Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 57 – Gondang Wates

“Jadi, aku ingin engkau menetapkan hati dan landasan yang sangat kuar. Perang tidak sekadar berlari dan berkelahi, bukan hanya kemenangan dan kekalahan. Namun juga ada harga diri dan martabat.” Agung Sedayu beranjak, lalu memandang keadaaan gardu jaga. Sejumlah anak muda masih bertahan dalam belitan kabut yang semakin membasahkan lubang hidung.

Sukra kemudian terdengar bertanya, “Apa yang harus saya katakan bila bertemu Sayoga, Ki Lurah?”

“Tidak ada,” jawab Agung Sedayu lalu melangkah mendekati tlundak. Sikap Agung Sedayu seolah-olah tengah menanti sesuatu. Raut gelisah jelas ter;ihat pada wajahnya. “Bagaimana rencanamu bila bertemu Sayoga? Apa yang akan kau katakan?”

Sukra menggeleng, katanya, “Tidak ada. Hanya saja saya pasti lega melihatnya dapat kembali dengan selamat.”

Kembali Agung Sedayu melepaskan senyum dipaksakan. Pikirnya pada waktu itu, Sukra bukan satu-satunya anak muda yang siap pergi ke Randulanang. Meski ia dapat mengandalkan anak muda itu, tetapi satu-satunya alasan adalah berdasarkan kenyataan bahwa mereka hidup bersama belasan tahun. Apakah Sukra telah mengikat batinnya dengan Sangkal Putung? Apabila kegentingan terjadi di Tanah Perdikan, Agung Sedayu tidak mempunyai alasan utuk mengabaikan Sukra. Namun di Sangkal Putung, hanya temali jiwani yang mungkin menjadi sebab kedatangannya pada malam itu. Perhatiannya yang sangat besar pada keadaan Sekar Mirah dan Agung Sedayulah yang menjadi sebab utama. “Mungkin, mungkin aku hanya dapat meraba itu. Bagaimanapun, Sukra harus dapat menumbuhkan keyakinan bahwa Sangkal Putung pun membutuhkan kesungguhannya,” kata Agung Sedayu di dalam rongga dadanya.

Sulit bagi Agung Sedayu untuk mengatakan pada anak muda itu tentang kitab Kiai Gringsing yang beralih ke tangan orang lain. Lebih sulit lagi untuk memberitahunya mengenai penculikan Swandaru di depan matanya. Bagaimana perasaan dan pikiran Sukra bila mendengar dua perihal tersebut? Tentu cara pandangnya pada Agung Sedayu dapat berubah. Kecewa adalah akibat terburuk karena dapat melahirkan prasangka buruk yang mungkin menyusul kemudian.

“Sukra, bilamana seseorang datang padamu lalu merundingkan sesuatu yang penting, aku ingin mengetahui terlebih dulu tentang keputusanmu.”

“Seorang padesan seperti saya, apa yang dapat mereka harapkan? Kepandaian saya pun masih jauh dari lapisan mapan. Tidak ada, Ki Lurah. Tidak akan dapat mereka temukan benda atau sesuatu yang berharga tinggi pada saya.”

“Bila kita memandangnya dari sudut yang biasa engkau gunakan, aku tidak menolak pendapatmu. Namun, aku ingin mengatakan bahwa mereka bukan mencari yang ada dalam dirimu atau melekat padamu, tetapi mereka membawa sesuatu yang engkau butuhkan.Mungkin engkau belum membutuhkannya dalam waktu dekat, tetapi tawaran mereka bermanfaat besar untuk di masa mendatang. Sukra, engkau masih begitu muda.”

“Saya mendengarkan, Ki Lurah.”

“Setiap impian seringkali berada di tempat yang jauh. Untuk mencapai tempat itu, kadang-kadang seseorang membutuhkan keberuntungan dan kesempatan. Lantas, bila engkau termasuk orang yang gigih mewujudkan mimpi, bisa jadi, terbuka kemungkinan bahwasanya engkau akan meninggalkanku, Nyi Mirah dan semua orang di Tanah Perdikan. Kebanyakan anak muda tertantang dengan sikap keras dalam meraih mimpi.”

