Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 117 – Derap Senyap Regu Pembunuh – Benturan Dusun Benda

Perkiraan Ki Demang Brumbung memang tidak sepenuhnya salah mengenai siasat Raden Atmandaru yang berulang. Percobaan pembunuhan Ki Patih Mandaraka di Slumpring dan sekitar Kepatihan, menciptakan kerusuhan di Alas Krapyak hingga serangan gelap yang ditujukan pada Sekar Mirah adalah kenyataan yang tidak mungkin diingkarinya. Benar, Raden Atmandaru telah mengirim serombongan orang berjumlah kecil untuk mengakhiri kepemimpinan Ki Gede Menoreh!

Regu kecil yang dipimpin Ki Sambak Kaliangkrik bertugas untuk memecah perhatian pengawal Tanah Perdikan. Mereka akan menyerbu kediaman Ki Gede Menoreh dari arah depan. Sedangkan pembunuh dalam kelompok lain yang berisi orang-orang berlimu tinggi datang dari arah belakang yang tidak mungkin terjangkau oleh pergerakan pengawal Tanah Perdikan maupun pasukan khusus. Tapi Agung Sedayu menjawab dengan rancangan yang tidak terduga. Pemimpin pasukan khusus itu bahkan mendahului mereka!

Adalah Ki Manikmaya dan Ki Astaman menjadi pilihan Raden Atmandaru untuk membunuh Ki Gede Menoreh dengan serangan langsung pada kediaman pemimpin Tanah Perdikan tersebut!

Pandan Wangi pun mendapatkan jawaban ketika laju seekor kuda ternyata terdengar lebih ringan! Sekelebat bayangan meluncur deras melalui dahan-dahan yang silang menyilang tak beraturan. Tubuhnya begitu lincah dan nyaris tidak tersentuh oleh dahan-dahan meski pandangan mata dibatasi oleh suasana yang sangat pekat!

“Cah Ayu,” bisik Pandan Wangi. “Bersiaplah. Aku akan mengambil orang yang melaju dari sisi kanan.”

“Saya, Nyai,” sahut Kinasih dengan suara sedikit tegang. Dari arah kanan, mereka dapat menebak arah pergerakan lawan, bagaimana dengan sisi yang lain? Tapi cukup jelas baginya bahwa Pandan Wangi sedang berusaha melindunginya dengan memilih lawan terlebih dulu. Melompat dari punggung kuda lalu melesat seperti terbang di antara dahan dan ranting, itu sudah jelas memberi gambaran ketinggian ilmu pendatang gelap itu.

Kinasih membuat keputusan yang berbeda. Jika Pandan Wangi yang masih menunggu calon lawannya lebih dekat, maka murid Nyi Banyak Patra itu melesat ke bagian lain agar dapat memotong laju lawannya!.

Dalam dua kejapan mata berikutnya, Kinasih melabrak penunggang kuda yang merayap cepat di atas jalan setapak di belakang rumah Ki Gede Menoreh! Penunggang kuda itu meloncat, berjungkir balik di udara, lalu membalas dengan sangat keras setiap hantaman Kinasih! Ketegangan meningkat cepat. Perkelahian tiba-tiba menjadi sangat sengit dengan pertukaran serangan yang sama-sama mengiris hati orang yang melihat.

Lawan Kinasih adalah Ki Astaman. Dia adalah orang yang pertama kali melepaskan diri dari pertempuran yang membakar Karang Dawa. Jika yang menjadi lawannya saat itu adalah Sabungsari, maka perempuan muda yang menyerangnya itu ternyata juga sanggup mengejutkan dengan serangan tangan kosong yang sulit diucap dengan kata-kata.

Ki Astaman melompat surut lalu berhenti di balik sebatang pohon. “Adakah setan yang kesurupan hingga dapat menjadi secantik ini dalam gelap malam?” seloroh Ki Astaman yang matanya tidak bermasalah dengan kegelapan.

“Ada dan dia sedang berkelahi denganmu!” sahut Kinasih lalu memburu musuhnya dengan tikaman-tikaman dari jari telunjuknya.

“Gila! Benar-benar setan rupanya!” seru Ki Astaman yang terkejut luar biasa ketika jari Kinasih mampu membuat lubang pada batang pohon! Sejak kejutan itu, Ki Astaman tak lagi mengucapkan kata-kata kotor dan sebagainya untuk meruntuhkan daya tahan jiwani Kinasih. Sia-sia, pikirnya. Telinga dan mata gadis itu sepertinya sudah tertutup rapat! Dia pun bertanya-tanya dalam hati, siapa guru gadis setan ini?

