Dironda 33 kali
Ki Panuju pada akhirnya harus meladeni Ki Garu Wesi yang datang dengan niat buruk terhadap Jati Anom. Ketika Ki Hariman dan Ki Tunggul Pitu muncul, Ki Panuju memanfaatkan kedatangan para penggembala yang sebelumnya telah dilatihnya. Pertempuran yang jarang terjadi pun pecah di bagian sungai yang membelah Jati Anom tersebut.
Di tempat lain, Swandaru menolong tukang satang sebelum menghadapi sekelompok pengeroyok di tepi Kali Progo. Dengan cambuknya, Swandaru mampu menguasai pertempuran meski dikepung banyak lawan. Dia mengembangkan tata gerak baru dengan memadukan ilmu cambuk dari Kyai Gringsing dan unsur ilmu pedang Pandan Wangi, membuat gerakannya semakin sulit ditebak dan mematikan.
Tapi Ki Suladra berhasil menahan keganasan Swandaru. Orang ini bahkan sengaja membuat provokasi agar Swandaru kehilangan sebagian ketenangannya, sementara Ki Suladra mengubah gelar bersama anak buahnya untuk mengimbangi serangan cambuk yang sebelumnya membuat mereka terdesak.
Sementara itu, Agung Sedayu bertarung seperti melawan bayangan dirinya sendiri yang menjelma dalam diri Ki Prayoga. Pertarungan berlangsung seimbang begitu jauh.
Namun ketika Agung Sedayu memilih melanjutkan pertarungan tanpa senjata, Ki Prayoga mengeluarkan kemampuan yang mengejutkan. Dan pertempuran di Kali Progo pun memasuki keadaan yang semakin genting.
- Beberapa tombak menjelang Gerbang Demak, Ki Getas Pandawa memandang wajah gagah Arya Penangsang.
- Dalam pada itu di tepi dusun yang ada di dalam Bara Bukit Menoreh7. “Raden Atmandaru… benar-benar…,” desis Agung Sedayu dalam hati saat meraba siasat yang sedang dikembangkan oleh seterunya itu.
- Siasat itu, apakah berakar sejak Jati Anom Obong?