“Ki Lurah,” kata Sukra dengan alis bertaut. “Saya datang ke Sangkal Putung bersama Sayoga dan Kiai Bagaswara dengan satu tujuan.”

Agung Sedayu memandang tanpa berkedip sepasang mata Sukra yang juga menatapnya secara langsung.

“Ki Prastawa mengabarkan keadaan genting di Jati Anom pada Ki Gede. Kami semua mendengarnya. Ki Gede pun mengundang Ki Lurah Sanggabaya untuk membicarakan persiapan-persiapan yang memungkinkan.”

Agung Sedayu belum memalingkan pandang matanya.

“Saya hanya berpikir bahwa jarak Jati Anom begitu dekat dengan kademangan ini, sementara Nyi Mirah pun berada di batas yang sulit diperkirakan. Maka, saya putuskan untuk menyusul Ki Lurah.”

“Kau katakan itu pada Ki Gede?”

Sukra mengangguk. “Di depan Ki Gede dan sejumlah orang, saya berterus terang. Oleh karenanya, Ki Gede meminta Kiai Bagaswara dan Sayoga untuk menyertai saya.”

“Aku tidak mempunyai alasan meragukan anak ini. Sebenarnya tidak ada sama sekali tetapi mengapa muncul keraguanku padanya?” Agung Sedayu bertanya-tanya pada hati dan jalan pikirannya. Sejenak ia menghela napas. Ia mendapatkan jalan agar beban dapat dirasakannya lebih ringan. Lalu kata Agung Sedayu, “Aku tidak ingin memaksamu pergi ke Randulanang bila engkau lebih berat dengan keselamatan Sayoga.”

“Tetapi?”

“Tetapi engkau pun bebas bila menetapkan hatimu untuk mengamati keadaan Randulanang. Sepenuhnya, aku serahkan semuanya padamu.”

“Tidak, saya kira tidak bisa Ki Lurah membebaskan saya dalam persoalan ini.”

“Mengapa? Bukankah aku seseorang yang sudah kau anggap sebagai pengganti orang tuamu? Lagipula, aku seorang senapati. Ingat baik-baik, Sukra! Seorang senapati dapat memberi perintah berupa kebebasan agar seseorang dapat mengendalikan keadaan tertentu. Dan untuk permasalahan ini, aku melihatnya sebagai saat belajar yang tepat bagimu.”

Untuk beberapa lama, Agung Sedayu dan Sukra kembali berdiam.

Kembali Agung Sedau memecah keheningan. “Aku tidak akan memaksamu untuk berbuat sesuatu yang tidak engkau inginkan. Bahkan, aku juga membenarkan jika kau putuskan bersama mereka di gardu jaga.”

Sukra memalingkan wajah dengan sorot mata berusaha menembus gelap malam agar segera melihat bila seseorang datang dari ujung jalan.

Dalam masa percakapan itu, pada jalan yang mengarah pada arah masuk menuju banjar pedukuhan, Bunija serta dua orang Jati Anom berlari-lari menyibak pekat kabut malam. Napas mereka sedikit tersengal karena himpit udara dingin begitu besar menekan rongga dada mereka. Tidak ada pembicaraan di antara mereka sejak meninggalkan ujung tanjakan. Tugas utama mereka adalah melaporkan perkembangan pada Ki Rangga Agung Sedayu. Walau begitu, walaupun tidak diungkap dengan kata-kata, mereka bertiga didera cemas ketika membayangkan akhir dari pertempuran di depan gardu jaga Gondang Wates.

Mereka telah menyisir tikungan, sesaat lagi akan tiba di halaman banjar.

“Bunija!” teriak seorang pengawal memanggil pengawal Pedukuhan Gondang Wates. “Apa yang terjadi?”

Related posts

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 8 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 7 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 66 – Gondang Wates

kibanjarasman

Leave a Comment