Dalam benaknya, Ki Demang Brumbung mencoba mengingat orang-orang yang mungkin masih bertugas di tempat itu. Wajah demi wajah melintas samar di ingatannya. Beberapa nama kawan lama yang pernah bertugas dengannya. Ada pula orang-orang yang pernah datang ke Tanah Perdikan sekadar untuk bertukar kabar dan minum hangat hingga larut malam.
Namun ingatannya belum menyentuh nama Ki Panji Suralaga.
Pangeran Selarong membiarkan Ki Demang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setelah beberapa saat, dia mengangkat tangan memberi isyarat pada para pengawal untuk kembali bergerak.
Rombongan peronda itu pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan ibukota yang mulai lengang. Suara derap kaki kuda terdengar samar-samar.
Di kejauhan, sesekali terdengar kentongan ronda dipukul pendek dari gardu-gardu kecil di sudut kampung.
“Karena banyak kabar berjalan lebih cepat daripada perintah,” sahut Pangeran Selarong. “Orang-orang mendengar benturan yang terjadi di lereng Kendil dan kabar Pancuran Watu Item. Mereka akan datang ke Tanah Menoreh. Dua keadaan itu hampir serupa dengan gerakan orang-orang yang diam-diam mengumpulkan pengikut.”
“Apakah keadaan ibukota sudah sejauh itu?”
Pangeran Selarong menarik napas panjang kemudian menggeleng. “Kami belum mencium bahaya. Tapi segala sesuatu seperti permukaan air yang dilempar batu.”
Ki Demang Brumbung mengangguk dalam-dalam sambil berkata pada dirinya sendiri, “Ini rupanya tujuan Ki Tumenggung memintaku agar meronda bersama Pangeran Selarong. Barangkali Ki Tumenggung ada pertimbangan lain sehingga tidak mengatakan sendiri tekanan yang sedang dihadapi.”
Pangeran Selarong mendengar gumaman itu tapi tidak memberi tanggapan.
Kelompok peronda itu lantas melewati sebuah gardu kecil di tikungan jalan. Mengambil jalan memutar lalu kembali ke barak pengawal raja.
Matahari telah lama tenggelam ketika Sukra berpisah dari Agung Sedayu dan Ki Demang Brumbung. Malam turun perlahan bersama udara dingin yang merambat dari persawahan dan kebun-kebun tebu.
Sepanjang perjalanan, pikiran Sukra tidak benar-benar tenang. Bayangan Agung Sedayu, Sekar Mirah, Swandaru dan Sekar Wangi bergantian memenuhi kepalanya.
Sesekali dia menarik napas panjang.
Dia hidup bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak dalam satu atau dua tahun tapi belasan tahun. Perang tanding Pancuran Watu Item sudah dapat dibayangkan olehnya, bukan hasil tapi sikap Sekar Mirah dan Ki Demang Sangkal Putung. Meski memendam kecewa sealigus geram pada Swandaru, Sukra tidak dapat mengabaikan begitu saja Sekar Mirah.
“Bagaimanapun, Nyi Mirah adalah istri Ki Lurah,” katanya dalam hati.
Malam sudah cukup larut ketika gardu jaga di bagian depan Kademangan Sangkal Putung sudah tampak cukup dekat.
Beberapa pengawal mengenali Sukra bahkan sebelum dia turun dari punggung kuda. Mereka saling berpandangan sesaat, lalu salah seorang cepat membuka jalan. Untuk sebentar waktu, mereka bertukar kabar sebelum Sukra melanjutkan perjalanan.
Diterangi cahaya obor yang remang mencapai permukaan jalan, suasana rumah Ki Demang Sangkal Putung tampak tenang.
Sukra berhenti beberapa langkah di depan regol rumah orang tua Sekar Mirah. Untuk sesaat, Sukra hanya berdiri diam— memandang sebentar seluruh bagian depan rumah itu..
