dapat dirasakan Sayoga. Pengalaman panjang membuatnya mengetahui bahwa sesuatu yang tidak wajar perlahan menyusup ke dalam keadaan yang sudah berbahaya. Kabut dingin yang merayap di atas tanah bukan sekadar akibat benturan kekuatan.
Keadaan kemudian membawa orang-orang yang mempunyai ikatan dengan Menoreh ke tempat yang sama. Kehadiran Ki Gede mengubah suasana, sedangkan pertemuan Sayoga dengan Ki Wijil membuka sisi lain di tengah kerasnya benturan yang sedang berlangsung. Hubungan darah ternyata mempunyai bahasa sendiri; jarak yang panjang tidak selalu mampu memutuskan perasaan seseorang terhadap orang yang dikasihinya.
Namun nama Raden Atmandaru kembali mengarahkan pandangan pada ancaman yang sedang bergerak menuju Tanah Perdikan. Ki Malawi dan Ki Sarjuma membawa lebih dari sekadar kekuatan mereka sendiri. Di belakang keduanya terbentang bayangan sebuah gerakan yang dapat membawa Menoreh memasuki pergolakan yang lebih luas.
- Ancaman mengiris mulai dari Kali Progo ketika Agung Sedayu dan Swandaru berjibaku hantam dengan sekelompok orang asing. Jati Anom Obong.
- Sabungsari, tanpa perlu menggunakan senjata, tampaknya sudah sanggup mempengaruhi Kerusuhan Besar 61 di Bukit Menoreh. Gerbang barat memang ambrol, tetapi perlawanan pantang untuk surut.
- Pengaruh cuaca pun dirasakan oleh orang-orang yang menghadiri malam pernikahan Bondan sebelum menjadi Malam Petaka 4. Suasana permukaan yan gsebenarnya tidak benar-benar penuh kebahagiaan.
