Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 6 – Agung Sedayu Kembali Diburu Bayangan Lama Menjelang Perang Tanding

Sukra berjalan tenang bersama dua prajurit menuju arah pedukuhan induk. Antara Sukra dan dua prajurit itu tidak banyak bercakap tapi isi pikiran mereka cukup mendapatkan bekal untuk mengembara.

Sukra—yang sebelumnya berjaga di daerah yang cukup dekat dengan Dusun Ringinlarik—akhirnya menghubungkan perkelahian itu dengan kabar kedatangan sekelompok orang asing di sana.

Pada saluran air di tepi sawah, mereka berhenti sejenak lalu membersihkan diri sekadarnya.

“Kakang sekalian,” kata Sukra pada dua prajurit Mataram. “Aku minta Kakang tetap melaporkan kejadian tadi pada Ki Prana Aji. Aku akan langsung menuju ke rumah.”

“Tidakkah lebih baik kau saja yang mengatakannya pada Ki Prana Aji?” ucap Panegar dengan nada tanya.

Sukra menggeleng. “Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Kalau aku ke barak, jadi lebih sulit nantinya bila bertemu dengan Ki Lurah di sana. Lebih baik Kakang berdua yang menghadap Ki Prana Aji.”

Seorang prajurit mengernyitkan kening. Dia agak bingung dengan kata lurah dan Ki Prana Aji. Dalam pandangannya, Sukra tidak bermasalah dengan Ki Prana Aji.

“Baiklah, aku mengerti,” sahut cepat Panegar lalu cepat menggamit kawannya untuk segera menuju barak.

“Ada apa Sukra dengan Ki Prana Aji?” tanya kawan Panegar.

Panegar tersenyum, lalu menjawab, “Bukankah kita semua sudah diberitahu bahwa dari semua orang di Tanah Perdikan, termasuk yang di dalam barak, hanya satu orang yang tetap menyebut Ki Tumenggung Agung Sedayu dengan panggilan Ki Lurah.”

“Sukra,” kata kawannya yang akhirnya sadar lalu mereka tertawa bersama.

Jauh di belakang mereka bertiga, di tempat perkelahian, anak muda itu masih duduk bersandar pada batang randu ketika bayangan mulai tampak di permukaan. Malam hampir benar-benar berlalu ketika suara serangga mulai terdengar pelan dan enggan bersahutan.

Tiga kawannya berada tidak jauh darinya.

Seorang di antaranya sedang merendam kain dalam air sungai lalu menempelkan pada lengan yang membengkak. Yang lain duduk termangu sambil sesekali memijit rusuknya sendiri. Mereka tampak letih dan kesal, tetapi tidak lagi mempunyai keberanian untuk banyak bicara mengenai tiga orang yang pergi meninggalkan tempat itu.

Anak muda itu akhirnya bergerak pelan.

Ketika mencoba berdiri tegak, wajahnya langsung menegang. Pinggangnya masih terasa nyeri seperti ditusuk batang besi panas. Dia menarik napas panjang lalu memaksa tubuhnya lurus.

“Kita tinggalkan tempat ini,” katanya pendek.

“Kau dapat berjalan?” tanya kawannya.

Anak muda itu memandang tajam seakan pertanyaan itu melukai harga dirinya. Tetapi sesaat kemudian dia menjawab, “Kita tidak punya pilihan.”

Mereka lalu bersiap dengan gerakan lamban. Tidak ada lagi sikap pongah seperti sebelumnya.

Matahari sudah menggatalkan kulit kepala ketika keempat sudah mencapai pertengahan jarak ke Dusun Ringinlarik.

Jalan kecil yang mereka tempuh membelah pematang dan bulak-bulak yang mulai mengering. Sesekali anak muda itu tertinggal beberapa langkah karena sebelah kakinya tiba-tiba serasa sakit menusuk bila berjalan terlalu cepat.

“Aku masih tidak mengerti,” gerutu seorang kawannya lirih. “Orang seperti itu bisa berada di tempat sekecil tadi.”

“Diamlah,” sahut yang lain cepat. “Tidak usah dibicarakan lagi.”

Anak muda itu tidak ikut bicara.

Pikirannya justru dipenuhi gambaran ulang mengenai tiga lawannya yang tenang dan manap dalam setiap gerakan. Mereka cukup terlatih dan lebih mirip prajurit daripada orang dusun seperti pengakuan mereka.

Di kejauhan tampak rumpun-rumpun pohon besar mengelilingi perkemahan kecil yang seolah dilindungi kerapatan pohon dan tanaman perdu. Asap tampak naik dari lingkungan perkemahan.