“Sukra?” salah seorang pengawal maju mendekat sambil menyipitkan mata menembus cahaya obor. Lalu wajahnya segera berubah lebih ramah. “Heh, benar kau rupanya. Dari Menoreh?”
Sukra mengangguk pendek sambil menepuk leher kudanya pelan.
“Kau datang malam-malam begini?” tanya pengawal lain yang baru turun dari gardu. “Apakah ada kabar penting?”
Sukra menarik napas sebentar kemudian menggeleng. “Hanya berangkat dari Tanah Perdikan saat siang.”
“Apakah itu berarti Ki Tumenggung Agung Sedayu juga sedang menuju ke sini atau singgah terlebih dulu di Kepatihan?”
“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa,” kata Sukra. “Beliau tidak menyebutkan rencana akan ke Sangkal Putung.”
Dua pengawal itu saling berpandangan sesaat. Salah seorang segera berkata, “Kalau begitu biar aku memberitahu Nyi Sekar Mirah. Barangkali beliau masih belum beristirahat.”
“Oh, tidak, lebih baik jangan,” sahut Sukra cepat.
Nada suaranya membuat pengawal itu tertahan sebelum melangkah.
Sukra berkata rendah, “Jangan dulu membangunkan orang di dalam rumah. Biarlah aku ikut kalian berjaga atau meronda sambil menunggu pagi.”
“Menunggu pagi?” pengawal itu mengerutkan kening.
Sukra mengangguk.
Sebenarnya tiga pengawal kediaman itu akan mengatakan sesuatu lalu mereka menahan diri. Bukan masalah jika Sukra ada di tengah-tengah mereka. Bahkan itu akan lebih baik.
Sejenak suasana menjadi hening.
“Baiklah,” katanya ketua regu jagan. “Kalau begitu biar kudamu diistirahatkan di belakang gardu. Dan kau dapat berjaga bersama kami malam ini.”
“Terima kasih,” sahut Sukra singkat
Namun ketika dia melangkah menuju gardu jaga, dadanya justru terasa semakin berat. Dia sadar, ketika fajar tiba, tidak ada lagi cara untuk menahan pertanyaan Sekar Mirah tentang Pancuran Watu Item.
Rahayu
Bagi para budiman yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan”, pendaftaran pesan (Pre-Order) telah dibuka dengan investasi Rp75.000.
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Tata gerak perolehan:
BCA 822 05 22297
BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.
Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di NOMER INI
Matur nuwun
Malam itu berjalan dengan tenang, hanya sesekali angin menimbulkan desir lembut di antara pepohonan halaman. Kadang-kadang terdengar kentongan dipukul sebagai penanda waktu dari pedukuhan seberang.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang bercakap da nyala obor begoyang dari lorong yang berada di samping tikungan. Sekelompok peronda muncul, berjalan beriringan di depan kediaman Ki Demang Sangkal Putung.
“Kakang, aku akan ikut mereka,” kata Sukra pada ketua regu jaga sambil menyatakan alasan ingin menghilangkan kebosanan.
Ketua regu itu mengangguk lalu mengatakan sesuatu pada kelompok peronda.
Yah, tentu saja mereka menerima Sukra dengan suka hati.
Sukra ikut bergerak perlahan di sisi mereka. Bertanya tentang keadaan kademangan setelah bentrokan di Watu Sumping. Sekal waktu, dia menanyakan kabar Swandaru pada salah seorang peronda, tetapi dengan nada ringan seolah tidak terjadi sesuatu yang dapat mengguncang seisi kademangan.
Peronda itu pun menjawab dengan nada yang sama dengan Sukra—tidak ada beban dan tanpa tekanan.
Sukra merenung sejenak lalu menahan sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Sesampainya mereka di simpang empat yang berbatasan dengan parit yang turun dari persawahan, Sukra kembali ke gardu jaga. Dia mereguk semangkuk wedang yang sudah tak lagi hangat setelah tiba di sana.
