Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 101 – Tugas Berat Ki Jayaraga

Agung Sedayu mengangguk, kemudian berkata, “Ki Gede belum tentu mengenal dengan baik satu demi satu orang-orang yang ingin bertemu. Beliau juga mungkin sama sekali baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang bermanis muka di tanah ini. Kyai, bukankah kita tidak boleh mengabaikan orang-orang yang menyamar?”

“Angger benar,” ucap Ki Jayaraga lalu menghela napas panjang. “Betapa aku sudah termakan usia sehingga tidak dapat menjadikan kemungkinan itu sebagai bahan pertimbangan pula.”

“Sebenarnya tidak juga seperti yang Kyai katakan,” ucap Agung Sedayu. “tapi saya harus mohon maaf karena urusan rumah ini menambah panjang persoalan Ki Jayaraga.”

“Ah, sudahlah, lupakan saja perkara rumah ini,” sahut Ki Jayaraga cepat-cepat sambil mengalihkan pokok pembicaraan. “Ini tanggung jawab yang harus diselesaikan tepat waktu. Tapi benar yang Ki Rangga ucapkan bahwa penyamaran dapat menjadi senjata yang membahayakan Tanah Perdikan. Mereka dapat berbaur dalam keseharian dan tinggal sementara waktu di sekitar kita, lalu melaporkan pada junjungan mereka pada waktu yang tidak kita ketahui.”

“Kyai,” kata Agung Sedayu dengan nada merendah. “Sukra dan Kinasih menyeberangi Kali Progo dari tempat yang terpisah atau berbeda dengan pengikut Raden Atmandaru. Saya dan Pandan Wangi juga berbuat yang sama. Sukra dan Kinasih tidak membayangi perjalanan mereka tapi menyisir dengan mengambil sisi samping kiri dan kanan dari jalan utama atau jalur yang kebanyakan ditempuh oleh pedagang. Karena setiap pedagang hampir selalu membawa serta pendamping atau pengiring, maka Kyai tentu paham jalan-jalan yang memungkinan untuk dilalui.”

 Ki Jayaraga mengangguk kemudian menambahkan dugaannya, “Lalu Angger berdua menempuh jalur yang sama sekali berbeda dengan Sukra dan Kinasih.”

“Kurang lebih seperti itulah kami menempuh perjalanan dari Sangkal Putung, Kyai,” ucap Agung Sedayu sambil mengangguk-angguk. Pemimpin pasukan khusus itu kemudian lebih mendekat pada Ki Jayaraga lalu berbicara dengan suara lebih pelan.

Seolah ada yang menyadarkannya pada sesuatu yang sangat penting, Ki Jayaraga tiba-tiba memicingkan mata ketika memandang Agung Sedayu. Wajahnya tegang seperti akan menghadapi pertarungan melawan orang yang sepadan!

Agung Sedayu tercengang! Itu, tatap mata seperti itu menjadi yang terbaru untuknya dari Ki Jayaraga. “Kyai, ada apakah? Adakah sesuatu yang aneh pada wajah atau sikap saya? Kyai silakan tegur atau hukum saja bila memang tidak berkenan,” kata Agung Sedayu dengan agak heran.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Tangan Ki Jayaraga bergerak-gerak lalu katanya, “Gadis itu, aku maksudkan adalah gadis yang bersama Sukra. Siapakah dia? Aku merasakan getaran yang luar biasa dari caranya berjalan atau bergerak. Dugaanku adalah dia berasal dari kalangan dekat Panembahan Hanykrawati atau murid dari orang yang luar biasa.”

Agung Sedayu menghembus napas, mengusap wajah kemudian berkata lega, “Dia murid tunggal Nyi Ageng Banyak Patra. Tidak salah Kyai menduga seperti itu karena dia memang berada pada dua kedudukan itu karena sebab silsilah gurunya.” Senapati ini lalu menambahkan keterangan bahwa kemampuan Sukra pun juga meningkat. Saat Ki Jayaraga menanyakan sebab, maka Agung Sedayu secara singkat menyebut nama Ki Patih Mandaraka dan Nyi Ageng Banyak Patra.

