Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 43

Waktu beranjak seolah semakin lambat ketika matahari menanjak semakin tinggi menuju puncak langit. Pandan Wangi tidak segera bertanya pada Agung Sedayu.  Jemari kanan Pandan Wangi lembut mengenggam tangan Sekar Mirah.  Kedua perempuan itu serasa berbicara dari hati ke hati melalui sentuhan. Kejadian itu telah lama tidak dilihat oleh Agung Sedayu. Mungkin telah belasan tahun atau mungkin sewaktu mereka masih dalam kemelut usia muda, namun dalam waktu itu, keadaan di dalam bilik Sekar Mirah seperti menyampaikan pesan penting, bahwa setiap peristiwa akan berputar dan bergiliran dengan terbitnya matahari.

“Tidak ada yang lebih besar dari Tanah Perdikan maupun Sangkal Putung,” gumam Agung Sedayu, “itu ungkapan yang cukup menguras pikiran.”

Sekar Mirah menolehkan wajah lalu mengangguk pada Pandan Wangi.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi dengan suara bergetar. “Saya pikir, sebaiknya Sekar Mirah yang mengatakan itu.”

Ketika Pandan Wangi beranjak bangkit dari pembaringan, Sekar Mirah menahannya dengan genggaman kuat. Ucapnya, “Anda tidak perlu meninggalkan ruangan ini, Mbokayu. Tidak perlu. Saya tidak mampu menahan tanpa Anda.” Suara Mirah terdengar penuh getar sedih. Terbata-bata ia mengatakan itu pada Pandan Wangi.

“Aku tidak meninggalkanmu, Mirah,” kata Pandan Wangi. Meski, jauh di lubuk hatinya, ia ingin mengakui bahwa sebenarnya ia  tidak sanggup mengatakan jalan pikirannya pada Agung Sedayu. “Bagaimana aku mengemukakan persoalan yang akhirnya semakin memberatkan Sekar Mirah? Apakah aku seorang perempuan tanpa hati meski itu perkara yang juga menyangkut masa depanku?” hati Pandan Wangi bergolak hebat!

“Tetaplah kalian di situ. Kalian telah melampaui usia yang dapat dikatakan cukup. Kalian adalah perempuan bermartabat tinggi serta telah bersuami. Maka, aku akan mengungkap dugaanku mengenai jalan pikiran Pandan Wangi.”

Pandan Wangi tidak menggerakkan tubuhnya. Ia seolah membeku! Walau tidak ada keringat dingin yang membasahi kening dan lehernya namun Agung Sedayu menangkap gelagat tidak nyaman yang dialami istri Swandaru itu. Sedangkan Sekar Mirah hanya memejamkan mata. Begitu erat terpejam hingga keningnya tampak berkerut.

Kemampuan Agung Sedayu membaca bahasa tubuh memang telah mendapat pengakuan dari gurunya. Bahkan Ki Waskita pun menambahkan bahwa ia mengagumi ketajaman pandangan Agung Sedayu saat meninjau persoalan. “Keduanya adalah kelebihan khusus yang dimiliki oleh angger Agung Sedayu,” ucap Ki Waskita pada Kiai Gringsing di masa lalu.

Namun di dalam bilik Sekar Mirah, untuk tetap tegak menghadapi kenyataan pahit, Agung Sedayu harus memiliki kekuatan khusus dalam hatinya. Kekuatan jiwani yang tidak mudah dipelajari di dalam sanggar maupun di bawah air terjun. “Setiap orang selalu saja dapat mencari pembenaran, atau bila itu tidak ia dapatkan, maka dan tentu saja mereka tidak segan mengadakan kenyataan palsu. Seorang lelaki, tanpa kenal malu, dapat mengunggulkan kekuatannya lalu mencela Swandaru. Namun Swandaru adalah adik seperguruanku. Ia adalah kitab hidup yang ditinggalkan oleh guru untukku. Apakah aku harus berbohong?”

Dari sudut lain di dalam hatinya, Agung Sedayu membantah jalan pikirannya sendiri, “Aku ingin berbuat seperti itu tetapi aku tak dapat berbuat itu. Aku bukan orang yang cerdik untuk mempertahankan hidup. Aku bukan seorang jawara yang telah memenangkan kehidupan. Aku hanya seorang lelaki yang bernama Agung Sedayu. Pertahanan terbaik bagiku adalah berterus terang. Itulah benteng perlindunganku yang terakhir.”

Agung Sedayu melewatkan banyak waktu di celah perbukitan dan gunung-gunung. Sekar Mirah adalah perempuan pertama yang mendapatkan tempat di hatinya. Dan ketika ia menjejak kaki di perbukitan Menoreh yang indah, Pandan Wangi adalah orang kedua yang mengisi relung jiwanya. Meskipun ia menyimpan perasaan yang berbeda, Agung Sedayu mampu merahasiakan itu dari semua orang. Ia bukan Rudita yang sangat mahir bermain seruling untuk mengungkap isi hati. Tetapi, masih di hadapan Sekar Mirah dan Pandan Wangi, Agung Sedayu harus menunjukkan kekuatan terbaiknya. Kejujuran.

Sambil mengatur letak duduknya, ia meraih tangan Sekar Mirah, “Bagaimana keadaan anakku?”

“Ia masih menunggu ayahnya mengurai sebuah dugaan.” Senyum Sekar Mirah mengembang.

Agung Sedayu menghela napas sambil berpaling pada wajah Pandan Wangi yang masih mampu bersinar dalam  kelam yang melanda hatinya.

Related posts

Leave a Comment