0%
Still working...

Lampu yang Tak Pernah Padam

Dironda 18 kali

Cikarang, 1930.

Suryani sering melewati sebuah rumah papan berukuran sedang di dekat kebun singkong. Rumah itu bukan bekas kediaman orang Belanda, bukan pula rumah dukun atau orang sakti. Dahulu, konon, rumah itu milik keluarga biasa. Namun, sejak awal 1900-an, tak seorang pun lagi tinggal di sana.

Ada satu hal yang selalu membuat Suryani penasaran: lampu minyak di ruang depan rumah itu tak pernah padam.

Suatu sore, dia memberanikan diri masuk. Rumah itu kosong melompong. Tak ada meja, kursi, atau perabotan lain. Hanya sebuah lampu minyak yang tergantung di tengah ruangan. Kacanya bersih, minyaknya cukup, dan apinya menyala tenang.

Suryani pulang dan bertanya kepada seorang perempuan yang sejak lahir tinggal di Cikarang.

“Bu, siapa yang menyalakan lampu di rumah kosong dekat kebun singkong?”

Orang itu terdiam cukup lama.

“Sejak Ibu kecil, lampu itu sudah menyala.”

“Siapa yang mengisi minyaknya?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Lalu, mengapa rumah itu ditinggalkan?”

Perempuan itu menatap Suryani dengan wajah berubah muram. “Dahulu, ada seorang perempuan yang tinggal di sana bersama keluarganya. Suatu malam, keluarganya menghilang. Perempuan itu masih terlihat beberapa kali di beranda, menunggu seseorang pulang. Setelah itu, dia pun tak pernah terlihat lagi.”

“Siapa yang ditunggunya, Bu?”

Wanita itu menggeleng. “Entahlah, tidak ada yang tahu. Orang-orang hanya ingat ucapannya, bahwa selama lampu itu menyala, dia tidak akan kehilangan jalan pulang.”

Malam itu, Suryani melihat cahaya lampu dari kejauhan. Di balik jendela, sesosok perempuan berdiri membelakangi jalan, seolah sedang menunggu seseorang. Cukup lama dia memandanginya karena hampir mirip dengan perempuan yang ditanyainya beberapa hari sebelumnya.

Suryani bergegas menutup jendela kamarnya.

Keesokan harinya, dia kembali melewati rumah itu. Lampunya tetap menyala. Rasa ingin tahunya mendorong Suryani masuk sekali lagi. Namun, rumah itu tetap kosong. Tidak ada sesuatu yang berubah, tidak ada jejak kaki di lantai, meskipun gerimis telah membasahi tanah sepanjang malam.

Rumah papan itu tetap berdiri, meski hampir roboh. Lampu di ruang depannya tetap menyala.

Orang-orang Cikarang akhirnya berhenti bertanya. Mereka hanya berbisik bahwa mungkin perempuan itu masih menunggu seseorang pulang.

  • Namun rumah papan itu memberinya inspirasi yang akhirnya terpikir olehnya rencana yang lebih dalam dan sedikit keluar dari tatanan dasar keamanan Kediri. Jalur Banengan 7 bukan alamat rumah di atas tapi kisah Toh Kuning.
  • Setelah menyimak kisah di atas, Ki Panuju memberi tanda agar Bunija sabar menunggu di Kiai Plered 45 untuk menunggu kawannya yang lain.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.