Namun demikian, Ki Kebo Surongudan belum kehilangan kejernihan berpikirnya. Dia sadar bahwa menyerbu barak sama artinya dengan membuka permusuhan langsung terhadap Mataram. Barak itu bukan sekadar kumpulan prajurit, melainkan bagian dari kekuatan Mataram yang sah. Sekali dia memerintahkan anak buahnya menyerang, maka ruang gerakanya akan menyempit. Pada akhirnya, hukuman yang disiapkan olehnya untuk Agung Sedayu pun mustahil dapat tercapai.
Karena itulah sejak awal dia lebih memilih menantang Agung Sedayu secara langsung daripada mengobarkan pertempuran terbuka. Dengan cara itu persoalan masih dapat dianggap sebagai urusan pribadi antarkadang ataupun antarperguruan, bukan benturan antara kelompoknya melawan Mataram. Tetapi apabila bawahan Sedayu tetap melindungi pemimpin mereka dan menolak menyerahkannya, maka persoalan itu akan berubah bentuk. Dia harus segera mengalihkan perhatian pada sosok yang lain, Ki Gede Menoreh.
Meski demikian, Ki Kebo Surongudan masih berusaha menahan diri dengan tegak berdiri di halaman depan. Dia sudah mendengar kemampuan pasukan khusus dan itu sudah masuk dalam pertimbangannya.
“Bagaimana? Apakah Ki Sanak sudah memilih jalan keberuntungan?” tanya Glagah Putih tiba-tiba memecah keheningan.
Sementara ketegangan membeku di halaman depan barak, dari jalan sempit di sebelah selatan, jalan yang membujur di antara rumpun bambu dan kebun-kebun penduduk, samar-samar terdengar derap kuda yang melaju tanpa halangan.
Beberapa prajurit yang berjaga di lorong samping barak segera menoleh cepat lalu membuka jalan.
Dua penunggang kuda sudah terlihat jelas oleh mereka, Pandan Wangi dan Kinasih.
Pandan Wangi dan Kinasih menghentikan kuda saat mencapai tepi halaman. Setelah melompat turun dengan tenang, Kinasih bertahan di tempatnya sedangkan Pandan Wangi tegas berjalan ke arah Ki Sanggabaya.
“Ki Rangga,” sapa Pandan Wangi penuh hormat.
Ki Sanggabaya mundur setapak, menempatkan diri sejajar dengan Pandan Wangi, lalu menyahut lirih, “Selamat siang, Nyi.”
Sejenak kemudian, Pandan Wangi lurus menatap Ki Kebo Surongudan. Katanya lantang, “Saya sudah berada di sini untuk mewakili Ki Gede Menoreh. Segala keberatan pada beliau dapat diungkapkan sekarang, di depan saya.”
“Oh, ternyata terselip di dalam kemben wanita inikah Agung Sedayu bersembunyi?” Ki Kebo Surongudan lalu terbahak-bahak.
Tapi beberapa orang tahu bahwa suara tawa itu tidak terjadi dengan wajar. Bahkan mereka menduga Ki Kebo Surongudan justru sedang menutupi perasaannya yang terkejut dengan kedatangan seorang perempuan yang tampak biasa saja.
Meski pengikut Ki Kebo Surongudan ikut tertawa tapi tampak jelas bahwa mereka pun canggung. Mungkinkah mereka juga tidak tahu sebab pemimpin mereka tertawa lalu ikut-ikutan tertawa?
Pandan Wangi memandang dingin tingkah Ki Kebo Surongudan dan anak buahnya. “Ki Sanak, Anda sudah berada di halaman barak. Jika kalian percaya, mari, aku tunjukkan letak rumah Ki Gede Menoreh.”
Rupanya Pandan Wangi memang tidak ingin menghamburkan kata. Usai menutup bibir, dia langsung melangkah menuju regol barak. Arah itu berarti akan mendekati kerumunan orang-orang Ki Kebo Surongudan lalu membelah mereka.
Beberapa orang tampak saling pandang. Ada yang bergeser setapak memberi jalan, tetapi ada pula yang tetap berdiri dengan dada membusung seolah sengaja ingin menghalangi Pandan Wangi.
Namun perempuan Menoreh itu sama sekali tidak mengubah sikapnya. Glagah Putih dan Ki Lurah Sora Sareh segera merapat dengan jarak yang sangat dekat dengan Pandan Wangi. Mereka akan menjadi tameng wanita tangguh tersebut. Sedangkan Ki Sanggabaya bergerak pula dan tampaknya dia akan menutup ruang gerak Ki Kebo Surongudan.
Ki Garu Wesi melihat perkembangan itu dengan dada sesak. Dia tidak sanggup membayangkan yang akan terjadi seandainya Ki Kebo Surongudan tiba-tiba menyerang Pandan Wangi. Jarak mereka semakin dekat dan dekat.
