Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 41

Walau kini ia berada di tengah-tengah dua wanita yang menyayanginya, Agung Sedayu justru merasakan sepi dan terasing. Tepatnya, ia ingin mengasingkan diri hingga Swandaru kembali ke rumah. Ketiadaan Swandaru di antara mereka menjadi sebab kegalauan meski bukan satu-satunya. “Apakah harus aku mengatakan pada mereka? “ Berulang-ulang pertanyaan itu menggedor dadanya.

Kekuatan hatinya seolah tergerus sedikit demi sedikit oleh hantaman gelombang yang tak kasat mata. Kegelisahan merambati setiap saraf pembuluh darah tetapi rasa itu, seketika, lenyap karena teralihkan oleh suara perempuan yang berada di bibir pintu bilik Sekar Mirah.

“Marilah, Anda sekalian dapat menemani Mbokayu Sekar Mirah untuk makan pagi,” kata wanita yang dikenal dengan nama Nyi Dwani. Kehadiran putri Empu Wisanata di rumah Ki Demang Sangkal Putung memang atas permintaan Sekar Mirah semenjak ia tiba di rumah yang pernah ditinggalinya dari lahir. Kemampuan Nyi Dwani dari segi pengobatan, sedikit banyak telah menenangkan Sekar Mirah yang memang membutuhkan perhatian lebih.

Pada saat mereka mengitari hidangan pagi, Pandan Wangi banyak menuturkan keadaan Sekar Mirah selama di Tanah Perdikan. Oleh karena itu, dengan  pertimbangan bahwa di Sangkal Putung lebih mudah untuk merawat kandungan Sekar Mirah, maka Ki Gede Menoreh memberi izin bagi Pandan Wangi untuk membawa Sekar Mirah pulang.

“Sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, Kakang,” ucap Sekar Mirah, “tetapi Ki Gede kadangkala terlihat sulit mengendalikan perasaan apabila melihat saya kepayahan. Saya sadar bahwa kemampuan olah kanuragan tidak selamanya dapat berbanding dengan kandungan, maka… sering kali… saya harus mengambil masa lebih banyak untuk istirahat.”  Keadaan yang dialami Sekar Mirah sama hal dengan perempuan kebanyakan. Perasaannya mudah terguncang jika mendapati hal-hal kecil dirasakan tidak sesuai dengan kehendaknya. Kebiasaan harian perlahan mulai ditinggalkan.  “Sungguh, bukan suasana yang menyenangkan jika sepanjang hari hanya duduk dan duduk, lalu berbaring dengan mata terbuka.”

“Seperti itulah yang pernah aku alami, Mirah,” kata Pandan Wangi. “Meski begitu, aku yakin kau dapat melewatinya karena aku tahu bahwa engkau adalah perempuan yang kuat.”

Seandainya Sekar Mirah tidak segera diajak kembali ke Sangkal Putung, kemungkinan ia akan mengalami penurunan daya tahan secara luar biasa. Pandan Wangi dapat menyimpulkan itu dari kebiasaan dan sinar mata Sekar Mirah yang semakin suram. Wajah murung tanpa cahaya selalu membayang paras cantik istri Agung Sedayu. Semenjak itu, dengan alasan-alasan sehat, Pandan Wangi berusaha mengembalikan ketahanan Sekar Mirah. Simpul kebuntuan tidak lagi dapat terurai ketika ia memutuskan mengajak Sekar Mirah pulang. Belum genap sepekan kedatangan mereka di Sangkal Putung, Pandan Wangi mendapati bahwa Sekar Mirah mulai memulihkan keadaan dirinya. “Ini sesuatu yang menggembirakan,” batin Pandan Wangi setiap kali melihat Sekar Mirah berusaha melemaskan tulang punggung di sisi sanggar.

Di hadapan Agung Sedayu dan Pandan Wangi, Sekar Mirah berkata, “Mungkin aku bukan ibu yang baik bagi janin yang tengah berharap segera bertemu dengan ayahnya. Bayang-bayang buruk tentang Kakang selalu datang saat saya terbaring sendiri. Kehadiran perempuan lain bukanlah perkara yang saya khawatirkan, tetapi saya mempunyai firasat sangat buruk mengenai kakang Swandaru.”

“Engkau telah melupakan Wigati?”

“Bukan melupakan tepatnya, tetapi menganggap peristiwa itu tidak pernah terjadi adalah jalan terbaik yang saya jumpai, Kakang,” jawab Sekar Mirah dengan kepala tegak. Kemudian, ia berpaling pada Pandan Wangi yang berada di sebelah kirinya, ucapnya, “Menyerahkan janin pada sisi muram tentu bukan langkah yang dapat dibenarkan, tetapi bayangan itu…” Mendadak kedua mata Sekar Mirah menjadi layu. Seketika mendung bergayut dan bersambut di bawah kelopak matanya. Tidak ada air mata yang membasahi pipinya namun Sekar Mirah telah menundukkan kepala.

“Mirah,” kata Agung Sedayu dengan kedua tangan memegang bahu istrinya.

Pelan-pelan Sekar Mirah mengangkat wajahnya, sedikit senyum mengembang sebelum ia berkata, “Ketika Kakang berkelahi dengan tiga bajak laut saudara seperguruan Ki Tumenggung Prabandaru, pada malam itu, saya bermimpi buruk tentang Anda.” Sejenak ia menarik napas lalu melanjutkan, “Hari-hari belakangan saya tidak bermimpi tentang kakang Swandaru, tetapi selalu saja ada gambaran-gambaran buruk melintasi mata saya. Seperti ditampakkan, dengan sengaja, di depan saya bahwa kakang Swandaru berada di ujung lorong yang panjang. Begitu gelap. Begitu dingin. Begitu lembab. Tetapi saya sangsi karena tidak terlihat jelas, hanya saja, suara hati saya mengatakan bahwa orang itu adalah Swandaru Geni.”

Related posts

Leave a Comment