Dilihat 16 kali
Sebelum memulai kalimat pertama Kitab Kyai Gringsing, saya merasa agak bingung. Kalimat apa yang menjadi pembuka? Setelah ditulis, apakah bisa berlanjut sampai bab pertama selesai? Ndilalah, tercetus bayangan rumpun bambu, kicau burung dan bau jerami yang dibakar. Oh ya, mantap saya memilih: ini saja yang menjadi pertama. Jadilah kemudian Terdengar kicau burung dan seterusnya di kalimat pembuka Kitab Kyai gringsing, Agung Sedayu Terperdaya 1. Kata demi kata mengalir tapi tidak selalu lancar seperti laju bus antarkota-antarprovinsi di atas tol TransJawa.
Jadi?
Warkop, Mas. Yah, warung kopi yang bertebaran di sekitar rumah. Tidak dalam jarak sangat dekat misal kurang dari 100 meter tapi butuh sepeda onthel atau kendaraan lain yang berbahan bakar sego pecel. Tapi warkop bukan satu-satunya tempat untuk menggali wangsit mie ayam. Justru kadang menjadikan keruh ide yang sebenarnya masih belum muncul hahahaha…
Warkop dan kadang juga setopan abang ijo itu kerap muncul suasana yang bisa di bawa pulang. Saya tidak ambil lampu merah, hijau apalagi reklame. Yang saya bawa pulang adalah suasana maka itu kemudian bisa muncul menjadi “Sukra mengacungkan ibu jarinya pada Agung Sedayu.” Menjelang senja berakhir, bayangan suasananya malah bisa muncul saat siang di bawah terik matahari yang tak pernah bolong. Kalau sudah begini, hidup terasa seperti melihat Siluman yang Enggan Mendekati Pengawal Menoreh di Jati Anom Obong. Panas-panas gemas, panik-panik lapar tapi pengawal pedukuhan tetap tenang jadi ya saya tiru tenangnya itu.
Hahaha, baiklah, kita kembali ke pringgitan kediaman Ki Gede Menoreh. Nah, Agung Sedayu Terperdaya adalah terminal awal masuk dunia Kitab Kyai Gringsing.
Rahayu