Anak muda itu memperlambat langkah. Wajahnya yang sejak tadi menahan sakit kini tampak makin suram.

“Kalian pergilah dulu,” katanya pendek.

Tiga kawannya berpaling hampir bersamaan.

“Kenapa?”

“Aku akan ke sana,” jawab anak muda itu sambil menunjuk ke suatu arah.

Seorang kawannya mengerutkan dahi. “Kau ingin menghindari Ki Winih Jambe?”

Anak muda itu tidak menjawab. “Aku tidak ingin banyak orang tahu, terutama Ki Winih Jambe,” ucapnya kemudian.

Tiga kawannya saling berpandangan. Mereka dapat mengerti.

“Baik,” kata seorang kawannya lirih. “Kami akan bilang kau masih memeriksa jalan utara.”

Anak muda itu mengangguk pendek.

Kemudian dia memutar langkah, menyusuri tanah yan gsedikit lapang, memotong lintasan di atasnya lalu duduk bersandar pada sebatang pohon.

Anak muda itu masih bersandar pada batang pohon ketika suara langkah perlahan terdengar dari balik semak. Mula-mula dia mengira salah seorang kawannya menyusul. Tetapi sesaat kemudian jantungnya berdegup lebih keras.

“Kalau kakimu masih mampu berputar sejauh ini, berarti kau belum lumpuh.”

Anak muda itu menahan napas.

Ki Winih Jambe muncul dari sela bayangan pohon. Dia melihat sangat jelas lebam kebiruan pada lengan dan sebagian wajah anak muda itu.

“Ini jelas bekas perkelahian,” kata Ki Winih Jambe. “Siapa yang membuatmu seperti ini?”

Anak muda itu mengatupkan rahang. “Kyai, hanya salah paham kecil dengan orang dusun.”

Sebuah tamparan keras menyambar sebelum kalimatnya selesai.

Kepala anak muda itu seakan terlepas dari tubuh karena begitu keras tenaga Ki Winih Jambe. Rasa sakitnya makin bertambah dan rasa malunya pun makin membakar api dendam dalam hatinya.

“Jangan membodohiku!” bentak Ki Winih Jambe. “Ini bukan luka karena orang dusun mabuk atau perkelahian pasar!”

“Tiga anak muda di dekat sungai,” sahutnya lirih.

“Tiga anak muda?” mata Ki Winih Jambe menyipit tajam. “Dan kalian berempat?”

Urat pada leher anak muda itu menegang oleh malu dan sakit hati tapi tidak mampu menyangkal.

Ki Winih Jambe kemudian memegang lengan anak muda itu, meraba beberapa bagian yang lebam. Semakin lama wajahnya justru makin gelap. “Ini benda tumpul,” katanya lirih.

“Ranting,” kata anak muda itu perlahan.

Ki Winih Jambe melepaskan tangannya perlahan. Dahinya berkerut dengan tatap yang seakan sudah dapat mengukur kedalaman orang yang menjadi lawan anak muda itu. “Sentuhan pendek. Tidak merusak tulang, tapi menahan aliran tenaga dan darah.”

Tiba-tiba pandangannya menghunjam wajah anak muda itu. Kemudian perlahan-lahan Ki Winih Jambe berkata, “Bodoh sekali kalian. Aku sudah katakan untuk menahan diri.”

Nada suaranya tidak lagi sekadar marah. Kini terdengar sesuatu yang lain, ada rasa khawatir yang membayang pada wajahnya. Kemudian berbisik, ”Seandainya dia mau, kalian tidak akan dapat bernapas lagi.”

Anak muda itu menelan ludah. Mukanya pucat.

Ki Winih Jambe memandang ke arah sungai yang tak terlihat dari tempat itu. “Tanah Perdikan tidak hanya Sedayu seorang diri. Orang yang menjadi lawanmu sudah jelas memberi bayangan kedalaman dan sebaran orang-orang yang berkemampuan di tempat ini.”

Tiba-tiba dia mendorong kepala anak muda itu. “Darsam, kau sudah mempermalukan perguruan. Perkelahian itu jelas seperti pemberitahuan para penjaga keamanan.”

Darsam menunduk dalam-dalam. Meski bersandar tapi kakinya hampir-hampir tak kuat menahan tubuhnya untuk tegak.

Dan sepertinya dia baru dapat tegak lebih lama karena tendangan Ki Winih Jambe telah menghantam dadanya.

Tubuhnya berguling pendek.

Tiga kawannya yang melihat dari kejauhan tidak berani mendekat.

“Anak dusun…” desis Darsam seakan memendam kemarahan luar biasa ketika dia membayangkan wajah Sukra dalam benaknya.

