Sayoga dan dua lurah muda pasukan khusus sigap mengarahkan kepergian kawanan Ki Kebo Surongudan pada arah hutan kecil—yang terletak di antara pedukuhan induk dengan jalan yang menyambung ke Dusun Ringinlarik.
Ki Lurah Sora Sareh menugaskan Glagah Putih bersama enam orang prajurit agar mengiringi mereka hingga keluar dari pedukuhan induk. Selanjutnya, pengawasan akan dilakukan bergantian antara pengawal Tanah Perdikan dengan barak pasukan khusus.
Demikianlah ketegangan pun perlahan mereda seiring hilangnya bayangan kelompok Ki Kebo Surongudan.
Sejumlah pasang mata, yang mengintip dari balik gedeg serta pepohonan di sekitar tempat itu, memandang Ki Gede penuh kebanggaan dan rasa hormat. Demikian pula perasaan mereka pada pasukan khusus dan pengawal: keberanian dan ketangguhan yang telah teruji akhirnya mengalirkan rasa kebersamaan yang semakin liat lagi kuat.
Saat di bawah pengawalan pasukan khusus, seorang pengikut Ki Kebo Surongudan berkata lirih, “Kyai, mereka hanya sedikit orang. Bukankah kita bisa menghabisi mereka di tempat ini?”
Ki Kebo Surongudan cepat menatap tajam orang itu, katanya, “Begitu mereka terbunuh, sebelum malam tiba, Tanah Perdikan sudah paasti datang lalu membakar kita semua.”
“Tapi, keputusan untuk mundur ini? Bukankah sama halnya dengan merendahkan harga diri Kyai dan perguruan kita?” orang itu mencoba membantah.
“Harga diri perguruan sudah jelas berada di pikiran orang-orang bodoh sepertimu,” sahut Ki Kebo Surongudan. “Ingatlah, yang kita hadapi adalah orang-orang Agung Sedayu. Dan kau juga tentu tahu ketajaman nalar Raden Atmandaru, tapi di sini, di Tanah Perdikan ini, Sedayu menyapu bersih Atmandaru dan orang-orang yang percaya padanya. Apakah itu belum cukup untuk kau pikirkan?”
Ki Kebo Surongudan menggeleng berulang, lalu berkata lagi, “Tidak, usaha kita memancing keributan di barak ternyata justru gagal dan sebenarnya sangat memalukan seandainya engkau sadar. Lihat, betapa tenang mereka saat itu. Sekarang, kau lihat sekeliling, ada berapa orang? Enam? Tujuh? Itu yang tampak olehmu.”
“Baiklah,” sahut cepat orang itu lalu kembali menjauh.
Beberapa lama kemudian, setelah kelompok pendatang asing itu mencapai luar wilayah pedukuhan induk, regu Glagah Putih pun melepaskan pengawasan. Mereka cepat berpencaran lalu menghilang di balik tumbuhan yang mulai padat dan rapat.
Ki Kebo Surongudan mendengar bunyi-bunyi yang timbul karena tumbuhan dan pergerakan pasukan khusus yang bergesek. Dia segera menoleh belakang lalu mendapati kelompok pasukan khusus telah lenyap dari jalan yang sedikit lebih lebar dari jalan setapak.
“Hey,” seru Ki Kebo Surongudan pada orang yang tadi mengajaknya bicara.
Saat orang itu ada di sampingnya, Ki Kebo Surongudan menunjuk arah belakang. “Lihat, di mana mereka sekarang?”
Orang itu menyipitkan mata lalu keningnya berkerut.
“Bagaimana jika mereka tiba-tiba menyerang dengan kekuatan tidak terduga? Apakah engkau sudah bersiap?” tanya Ki Kebo Surongudan.
“Tapi kita bukan orang yang takut mati,” orang itu masih bertahan dengan pikirannya semula: ingin menyerang lebih dulu.
“Bukan masalah mati, tapi aku tidak ingin mati dengan cara yang bodoh,” tukas Ki Kebo Surongudan. “Inilah perbedaan kita.”
Orang itu bersungut lalu beranjak pergi.
Hari bergerak dan malam menggeliat bangun dari tidurnya ketika orang-orang Ki Kebo Surongudan menyalakan api unggun. Beberapa orang terlihat sedang membakar daging rusa hasil berburu singkat sebelum malam tiba.