Pandan Wangi, yang sempat terkesiap dengan keputusan berani Kinasih, rupanya tersambar pula dengan keberanian gadis itu memotong laju penunggang kuda. Maka Pandan Wangi bergerak menyamping lalu memapas pendatang gelap itu dari depan.

Ki Manikmaya walau sudah menduga bahwa dirinya akan bertemu seseorang di jalur serangan itu, tapi siapa sangka jika yang muncul jusru bukan yang diharapkannya? Orang ini berharap dapat berjumpa dengan Agung Sedayu atau Ki Jayaraga. Hanya satu alasan saja yaitu ketinggian ilmu mereka banyak dibicarakan orang-orang di perkemahan dan Mataram. Jadi, siapa perempuan yang melayang deras ke arahnya dengan kekuatan penuh? Mungkinkah dia adalah Pandan Wangi? Ki Manikmaya mencoba menjawab sendiri.

Luka-Luka Ki Jayaraga di Dusun Benda

Usai merenung sejenak sambil tetap memperhatikan keadaan,  Ki Jayaraga melangkah keluar dari balik bayang-bayang dengan ketenangan yang ganjil. Dia tidak terlihat terburu-buru melerai ataupun memihak salah satu pihak. Sikap Ki Jayaraga seperti tidak terpengaruh dengan gelinjang kuda yang seakan ingin bertingkah liar. Tatap mata Ki Jayaraga pun biasa saja saat mantap wajah gelisah orang-orang dusun yang terjebak di dalam ketegangan yang meruncing di depan rumah jayabaya.

Bagi penduduk Dusun Benda, Ki Jayaraga hanyalah orang asing yang mengaku sekadar singgah semalam. Namun bagi Ki Sarwana Tiban, kehadiran sosok tua itu bagaikan munculnya harapan di tengah terjangan ombak Kali Progo ketika meluap. Dia mengenali wibawa yang terpancar dari guru Glagah Putih tersebut.

“Sepertinya fajar di Dusun Benda terlalu bising untuk sekadar bertukar sapa, sementara aku ingin mengenalkan diri,” ucap Ki Jayaraga dengan nada datar, namun suaranya merambat bening menembus lambaran tenaga cadangan yang sebelumnya dilepaskan oleh Ki Ramapati.

Ki Sarwana Tiban menarik napas dalam, ketegangan pada otot-ototnya sedikit mengendur meski kewaspadaannya tetap terjaga. Dia menoleh sekilas, memberikan isyarat hormat yang samar kepada Ki Jayaraga. Ki Jayaraga membalas penghormatan itu dengan sangat baik.

Pada sisi lain, Ki Ramapati yang masih duduk di atas punggung kuda menyipitkan mata. “Sepertinya aku pernah melihat orang itu,” ucap Ki Ramapati dalam hati ketika mencoba meraba jati diri kakek tua yang berani memotong pembicaraannya.

Ki Jayaraga bersikap tenang tanpa menoleh pada orang-orang yang memandangnya sangat tajam. Dia memilih tempat yang mengejutkan sejumlah orang. Ki Jayarga berdiri di samping Ki Sarwana Tiban, lalu memusatkan tatap matanya pada gelar pasukan berkuda yang siap menyapu bersih seisi dusun. Dalam benaknya, Ki Jayaraga mulai berhitung lalu mengukur kekuatan pengawal dusun. “Mereka mungkin tergilas, tapi harapan selalu ada,” desis Ki Jayaraga dalam hati.

“Sebaiknya aku mengenalkan diri terlebih dulu,” ucap Ki Jayarga sambil menduga-duga pemimpin pasukan berkuda. Selain itu, Ki Jayaraga sedang berusaha mengulur waktu hingga gelap benar-benar enyah dari Dusun Benda. “Orang memanggilku dengan nama Ki Jayaraga. Aku hanya pengembara yang bermalam di sini.”

“Ki Jayaraga,” ujar Ki Ramapati dengan tangan tetap memegang kendali kuda. “Sungguh, Anda benar-benar menunjukkan nyali yang sangat hebat di depan orang-orang dusun yang bodoh ini.”

Ki Jayaraga tertawa kecil lalu berkata, “Mereka bukan orang bodoh, Ki Sanak. Mereka sedang bingung sambil bertanya-tanya, kegilaan macam apa yang sedang terjadi di dusun mereka?”

