Padepokan Witasem
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 7

Kiai Rontek dengan gumpalan asap masih saja terus berkisar dan menyambar Ki Getas dengan julurannya yang panas. Dan ia semakin menambah kecepatan geraknya saat melihat lawannya sempat mengamati.keadaan Adipati Hadiwijaya. Namun ia tersentak ketika Ki Getas Pendawa tiba-tiba mengubah sepenuhnya olah gerak dan watak tenaga intinya. Bila sebelumnya lambaran tenaga inti Ki Getas mampu mengubah udara menjadi semacam benteng batu yang sangat kuat, lalu dengan adanya perubahan yang mendadak dilakukannya maka kedudukan mereka kini menjadi seimbang.

Pada dasarnya ilmu yang diwariskan Ki Jalak Pameling pada Ki Kebo Kenanga lantas diserap olehnya itu tidak memiliki nama. Tetapi oleh Ki Kebo Kenanga kemudian disebut sebagai Suwung Bawana. Penamaan ini bukan tanpa sebab tetapi sesuai dengan watak dari ilmu itu sendiri. Dalam pergaulannya dengan Ki Jalak Pameling, Ki Kebo Kenanga meresapi betapa ilmu itu sebenarnya tidak mempunyai kekuatan yang hebat. Ilmu ini tidak mempunyai watak dasar untuk menghancurkan dan merusak keseimbangan. Tetapi kehebatan ilmu Suwung Bawana akan muncul apabila orang yang mempelajarinya dapat menenggelamkan dirinya dalam pusaran alam sekitarnya. Lalu akibat dari pengerahan ilmu itu akan datang untuk menuntaskan kerusakan yang terjadi kemudian keseimbangan akan tersusun ulang dari awal.

Ki Getas Pendawa berloncatan menjaga jarak dengan kecepatan rendah, sementara tangannya bergerak tanpa henti dengan telunjuk seperti melukiskan sesuatu yang tidak tampak di udara. Dalam waktu itu, jilat asap panas yang mengarah padanya seperti terhalang perisai yang sulit dinalar. Semakin lama perisai itu seolah menggelembung semakin besar bahkan sanggup mendesak Adipati Hadiwijaya. Pemimpin Pajang ini  seperti merasakan kekuatan raksasa sedang menghalaunya agar menjauh.

“Mustahil!” desis Adipati Hadiwijaya yang mengira dorongan itu berasal dari Lembu Jati yang tegak mematung di depannya. Tiba-tiba Adipati Hadiwijaya seperti berada di dalam ruang hampa ketika tak lagi merasakan hawa panas yang disebabkan api yang membakar sebagian hutan. Keanehan lain yang dirasakan adalah ia menjadi lumpuh. Tak ada lagi kekuatan yang berasal dari tenaga inti.

Kejadian serupa juga dialami oleh Lembu Jati. Alis Lembu Jati saling bertaut dan matanya lekat menatap Adipati Pajang yang tampak kebingungan.

“Gerangan apa yang akan terjadi?” tanya Lembu Jati pada dirinya sendiri.

“Lembu Jati! Mendadak kau berhenti berkelahi denganku. Katakan!” Dalam kebingungan, Adipati Hadiwijaya akhirnya bersuara.

“Aku tak mungkin mati terbakar bersamamu, Mas Karebet!” teriak parau Lembu Jati.

“Maka bunuhlah aku!” derap kaki Adipati Hadiwijaya menerjang maju tapi ia terkejut saat pengerahan tenaga intinya mengalami kegagalan. Seketika ia melompat ke samping sambil heran mengamati keadaan dirinya.

“Apa yang terjadi?” sejenak Adipati Hadiwijaya memperhatikan perubahan sekitarnya. Akhirnya ia mendapatkan jawaban ketika melihat dinding api yang semula berjarak cukup dekat kini bergerak menjauh. Dengan kening berkerut ia mengamati pertarungan Ki Getas Pendawa dan Kiai Rontek.

“Bukan tidak mungkin paman Getas Pendawa yang menerapkan ilmu ini,” Adipati Hadiwijaya berkata dalam hatinya.

Ia lantas membagi perhatiannya dengan mengamati cara bertempur Ki Getas Pendawa.

Lembu Jati yang hendak bergeser menjauh dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh pun menjadi lemas. Sebelah tangan ia menutup mata lalu mendesah,” Apa yang terjadi denganku? Aku tak ingin mati terbakar di tempat ini!” Tiba-tiba saja air mata Lembu Jati leleh membasahi pelupuknya. Ia lantas mengingat kembali ucapan gurunya, ”Jaka Tingkir tidak pernah belajar ilmu Sigar Kendang. Bahkan ia akan menemui kematian jika kebakaran tak pernah terjadi.” Sayu mata Lembu Jati melihat tanah yang dipijaknya. Tak lagi ia mampu mengangkat wajah dan tegak berbusung dada seperti yang telah berlalu.

Benarlah yang dikatakan gurunya. Bila tidak ada kebakaran, Ki Getas Pendawa tidak akan berada di tempat itu. Dan apabila itu terjadi, maka mudah baginya untuk mengakhiri hidup Mas Karebet.

Jauh di relung hatinya, Lembu Jati meronta tanpa daya ketika pintu keselamatan baginya telah tertutup. Ia menilai kembali untuk mencari sebab hilangnya segala ilmu yang terkandung dalam dirinya. Namun perhatiannya itu terdesak oleh gelisah bahwa malam itu adalah saat terakhirnya. Ia akan kehilangan segala kesenangan, Lembu Jati akan dilupakan oleh orang. Ketakutan pun kemudian melanda hati Lembu Jati yang seringkali terlihat sebagai orang yang berhasil membunuh rasa takut. Semakin dalam ia menunduk dan terbenam dalam jerat ketakutan. Meski begitu, kegeraman pada kehadiran Ki Getas Pendawa berulang menyeruak dan mencoba membakar hatinya.

Yang terjadi sebenarnya adalah dari kedua tangan Ki Getas Pendawa dan gerak tubuhnya keluar gelombang tenaga Suwung Bawana. Getar gelombang ini sangat lembut namun berkekuatan seperti lengan Batara Ismaya kala menggeser mendung yang menutup langit Jonggring Saloka. Karena sangat lembut dan nyaris tak terasa, getar ilmu Suwung Bawana mampu mengikat kendali Wedhus Gembel. Tak pelak, Kiai Rontek berulang kali menggeser langkah berolah gerak untuk melepaskan belit ilmu Suwung Bawana.

Tak dapat menahan gejolak hati untuk bertanya, penasaran Kiai Rontek berseru,” Wong gendeng! Ilmu sihir apa yang kau lakukan padaku?”

Related posts

Wedhus Gembel 9

kibanjarasman

Wedhus Gembel 8

kibanjarasman

Wedhus Gembel 6

kibanjarasman

Wedhus Gembel 5

kibanjarasman

Leave a Comment