Seiring waktu, langit di ufuk timur mulai memerah. Fajar muncul dengan cahaya yang tanpa ragu menyapu permukaan Sangkal putung. Bayangan-bayangan gelap malam bergeser perlahan. Sukra menatap ke arah jalan yang baru dilewati peronda, menyadari bahwa malam telah hampir berakhir, dan penghuni kediaman Ki Demang mungkin sudah melakukan kegiatan.
Ketua regu jaga kemudian mempersilakan Sukra untuk masuk.
“Aku sudah memberitahukan kedatanganmu pada Nyi Sekar Mirah waktu kau mencuci muka,” kata ketua regu itu. “Masuklah, mungkin beliau dan juga Kyai Bagaswara sudah menunggumu di pringgitan.”
“Terima kasih, Kakang,” sahut Sukra. “Saya sudah banyak merepotkan dengan kedatangan ini.”
“Ah, sudahlah, kami tidak pernah menganggapmu sebagai orang lain,” kata ketua regu itu ramah sambil menepuk bahu Sukra dengan hangat.
“Saya…,” ucap Sukra, “permisi dulu.”
Sukra menapak tlundakan, mengetuk pintu, masuk ke dalam rumah. Sesaat dia masuk, pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan seolah sedang mencari seseorang. Meski begitu, dia dapat merasakan ketegangan sudah hadir jauh sebelum dirinya memasuki pringgitan.

Dalam waktu itu, Sekar Mirah duduk tenang di dalam pringgitan bersama Kyai Bagaswara. Wajah keduanya tenang tapi setiap sorot mata seolah sudah menebarkan tanda bahwa mereka sedang menahan diri.
Sekar Mirah memecah keheningan dengan suara lembut tapi tegas. “Sukra,” katanya sambil menatap pemuda itu, “makanlah dulu. Sekar Wangi juga sedang tidur di biliknya. Nanati setelah makan, tengoklah tanpa suara.”
Sukra mengangguk dan ketegangan sejenak menurun. Lantas dia berjalan perlahan menuju meja rendah yang sudah tertata dengan hidangan sederhana: nasi megana, rebusan daun singkong, dan wedang sereh hangat.
Demikianlah sesuai menikmati hidangan pagi, Sukra meminta izin untuk menengok Sekar Wangi.
Sukra melangkah pelan menuju bilik Sekar Wangi. Pintu kayu itu didorong perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Dari sela jendela anyaman bambu, cahaya pagi merembes masuk, jatuh lembut di wajah Sekar Wangi yang masih terlelap pulas di atas pembaringan.
Napas bayi mungil itu terdengar teratur, wajahnya jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Rambutnya terurai di atas bantal, sementara selimut tipis menutupi tubuhnya hingga dada.
Sukra berdiri beberapa saat di ambang pintu. Tatapannya tidak lepas dari wajah Sekar Wangi yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu. “Dia sangat sehat,” ucapnya dalam hati. Perasaan lega perlahan mengalir di dadanya.
Tanpa suara, Sukra duduk di lantai dekat pembaringan. Punggungnya bersandar pada sisi dipan kayu, tepat di dekat kaki Sekar Wangi. Mula-mula dia hanya ingin berjaga sebentar, tapi kelelahan yang sejak perondaan ketiga di Menoreh cukup menekan tubuhnya akhirnya tidak tertahankan. Kelopak matanya terasa berat. Napasnya melambat. Tidur.
Mungkin cukup lama waktu berlalu.
Di ruang depan, Sekar Mirah yang sedang berbincang tenang dengan Kyai Bagaswara tiba-tiba menghentikan bibirnya. Dahinya berkerut.
“Aneh. Sepi sekali…” gumamnya lirih.
Kyai Bagaswara yang duduk bersila di dekat pintu menoleh perlahan ke arah bilik Sekar Wangi. “Hmm. Jangan-jangan…”
Sekar Mirah dan Kyai Bagaswara saling berpandangan sesaat. Perasaan ganjil mulai merayapi hati keduanya.