“Anak dusun?” ulang Ki Winih Jambe.

Darsam mengangguk.

Rahayu

Bagi sederek yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan atau Toh Kuning”, dapat dilakukan dengan kontribusi Rp75.000 per judul.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

Ki Wira Sentanu Meninggalkan Gunung Kunir

Seperti yang telah diperkirakan oleh Sayoga dan telah disampaikan pula pada Glagah Putih, Ki Wira Sentanu menempuh jalur yang nantinya akan melewati sisi barat dari barak pasukan khusus.

Hari sudah tidak dapat dianggap pagi yang dingin ketika Ki Wira Sentanu dan penunjuk jalannya singgah di sebuah kedai di tepi jalan. Atapnya rendah dari anyaman daun kelapa yang mulai mengering, sedangkan di halaman depannya tumbuh pohon asem tua yang membuat tempat itu cukup teduh.

Beberapa pedati berjalan beriringan di jalan tanah yang membujur antara pedukuhan induk dan Kali Progo. Debu tipis berhamburan setiap angin berhembus meski tidak begitu kencang.

Ki Wira Sentanu duduk agak menjauh dari pengunjung lain.

Di sisi lain kedai, dua orang masuk ke dalam kedai dengan langkah biasa. Mereka segera membaur dengan orang-orang yang sudah berada di dalam. Percakapan cepat mengalir akrab dan sepertinya sudah saling mengenal.

Dari pakaian, mereka tampak tidak ada perbedaan. Tapi penunjuk jalan Ki Wira Sentanu memandang dua orang itu dengan penilaian yang berbeda.

“Sepertinya saya pernah melihat dua orang itu sebelum ini,” bisik penunjuk jalan itu pada Ki Wira Sentanu.

“Ki Saradan, apakah dapat dipastikan tempat pertemuan itu?”

Lelaki penunjuk jalan yang bernama Ki Saradan itu kembali memandang sekilas, lalu berpaling ke jurusan lain sambil mengingat-ingat. Dia mengangguk-angguk pelan, lalu berkata lirih, “Sepertinya mereka juga ada saat kita diperintahkan keluar dari lereng Kendil.”

“Apakah Ki Sanak yakin?”

Ki Saradan menggeleng tapi bukan karena dia tidak yakin tapi wajah dan cara mereka menyandang senjata, itu cukup berbeda. Mereka tidak menyarungkan atau menempelkan pada pinggang , tapi menggenggam.

“Saya tidak begitu yakin tapi cara mereka, saya hanya dapat mengira dua orang itu adalah pengawal wilayah ini,” bisik Ki Saradan.

Ki Wira Sentanu tidak bertanya lagi. Dia memusatkan pendengarannya pada percakapan yang melibatkan dua pengawal itu. Riuh rendah suara orang berbincang di dalam kedai rupanya dapat memaksa Ki Wira Sentanu mengerahkan sedikit kelebihannya karena dua pengawal itu seakan bicara tanpa suara.

“Apakah ada perintah khusus dari Ki Prastawa atau Nyi Pandan Wangi untuk ketertiban dua pekan mendatang?” tanya seorang pengawal berbaju terang pada kawannya.

Pengawal yang ditanya yang mengenakan ikat kepala berwarna gelap menjawab dengan gelengan kepala lalu berkata, “Belum. Sepertinya keluarga Ki Gede belum menentukan sikap dengan adanya perang tanding Pancuran Watu Item.”

Terdengar desah perlahan dari pengawal berbaju terang, lalu dia berucap pelan, “Swandaru, seharusnya dia berpikir dulu sedikit lebih panjang.”

“Tapi—,” sahut cepat yang berikat kepala. “…sudahlah. Tantangan sudah terlanjur diucapkan. Hanya saja, aku tidak dapat membayangkan seandainya guru beliau berdua masih hidup, apa yang kira-kira dirasakan oleh Kyai Gringsing?”

Bola mata Ki Wira Sentanu yang semula tenang menatap meja tiba-tiba bergerak-gerak. Swandaru dan Kyai Gringsing, itu adalah dua nama penting jika ada perang tanding lalu kira-kira siapa yang menjadi lawan? Ki Wira Sentanu menebak-nebak dalam pikirannya sambil berharap yang menjadi lawan Swandaru adalah Agung Sedayu.

Seperti suatu kebetulan yang sudah diatur atau keadaan sedang berpihak pada Ki Wira Sentanu saat nama Sedayu diucapkan oleh pengawal Menoreh itu.

