Dironda 248 kali
Kening Pandan Wangi tampak mengerut ketika melihat wajah tegang dan bibir rapat terkatup dari Agung Sedayu. Sejenak ia mengambil tempat sebelah menyebelah dengan Agung Sedayu, lalu katanya, “Saya telah mendengar semuanya dari penjaga regol dan pengawal.”
“Apakah engkau mempunyai semacam dugaan terhadap serangan?”
“Kakang tentu lebih tahu dari semua orang di sini.” Pandan Wangi memandang pada arah yang sama dengan titik penglihatan Agung Sedayu.
“Pandan Wangi. Sebagai seseorang yang telah banyak melewati pertempuran, tentu engkau mampu mengurai sedikit perkiraan dari gelapnya pergerakan Raden Atmandaru.”
“Saya nyaris tidak dapat berpikir lebih banyak selama berada di rumah Ki Demang. Tetapi, Kakang, Raden Atmandaru mungkin telah membuat banyak jalan masuk. Lalu, dengan serangan yang tak kunjung dilepaskannya, bisa jadi, ia sedang menunggu kita membuat kesalahan.”
“Mungkin itu benar, mungkin juga tidak seperti itu.”
Debar jantung yang memukul rongga orang-orang yang turut mendengar percakapan itu menjadi semakin kencang. Apakah justru dengan membakar Pedukuhan Janti lalu musuh menyerang padukuhan induk? Itu besar kemungkinan dapat terjadi bila Agung Sedayu mengirim bantuan untuk melapisi Pedukuhan Janti dan Gondang Wates. Jadi dalam benak pengawal kademangan yang berada di sekitar mereka berdua adalah : Agung Sedayu akan mempertahankan pedukuhan induk dengan menumpuk pengawal di Janti dan Gondang Wates. Apabila Pedukuhan Janti jatuh, bukankah masih ada Gondang Wates sebagai benteng pelapis pedukuhan induk? Tetapi kebanyakan pengawal tetap menunggu dengan perasaan seperti teraduk oleh pusaran angin laut.
Lalu terdengar Agung Sedayu berkata, “Yang pasti adalah tidak ada musuh yang akan bersikap jujur. Perang adalah tipu muslihat. Kita semua terlibat di dalamnya. Bisa jadi aku adalah sebuah batu yang mudah dipindahkan dan dikorbankan, bisa juga kalian. Malam ini, aku seperti sedang menjadi boneka dungu.”
“Kakang tidak sepatutnya berkata seperti itu,” kata Pandan Wangi dengan dada bergetar. Pikirnya, bagaimana seorang senapati dapat mengatakan sesuatu yang bisa meruntuhkan semangat prajuritnya? Kecemasan merambat dalam hatinya dan mulai menguasai jalan pikirannya. Namun begitu, Pandan Wangi sadar bahwa Agung Swdayu mungkin sedang mencari pemicu untuk meledakkan semangat pengawal Sangkal Putung yang lambat laun meredup.
Lantas ia bertanya, “Apakah menurut Kakang, mereka tidak diserang jemu menunggu perintah?”
“Wangi, engkau tahu benar bahwa sebenarnya tidak ada yang diuntungkan ketika kita dan mereka sedang sama-sama menunggu.” Agung Sedayu memutar tubuh lalu memandang sekelilingnya.
Ia berkata, “Ki Sanak sekalian. Kita tidak tahu kedudukan musuh pada saat ini. Kita juga tidak tahu alasan mereka menyerang tempat terjauh dari pedukuhan induk, tapi satu hal yang pasti kita alami adalah menunggu. Sesungguhnya mereka juga tengah menunggu. Mereka menunggu kita menjadi lengah atau melakukan kesalahan. Jadi, aku tegaskan agar tidak ada resah lagi di perasaan kita semua bahwa menunggu adalah senjata kita yang utama. Bukan keahlian menggunakan senjata atau keberanian memapas serangan lawan yang menjadi keberhasilan kita menghalau mereka, tetapi kesabaran ketika menunggu mereka berbuat kesalahan.”
“Benar yang dikatakan Ki Rangga,” bisik seorang pengawal pada teman di sampingnya. Beberapa orang masih merenungkan pesan Agung Sedayu, untuk sejenak, mereka mengerti lalu kasak kusuk pun menggaung seperti dengung lebah.
Di antara mereka memberanikan diri untuk bertanya, “Ki Rangga, mungkinkah mereka menunda atau mungkin… mereka justru mengalihkan pusat serangan?”
“Segala sesuatu selalu mempunyai kemungkinan, Sanaji,” jawab Agung Sedayu.
Para pengawal hanyut dalam keheningan. Mereka meraba setiap kemungkinan yang muncul dalam benak masing-masing. Suara jangkrik dan binatang malam serasa makin mengacaukan perhatian sebagian orang.
Dalam kesempatan itu, Agung Sedayu menarik lengan Pandang Wangi sedikit menjauh dari kerumunan pengawal lantas bertanya, “Bagaimana keadaan Sekar Mirah?”
Ketika Pandan Wangi datang memenuhi panggilan pemimpin pasukan khusus, ia mengesankan sebagai seorang panglima perang putri. Begitu gagah dan penuh wibawa dengan sepasang pedang kembar yang melekat pada punggungnya. Namun pertanyaan Agung Sedayu serasa membalikkan keadaan dengan tiba-tiba. Suara Agung Sedayu menggugah kesadaran Pandan Wangi sebagai seorang perempuan.
- Apakah kita pernah atau sering dihinggapi rasa jemu? Jika pernah, apakah membaca Kiai Plered dapat menjadi solusi keluar dari kejemuan atau kebosanan? Dalam persoalan ini, Agung Sedayu dan Pandan Wangi tidak bersedia memberi jawaban.
- Buktinya? Penjaga regol Keraton bertanya, tapi Agung Sedayu menjawab tenang, “Saya dari Tanah Perdikan Menoreh.” Hmm, bila dianggap berbelit, lalu dalam kepentingan apa senapati Mataram ini mendatangi Keraton pada saat Hari Bising 42 menyapa Tanah Menoreh?
- Para pengawal Menoreh terjungkal roboh. Dua tenaga inti bertumbuk pada waktu yang berlainan dengan kedatangan Sedayu di Kotaraja. Itu terjadi di Jati Anom Obong 40. Sejumlah orang bertempur mati-matian di batas luar Tanah Perdikan Menoreh.
