Padepokan Witasem
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 34

Beberapa orang kemudian mengikutinya, namun tiba-tiba terdengar lengking suara yang menyiratkan kemarahan dan kesedihan yang berbaur menjadi satu. Orang-orang menoleh pada arah suara. Agung Sedayu terperanjat karena ia sangat mengenal suara yang didengarnya setiap saat. Maka kemudian Agung Sedayu berkelebat sangat cepat lalu ia melihat Sekar Mirah duduk bersimpuh dengan isi dada terguncang hebat.

“Sekar Mirah!” Agung Sedayu berseru seraya menghampiri istrinya. Ia duduk dihadapan Sekar Mirah, ia bertanya dengan kedua tangan menyentuh bahu istrinya,”Apa yang terjadi?”

Sekar Mirah tidak lekas menjawab pertanyaan suaminya, ia terisak dengan wajah tertunduk. Beberapa perempuan kemudian duduk mengelilingi keluarga yang sangat disegani di Tanah Perdikan itu. Mereka tidak mampu berkata-kata, hanya mata mereka yang bergantian memandang Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Sekar Mirah!” Agung Sedayu mengguncang lembut bahu istrinya. Sekejap kemudian Sekar Mirah mengangkat wajahnya lalu,”Rumah kita, Kakang.”

Telinga Agung Sedayu mendengar langkah kaki yang ringan sedang berjalan mendekati mereka berdua. Tanpa disadarinya, tiba-tiba Agung Sedayu telah mengurai cambuk yang melilit di pinggangnya.

“Kendalikan dirimu, Ngger,” suara ramah itu menyentuh bagian dalam Agung Sedayu. Ia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Ingatan tajam Agung Sedayu segera mengenang raut wajah seseorang yang telah berdiri dihadapannya.

“Ki Bagaswara?” bertanya Agung Sedayu dengan perasaan lega.

Orang yang disapa sebagai Ki Bagaswara itu mengangguk. Kemudian berjalan mendekati Sekar Mirah lalu berkata, ”Tenangkan hatimu, Nduk.”

Sekar Mirah bersimpuh dengan wajah sayu dan sinar mata yang tidak lagi menggambarkan semangat yang selama ini memancar darinya. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas dan tidak lagi bertulang. Dan ketika ia mendengar suara Agung Sedayu, maka perlahan-lahan ia seperti menemukan dirinya sendiri meskipun belum secara utuh. Namun suara Agung Sedayu telah membawanya kembali dari kesuraman.

Sekar Mirah menyadari bahwa jerit tangisnya tidak akan dapat mengubah keadaan atau memutar waktu agar berulang. Ia sadar bahwa ia tidak boleh membiarkan kesuraman semakin berkembang dalam hatinya, apalagi mengingat bahwa ia sudah tidak lagi seorang diri.

Sebenarnyalah Sekar Mirah telah menerima kabar tentang apa yang terjadi pada tempat tinggalnya dari seorang pengawal yang diperintahkan Ki Gede untuk melihat keadaan Agung Sedayu. Namun pengawal ini tidak dapat menahan diri untuk mengabarkan berita mengenai perkembangan yang sedang dihadapi oleh Ki Jayaraga. Maka Sekar Mirah pun hampir tidak dapat menguasai dirinya setelah pengawal itu tuntas menceritakan suasana di lingkungan tempat tinggal Sekar Mirah.

“Tidak ada yang tersisa, Kakang,” desis Sekar Mirah seraya menatap wajah Agung Sedayu.

Agung Sedayu mencoba untuk meredam gemuruh dalam dadanya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian,”Apa yang kau bicarakan, Mirah?”

Kali ini Sekar Mirah menarik nafas panjang. Isak tangisnya sedikit mereda ketika ia menjawab Agung Sedayu, ”Ki Garu Wesi menghancurkan rumah kita, Kakang.” Kembali pecah tangis Sekar Mirah. Dengan kepala bersandar pada dada suaminya, ia kemudian mencoba untuk melanjutkan kalimatnya. Namun Sekar Mirah benar-benar merasa pepat dan seperti sebuah batu gunung sedang menghimpit dadanya.

“Lihat aku, Mirah!” Agung Sedayu berkata lirih sambil mengusap kepala Sekar Mirah. Lalu katanya, ”Kau belum memperoleh kepastian kabar yang sesungguhnya.”

Sekar Mirah mengangkat wajahnya, lalu berkata, ”Ada yang memberitahuku dan berita itu memang benar.” Ia menunjuk seorang pengawal yang berdiri di dekat mereka.

Pengawal yang dimaksud oleh Sekar Mirah itu kemudian maju setapak. Katanya, ”Ki Rangga, aku mengatakan yang sebenarnya. Dan ketika Ki Gede menyuruhku kemari, pertarungan Ki Jayaraga belum selesai.”

Agung Sedayu mengalihkan pandangan pada Sekar Mirah. Mengerti maksud suaminya, Sekar Mirah menarik nafas panjang kemudian katanya, ”Pergilah, Kakang. Aku akan baik-baik saja.”

Ki Bagaswara menghampiri Agung Sedayu, lalu, ”Sekar Mirah akan bersamaku sepanjang hari ini. Dan saya membutuhkan Anda barang sejenak setelah semua kekacauan ini usai.”

Agung Sedayu mengangguk padanya. Lalu ia berjalan menghampiri Prastawa. Katanya, ”Prastawa, kau tentu telah mendengar ucapan pengawal itu. Aku kira selanjutnya kau dapat mengendalikan keadaan dengan para pengawal yang lain. Aku akan melihat keadaan di rumahku.”

“Silahkan, Kakang. Sesaat lagi mereka akan menuntaskan pekerjaan di tempat ini. Beberapa kelompok akan melakukan perondaan, sementara aku akan membawa para tawanan ke rumah Ki Gede,” sahut Prastawa, ”mungkin kita akan bertemu di sana.”

Agung Sedayu mengangguk lalu memacu kuda meninggalkan mereka.

Related posts

Leave a Comment