“Ki Tumenggung Agung Sedayu sudah pasti berada di dalam pilihan yang sangat sulit. Beliau bukan orang yang gemar berkelahi dan bukan jenis orang yang suka menjadi perhatian. Tapi tantangan itu…,” kata pengawal berbaju puith lalu seketika menghentikan ucapannya.

Agung Sedayu. Nama ini kembali muncul di hadapan Ki Wira Sentanu nya justru ketika dia akan memberi laporan pada Pangeran Purbaya. Pikiran Ki Wira Sentanu bergerak cepat, berbagai cabang bermunculan deras di dalamnya.

Ada yang lebih besar di balik perang tanding di Pancuran Watu Item. Itu bukan sekedar untuk membuktikan yang lebih pantas menjadi penerus ilmu Kyai Gringsing, bukan sekadar memaksakan pengakuan untuk yang lebih sakti, tapi itu adalah kesempatan baginya untuk menakar kedalaman ilmu Agung Sedayu.

Sejujurnya, Ki Wira Sentanu masih terhalang tirai tebal tentang kehebatan Agung Sedayu. Apakah dia seperti yang dibicarakan orang-orang atau tercipta dari daya khayal orang-orang yang kagum padanya?

Dan itu sangat mengganggunya. Terlalu banyak orang mulai menyebut nama Agung Sedayu dengan nada hormat. Terlalu banyak prajurit muda menjadikannya contoh.

Bahkan di dalam lingkungan Mataram sendiri, kedudukan senapati Mataram itu semakin kuat.

Ki Wira Sentanu menyipitkan mata. Dia terkenang betapa Agung Sedayu seolah sedang mengejeknya saat dirinya berusaha menghalangi hubungan Sedayu saat di Kepatihan dengan orang-orangnya di Menoreh.

Seorang pemimpin pasukan khusus yang disegani dan dihormati banyak orang jelas dapat menjadi ancaman baginya untuk menyusun kekuatan dari dalam istana. Cepat atau lambat, Agung Sedayu akan membuatnya terusir dari sisi Pangeran Purbaya sebagaimana senapati itu mengusir pengikutnya tanpa harus hadir di lereng Kendil.

Ki Saradan bertanya lirih, “Kyai, apakah sudah tiba waktunya kita meneruskan perjalanan ke Kotaraja?”

Ki Wira Sentanu tidak segera menjawab.

Orang ini masih sibuk memilih, antara tetap bertahan di Menoreh atau segera menemui Pangeran Purbaya?

Baiklah, seandainya dia bisa tiba di Kotaraja dalam waktu singkat, apakah Pangeran Purbaya memberinya izin untuk meninggalkan istana dalm waktu berdekatan? Jika hanya menunggu perintah dari putra Panembahan Senapati, maka Ki Wira Sentanu merasa dapat tertinggal dari kesempatan yang tidak mungkin akan terulang.

Bagaimana jika dia tetap bertahan di Tanah Perdikan lalu menuju Kotaraja begitu hasil akhir pertandingan dapat diketahuinya?

Ditatapnya jalan panjang yang membelah hamparan kebun kering di depan kedai. Beberapa saat kemudian baru terdengar suaranya rendah dan berat.

Matahari telah naik cukup tinggi ketika Ki Wira Sentanu akhirnya berdiri dari amben bambu di dalam kedai itu. Bayangan pohon asem tidak lagi menutupi seluruh halaman. Udara mulai hangat, dan jalan tanah di depan kedai masih belum tampak lengang meski kegiatan mulai berkurang.

Ki Wira Sentanu melangkah keluar setelah menyelesaikan pembayaran. Keputusan telah dibuatnya.

Dia akan bertahan di Tanah Perdikan Menoreh sampai perang tanding dua murid Kyai Gringsing itu terjadi.

Di halaman depan kedai, Ki Saradan memandang heran pada Ki Wira Sentanu yang memandang arah pedukuhan induk.

“Kyai, apakah kita kembali ke Gunung Kunir?”

Ki Wira Sentanu mengangguk lalu berkata dingin, “Ada yang masih harus dipastikan telah selesai.”

Sorot mata Ki Saradan jelas menunjukkan rasa heran tapi kepalanya tetap mengangguk-angguk. Pikirnya, biarlah karena tugasnya hanya mengantarkan Ki Wira Sentanu hingga tempat penyeberangan di sisi barat Kali Progo.

Demikianlah mereka berdua pun mengarahkan tujuan, menyisir jalan melewati pedukuhan induk lalu kembali ke Gunung Kunir.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 2 – Ki Wira Sentanu Tidak Sendiri Ketika Agung Sedayu Menjadi Sasaran Dendam

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 4 – Pangeran Purbaya Sedang Menguji Agung Sedayu?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.