Di dekat pohon yang batangnya cukup besar, Ki Kebo Surongudan tampak bercakap-cakap dengan muka sungguh-sungguh. Tidak begitu jelas yang mereka persoalkan dalam waktu itu, tapi secara keseluruhan, pengawal Tanah Perdikan yang mengawasi dari sebuah pategalan liar menganggap semuanya berjalan dengan wajar. Tampak sebaran orang yang berpencaran untuk berjaga-jaga dari kemungkinan pasukan khusus datang melabrak mereka pada malam itu.
“Aku tidak yakin mereka melakukan itu,” kata Ki Kebo Surongudan.
“Mengapa begitu?”
“Mereka pasti memperkirakan kita dalam keadaan siaga penuh. Jadi, jika mereka menyergap kita, jika aku menjadi pemimpin mereka, besok malam adalah waktu yang tepat karena dugaan bahwa kita akan menurunkan kesiagaan, padahal besok malam adalah waktu bagi kita untuk menanam benih kerusuhan di Tanah Perdikan,” pungkas Ki Kebo Surongudan.
“Hidup Raden Atmandaru,” sahut seseorang yang sedang berjaga di dekat mereka.
Pada sore itu pula, setelah kelompok asing itu tidak terlihat lagi, Ki Sanggabaya duduk bersama dengan Ki Gede Menoreh dan Pandan Wangi di pringgitan. Setelah menyampaikan permintaan maaf karena melibatkan Tanah Perdikan karena siasat Agung Sedayu di masa lalu, Ki Rangga Sanggabaya juga mengutarakan kesiagaan mengenai kemungkinan kelompok asing itu kembali menerobos masuk.
“Itu memang menjadi hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja,” kata Ki Gede. “Menempatkan diri di halaman depan lalu menantang secara terbuka, saya menduga, itu adalah bagian dari siasat mereka untuk mempelajari sedikit tentang barak.”
“Saya juga mempunyai perkiraan seperti itu, Ki Gede,” ucap Ki Sanggabaya.
Pandan Wangi mengangguk kemudian berkata, “Berharap barak mengambil tindakan tegas agaknya memang itu juga satu kemungkinan, saya kira. Mereka dapat mengatakan bahwa Mataram bertindak semena-mena pada orang yang tidak bersenjata atau tidak berniat membuat kerusuhan. Seandainya perkiraan saya benar, keadaan itu dapat dimanfaatkan pula oleh beberapa orang yang menyimpan kepentingan di Kotaraja.”
“Tidak keadaan dan pilihan yang dapat disebut aman bagi Menoreh dan Mataram,” desah Ki Gede.
“Bahkan yang baru saja terjadi pun dapat digunakan sebagai lontaran yang memberatkan barak. Saya kira itu sudah jelas menjadi guncangan dan pukulan beruntun bagi prajurit-prajurit yang sedang ditempa,” kata Ki Sanggabaya.
Ki Gede diam sesaat lalu menggeser duduknya setapak, katanya pada Ki Sanggabaya, “Ki Rangga, apakah Anda mempunyai keterangan latar belakang kelompok itu?”
Ki Sanggabaya mengangguk perlahan kemudian menjelaskan percakapannya dengan Ki Garu Wesi saat orang-orang itu berada di halaman. “Tapi Ki Garu Wesi tidak menyatakan sikapnya, apakah dia akan berbalik atau tetap di sisi tengah? Saya tidak dapat menduga.”
Pandan Wangi terdengar menghela napas panjang. Persoalan makar telah selesai tapi yang muncul kemudian adalah ekor yang sebelumnya tidak terlihat.
“Mereka datang pada waktu yang berdekatan dengan perang tanding dua murid Kyai Gringsing,” ucap lirih Pandan Wangi seolah sedang menanggung beban sebagai akibat kurangnya pengendalian diri.
“Sebaiknya kau berhenti memikirkan itu, Wangi,” kata Ki Gede. “Waktu tetap berjalan, setiap orang pun akan menemui kenyataan yang berbeda karena masa lalu tetap terikat dengan masa berikutnya. Tidak hanya mereka, ayah pun pernah mengalami itu pula. Yah, tentu kau masih ingat dengan perang tanding pada masa itu, melawan Ki Tambak Wedi.”
Pandan Wangi mengangguk. Sejenak kemudian dia bertanya pada Ki Sanggabaya, “Lalu, kembali pada kemungkinan mereka datang lagi yang mungkin bisa bersamaan pula dengan perang tanding Kakang Sedayu, pengawal Menoreh tetap berada dalam barisan.”
