0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 43 – Perjumpaan Ki Astaman dan Ki Panji Danutirta

Dironda 44 kali

Perang tanding Pancuran Watu Item telah usai tapi suasana belum sepenuhnya mereda.

Matahari bergulir sejengkal demi sejengkal di lereng Merapi. Udara panas berangsur turun menjadi dingin. Gardu jaga di sekeliling barak pasukan memperlihatkan pergantian prajurit. Regu-regu peronda tampak masuk dan keluar saling memberi hormat. Kesiagaan mereka tidak tampak berkurang, bahkan ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Ki Tumenggung Agung Sedayu memutuskan untuk memperluas jangkauan ronda dan juga menempatkan kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang untuk berjaga pada jarak tertentu—mungkin dua kali lontaran panah ditembakkan dari busur. Senapati Mataram ini menganggap perlu memperluas wilayah pengamatan dengan beberapa pertimbangan: penahanan enam orang yang berasal dari dua perguruan tua, keributan di pasar dan pertempuran sengit di utara pedukuhan induk.

Dalam pemikirannya, pemimpin pasukan khusus itu sadar bahwa keadaan belum benar-benar aman.

Penahanan enam orang dari dua perguruan tua dapat menimbulkan akibat yang lebih luas daripada urusan kitab Kyai Gringsing atau dendam lama seperti laporan petugas sandi. Agung Sedayu melihat persoalan itu dapat mengguncang keamanan Tanah Perdikan.

Tindakan nekat Ki Kebo Surongudan dan kawan-kawannya beberapa waktu lalu pun akhirnya dapat dianggap sebagai contoh—meskipun dengan tujuan yang berlainan. Sebagian mungkin datang untuk menuntut pembebasan, sebagian lain untuk menunjukkan kekuatan perguruan, dan tidak tertutup kemungkinan ada yang ingin memancing benturan agar Tanah Perdikan kehilangan kendali.

Tak hanya barak pasukan khusus, kediaman Ki Gede Menoreh pun mendapatkan perhatian yang sama. Ki Prastawa, atas usulan Ki Sanggabaya, juga meluaskan jangkauan penjagaan. Meski di sekitar kediaman sudah banyak bertebaran gardu jaga, Ki Prastawa menambahkan lagi beberapa lingkungan sebagai tempat pertemuan singkat para peronda. Dengan demikian, setiap regu peronda dapat saling memberi keterangan dan juga dapat mengamankan lebih cepat bila terjadi kericuhan.

Ketegangan yang memang belum sepenuhnya cair itu menjangkau hingga sekitar lereng Gunung Kunir dan Dusun Separang.

Setiba di permukiman sementara mereka, Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik terlibat percakapan yang mendalam. Mereka menimbang kesempatan dan akibat yang paling mungkin jika sampai harus menempuh tindakan. Hingga kemudian Ki Kamejing mengusulkan untuk mengutus Ki Saradan menemui Ki Wira Sentanu di Kotaraja.

Dalam waktu yang hampir sama, seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun atau enam puluhan tampak mengamati sebuah perkemahan di sisi luar Dusun Separang.

Dia pernah melihat Swandaru berlatih di sekitar Gunung Kendil maka perkiraan kasar pun dapat dibuat olehnya. Tapi, kemampuan Agung Sedayu, apakah memang seperti yang ditunjukkan dalam perang tanding itu ataukah ada yang dirahasiakan? Sebelah tangannya bergerak ke arah dada: kitab Kyai Gringsing masih berada pada dirinya.

Ki Astaman menggeleng sendiri dengan tatap mata tertuju lekat pada arah perkemahan: pada dua orang yang duduk berhadapan di tengah perkemahan.

Dari tempatnya melihat, dia menduga itu bukan percakapan biasa. Menurutnya, bukan suatu kewajaran karena penampilan salah seorang sudah memperlihatkan itu. Yang seorang mengenakan pakaian yang kebanyakan disandang oleh seseorang yang dianggap tetua perguruan. Corak pada kain penutup atau ikat kepala serta sikap orang-orang saat bicara singkat dengannya. Seorang lagi memang berpakaian sederhana tapi tidak dapat menyembunyikan dirinya.