Sekarang, Ki Jayaraga yang bergantian berbuat hampir serupa dengan Agung Sedayu. Katanya, “Pantaslah, pantas sekali. Aku tidak salah mengira dan Angger tidak salah memilih utusan.”

Malam semakin pekat ketika gardu-gardu jaga memukul kentongan dengan nada tertentu. Tonggeret dan jangkrik berpadu dalam senandung yang mampu menyihir orang-orang yang didera kantuk. Sedangkan gesekan daun-daun bambu bernyanyi dengan irama yang berbeda. Suasana malam Tanah Perdikan seolah sedang meminta setiap orang berkenan menyendiri dalam keheningan.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga lantas sepakat mengakhiri percakapan. Masing-masing membutuhkan waktu untuk mengendapkan perasaan serta pikiran.

Di tempat lain.

Kabar kedatangan Pandan Wangi dan Agung Sedayu begitu cepat menyebar di pedukuhan induk dan disambut dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka pantas gembira karena pribadi Pandan Wangi yang tegas dan tak mengenal rasa takut, sungguh, cukup memberi rasa aman bagi orang-orang yang hidup di perbukitan Menoreh itu. Mereka tak lagi cemas dengan nasib putri tunggal Ki Gede Menoreh yang dikabarkan dalam keadaan baik. Demikian pula saat mengetahui Pandan Wangi datang bersama Agung Sedayu, maka orang-orang Tanah Perdikan serasa mendapatkan tambahan perlindungan yang kuat dari Yang Maha Sempurna.

Seorang lelaki yang berusia sepantaran dengan Glagah Putih bergegas meninggalkan pedukuhan induk setelah memastikan bahwa berita itu tidak bohong. Sementara, hampir terjadi pula dalam waktu yang sama, sejumlah orang tampak tergesa-gesa meninggalkan dusun-dusun yang mengelilingi pedukuhan induk. Besar kemungkinan mereka berasal dari kelompok yang sama karena semuanya bergerak menuju ke sebuah tempat yang terletak di lereng Gunung Kendil.

Kejanggalan itu cepat terpantau oleh petugas sandi dari barak pasukan khusus yang disebar Glagah Putih dengan persetujuan Ki Lurah Sanggabaya.

“Apakah seorang Agung Sedayu dan Pandan Wangi begitu meresahkan Raden Atmandaru? Kita mungkin terlalu awal membuat kesimpulan tapi orang-orang yang disangka sebagai mata-mata ternyata menguatkan penilaian,” ucap Glagah Putih pada Ki Lurah Sanggabaya ketika menerima petugas sandi yang terus bergantian datang memberi laporan. Mereka duduk berdampingan di samping dinding luar barak pasukan khusus pada sore pertama kedatangan Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya tidak mengatakan sesuatu tapi sinar mata dan sikap tubuhnya justru menyatakan banyak hal yang melintas dalam pikirannya.

Hari kedua kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah Kyai keberatan apabila saya meminta untuk sebuah pekerjaan?”

“Katakan, Ngger. Tidak ada lagi keberatan jika Angger yang meminta saya untuk melakukan sesuatu.” Guru dari tiga bajak laut – yang pernah bertanding melawan Agung Sedayu kemudian berakhir dengan kematian mereka – ini mengerutkan kening.

Bukan kisah tentang perang, melainkan tentang saat sebelum segalanya meledak

Perbincangan pagi sudah dibuka oleh Agung Sedayu dengan permintaan yang sangat penting pada Ki Jayaraga. Sepenting dan seberat apakah pekerjaan itu? Agung Sedayu lalu menjelaskan rincian tugas Ki Jayaraga.

Benar-benar sulit dan berat, pikir Ki Jayaraga setelah Agung Sedayu tuntas mengungkap rencananya. Walau ringkas tapi Ki Jayaraga paham bahwa yang diungkapkan padanya adalah bagian kecil dari gambaran yang sangat besar. Ki Jayaraga akan mengamati sekaligus menata kembali keamanan pedukuhan yang terletak di sisi selatan pedukuhan induk. Tugas itu mencakup daerah yang sangat luas karena juga berarti ada dua pedukuhan yang dilibatkan ke dalam rencana.

“Sebaiknya memang aku harus berpagi-pagi untuk mengawali pekerjaan ini,” kata Ki Jayaraga. “Angger menetapkan waktu yang sebenarnya cukup lama, tapi siasat ni menjadikan segala yang terhubung terasa singkat dan cepat.”