Ki Sanggabaya menatap tikar pandan di bawah mereka. Sejenak dia membayangkan betapa sibuk Tanah Perdikan ini dalam waktu dekat. Kesibukan yang jelas berbeda dengan saat orang-orang Raden Atmandaru bergentayangan di sekitar mereka, pikirnya.
“Kita mungkin tidak mengubah waktu dan giliran jaga, Nyi, Ki Gede,” kata Ki Sanggabaya kemudian.
Pandan Wangi mengangguk, kemudian berkata, “Saya akan sampaikan pada Prastawa agar segera menyusun barisan pelapis.”
“Penjagaan yang tampak mata dan tidak tampak mata,” desis Ki Gede sambil mengangguk-angguk.
Demikianlah kemudian mereka terlibat pembicaraan lebih mendalam mengenai susunan perondaan, penjagaan dan penambahan latihan karena kuatnya dugaan: Tanah Perdikan Menoreh akan kedatangan orang-orang dari dunia persilatan.
Kinasih masuk ke dalam pringgitan lalu menyalakan lampu minyak. Ketika dia akan beranjak pergi, Pandan Wangi menahannya, mengajak bergabung dalam pembicaraan.

Kitab Kyai Gringsing Buku 1
“Dendam masa lalu memicu bara di Tanah Menoreh. Kitab legendaris kini menjadi incaran para pemangsa kekuasaan.”
Ketentraman keluarga Ki Rangga Agung Sedayu terusik oleh kehadiran Ki Garu Wesi yang membawa ancaman maut. Namun, ini bukan sekadar urusan nyawa dibayar nyawa. Di balik bayang-bayang, Raden Atmandaru tengah menyusun siasat besar untuk mengguncang Mataram melalui penguasaan atas Kitab Kiai Gringsing.
Agung Sedayu terjebak dalam pusaran konflik yang melibatkan pengkhianatan, penculikan, dan pengepungan pedukuhan. Di saat Sekar Mirah tengah menanti detik-detik persalinan, sang Senapati harus memilih: bertahan melindungi keluarga, atau maju ke garis depan demi keselamatan Tanah Perdikan.
Sebuah kisah carangan yang menghidupkan kembali semangat Api di Bukit Menoreh, penuh dengan adu ilmu kanuragan, kecerdikan strategi perang, dan keteguhan hati para pembela kebenaran.
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki file PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, kami akan kirimkan tautan agar tidak menyita banyak ruang di penyimpanan. Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem di SINI
Matur nuwun
Pada hari yang sama dengan kedatangan kelompok Ki Kebo Surongudan di barak pasukan khusus, Tanah Perdikan tampak begitu tenang di permukaan. Perondaan, gardu jaga dan pasar-pasar yang tersebar tetap berjalan seperti biasa. Di sawah dan pategalan, orang bercakap tentang kehidupan sebagaimana mestinya.
Seperti itu pula yang dirasakan oleh Agung Sedayu, Ki Demang Brumbung dan Sukra saat pergi meninggalkan Kotaraja. Tidak ada kesan istimewa terutama bagi Agung Sedayu saat berada di dalam ruangan yang sama dengan Ki Wira Sentanu.
Dalam waktu itu, tiga orang terkemuka Mataram—Sunan Agung, Pangeran Purbaya dan Nyi Ageng Banyak Patra—sama sekali tidak memperlihatkan rasa kaget yang tidak wajar. Tatap mata mereka bertiga tampak tenang saat Agung Sedayu masuk berdampingan dengan Ki Wira Sentanu. Tapi satu simpul yang sangat kuat sudah menghubungkan isi pikiran tiga orang tersebut.
Bahkan ucapan terakhir dari Pangeran Purbaya dan Nyi Ageng Banyak Patra seolah memberi pesan yang sama.
“Tanah Perdikan membutuhkan ketegasan dari sisi lain yang mungkin tidak dimiliki oleh Ki Gede. Sedangkan barak pasukan khusus pun memerlukan ketenangan yang yang mampu mengayomi seluruh isi Tanah Perdikan,” pesan Pangeran Purbaya pada Agung Sedayu.
“Angger Sedayu adalah seorang tumenggung. Tapi perbukitan dan segala yang berdenyut di antara pepohonan akan mendengarkan seorang Agung Sedayu,” ucap Nyi Banyak Patra ketika Agung Sedayu meminta diri untuk kembali ke Menoreh.
