Padepokan Witasem
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 8

Kiai Rontek, yang memiliki keyakinan atas Wedhus Gembel sebagai ilmu yang bertengger di puncak langit, juga merasakan adanya kekuatan yang hendak melumpuhkannya dari dalam. Ia mengalami kejadian yang sama persis dengan Adipati Hadiwijaya dan Lembu Jati.

Ki Getas diam tak menyahut tetapi sinar matanya mengalami perubahan. Ia menatap lawannya dengan dingin dan wajah yang beku. Pandang matanya tak lagi memancarkan semangat hidup atau membayangkan kesedihan. Memang saat itu kehampaan sedang melanda Ki Getas Pendawa. Pengaruh ilmu Suwung Bawana perlahan menguasai segenap hati dan pikiran Ki Getas Pendawa. Sedikit lapisan lagi akan dilewatinya dan pengerahan puncak Suwung Bawana segera terjadi.

Pangeran Parikesit telah tiba di tepi lautan api tetapi dinding api menghadang lajunya. Ketebalan dinding tidak dapat diperkirakan, sedangkan jilat lidah api memuncak hingga kaki langit. Melalui pendengaran dan penglihatannya ia membuat perkiraan jarak antara batas api terluar dengan lingkar pertarungan. Udara panas dan asap tebal tidak mampu membuat Pangeran Parikesit menjadi sesak napas dan terbakar. Sekalipun ia tidak mempunyai ilmu kebal tetapi pengaruh dari tenaga intinya mampu melindungi tubuhnya dari gelombang sangat panas! Seukuran waktu yang sebanding dengan tiga kedipan mata, ia berdiri memusatkan cipta dan rasa, kakinya menghentak lalu tubuhnya meluncur deras menembus kobaran api. Usia yang lanjut dan tubuh wadag yang mulai melemah seolah tak menjadi halangan bagi Pangeran Parikesit untuk menerjang badai api. Dua tangannya bergerak cepat ke berbagai arah. Gelombang tenaga inti tiada henti mengalir dan membuka jalan baginya. Oleh karena itu kobaran api pun tersibak dan kayu yang membara berhamburan tak tentu arah. Kemudian terlihatlah sebuah jalan yang berwarna hitam pun tergelar memanjang dan Pangeran Parikesit melesat dengan kecepatan yang tidak lagi bisa dinalar akal sehat.

Gelegar suara Pangeran Parikesit menyentak Kiai Rontek dan membuat gumpalan asap tersibak.

“Berhenti! Angger Getas Pendawa!”

Ki Getas Pendawa berpaling ke sumber suara. Ia tidak merasa terkejut. Tatap mata hampa jelas terpancar dari caranya memandang Pangeran Parikesit yang deras meluncur padanya. Mendadak tubuh Pangeran Parikesit seperti berhenti bergerak saat berjarak dua atau tiga langkah dari Ki Getas Pendawa. Untuk sesaat ia benar-benar berhenti dalam keadaan melayang!

Yang terjadi pada saat Pangeran Parikesit memasuki lingkaran adalah mendadak gumpalan asap yang menjadi selubung Kiai Rontek menipis. Pengaruh Suwung Bawana yang sangat dahsyat ditambah bentakan Pangeran Parikesit yang mirip Gelap Ngampar ternyata mampu memecah kekuatan ilmu Wedhus Gembel.

Kiai Rontek yang hanya mempunyai waktu kurang dari dua kedipan mata sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu. Cepat ia meloncat panjang dan mengerahkan kekuatan penuh untuk menghantam Adipati Hadiwijaya. Waktu yang sangat singkat itu ia manfaatkan sebagai kesempatan untuk mengakhiri hidup pemimpin tertinggi Kadipaten Pajang. Pergerakan Pangeran Parikesit yang terhenti beberapa jengkal diatas permukaan tanah adalah kesempatan terbaiknya. Sekalipun Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit sama-sama membeku pada tempatnya namun Kiai Rontek tidak gegabah. Ia mengerti bahwa menyerang salah satu dari mereka atau keduanya pasti berakibat kematian baginya. Adipati Hadiwijaya adalah mangsa paling lunak pada waktu itu.

”Angger Getas Pendawa!” kembali gelegar suara Pangeran Parikesit menghentak di dalam hutan. Ia mencoba membangkitkan kesadaran Ki Getas Pendawa yang tenggelam dalam pusaran ilmu Suwung Bawana.

Sedikit usaha yang dapat diperbuat oleh Pangeran Parikesit dalam waktu sedemikian singkat. Segenap ilmu dan kepandaiannya terbelenggu dalam pengaruh ilmu Suwung Bawana dari Ki Getas Pendawa, tetapi ia tetap mencoba menggeliat. Sangat liat dan kuat! Dua telapak tangan Pangeran Parikesit yang mengembang terlihat bergetar, tak lama kemudian suara berdecit tajam terdengar menusuk gendang telinga. Dalam waktu sangat singkat dan keadaan  wadag yang membeku, paman dari Adipati Hadiwijaya ini mengetrapkan lapis puncak ilmu Jendra Bhirawa.

Dua kekuatan yang luar biasa besar tetapi mempunyai getar yang sama-sama lembut pun berbenturan di udara. Ki Getas Pendawa yang merendah tubuh dengan sedikit menekuk lutut mulai terguncang. Getar hebat dari ilmu Jendra Bhirawa menjadikan Ki Getas Pendawa terdorong surut dengan kedua kaki tetap melekat pada tanah. Namum dalam waktu  itu, sorot mata Ki Getas Pendawa masih tidak menunjukkan bahwa ia telah menguasai diri kembali. Ki Getas Pendawa yang seolah kehilangan kesadaran, justru mengalami sebaliknya. Ki Getas Pendawa berada dalam puncak kesadarannya sebagai manusia yang lemah.

Kehalusan budi Ki Getas Pendawa mampu merobek setiap sekat yang menghalangi jiwanya untuk mendaki langit. Ilmu Suwung Bawana menuntut setiap orang yang mempelajarinya untuk mampu melepas  keadaan yang mengikatnya. Olah rasa yang telah mencapai puncak pada akhirnya menjadi sumber kekuatan yang mampu meliputi semua yang berada dalam jangkauannya. Kekuatan itu terus mengembang hingga pemilik ilmu Suwung Bawana dapat merasa bahwa ia bukan makhluk yang dapat dianggap ada. Pada titik yang mendasar itulah dia akan menghisap semua daya yang ada, kemudian semua terhimpun dan berpusat pada kemauannya, yang terjadi kemudian adalah ledakan yang sanggup meratakan hutan dan sebagian Kadipaten  Pajang.

Related posts

Wedhus Gembel 9

kibanjarasman

Wedhus Gembel 7

kibanjarasman

Wedhus Gembel 6

kibanjarasman

Wedhus Gembel 5

kibanjarasman

Leave a Comment