Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 33 – Gaung Keras dari Gunung Kendil

Langkah kaki Agung Sedayu menapak halaman rumahnya. Suara burung hantu di kejauhan seolah menjadi pembeda ketenangan alam. Suasana rumah senapati Mataram itu masih terasa sunyi meski Sukra dan Ki Jayaraga sebenarnya sedang melakukan beberapa kegiatan di dalamnya.

Ketika Agung Sedayu melintasi longkangan menuju ruang tengah, dia berpapasan dengan Sukra. Pemuda itu membawa seperangkat alat yang akan dipasangnya di sungai bersama beberapa kawan.

Sukra menahan langkah sejenak seperti sedang akan mengatakan sesuatu pada Agung Sedayu, tapi tiba-tiba keinginan itu terganjal.

“Ki Lurah,” sapa Sukra dengan suara bernada datar. Apakah dia masih merasa janggal dengan siasat Agung Sedayu meski peristiwa Gunung Kendil telah usai? Tatapan Sukra lekat tertuju pada lantai yang temaram.

Agung Sedayu mengangguk. “Sukra.”

Untuk sesaat, Sukra seperti kehilangan waktu. Dia mengangguk sekilas, melanjutkan langkah lalu keluar dari pintu butulan.

Memandang jurusan Sukra melangkah, Agung Sedayu menyadari bahwa segalanya memang harus dijelaskan tapi tidak seketika harus dilakukan pada malam itu juga.

Di ruang tengah, Ki Jayaraga sedang membenahi kursi dan meja yang belum selesai dikerjakan olehnya. Saat mengetahui kedatangan seseorang, guru Glagah Putih itu mengangkat wajah lalu mengembangkan senyum. Katanya kemudian, “Ngger.”

Agung Sedayu membalas sapaan dengan nada hormat, “Kyai.” Pemimpin pasukan khusus ini mengambil tempat di dekat Ki Jayaraga. Setelah mapan, dia berkata menyentuh pokok persoalan, “Saya tidak menyangka jika kemudian bertemu Swandaru pada malam itu.”

Ki Jayaraga beranjak hendak menempatkan diri sebagai pendengar. Satu tarikan napas terdengar darinya kemudian. “Mungkin Swandaru pun sama-sama tidak mengira.”

“Sekalipun pernah terbersit, tapi saya sama sekali tidak mengira pergi itu menadi keputusannya,” ucap Agung Sedayu. Tatap matanya tiba-tiba berubah ketika memandang permukaan meja. Sesuatu, mungkin kenangan, melintas dengan cepat di atas jalan pikirannya.

Sayoga menghentikan langkah saat melihat Agung Sedayu dan Ki Jayaraga berada di dalam suasana yang menyita segenap perhatian. Tapi dia akhirnya melangkah maju, menyuguhkan sekadar minuman hangat untuk mereka berdua. Ketika Sayoga melihat sekilas pada Agung Sedayu, tatap mata mereka sudah berbicara banyak. Sayoga mengangguk lalu meninggalkan ruang tengah dengan mantap.

“Pertarungan di tepian Kali Progo itu benar-benar mengaburkan nalar,” lanjut Agung Sedayu dengan suara yang sedikit merendah. “Segalanya terjadi begitu cepat. Saya tidak mengira bahwa ternyata mereka adalah kaki tangan Raden Atmandaru. Saya terikat perkelahian yang terpisah saat seseorang menyerukan ajakan untuk mengeroyok Swandaru. Sepintas yang dapat saya ingat adalah mereka menyebut kesalahan Swandaru di masa lalu.”

Setelah mengambil jeda setarikan napas, Agung Sedayu meneruskan, “Pertemuan kami malam itu… saya kira adalah bagian dari pertarungan di Kali Progo yang belum selesai.”

Ki Jayaraga mengangguk pelan, lalu berkata, “Terlalu dini jika saya mengatakan bahwa semua persoalan, sesungguhnya, mempunyai timbangan dan waktu akan menyediakan tempat untuk mencari jalan keluar.” Dia menghembus napas panjang, lanjutnya, “Bagaimanapun. Swandaru telah membuat keputusan dan dia sedang menjalaninya sekarang. Apa pun tujuannya, semoga menjadi lebih baik dari sebelumnya.”

Agung Sedayu memejamkan mata, membenarkan pendapat Ki Jayaraga sekaligus membuka jalan untuk mengendapkan diri dan persoalan.

Untuk beberapa saat, hanya ada suara derik kayu dan napas mereka yang teratur.

‘Siasat itu,” ucap Ki Jayaraga kemudian, “seakan menarik detak hidup banyak orang di Tanah Perdikan. Saya sepenuhnya memahami, bagaimana perasaan mereka dan Ki Rangga. Meski tidak mungkin tepat, tapi saya dapat mengerti.”

Agung Sedayu menunduk dalam lalu memijat keningnya. Tidak ada kata yang terucap darinya saat itu ketika Ki Jayaraga menyinggung siasat yang diterapkan saat di bawah ancaman Raden Atmandaru.