Ketika sudah sampai di tepi Kali Progo, mereka bertiga pun menunggu dengan tenang rakit yang akan menyeberangkan mereka. Ada tiga rakit yang tampak di sisi barat. Bila mendasarkan kebiasaan dari pengaturan waktu, maka mereka bertiga akan menjadi kelompok terakhir yang diseberangkan ke wilayah Tanah Perdikan Menoreh.
Senja sudah tampak menggantung di kaki langit ketika rakit berada di tengah Kali Progo. Saat itu, tidak ada yang janggal dalam pandangan Ki Demang Brumbung saat memperhatikan lingkungan sekitar. Keheningan yang cukup berbahaya karena dia sudah mendengar laporan sandi mengenai keadaan terakhir di Tanah Perdikan. Saat memandang wajah Agung Sedayu, Ki Demang berkata dalam hati, “Ketenangan Ki Tumenggung ini seperti arus di bawah permukaan Kali Progo.”
Sedangkan Sukra tampak menyibukkan diri dengan mencelupkan tongkat bambu ke dalam sungai. Sepintas tampak gerakan daripada menganggur tapi Agung Sedayu melihatnya dari sudut pandang lain. Memasukkan ujung tongkat ke permukaan air berulang-ulang dengan tujuan yang luar biasa: tidak menimbulkan riak di permukaan!
Beberapa kata pun kemudian diucapkan Agung Sedayu pada Sukra. Petunjuk berharga untuk menyempurnakan sentuhan tongkatnya. Sukra mendengar dengan tekun, memisahkan bagian-bagian penting dari pesan di dalam benaknya, mencoba menusuk lagi permukaan sampai tiba rakit datang menjemput mereka.
Tidak banyak kata diucapkan ketika mereka bertiga menaiki rakit bersama kuda-kuda mereka. Permukaan Kali Progo pun terbelah saat rakit bergerak lamban dengan dua pengayuh berdiri tegak dengan galah panjang di tangan mereka.
Ki Demang Brumbung berdiri di sisi depan rakit, memandang jauh ke seberang. Agung Sedayu berdiri dekat Sukra sambil sesekali memandang pemuda itu berlatih menyentuh permukaan air yang nyaris tidak bergelombang.
Ketika ujung tongkat itu sekali lagi menyentuh permukaan air tanpa menimbulkan riak berarti, Agung Sedayu mengangguk kecil.
Rakit pun merapat di seberang.
Perjalanan dilanjutkan dengan berkuda pelan menyusuri jalan tanah yang mulai disapa kelam yang mendahului malam.
Suara serangga malam terdengar bersahutan seolah sedang bersuka cita menyambut datangnya malam.
Ketika mereka memasuki pedukuhan induk, langit berangsur-angsur membaur dalam gelap dan beberapa oncor tampak menyala di sebagian rumah-rumah penduduk.
Jalanan tampak lengang. Sedikit sekali orang yang berlalu lalang sehingga mereka pun tak banyak memakan waktu untuk berhenti sekadar menyapa.
Agung Sedayu langsung mengarahkan kuda menuju rumah Ki Gede.Ki Demang Brumbung dan Sukra segera mengikutinya. Tak lama kemudian, senapati pasukan khusus itu memberi tanda pada penjaga regol agar tidak memberitahukan kedatangannya pada Ki Gede. “Tetap berjaga,” kata Agung Sedayu.
Tiga ekor kuda meringkik perlahan.
Agung Sedayu dan dua pengiringnya menaiki tlundak, menuju pringgitan.
Ki Sanggabaya yang sedang duduk bersila di dekat tiang pringgitan segera menoleh ketika mendengar langkah kaki menaiki tlundakan. Sejenak wajahnya tampak terkejut, lalu cepat bangkit sambil membungkukkan badan hormat.
Ah, rupanya Ki Sanggabaya masih berada di dalamnya.
“Ki Tumenggung…” katanya tertahan. “Kami tidak mendengar kedatangan Anda.”
Agung Sedayu tersenyum. “Saya sengaja meminta penjaga regol tetap di dekat gardu.”
Ki Gede seakan telah menduga kedatangan Agung Sedayu maka dia segera menyambut tumenggung Mataram itu dengan wajah sungguh-sungguh.
Agung Sedayu menyapa mereka satu demi satu dengan wajar seperti orang yang pulang dari bepergian—bukan seperti senapati pasukan khusus yang membawa urusan penting.
“Apakah malam ini pedukuhan terlalu sunyi,” katanya sambil duduk bersila.
Ki Sanggabaya tertawa kecil. “Orang-orang lebih cepat masuk rumah akhir-akhir ini. Udara malam terasa lebih dingin daripada biasanya.”