Tanpa banyak bicara, mereka berjalan menuju bilik Sekar Wangi. Pintu didorong perlahan. Mereka seketika berhenti.
Sekar Wangi masih tertidur tenang di atas pembaringan. Sementara di bawah dekat kakinya, Sukra tampak terlelap bersandar pada dipan kayu, kedua lengannya terlipat di dada seperti sudah sama sekali tidak mempunyai daya.
Sekar Mirah menahan napas sejenak lalu senyumnya mengembang. Sedangkan Kyai Bagaswara hanya dapat menggelengkan kepala.
“Anak itu…” gumamnya pelan. “Rupanya semalam ia benar-benar tidak memejamkan mata.”
Mereka lantas meninggalkan bilik. Sekar Mirah mengarahkan langkah menuju dapur, sementara Kyai Bagaswara ke halaman samping.
Matahari semakin tinggi.
Sukra terbangun perlahan ketika samar-samar terdengar suara kain digerakkan dan percikan air dari kendi kecil, lalu matanya bergeser.
Di sudut bilik, Sekar Mirah sedang membungkuk sambil mengurusi bayinya yang baru terbangun. Perempuan itu tampak mengganti kain pembungkus si kecil dengan gerakan cekatan dan penuh kelembutan. Bayi itu sesekali mengeluarkan suara lirih, sementara Sekar Mirah menenangkannya dengan senyum tipis.
Seketika wajah Sukra memerah.
Baru disadarinya bahwa dia tertidur begitu saja di dalam bilik Sekar Wangi. Bahkan sejak tadi Sekar Mirah pasti sudah berada di situ sementara dirinya masih mendengkur seperti orang kehabisan tenaga.
“A-a-.. Saya…” Sukra tergagap pelan sambil buru-buru bangkit.
Sekar Mirah menoleh sekilas. Tatapannya justru tenang, bahkan nyaris geli melihat pemuda itu.
“Sudah bangun?” tanyanya lembut.
Namun Sukra malah semakin salah tingkah. Dia menunduk cepat, hampir tersandung kakinya sendiri ketika mundur dari dekat pembaringan.
“Maaf… Nyi, saya …”
Belum sempat Sekar Mirah menjawab, Sukra sudah buru-buru keluar dari bilik seperti orang dikejar lebah. Langkahnya terus bergegas melewati pawon hingga menuju halaman belakang rumah.
Di dekat sumur batu tua, terdengar bunyi timba bergesekan dengan bibir sumur. Kyai Bagaswara tampak sedang menimba air dengan gerakan tenang. Orang tua itu melirik sekilas tanpa menoleh penuh. Sudut bibirnya tampak seperti menahan senyum.
“Lumayan cepat,” katanya datar.
“Kyai.” Sukra makin salah tingkah. Dia mengusap tengkuknya sambil menghindari tatapan Kyai Bagaswara. Cepat-cepat dia membasuh muka.
Kyai Bagaswara menarik timba penuh air lalu meletakkannya di bibir sumur. Terdengar tawa kecil yang makin membuat Sukra serba salah.
Tidak lama kemudian, setelah membasuh muka dan menenangkan dirinya, Sukra dan Kyai Bagaswara masuk ke dalam pringgitan.
Di pringgitan rumah itu, suasana terasa hening. Cahaya matahari menerobos tiang-tiang kayu jati, membentuk garis-garis panjang di lantai.
Sekar Wangi telah dibawa ke bilik dalam untuk diasuh oleh salah seorang perempuan tua kepercayaan keluarga.
Kyai Bagaswara duduk bersila di sisi utara pringgitan dengan sikap tegak seperti biasa. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan banyak pertimbangan.
Di sisi lain, Sekar Mirah duduk sambil sekali-kali memandang ke arah halaman depan. Sedangkan Sukra mengambil tempat agak jauh dari dua orang yang lebih tua darinya itu.