“Tahan!” seru Ki Kebo Surongudan. Dia sempat berpikir sejenak untuk menyerang Pandan Wangi tapi cepat mengurungkan niat. Dengan keberanian dan ketenangan seperti itu, lalu, seperti apakah kemampuan orang-orang Menoreh sebenarnya? Ki Kebo Surongudan sudah berbekal keterangan bahwa Tanah Perdikan banyak dihuni oleh orang-orang mumpuni. Tapi.. siang itu, kegilaan apa yang hinggap di dalam pikiran mereka? pikir ki Kebo Surongudan.
Sekali gebrak, Pandan Wangi mungkin saja tumbang tapi dua lelaki di belakangnya? Bagaimana bila ilmu mereka hampir setara dengannya? Bukankah itu sama dengan menghadapi Agung Sedayu sendiri?
Orang-orang yang sebelumnya berteriak kasar di depan barak kini tertegun dengan kehadiran Pandan Wangi saat ketegangan nyaris meledak.
Pandan Wangi berhenti seketika, tapi tatap matanya tetap lurus memandang regol yang berjarak sekitar dua puluh atau empat puluh langkah lagi di depannya.
Ki Kebo Surongudan memandang ke arah pengikutnya lalu memberi tanda agar mereka keluar dari halaman barak. Demikianlah mereka bergeser perlahan.
Namun Ki Sanggabaya memberi perintah yang mengejutkan!
Suitan nyaring dengan nada tertentu terdengar mengejutkan. Tiba-tiba di luar gerbang muncul sebaris pasukan di dua sisi jalan. Seakan Ki Sanggabaya sedang mengamankan jalan keluar bagi kelompok Ki Kebo Surongudan itu.
Beberapa pasang mata mengintip dari gedeg beberapa rumah penduduk yang berada di sepanjang jalan yang mengarah ke barak pasukan khusus.
Sebelumnya, Ki Sanggabaya mengeluarkan perintah yang dijalankan Ki Prana Aji agar melarang penduduk mendekat atau melakukan kegiatan di luar rumah. Di pekarangan? Itu juga masuk dalam larangan Ki Sanggabaya.
Hubungan baik dengan para pengawal turut memberi keamanan berlapis bagi mereka. Karena itu, para pengawal segera mengikuti perintah Ki Prana Aji untuk mengamankan wilayah pedukuhan. Mereka lalu menyembunyikan diri di dalam rumah-rumah penduduk sambil menunggu perintah berikutnya tiba.
Kelompok Ki Kebo Surongudan terus bergeser, merayap tapi ternyata mereka seolah sudah tertutup dari banyak jalan. Di setiap persimpangan, prajurit dan pengawal Menoreh berdiri tegak dengan senjata telanjang.
Ki Kebo Surongudan akhirnya sadar bahwa kelompoknya sedang diarahkan ke tempat tertentu. Di atas jalan tanah yang kering itu, pikirannya tidak berhenti berputar. Jika dia menyerang, mereka sama sekali tidak menguasai medan. Jumlah kelompoknya pun jauh lebih sedikit—kurang dari seperempat kekuatan yang dikerahkan Ki Sanggabaya.
Mengandalkan kemampuan pribadi orang-orang dari perguruannya? Itu bisa dicoba, tapi bukankah Menoreh itu tidak hanya dihuni prajurit Mataram? Ada pengawal pedukuhan yang kabarnya berkemampuan nyaris seimbang dengan prajurit Mataram sendiri. Jelas, dia tidak mempunyai pilihan selain mengikuti jalan-jalan yang sengaja dibuka oleh penjagaan laskar gabungan.
Yang tersisa kemudian dari kelompok Ki Kebo Surongudan adalah caci maki dan umpatan yang ditahan saja, tidak ada yang lain.
Pandan Wangi, Kinasih, Glagah Putih dan Ki Lurah Sora Sareh tampak pula dalam jarak terukur dari iring-iringan Ki Kebo Surongudan. Sekali-kali empat orang itu mengedarkan pandangan lalu melihat Sayoga dan Mpu Wisanata berada di antara pengawal yang berjaga. Lalu mereka seakan menghilang lalu muncul di persimpangan berikutnya.
Pada bagian yang agak jauh dari jalan, Ki Jayaraga membayangi pergeserean itu dari pekarangan, menyusup di sela-sela tanaman kebun atau rumbuk pisan.
Mata awas Ki Kebo Surongudan ternyata dapat menangkap bayangan-bayangan yang tak lain adalah tiga orang tadi—yang sengaja tidak menyembunyikan diri.
“Pengamanan berlapis dan mereka sengaja menampakkan diri,” kata Ki Kebo Surongudan dalam hati.
