Padepokan Witasem
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 2

“Aku tak ingin menjadikanmu orang yang melampaui batas. Aku sekedar mengingatkan bahwa sekarang ini kau mendapat kesempatan untuk menjadi penguasa tahta Demak.”

“Jadi, berita itu ternyata memang benar. Para petugas sandi telah memberiku peringatan.”

Kedua alis Lembu Jati pun tertaut. “Kau tidak mengerti apapun yang sedang terjadi di Demak.”

“Keinginan untuk duduk dan memerintah sebagai orang tertinggi karena merasa sebagai orang yang terpilih,” kata Adipati Hadiwijaya. ”Lembu Jati, kau dapat katakan kepada orang yang berkuasa atas dirimu bahwa Mas Karebet tidak akan melepaskan Demak ataupun Pajang padanya.”

“Orang itu masih kerabatmu sendiri, Jaka Tingkir!” usai berkata demikian, lengan kiri Lembu Jati menggantung di sisi lambungnya sementara tangan kanannya terangkat tinggi-tinggi. Ia berdesis, ”Ki Rangga Gagak Panji. Aku berikan nama itu kepadamu supaya kau merasa lega jika ternyata hanya nama seorang Jaka Tingkir yang harus kembali pulang.”

Jantung Adipati Pajang berdentang kencang. Darahnya seolah berhenti mengalir saat nama Gagak Panji dengan terang diucapkan oleh Lembu Jati. Walaupun sebenarnya ia sedikit tertekan dalam hatinya tetapi Adipati Hadiwijaya adalah seorang petarung sejati, Ia mengabaikan gelisah yang membalut perasaanya. Bahkan ia seperti menantang kebenaran dari keterangan lawannya. Tanpa mengubah kedudukan tubuhnya dan ketenangan yang masih terpancar dari matanya, Adipati Pajang pun berkata, ”Akan menjadi peristiwa yang sangat menyenangkan bila kakang Gagak Panji yang menyusun perangkap ini. Ia memang orang luar biasa karena dapat membuatmu bersimpuh mencium ujung kakinya.”

Bibir Adipati Hadiwijaya mengatup rapat. Kedua kakinya bergeser cepat menyusur tanah, merangsek maju menyerang Lembu Jati dengan sebuah terjangan yang hebat.

Lembu Jati pun menggerakkan kaki tanpa mengangkatnya dari permukaan tanah. Setiap langkahnya yang lebar saling menyilang menyebabkan udara bergerak seperti dihentak dengan kipas raksasa. Debu dan dedaunan membumbung tinggi hingga mencapai leher Lembu Jati. Lalu tiba-tiba satu dorongan dari tangannya membuat pusaran udara itu seolah menjadi runcing dan menggapai dada Adipati Hadiwijaya.

Pemimpin tertinggi Pajang lantas menyambutnya dengan kibasan yang sangat kuat membuyarkan serangan Lembu Jati. Kehebatan Lembu Jati memang nyaris tiada banding. Betapa benturan angin yang digerakkan oleh tenaga inti yang bersumber dari ilmu Jagat Manunggal telah meninggalkan rasa perih pada bagian luar kulit Adipati Hadiwijaya.

Tetapi jantung Adipati Hadiwijaya seakan berhenti berdetak tatkala para pengawal terhempas cukup jauh. Sebenarnya mereka telah menepi dari jalanan. Saat itu mereka saling merawat luka yang disebabkan senjata rahasia yang dilepaskan oleh Lembu Jati ketika melayang melintas diatas mereka. Namun karena hentakan tenaga inti yang keluar dari ilmu tingkat tinggi terlalu hebat bagi prajurit Pajang dahsyat maka tubuh mereka terseret angin hingga belasan langkah.

Kerling mata Adipati Hadiwijaya belum mendapatkan bayangan salah satu pengawal yang menandakan mereka masih hidup. Dan yang ia hadapi adalah seorang yang tangguh dan memiliki ilmu serta kekuatan yang berselisih tipis dengannya. Meskipun dengan berat hati pemimpin Pajang itu menjatuhkan keputusan tetapi menghentikan Lembu Jati adalah pilihan terbaik baginya.

Lantas dengan sebangsal ilmu yang telah menyatu dalam diri putra Kebo Kenanga, kini dengan cepat ia mengalirkan ilmu Lembu Sekilan untuk melapisi pertahanannya. Sekali-kali ia berteriak memanggil nama pengawalnya satu demi satu namun pendengarannya belum menangkap getar suara dari para pengawal.

Dalam waktu itu, perkelahian meningkat selapis demi selapis dengan cepat. Lembu Jati sama sekali tidak mengeluarkan unsur gerakan yang rumit dalam melakukan serangan. Ia lebih cenderung untuk menggunakan seluruh olah gerak yang biasa dipelajari oleh cantrik yang baru saja memasuki lingkungan padepokan. Hanya saja yang membedakan mereka dengan cantrik baru adalah pengerahan tenaga inti yang sangat kuat dalam setiap geliat kaki dan kibasan tangan.

Suasana begitu mencekam dapat dirasakan hingga belasan tombak dari lingkar perkelahian itu. Ilmu Jagat Manunggal benar-benar menjadi ancaman yang mengerikan bagi setiap makhluk bernyawa. Betapa udara yang bergerak karena dorongan tenaga inti dapat berubah seperti sayatan belati yang tajam. Kadang-kadang secara mendadak berubah menjadi angin yang mampu membakar daun yang basah oleh embun. Dan tak jarang Adipati Hadiwijaya menjadi terkejut karena tiba-tiba tenaga inti Lembu Jati berubah menjadi sangat dingin.

Malam itu adalah malam kematian bagi setiap binatang yang tanpa sengaja telah berada dalam jangkauan ilmu Jagat Manunggal. Beberapa kelinci secara mendadak telah terkulai roboh dengan lambung yang robek memanjang. Bahkan seekor burung malam pun deras meluncur menghunjam bumi dengan bulu terbakar angin panas yang keluar dari ilmu yang diyakini oleh banyak orang  telah musnah itu.

Related posts

Wedhus Gembel 9

kibanjarasman

Wedhus Gembel 8

kibanjarasman

Wedhus Gembel 7

kibanjarasman

Wedhus Gembel 6

kibanjarasman

Leave a Comment