“Sudah barang tentu kedatanganmu ke Sangkal Putung tidak sekadar menengok Sekar Wangi,” kata Sekar Mirah pada Sukra.
Sukra tidak mengiyakan atau mengatakan lain tapi diam dengan wajah menghadap ke dua kakinya.
“Tapi aku juga tidak ingin mengatakan bahwa engkau datang untuk memberi kabar serba sedikit tentang Pancuran Watu Item,” lanjut Sekar Mirah. “Perang tanding itu menyebar di kademangan beberapa waktu sebelum kau duduk di tempat ini.”
Suasana sedikit hening.
Sekar Mirah menatap Sukra lekat-lekat. Dalam hatinya, dia tidak ingin menyalahkan anak muda itu atau menyudutkannya. Tidak, Sukra justru menjadi orang yang paling sulit dalam permasalahan ini. Meski Sekar Mirah tahu bahwa Sukra pasti lebih mendukung Agung Sedayu, tapi dia tidak akan memperlihatkan kegusaran pada Swandaru secara terbuka.
Setelah mengatur napas perlahan, Sekar Mirah bertanya, “Adakah memang pada waktu itu, engkau tidak mengetahui ucapan Nyi Pandan Wangi atau melihat sikap tubuh maupun wajah dari Ki Lurah atau Kakang Swandaru?”
Pengawal Menoreh yang juga kerap dipanggil sebagai Belalang Tempur itu masih diam terpekur. Jemarinya saling menggenggam begitu erat dan dadanya terasa pepat.
Pertanyaan Sekar Mirah bukanlah pertanyaan yang meminta jawaban sederhana. Di balik tutur kata perempuan itu, Sukra paham bahwa Pandan Wangi mengatakan tempat perang tanding itu bukan karena tekanan orang lain. Sukra sadar bahwa dia memang tidak tahu, lalu apa yang akan diucapkanya?
Dia juga tidak melihat Sedayu maupun Swandaru di lereng Kendil karena tugas dari Pandan Wangi untuk berjaga di jalur Ringinlarik.
Sukra sangat dekat dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Mereka berdua adalah bagian dari keluarga besar dan Sukra berada di tengah kehidupan mereka.
Sesaat, dia benar-benar ingin bangkit lalu berlari keluar dari pringgitan itu. Keluar menuju halaman belakang. Menuju sumur tua yang teduh oleh pohon sawo. Atau bahkan meninggalkan Sangkal Putung sama sekali sebelum percakapan itu menyeretnya pada sesuatu yang sangat rumit.
Namun Sukra tetap duduk di tempatnya. Keringat tipis tampak di pelipisnya meski udara belum terlalu panas.
Kyai Bagaswara yang sejak tadi diam hanya memandang anak muda itu dengan sorot mata dalam. Orang tua itu tidak tergesa-gesa memotong suasana.
Akhirnya Sukra menarik napas panjang.
“Saya…” suaranya tertahan sejenak. “… mendengar dari Ki Demang dan Sayoga.”
Sekar Mirah tidak menyela dan itulah kebenaran pertama yang diucapkan Sukra di depannya.
“Orang pertama yang mengucapkan tantangan… apakah benar itu adalah Kakang Swandaru?” Sekar Mirah sadar bahwa Sukra bukanlah orang atau anak muda yang dapat berkata banyak dan lancar. Maka dia memilih untuk bertanya dengan jawaban antara ya dan tidak.
Sukra menelan ludah. “Seperti itulah yang dikatakan Sayoga dan juga Ki Demang Brumbung.“
“Apakah tantangan itu dijawab sendiri oleh Ki Lurah?”
Sukra tampak ragu sesaat sebelum akhirnya berkata, “Ki Lurah baru berbicara setelah semuanya terucap.”
Dia menarik napas pendek. “Menurut Ki Demang Brumbung, Ki Lurah mengatakan bahwa jika itu dapat menenangkan hati Ki Swandaru… beliau akan datang ke Pancuran Watu Item.”
