Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 94 – Nyaris!

Masih dalam keadaan yang terpisah, Pandan Wangi berjalan di depan Agung Sedayu dalam jarak kurang dari lima belas langkah. Ketika orang-orang mulai berangsur berkurang karena telah menempuh jalur yang sudah menjadi kebiasaan, maka Agung Sedayu mempercepat langkah hingga berjajar dengan putri Ki Gede Menoreh itu.

“Saya tidak melihat tanda-tanda mereka bermalam di tempat itu,” kata Pandan Wangi. “Bisa jadi mereka bergeser tempat berkumpul yang mungkin disusulkan kemudian oleh pemimpin mereka.”

Agung Sedayu tampak menautkan alis. “Kita juga tidak mendengar tukang satang yang pastinya berkisah seandainya ada banyak rombongan yang menyewa perahu mereka.” Senapati Mataram itu menghela napas, lanjutnya kemudian, “Aku pun tidak menemukan jejak.”

Apakah pasukan Ki Garu Wesi tidak menyeberangi Kali Progo melalui dermaga tersebut? Pertanyaan itu muncul bersamaan dalam pikiran Agung Sedayu dan Pandan Wangi. Andaikata benar, maka rombongan Ki Garu Wesi terbagi menjadi banyak kelompok kemudian menyeberang dari tempat yang berlainan.

“Kita berada di jalur utama yang menghubungkan Tanah Perdikan dengan Kali Progo. Ini adalah jalan yang terlebar dan permukaannya pun yang terbaik,” ucap lirih Pandan Wangi. Rasa gelisah tampak menggetar kuat pada nada suaranya.

“Sewajarnya bila mereka memecah diri menjadi banyak kelompok lalu menempuh jalur yang berbeda dan terpisah,” kata Agung Sedayu. “Kita sudah masuk daerah yang sudah terjangkau pengawasan para petugas sandi dari barak pasukan khusus.” Agung Sedayu menoleh ke belakang kemudian berkata, “Jejak yang tak tampak atau tidak ada seolah memberiku sebuah pencerahan.”

“Bagaimana , Kakang?” tanya Pandan Wangi yang wajahnya tidak tampak lelah meski sepanjang malam terlibat beberapa kegiatan.

“Kebiasaan yang berlaku di pasukan khusus ternyata sudah diketahui oleh Raden Atmandaru,” Agung Sedayu berkata. “Tapi itu pun tidak berarti mereka mempunyai kelebihan yang tidak terjangkau oleh kita. Bagaimanapun, secara wajar, mereka pasti datang dengan cara yang tidak biasa.”

Pandan Wangi mengangguk. Dia berpikiran sama karena jika Ki Garu Wesi memasuki wilayah Tanah Perdikan dengan beramai-ramai maka keberadaan mereka mudah diketahui para pengawal atau prajurit dari pasukan khusus. Menelusuri lebih jauh, maka orang-orang semacam Ki Ramapati atau Ki Panji Seca Merti mungkin sudah penuh sesak memenuhi Kraton atau Kepatihan. Bukan hal gampang untuk mengetahui kebiasaan yang berlaku pada pasukan khusus.

Tiba-tiba Pandan Wangi memegang erat lengan Agung Sedayu diiringi tatap  mata yang tajam. “Mungkinkah?” dia bertanya.

Agung Sedayu mengangkat bahu, lalu berkata singkat, “Entahlah.”

Mereka berdiri berhadapan, mematung dan saling memandang. Suatu pancaran rasa yang sangat kuat seolah ingin menyatukan Agung Sedayu dan Pandan Wangi hingga kesadaran mereka bangkit untuk melawan! Seketika raut majah mereka merona merah lalu melangkah surut.

Sambil berusaha menenangkan perasaan yang terguncang dengan sisa-sisa merah di wajah, Agung Sedayu berkata, “Marilah, semakin terang suasana tentu tidak selalu membawa hal baik untuk kita.”

Pandan Wangi mengangguk sambil tetap menyembunyikan wajah yang bersemu  merah. Hatinya bergetar sangat kuat lalu membayangkan ; bagaimana jika mereka tidak mempunyai bekal diri yang cukup? Barangkali dapat terjadi sesuatu yang sangat buruk.

Sekitar empat puluh atau lima puluh langkah selanjutnya, Agung Sedayu mengubah jalur yang ditempuh. Pandan Wangi mengikutinya sambil bertanya-tanya dalam hati. Mereka berdua tiba di atas jalan setapak yang berakhir di samping sebuah hutan kecil. Tempat itu termasuk daerah yang dihindari kebanyakan orang kecuali para pemburu karena penuh dengan tanaman berduri. Agung Sedayu mengarahkan perjalanan dengan melingkari hutan kecil itu, pada akhirnya mereka akan melihat pedukuhan induk yang terhampar di bawah sebuah bukit kecil. 

Hari sudah mencapai wayah pasar temawon ketika mereka berada di puncak tebing. Pandan Wangi memandang Agung Sedayu dengan tatap mata penasaran. Pohon-pohon tinggi yang menjulang menghalangi pandangan mereka, tapi itu bukan tujuan Agung Sedayu.