“Ngger,” ucap Ki Jayaraga lembut. “Ada baiknya Keraton dan Kepatihan segera dapat mendengar laporan langsung dari Angger. Seseorang dapat memanfaatkan jarak waktu untuk mengungkap kelemahan yang sebenarnya tidak perlu diucapkan terang benderang.”

Agung Sedayu menggeser sedikit duduknya, menatap Ki Jayaraga penuh hormat. “Saya segera melakukan itu dalam waktu dekat. Sangkal Putung dan Jati Anom adalah tempat berikutnya.”

“Benar, Angger harus meluangkan waktu untuk berbincang pula dengan putri tercinta,” sahut Ki Jayaraga yang kemudian ditutup dengan senyum.

Tak lama kemudian, senyap benar-benar merajai ruang tengah saat lampu minyak dipadamkan,

Pengintai Swandaru

Malam di Menoreh merayap dalam kesunyian yang menghimpit, sementara di kejauhan, ingatan dan kenyataan mulai bertemu pada satu titik yang sama. Sedikit jauh di utara, di tepi sungai dangkal Pedukuhan Majasanga, Swandaru menyisir lorong pikiran yang baru saja dijejak oleh kesadarannya.

Tanpa berniat untuk mengembara atau melarikan diri dari keadaan, tapi menjadi tahanan rumah di kademamgan yang dipimpin oleh ayahnya itu persoalan lain. Bukan masalah takut mati di medan perang, tapi harga diri.

Ayun kakinya ke utara itu awalnya adalah keinginan untuk menepi. Mengambil ruang dan waktu yang terpisah lalu melihat segala sesuatu secara keseluruhan dan lebih mendalam. Benar, Swandaru sudah merasa bersalah telah menyertai langkah Raden Atmandaru, tapi, mengapa belum ada kepastian dari Keraton atau dirinya yang kurang sabar menunggu?  Sepanjang waktu sejak kitab Kyai Gringsing hilang dari biliknya, pikirannya terus mencari arah dan pegangan, ke mana bila harus pergi mencari? Di perkemahan Raden Atmandaru di Gunung Kendil adalah satu kemungkinan yang bisa keliru dan bisa juga benar.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pada hari kesembilan perjalanannya menuju utara, ketika singgah beberapa hari di Pedukuhan Mojosongo, ketika sedang menjadi orang asing yang tidak ingin dikenal, kabar Ki Gede Menoreh wafat terdengar seperti ledakan cambuknya sendiri. Keras dan mampu memecahkan gendang telinga! Swandaru tertegun di tepi parit sambil merenungi betapa dirinya belum gigih menunjukkan bakti sebagai anak menantu. Kabar yang didengar danri percakapan orang-orang di dalam kedai seakan menjadi tangan raksasa yang membuatnya serasa ingin berpaling ke belakang, pulang kembali ke Tanah Perdikan.

Keresahan semakin memuncak ketika pada hari kelima belas sejak kepergiannya dari Sangkal Putung atau dua hari sejak pertempuran Gunung Kendil; gaung kemenangan pasukan gabungan Mataram dan Menoreh akhirnya tiba melalui percakapan ringan di sela-sela kesibukan pasar kecil di antara Majasanga dan Ringinlarik.

Kemenangan itu sebenarnya bentuk penghargaan atas kerja keras orang-orang tanpa kehadirannya, membuat kepercayaan yang dulu begitu alami kini terasa seperti beban yang asing. 

Puncaknya perasaan Swandaru: antara marah, resah dan keterasingan terjadi pada hari kedelapan belas, ketika Swandaru berhenti di sebuah pancuran desa. Seorang pedagang yang baru saja menempuh perjalanan dari selatan duduk beristirahat di dekatnya, bercakap dengan nada heran sekaligus kagum. “Luar biasa siasat orang-orang Menoreh,” ucap pedagang itu, “kabar kematian Ki Gede ternyata hanyalah siasat, sebuah kebohongan yang sengaja dihembuskan untuk menjebak musuh di Gunung Kendil. Kenyataannya Ki Gede bahkan segar bugar saat memimpin pengawal Tanah Perdikan.”

Mendengar kabar dari Menoreh, luap perasaan nyaris tidak tertahan, hampir meledakkan segenap yang berada di dalam dirinya!

Swandaru, digempur habis oleh keadaan!

“Benar, mereka memang tidak menungguku. Tidak lagi menganggap aku bukan siapa-siapa dan tidak dapat berbuat apa-apa!” Rahangnya mengeras, tangan mengepal kencang.

Pada malam itu, saat Agung Sedayu berada di rumah Ki Gede bersama Ki Jayaraga, Kinasih dan yang lainnya, Swandaru berdiri di tengah sungai yang terletak di selatan Majasanga membiarkan air menghanyutkan perasaan dan pikirannya yang pecah.

Dari kejauhan, Ki Garjita masih setia mengawasi, menata ulang rencananya setelah mengamati keadaan batin dan pikiran Swandaru yang terus bergeser seiring dengan tiga berita yang datang dari Menoreh.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 14 – Siasat Agung Sedayu: Ubah Senyap Menjadi Gelar Perang

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 56 – Pamor Kitab Kyai Gringsing Menyeruak di Jati Anom

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.