Padepokan Witasem
Cerita Wayang

Petruk Nagih Janji 5

Petruk yang melarikan diri akhirnya tersesat masuk ke dalam wilayah Wanapringga. Wanapringga adalah hutan angker, banyak dihuni segala macam hantu dan makhluk halus. Namun, Petruk tidak takut sama sekali. Baginya lebih baik mati dimangsa hantu daripada gagal meraih cita-cita.

Demikianlah, Petruk pun duduk di atas sebongkah batu besar di bawah pohon yang rimbun. Berbagai macam hantu datang mengganggunya. Dan setiap kali mereka datang, Petruk selalu menyambut dengan kata-kata jenaka. Ia tidak terlihat gentar ketika bertukar bicara dengan gerombolan hantu. Yang terjadi kemudian adalah kawanan hantu justru makin gencar mendatangi Petruk untuk menghibur diri, melupakan kenyataan bahwa tidak selamanya menjadi hantu itu nikmat.

Mereka semakin akrab dan keadaan ceria menguasai suasana hutan. Tidak lama kemudian, muncul sosok tinggi besar, Gandarwaraja Swala.

Setelah beradu pandang, Petruk mengerutkan alis dengan banyak dugaan di dalam pikirannya. Atas alasan apakah Gandarwaraja Swala, yang juga ayahnya, datang menemuinya di Wanapringga?

Gandarwaraja Swala yang selalu menemui kesulitan ketika Petruk, yang bernama asli Gandarwa Supatra, sedikit canggung saat berada di dekat anaknya. Teringat olehnya kenangan ketika ia meminta bantuan Kiai Semar untuk mendidik anaknya yang mbeling lagi sangar. Kiai Semar pun menunaikan wasit itu dengan baik dan memberi nama anak lelaki itu : Petruk.

Keberhasilan yang kemudian diikuti kerelaan Gandarwaraja Swala dengan melepaskan Petruk sebagai anak angkat Kiai Semar.

Sewaktu matahari telah bangun sepenuhnya, di dalam hutan, di tepi danau yang permukaannya dipenuhi kilau berlian, Gandarwaraja Swala menemui Petruk lalu bertanya kabar.

“Engkau terlihat sedih. Nestapa begitu lekat menghias wajahmu. Ananda, ada apa gerangan?”

Petruk pun menyembah ayahnya kemudian menjawab pelan, “Seorang anak mencari jalan berpulang. Tidak ingin ia mengumbar kesedihan di bawah kicauan burung dan desah dedaunan. Seorang anak yang cidera oleh janji suci seorang raja.” Petruk lantas berkisah dari awal hingga akhir.

“Aku melu prihatin, Ngger. Sungguh terlalu,” ucap sedih Gandarwaraja Swala sambil mengelus dada. Sekejap kemudian kelopak matanya mengembun, namun ia cepat mengusapnya. Sebuah pertanyaan pun dilontarkan olehnya.

“Ananda yang dicinta dan tengah dirundung asmara. Apakah Angger tulus mencintai Dewi Prantawati? Rela menerimanya dalam keadaan terburuk? Rela bersamanya melewati masa susah tanpa keluh kesah?”

“Oh, Ayah. Aku yang mencinta dan aku pula yang terhunjam tombak asmara ingin berkata bahwa ini bukan sekadar urusan asmara, tetapi lebih besar dari itu. Ayah, ini adalah urusan menyelamatkan pemimpin dari dosa melanggar janji.”

Gembira ayah Petruk mendengar ketegasan anaknya. Ia mengubah wujud Petruk menjadi kesatria bernama Bambang Sukmanglembara. Tidak hanya itu, Gandarwaraja Swala juga memberikan tambahan ilmu kesaktian kepada Petruk.

Kawula ngaturaken ageng pamuji, Bapa.” Petruk berterima kasih atas bantuan ayahnya. Ia pun mohon restu dan mohon pamit untuk menggagalkan perkawinan Dewi Prantawati dengan Raden Lesmana Mandrakumara.

Di Hastinapura.

Prabu Kresna dan Prabu Baladewa di Kerajaan Dwarawati menerima kedatangan rombongan pengantin dari Kerajaan Hastina yang dipimpin langsung oleh Prabu Duryudana. Setelah saling memberi hormat, Raden Lesmana Mandrakumara bertanya, “Apakah wajah Dewi Prantawati sama cantik dengan Dewi Sitisundari dan Dewi Titisari?”

Namun belum ada orang yang menjawabnya.

Raden Lesmana Mandrakumara lantas berkata, “Jika Dewi Prantawati berwajah jelek, lebih baik kita batalkan perjanjian ini. Tak perlu menikahinya. Bukan sekejap ketika hidup dengannya. Bukan mainan  pula diriku di hadapannya. Hasratku begitu menggebu. Kalian semua sudah tahu niatku yang tulus dan telah tersurat melalui serpihan debu yang suci. Aku benar dalam perkataanku. Maka sedikit coreng pada wajahnya, aku akan berpulang. Kemudian aku akan katakana Sambhalo Sambhalo Na Pyaar Ho.”

Mendengar ocehan Raden Lesmana, Raden Samba putra Prabu Kresna bangkit lalu mengatakan, ”Deewana Hai Dekho Bekaraar Woh. Kowe ki durung payu rabi kok nggaya, Jo.”

Sekejap kemudian Rden Lesmana menggelar kain bertuliskan :

Sumber gambar GURAT

Prabu Kresna segera turun tangan agar suasana tidak menjadi runyam lalu meng-ambyar-kan tujuan sebenarnya. Ia pun memerintahkan Raden Samba untuk mengantar Raden Lesmana menemui Dewi Prantawati agar dapat melihat langsung calon istrinya.

“Antar Raden Lesmana. Biarkan ia menilai, cantik atau tidak.”

Dua pemuda itu pun bergegas masuk menuju kaputren.

Related posts

Petruk Nagih Janji 4

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 3

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 2

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 1

kibanjarasman

Leave a Comment