“Berhenti,” ucap Pandan Wangi ditujukan pada kelompok Ki Surongudan. “Kita sudah berada di dekat rumah Ki Gede Menoreh.”
“Kepung mereka!” Ki Lurah Sora Sareh melantangkan perintah.
“Kalian gila!” umpat Ki Kebo Surongudan lalu menyiagakan pengikutnya.
“Kesalahanmu hanya satu, Ki Sanak,” seru Glagah Putih. “Kalian mendatangi rumah yang penuh orang gila!”
“Kurang ajar!” geram Ki Kebo Surongudan. Dia segera mengukur kekuatan. Pandan Wangi dapat diselesaikan cepat, pikirnya.
Matanya kemudian memandang Glagah Putih. “Ini agak sulit.”
Ketika dia mengedarkan pandangan lagi, sorot matanya terbentur gadis muda yang tenang berdiri di bawah regol kediaman Ki Gede Menoreh. Ini, ini sulit dimengerti, pikirnya keras sambil mengira-ngira ketinggian ilmu Kinasih yang sama sekali tidak memperlihatkan gugup maupun rasa gentar.
Sulit bagi Ki Kebo Surongudan menakar kedalaman Kinasih. Gadis itu terlihat olehnya di halaman barak, lalu tiba-tiba muncul di rumah Ki Gede. Jika seseorang menempatkan diri atau diperintahkan berjaga di garis akhir, hanya dua kemungkinan yang tersisa; dia adalah puncak ilmu dari semua orang yang ada atau dia mempunyai tugas lain.
Rahayu
Bagi para budiman dapat mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan”, dengan investasi Rp75.000. Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Tata gerak perolehan:
BCA 822 05 22297
BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.
Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Ki Lurah Sora Sareh di SINI
Matur nuwun
Sementara, di dalam kelompoknya yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang lebih sedikit itu, ada delapan atau sembilan yang berkemampuan cukup. Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk, maka yang dapat selamat dari benturan itu adalah dirinya seorang.
Bila Ki Kebo Surongudan menebar pandangan dengan banyak perhitungan dan tampak berhati-hati memutuskan langkah berikutnya, Pandan Wangi cukup tenang mengendalikan keadaan. Dia semakin tenang saat melihat Sayoga sudah bergerak menyisir kepungan dari arah utara. Itu berarti Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata sudah berada di dalam kediaman Ki Gede Menoreh, pikirnya.
“Ki Sanak, waktu yang kalian miliki sudah tak lagi lama tapi kami masih melonggarkan kepungan. Kalian dapat memilih,” kata Pandan Wangi dengan lantang. “Jika kalian menghendaki Ki Gede, kita sudah berada di lingkungan kediaman.”
Dari dalam rumah Ki Gede Menoreh, tiga lelaki senja tampak keluar berdampingan, berjalan tenang memotong halaman depan lalu berhenti di samping Kinasih.
“Anakku berkata benar,” kata Ki Gede. “Perlu aku katakan pula bahwa tidak ada yang kami sembunyikan dari kalian. Jika kalian menginginkan Ki Tumenggung Agung Sedayu, beliau memang tidak berada di tempat. Jika kalian menginginkan Ki Gede, aku berada di sini sekarang.”
Orang-orang mendengarkan ucapan pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu, termasuk pengikut Ki Kebo Surongudan.
“Saya persilakan Ki Sanak seluruhnya meninggalkan Tanah Perdikan dengan jaminan keselamatan dan keamanan. Saya tidak ingin ada kerusakan di lingkungan ini. Saya ingin tidak ada kematian yang sia-sia di jalanan ini,” lanjut Ki Gede.
Itu pernyataan berwibawa dari seorang pemimpin yang ditempa pengalaman keras. Meminta mundur dengan kekuatan penuh tanpa sikap atau nada mengancam.
Salah seorang dari pengikut Ki Kebo Surongudan bergeser setapak demi setapak. Ketika cukup dekat dengan pemimpinnya, dia berbisik, “Kyai, aku tidak melihat celah sedikit pun.”
Ki Kebo Surongudan mengangguk tipis. Sejenak kemudian, dia memberi perintah mundur dengan berbisik, “Turunkan senjata, kita keluar sekarang.” Tangan orang ini lantas terangkat tinggi sebagai tanda yang harus diikuti oleh anak buahnya. Mereka mundur dengan senjata kembali tersarungkan.
Ki Lurah Sora Sareh mematuhi Ki Gede Menoreh meski bukan atasan langsung, meski bukan prajurit Mataram.
“Dengarkan Ki Gede!” perintahnya pada prajurit Mataram dan pengawal Tanah Perdikan, lalu, kepungan terbuka perlahan.