“Kyai tidak perlu tergesa-gesa,” Agung Sedayu berkata, “masih ada sawah yang juga membutuhkan sentuhan Kyai.”

Ki Jayaraga tersenyum lalu berucap, “Aku dapat minta bantuan salah satu bebahu untuk mengurus sepetak sawah itu. Lagipula, Angger sudah berada di pedukuhan induk jadi aku tidak perlu lagi merasa khawatir.”

Agung Sedayu mengangguk, katanya, “Saya akan urus itu sebaik mungkin.”

“Jadi, saya bisa berangkat siang nanti tanpa menunggu Ki Rangga bertemu lebih dulu dengan Ki Lurah Sanggabaya atau yang lainnya?” tanya Ki Jayaraga.

Sekali lagi, Agung Sedayu mengangguk. “Tapi pada dasarnya, jangan sampai pekerjaan ini memberatkan Kyai.”

“Tugas itu sudah cukup berat lalu Ki Rangga berkata tidak memberatkan,” ucap Ki Jayaraga dengan bibir mengulum senyum.

 Agung Sedayu dengan pandang mata penuh arti lantas meraih pundak Ki Jayaraga, menatap wajah lelaki sepuh itu cukup lama. “Saya tidak ingin berandai-andai untuk sesuatu yang mustahil dilupakan atau dipaksa terulang,” ucap senapati Mataram itu. Dia terkenang sejenak akan Kyai Gringsing dan peninggalanyang masih belum jelas keberadaannya. Sedangkan meminta bantuan guru Glagah Putih untuk turun tangan mencari kitab Kyai Gringsing pun agaknya tidak masuk akal. Ki Jayaraga sebaiknya memang tidak dilibatkan dalam persoalan itu meski dia pasti bersedia, pikir pemimpin pasukan khusus ini. Kitab gurunya adalah permasalahan Perguruan Orang Bercambuk, tegasnya dalam hati.

“Saya akan ke barak lalu melalang sebentar,” ucap Agung Sedayu, “mungkin dua atau tiga hari mendatang, kita belum dapat bertemu.” Namun sorot matanya lantas dipenuhi nada tanya.

Ki Jayaraga seakan menangkap arti sorot mata Agung Sedayu, lalu katanya, “Ki Rangga dapat bertugas dengan tenang. Orang-orang yang bekerja untuk rumah ini adalah orang yang dapat dipercaya. Beberapa keadaan memang masih membutuhkan pengarahan, tapi itu bisa dibenahi setelah kita bertemu lagi di rumah ini.”

“Mungkin inilah yang menjadi pembeda antara Kyai sebagai jawara kanuragan dan sebagai pengawas pekerjaan,” ucap Agung Sedayu yang kemudian disambut tawa kecil di antara mereka.

Tak lama setelah menambahkan hal-hal penting yang terkait dengan pekerjaan  masing-masing, Agung Sedayu serta Ki Jayaraga meninggalkan rumah. Ki Jayaraga menempuh arah yang berlawanan dengan Agung Sedayu.

Dalam waktu itu, Ki Jayaraga sudah mendapatkan gambaran mengenai jalur pengamatan. Tapi yang pertama dilakukannya adalah menemui orang yang dianggap sebagai ketua dari pekerjaan membangun rumah Agung Sedayu. Setelah menyampaikan segala yang perlu pada orang tersebut, Ki Jayaraga meneruskan perjalanan.

Agung Sedayu ternyata berjalan ketika berangkat ke barak pasukan khusus. Dia ingin menyampaikan pesan pada setiap orang yang melihatnya bahwa Tanah Perdikan masih dalam keadaan yang dapat dikendalikan Ki Gede Menoreh. Beberapa orang yang berpapasan dengannya pun sempat pula berbincang singkat,  sehngga kesempatan itu digunakan sangat baik dengan menebar pesan aman dari Ki Gede Menoreh.

Kisah Terkait

Bara di Bukit menoreh 97 – Kinasih ; Apakah Agung Sedayu Pernah..?

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 115 – Sepasang Sayap Menoreh

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 75 – Mantra Penari Api

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.