“Mungkin karena sawah mulai mengurangi air,” sahut Ki Demang Brumbung pendek.
Sukra duduk agak ke belakang dekat sisi pringgitan. Tongkat bambunya disandarkan perlahan di samping lutut.
Seorang perempuan tua datang membawa minuman hangat dan beberapa penganan sederhana. Agung Sedayu menerimanya sambil mengangguk hormat.
Agung Sedayu tidak segera bertanya lebih jauh. Sebaliknya, dia justru menanyakan keadaan gardu ronda, ketinggian air sungai yang digunakan untuk mengairi persawahan serta kalimat ringan itu untuk mencairkan suasana.
Ki Demang Brumbung yang semula lebih banyak diam mulai ikut berbicara pendek-pendek, sambil sekali-kali memandang Ki Sanggabaya. Jika orang kedua di barak berada di kediaman Ki Gede ketika pemimpin mereka tidak di tempat, itu berarti ada sesuatu yang lebih besar. Dan hanya satu yang paling mungkin: bahaya.
Saat merasa cukup dengan obrolan ringan, tanpa diminta oleh Agung Sedayu, Ki Sanggabaya memandang Ki Gede lalu berkata, “Ki Gede, “jika diperkenankan, ada beberapa hal yang sebaiknya segera diketahui Ki Tumenggung.”
Ki Gede memandangnya tenang. “Silakan, Ki Rangga.”
Ki Sanggabaya kemudian menghadap Agung Sedayu. “Sejak pagi hingga menjelang siang tadi, telah terjadi sedikit ketegangan di sekitar barak pasukan khusus dan juga di halaman kediaman ini.”
Kemudian dia menerangkan satu per satu peristiwa dengan ringkas sesuai urutan waktu.
Agung Sedayu tidak berubah sikap meski Ki Sanggabaya menyebut nama Raden Atmandaru. Dia mengangguk saja tapi perhatiannya penuh pada keterangan dari Ki Sanggabaya.
Usai Ki Sanggabaya melaporkan seluruhnya, Agung Sedayu tampak merapatkan jari dua tangannya sambil memandangi satu demi satu orang di sekitarnya.
“Kurang dari tiga puluh orang dan tidak menyerang barak secara langsung,” ucap Agung Sedayu, “maka itu mempunyai arti bahwa mereka berkata benar. Tujuan atau sasaran mereka hanya satu, saya, dengan menggunakan dalih membalaskan dendam kematian Raden Atmandaru.”
“Apakah itu berarti pemimpin mereka sudah berhitung dengan akibat jika menyerang barak? Terlepas dari keberadaan Ki Tumenggung,” tanya Ki Demang Brumbung.
Agung Sedayu membenarkan. Katanya, “Benar, Ki Demang. Saya ada atau tidak ada, mereka tidak akan menyerang barak secara langsung. Seandainya saja kami bertemu pagi tadi, jika sampai terjadi benturan pun, saya yakin itu tak lebih dari keterpaksaan saja.”
Ki Gede mengangguk-angguk perlahan lalu berucap, “Mungkin dengan alasan yang sama, mereka memilih untuk mundur meski benturan dapat saja terjadi di lingkungan ini sore tadi.”
“Saya pikir memang konyol jika mereka menantang terbuka lalu benar-benar menjalankan tantangan itu. Secara jumlah, itu mungkin terkesan mereka menyerahkan diri untuk dihabisi,” kata Pandan Wangi. “Bila menggunakan ilmu atau kepandaian, mereka maupun kita, sama-sama gelapnya.”
“Jadi, menurut Ki Tumenggung…,” ucap Ki Sanggabaya yang sengaja menggantung kalimatnya.
“Mereka sedang mempelajari lingkungan dengan segala yang melekat di balik setiap pergerakan dan sebagainya,” terang Agung Sedayu. “Termasuk pula pengamanan berlapis yang diterapkan oleh Ki Sanggabaya. Gerakan bayangan dari Ki Jayaraga maupun Mpu Wisanata pun mungkin sudah terjangkau pula oleh mereka.”
“Kita datangi saja mereka malam ini, Ki Lurah,” sahut Sukra seketika.
Agung Sedayu mengangguk lalu merenung sejenak. Dengan wajah yang menyiratkan garis-garis tegas, senapati Mataram itu berkata sungguh-sungguh, “Jika kau memang siap, datangilah mereka. Buatlah sedikit kerusuhan bersama beberapa pengawal di sekitar tempat mereka.”