“Mungkin kau ingin bertanya alasanku datang ke tempat ini,” ucap Agung Sedayu karena dia memang tidak memberitahukan rencananya pada Pandan Wangi.

Disertai anggukan kepala dan senyum yang membuat suasana terasa cerah, Pandan Wangi berkata, “Seperti itulah. Kakang tiba-tiba keluar dari jalur utama kemudian melintasi jalanan yang sangat sulit.”

“Aku ingin mengetahui daya jangkau mereka, apakah seperti dugaanku atau mereka memang telah mempunyai gambaran yang menyeluruh?” ucap Agung Sedayu. “Daerah ini, seperti yang kau katakan, adalah daerah yang sulit. Jalurnya pun termasuk sulit ditempuh bila bukan karena keperluan yang sangat mendesak. Itu pun, barangkali, hanya pemburu saja.”

Pandan Wangi menyimak sepenuh perhatian meski tatap matanya terlontar ke bagian bawah tebing.

“Aku mengajakmu untuk menyisir daerah ini karena ingin meraba pula, apakah Raden Atmandaru telah mendirikan gardu atau perkemahan di sini? Kita bisa jawab untuk sementara, tidak. Kita tidak melihat satu orang pun sepanjang perjalanan ke sini. Kemudian, aku ingin mengukur seandainya mereka tiba-tiba memilih jalur ini untuk sebuah serangan yang langsung menghunjam jantung pedukuhan induk. Lihatlah, di bagian sana, di sana, di sana, kita tahu bahwa itu adalah lingkungan yang terhubung langsung dengan kediaman Ki Gede Menoreh,” terang Agung Sedayu yang menggunakan ibu jari untuk menunjuk tempat-tempat yang dimaksud olehnya. “Dari tempat kita berdiri sekarang ini, dengan pengenalan yang baik atau seorang pemandu yang bermata tajam, serangan dapat diluncurkan jika melewati bagian itu, lalu yang itu kemudian menyisir parit yang mengalir di sebelah utara batas tumbuh kebanyakan pohon randu alas.”

Penjelasan Agung Sedayu membuat Pandan Wangi berkata lagi, “Saya tidak mendengar keterangan ini di kemah Pangeran Selarong.”

“Bukan aku bermaksud menyembunyikan sesuatu dari beliau, tapi wawasan ini pun tidak akan memberi pengaruh besar seandainya Pangeran Selarong tahu. Beliau berjaga di Sangkal Putung, sementara Raden Atmandaru berada di sini, Tanah Perdikan. Kau tentu tahu maksudku,” ucap Agung Sedayu.

Pandan Wangi mencubit dagunya sambil mengangguk, lalu tampaklah pesona yang semakin memancar kuat di bawah sinar matahari pagi. Sejenak kemudian dia berkata, “Apakah itu berarti Sukra dan Kinasih telah membawa pula daerah ini dalam pesan Kakang untuk ayah serta Ki Lurah Sanggabaya?”

“Aku harap mereka berdua tidak mengalami banyak hambatan,” jawab Agung Sedayu yang tiba-tiba merasa aneh saat Pandan Wangi menyebut nama Kinasih. Murid Kyai Gringsing ini benar-benar merasakan tekanan berat yang datang dari dua arah yang berlawanan ; antara pesona Pandan Wangi dan kenangan bersama Kinasih.

“Mereka bukan anak muda biasa, Kakang,” kata Pandan Wangi. “Terlebih lagi Kinasih adalah murid tunggal Nyi Banyak Patra, maka aku kira mereka dapat saling melindungi sekalipun ada jarak yang cukup jauh pada kemampuan masing-masing.” Sekilas Pandan Wangi melihat Agung Sedayu saat menyebut nama Kinasih, tapi dia tidak mendapati perubahan sedikit pun.

Angin berhembus semilir. Mengibas perlahan rambut Agung Sedayu yang tergerai lepas. Pandan Wangi pun terlihat menikmati suasana yang sudah lama dirindukannya.

“Marilah,” kata Agung Sedayu kemudian, “aku akan tunjukkan bagian-bagian yang mungkin nanti harus mendapat perhatian.” Tanpa menunggu tanggapan Pandan Wangi, pemimpin pasukan khusus itu segera menuruni tebing dengan lompatan-lompatan yang menggambarkan ketinggian ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Pandan Wangi bergegas pula mengiringi Agung Sedayu dengan begitu lincah. Tubuhnya tampak sangat ringan dan lentur saat menyelinap di antara celah ranting dan pohon.

Demikianlah mereka berdua tampak seperti dua ekor kijang yang bermain-main dan berloncatan di padang rumput yang luas. Kerapatan tanaman seolah tidak menjadi halangan bagi mereka.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 63 – Pertarungan Sengit Pandan Wangi dan Ki Ramapati

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 85 – Rehat Sejenak Sang Senapati

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 40 – Agung Sedayu Mengintai Jagaprayan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.