Barangkali dia adalah orang dari Kotaraja, demikian dugaan Ki Astaman. Bebahu Tanah Perdikan Menoreh dan kepala dusun atau pedukuhan jarang terlihat mengenakan kain seperti itu. Selain itu, hubungan mereka berdua pun tidak terlihat seperti guru dan murid. Mereka setara atau setidaknya mempunyai akar yang erat. Ada sesuatu yang lain.

Ki Astaman bergeser beberapa langkah tanpa memperlihatkan kekhawatiran keberadaannya dapat diketahui. Justru dia berharap terpergok agar ada alasan untuk masuk ke dalam lingkungan itu.

Orang ini lantas berhenti di bawah pohon randu alas tapi jarak masih terlalu jauh untuk mendengarkan pembicaraan. Sejenak dia berpikir keras untuk dapat mengetahui latar belakang orang-orang—yang diperkirakannya berasal dari perguruan yang berusia tua.

Ki Astaman menarik napas perlahan, perlahan bersandar lalu duduk tenang bertumpu pada akar yang menonjol.

Pikirnya cukup bodoh bila tiba-tiba memperlihatkan kitab Kyai Gringsing di depan mereka. Apakah mereka semudah itu percaya padanya? Nama Raden Atmandaru pun sepertinya akan terdengar asing selain sudah dikenal sebagai penggerak pemberontakan yang telah mati. Tapi semua itu akan berarti bila mereka terlebih dulu memergokinya lalu membawa dirinya ke hadapan dua orang tersebut.

Orang-orang mulai bergerak setelah perang tanding itu dengan berbagai alasan. Dan mungkin terpicu pula oleh kemampuan Agung Sedayu yang dianggap biasa saja—pikiran yang sama dengannya. Meski mempunyai pendapat semacam itu, dia tetap tidak mendekat.

Untuk sementara, pikirannya bekerja mencari alasan dan hubungan setiap perguruan itu dengan perang tanding Pancuran Watu Item. Lalu, seandainya orang berpenampilan rapi itu datang dari Kotaraja, apakah dia seorang utusan atau menyimpan kepentingan khusus? Jika dia utusan resmi dari Keraton atau Kepatihan, mengapa tidak menemui Ki Gede atau Agung Sedayu? Kening Ki Astaman berkerut ketika mencoba menarik seluruh kemungkinan menjadi satu simpul pendapat.

Dia bangkit lalu bergeser tempat, kali ini lebih dekat dengan perkemahan. Ki Astaman melangkah tenang menuju sejumlah orang yang duduk melingkar di samping pohon ketapang yang sangat besar, tapi dia tidak benar-benar ke sana. Sekitar dua puluh langkah dari randu alas, dia berhenti lagi. Keberadaannya cukup jelas dilihat. Dia pikir tak lagi perlu untuk mendekat diam-diam, tapi nyatakan saja kehadirannya dengan segala akibat yang mungkin saja terburuk baginya.

“Ada orang,” bisik salah seorang pada kawan-kawannya yang duduk melingkar di antara mereka.

Sejumlah orang mengangguk tapi tetap diam.

Ketika Ki Astaman berhenti lagi, seseorang lalu bangkit berdiri—mengajak kawannya untuk menghampiri orang yang menganjurkan Swandaru agar mendirikan perguruan Orang Bercambuk tandingan.

“Ada keperluan apakah Ki Sanak berada di sini?” tanya orang perkemahan.

Ki Astaman memandang dua orang itu bergantian, lalu sudut matanya juga menangkap sejumlah orang berjalan mendekat.

Dengan suara rendah dan tenang, Ki Astaman menjawab, “Tentu aku tidak akan menjawab sedang tersesat karena pemimpin kalian terlalu besar untuk sekadar dihormati saja.”

“Ucapan manis dan lidahmu tentu tidak bertulang,” sahut seseorang sedikit menyindir.

“Aku bisa mengerti dan mendekati perkemahan ini sudah tentu dapat menjadikan diriku ini tergelicnir,” ucap Ki Astaman seolah menyesali keputusannya. “Tapi aku kira ketua Ki Sanak sekalian akan menganggap keteranganku ini cukup penting.”

Beberapa orang saling memandang. Lelaki yang menyindir itu lantas tertawa pendek.