Setelah berkata demikian, Sukra pun diam. Berat dan begitu berat dia merasakan semuanya.
“Lalu?” tanya Sekar Mirah lirih.
Sukra memejamkan mata sekejap lalu berkata lirih, “Orang-orang diam, lalu Ki Swandaru beranjak pergi meninggalkan gelanggang.”
Tampak dua tangan Sukra bergetar saat mengusap wajah lalu memijat keningnya. “Tidak ada, eh maksud saya, saya tidak mengetahui lebih dari yang dikatakan Sayoga dan Ki Demang Brumbung.”
Di luar, suara burung trucukan terdengar bersahut-sahutan dari halaman depan.
“Apakah Ki Lurah membuat persiapan khusus untuk perang tanding itu?” Sekar Mirah bertanya.
Sukra menggeleng.
“Apa maksud dari gelenganmu itu? Apakah Ki Lurah tidak tampak berlatih atau mesu raga atau seperti tidak peduli?”
“Saya tidak dapat memastikan karena Ki Lurah tetap ke barak. Mengurusi prajurit dan mengatur keamanan seperti yang biasa beliau lakukan, termasuk memeriksa sendiri mayat Ki Wedoro Anom,” jawab Sukra.
Sekar Mirah mengeluarkan seruan tertahan. Dia bergumam, “Oh, dia itu akhirnya…”
Sukra mengangguk, kemudian berkata, “Benar, Nyi. Dia mati terbunuh di jalur sempalan dari pedukuhan induk dan Ringinlarik. Tidak ada saksi mata dan juga tidak ada bekas perkelahian.”
“Aneh,” ucap Sekar Mirah lirih.
Sukra mengangguk lagi.
Sekar Mirah memandang lurus ke arah Sukra. “Terakhir, katakan, menurutmu, sikap Ki Lurah dapat berarti apa bagimu? Beliau sudah bersiap seutuhnya atau sedang berharap ada kemungkinan perang tanding itu tiba-tiba tidak dapat dilakukan?”
Pertanyaan itu membuat Sukra tercekat. Tertanam makna lain dari pertanyaan Sekar Mirah itu.
Sukra menarik napas panjang tapi tidak ada ucapan lagi darinya. Dia berpikir bahwa Sekar Mirah sebenarnya sudah tidak ingin tahu kemungkinan akhir dari perang tanding itu. Siapa yang lebih kuat di antara Agung Sedayu dan Swandaru? Itu bukan lagi perkara penting dalam hidupnya dan juga Sekar Wangi.
Dalam tangkapan perasaan Sukra, Sekar Mirah terdengar seperti dirinya dan mungkin orang lain yang diam-diam menunggu keajaiban yang dapat membatalkan perang tanding di Pancuran Watu Item.
Pada waktu itu, Sukra juga tidak menyesalkan keputusan Pandan Wangi. Dia juga tidak mengkhawatirkan keselamatan Agung Sedayu yang dipandang aneh bagi sebagian orang karena sama sekali tidak memperlihatkan persiapan. Dia pun tidak peduli dengan Swandaru. Jika ada alasan untuk peduli itu hanya satu: Swandaru adalah adik seperguruan Agung Sedayu.
Kyai Bagaswara menggeser duduknya, sedikit. Dia memandang dua wajah di sekitarnya untuk sejenak waktu.
“Semuanya telah terucap dan terdengar di hadapan banyak orang. Yang akan terjadi kemudian juga sudah tersebar di banyak tempat,” kata Kyai Bagaswara perlahan dan berhati-hati. “Saya hanya merasa Ki Tumenggung seperti tidak lagi mencari jalan untuk menghindar karena tidak ada. Beliau juga tidak berkeinginan untuk membuktikan kemampuan karena itu bukan medan perang.”
Pringgitan menjadi hening.
“Namun,” Kyai Bagaswara meneruskan, “saya kira kita semua masih ingin melihat ada harapan tentang sesuatu yang dapat berubah sebelum hari itu tiba.”
