Dironda 37 kali
Malam yang dingin menyelimuti Tanah Perdikan Menoreh. Sukra bersama para pengawal berjaga tanpa mengetahui ke mana lenyapnya musuh yang selama ini mereka awasi. Sementara itu, Agung Sedayu tetap tenang, mencoba membaca siasat yang tersembunyi di balik kesunyian.
Di tempat lain, Ki Gede Menoreh dan para pemimpin pengawal menyadari bahwa ketenangan seperti ini justru dapat menjadi pertanda datangnya bahaya yang lebih besar. Tidak seorang pun berani menganggap malam itu sebagai malam biasa. Ketika pagi tiba, kehidupan seolah kembali berjalan sebagaimana mestinya. Namun hanya dalam hitungan saat, suasana berubah menjadi kepanikan yang menjalar ke berbagai penjuru Menoreh.
Sukra menjadi salah seorang yang berada di garis terdepan untuk menghadapi keadaan, sementara Agung Sedayu harus mengambil keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah perlawanan. Di tengah kekacauan, setiap orang dituntut bergerak lebih cepat daripada rasa takut mereka sendiri.
- Tanpa bermaksud promosi atau mengarahkan, tapi saya suka baca Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya. Alasannya? Selain saya melakukan promosi, saya juga pembaca setia Kitab Kyai Gringsing.
- Jika di sini masih malam (Malam yang dingin menyelimuti Tanah Perdikan Menoreh), di barak pasukan khusus malah sudah pagi. Tapi sedikit orang yang tahu bahwa saat itu Agung Sedayu masih berada di rumah. Kabar baiknya, tetangga Sedayu malah tidak tahu kalau tumenggung Mataram tersebut ada di barak. Percayalah, hanya pembaca saja yang tahu Agung Sedayu ada di Hari Bising 36.
- Malam itu adalah malam kematian bagi setiap binatang yang tanpa sengaja telah berada dalam jangkauan ilmu Jagat Manunggal. Wedhus Gembel 2 ini ternyata cukup membahayakan hidup Jaka Tingkir alias Mas Karebet alias Adipati Hadiwijaya.