Ki Wedoro Anom memandang Ki Jayaraga dan Ki Sarwana Tiban bergantian sambil bertanya pula dalam hati. Apakah orang itu yang membuat dirinya harus menyisir pedalaman yang membuatnya agak jauh dari jalur kepangkatan? Dan Ki Sarwana Tiban, apakah mereka sudah saling mengenal? Siapakah Ki Jayaraga itu? Dia sudah mendengar bahwa Tanah Perdikan mempunya banyak orang linuwih, tapi Ki Jayaraga adalah sosok yang tidak begitu terkenal di kalangan prajurit kotaraja.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Di sisi lain, Ki Sarwana Tiban nyaris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Betapa sosok yang mereka bayangi berhari-hari ternyata berada jauh lebih dekat daripada yang mereka duga. Bagi Ki Sarwana Tiban, kemunculan Ki Jayaraga bukan menjadi penengah, melainkan penyeimbang bila terpaksa harus membenturkan kekuatan dengan pasukan berkuda Ki Ramapati.

Wajah Ki Ramapati mengeras seketika, otot-otot di rahangnya tampak menegang saat mendengar Ki Jayaraga menganggapnya gila.  Sinar mata Ki Ramapati menyambar Ki Jayaraga seperti sambaran tajam cakar elang. Sejatinya dia hanya ingin membuat gertakan sambil membuat sedikit kekacauan dengan jalan membunuh para pemimpin dusun. Tapi siapa sangka Ki Wedoro Anom dan seorang prajurit tua yang tidak dikenalnya tiba-tiba menghadang jalurnya?

“Kau adalah rangga kesayangan Pangeran Purbaya, minggirlah. Ini bukan urusan yang dapat kau atasi dengan jilatan lidahmu pada kaki-kaki kuda. Aku bukan Pangeran Purbaya atau Pangeran Mangkubumi,” tukas Ki Ramapati dengan gusar pada Ki Wedoro Anom. Mantan senapati Mataram itu tanpa tedeng aling-aling menyebut Ki Wedoro Anom sebagai penjilat kesayangan Pangeran Purbaya.

Ucapan Ki Ramapati jelas bernada dan berisi hinaan pada Ki Wedoro Anom, tapi rangga Mataram tersebut seperti mendadak linglung. Raut wajahnya seolah tidak ada jiwa di tubuh yangkekar itu. Tapi bagi Ki Jayaraga, perkataan Ki Ramapati harus diartikan berbeda dari sebenarnya. Perkataan itu adalah aba-aba untuk memulai pembelaan harga diri orang-orang dusun!

Ki Jayaraga segera bergeser selangkah mendekati Ki Sarwana Tiban. Dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh telinga yang terlatih, ia mulai membagi tugas. “Bawalah beberapa pengawal dusun ke sisi kiri barisan kuda,” bisik Ki Jayaraga.

Ki Sarwana Tiban mengangguk. Dia yakin dapat melakukan itu karena pengawal dusun pun menerima latihan serupa prajurit dalam tingkatan ringan. Sehingga beberapa gelar perang dapat diserukan meski nantinya akan berlangsung sangat sederhana, tapi itu sudah cukup! Pilihan Ki Jayaraga agar mereka bergerak ke kiri adalah untuk menahan laju penunggang kuda seandainya mereka akan merangsek langsung ke jantung dusun.

Ki Sarwana Tiban, yang sudah mengenal Ki Jayaraga, lantas mengangguk kecil sambil mencoba memberi tanda pada jagabaya agar mengikutinya setelah perintah diputuskan. Dia merenggangkan kaki perlahan, membuat ancang-ancang.

Ki Jayaraga beralih lagi pada Ki Ramapati untuk mengalihkan perhatian orang dekat Raen Atmandaru itu. “Tuan, sebaiknya Anda segera kembali ke Mataram. Aku yakin penguasa Mataram pasti memberimu ampunan.”

Ki Ramapati terbahak-bahak. Tapi dia tidak menanggapi ucapan Ki Jayaraga. Ki Ramapati memberikan isyarat dengan hentakan kekang kudanya. Sebelas penunggang kuda di belakangnya segera merapatkan barisan, menyusun gelar dan siap menerjang!

 Suasana fajar cepat mendingin karena sebaran hawa kematian yang dipancarkan dari wajah-wajah yanag bersitegang.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 119 – Batas Tipis Takdir Glagah Putih

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 19 – Setelah Sekian Waktu, Akhirnya Agung Sedayu Bertemu Sekar Mirah

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 17 – Kademangan Sangkal Putung Terguncang!

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.