“Penting?” katanya. “Banyak orang yang merasa membawa kabar penting jika menghendaki sesuatu dari orang lain atau dia mempunyai keperluan yang harus dipenuhi.”

Yang lain menimpali, “Atau merasa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.”

Ki Astaman mengangguk lalu berkata tanpa mengubah nada, “Bisa jadi aku termasuk golongan yang kedua.”

Jawaban itu membuat beberapa orang mengerutkan kening.

Seorang yang lebih muda melangkah setapak maju. “Kalau begitu, katakan saja. Tidak perlu berputar.”

Ki Astaman memandang wajah-wajah di depannya satu demi satu. Tidak tergesa saat berkata, “Aku datang ke Tanah Perdikan ini karena ramai orang bicara tentang perang tanding di Pancuran Watu Item. Tapi itu bukan berarti aku menguasai kanuragan, tidak. Aku datang karena ingin menyaksikan perkelahian Agung Sedayu dengan Swandaru, tapi rupanya itu bukan tontonan umum.”

Orang-orang itu saling pandang lagi.

“Tapi aku yakin ketua kalian dapat melihat semuanya, dari awal sampai akhir. Ya, tentu kemampuan beliau sudah berada di tingkat yang sulit dibayangkan,” kata Ki Astaman memuji sesepuh dari orang-orang itu padahal dia juga tidak pernah mengenal atau melihat kemampuannya. “Seandainya saja aku dapat mengenal beliau.”

“Kami tidak tahu dengan siapa kami bicara,” tukas salah satu dari kelompok itu.

“Aku bukan siapa-siapa, Ki Sanak sekalian yang terhormat,” ucap Ki Astaman, “hanya pengembara yang kebetulan mendengar lalu singgah di Tanah Perdikan ini.”

Dia lantas menoleh pada arah dua orang yang dilihatnya tadi kemudian mengatakan sesuatu seolah pada dirinya sendiri, “Benar, aku hanya dapat menunggu dan berharap beliau semua datang ke tempat ini lalu membicarakan sesuatu dengan Ki Sanak sekalian. Seandainya ada izin atau sesuatu yang harus dilakukan agar dapat menyampaikan keterangan penting ini pada beliau, tentu aku terima dengan senang hati.”

Yang berusia agak tua, kira-kira sepantaran dengan Agung Sedayu, berkata, “Kau katakan penting dan penting. Berulang, seperti apakah keadaan itu? Kami akan sampaikan pada Ki Jabon Seta.”

Ki Astaman tertegun sejenak seolah mengingat sesuatu lalu menggeleng sendiri. “Oh, Ki Jabon Seta, itu nama yang sangat baik,” katanya kemudian. “Nama yang sudah menggambarkan ketinggian ilmu dan kedudukan beliau.”

Pandang matanya kembali menatap arah Ki Jabon Seta yang masih terlihat berbicara dengan tamunya itu.

“Orang yang menjadi kawan bicara Ki Jabon Seta, aku yakin sudah pasti bukan sembarang orang. Jika bukan karena ketinggian ilmu, maka dia berkedudukan tinggi di Mataram,” ucap lirih Ki Astaman seolah tidak ada orang di sekitarnya. “Menoreh tidak ada orang yang berpakaian sebaik itu.”

“Apakah kau ini tidak dapat langsung bicara? Apakah memang selalu berputar dan berkelit? Janganlah kau coba uji kesabaran kami.”

Beberapa orang memang memandang Ki Astaman dengan tatapan mata tidak senang. Seorang berkata tajam, “Kalau mau menemui pemimpin kami, setiap orang juga bisa berkata membawa urusan penting. Kau sudah lakukan itu, tapi sepenting apakah keteranganmu hingga pantas bertemu tetua kami?”

  • Judul bab “Bara di Bukit Menoreh episode 51” tapi bara asmara? Bolehlah kita berharap dan boleh juga tidak, tetapi Senandung asmarakah yang kemudian muncul saat Agung Sedayu menggerakkan tangan lalu tanpa sengaja menyentuh lengan Kinasih yang tidak terbungkus kain. Ada perubahan singkat pada air muka senapati Mataram tersebut.
  • “Terjadi apakah di Kahuripan, Gajah Mada?” bertanya Mpu Nambi ketika mereka bertemu di gardu jaga “Siasat Gajah Mada 2”.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.