Dironda 30 kali
Pertempuran di Tanah Perdikan Menoreh memasuki tahapan yang semakin menentukan. Sejumlah pertarungan yang semula berlangsung dalam kedudukan berimbang mulai menunjukkan perubahan. Orang-orang berkepandaian tinggi terpaksa membuka lapisan kemampuan yang sebelumnya masih mereka simpan, sementara pihak yang menghadapinya harus mengambil keputusan dalam waktu yang semakin sempit.
Benturan itu bukan tiada penyebab. Satu hal pasti adalah kepentingan yang menggerakkan para penyerang perlahan mulai memperlihatkan bobotnya. Yang terjadi bukan semata-mata rangkaian perang tanding. Ada tujuan lebih besar yang membuat beberapa orang bersedia mempertaruhkan nyawa, bahkan mulai mempertimbangkan kepentingannya sendiri ketika keadaan tidak lagi berjalan sesuai harapan.
Agung Sedayu dan Swandaru menghadapi lawan-lawan yang memaksa mereka mengerahkan kemampuan hingga batas yang jarang diperlihatkan. Perubahan keadaan berlangsung cepat; keunggulan dapat bergeser hanya dalam beberapa saat. Watak dan kematangan masing-masing juga mendapat ujian ketika mereka harus menentukan sikap terhadap lawan yang sudah tidak lagi berada dalam kedudukan semula.
- Antara menghadapi lawan yang brutal atau keganasan yang taktis, itulah kenyataan di Jati Anom Obong.
- Sementara Raden Atmandaru sama sekali tidak peduli dengan kesulitan yang dihadapi Agung Sedayu. Orang yang mengaku keturunan Panembahan Senapati itu tampak gemetar ketika menyentuh batang tombak Kiai Plered.
- Lain halnya dengan Adipati Hadiwijaya yang justru dapat berjalan tenang, bersebelahan dengan Arya Penangsang. Peristiwa itu hanya disaksikan dan dicatat oleh sebongkah batu yang bertuliskan Gerbang Demak 2.
