Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 7 – Malam Panjang Ki Wira Sentanu: Menunggu Keputusan yang Bisa Mengguncang Rencananya!

Rupanya orang-orang yang pergi ke arah Kali Progo tidak terlalu banyak. Dua penunggang melaju pelahan dari arah barat,  Baru terlihat lagi ada kuda dari jarak yang cukup jauh.

Dua orang ini, Ki Wira Sentanu dan Ki Saradan, lebih banyak diam jika dibandingkan saat berangkat. Banyak persoalan ringan yang terlontar dari mulut mereka seolah masing-masing sedang bergelut dengan berbagai pikiran yang berseliweran.

Kuda yang tampak dari jauh itu semakin dekat.

Agak lama kemudian terlihat tiga ekor kuda berjalan beriringan, masing-masing dituntun oleh seorang penunggang tanpa menaiki punggung kudanya.

Wajah itu sepertinya cukup lekat dan bertahan lama dalam ingatannya tapi Ki Wira Sentanu masih belum dapat benar-benar yakin. Memandang agak lama pun hanya akan membuka kecurigaan dari orang itu padanya.

Tiga orang yang menuntun kuda itu pun tidak mengubah sikap. Mereka tetap lurus menatap ujung jalan sambil sekali-kali menyapu permukaan tanah yang dilewati.

“Agung Sedayu. Benar, dia adalah Agung Sedayu,” kata Ki Wira Sentanu dalam hati dengan keyakinan yang bulat.

Senapati Mataram itu tidak dalam penyamaran, tidak menyembunyikan wajahnya sama sekali. Meski kadang riap rambut menutup sebagian wajahnya, Agung Sedayu tidak benar-benar bermaksud bersembunyi dari penglihatan orang lain.

Ki Wira Sentanu berdiri diam beberapa saat seolah sedang menimbang pilihan berat yang muncul dalam otaknya.

Mengapa Agung Sedayu menuju Kotaraja sekarang?

Perang tanding di Pancuran Watu Item sudah semakin dekat —kurang dari dua pekan atau mungkin sepuluh hari lagi.

Menurut Ki Wira Sentanu, seharusnya senapati itu berada di Menoreh untuk berlatih atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan laga yang sudah diketahui banyak orang.

Tetapi Agung Sedayu justru pergi? Apa alasannya?

Mungkinkah dia sudah menemukan mayat Ki Wedoro Anom lalu bergegas pergi menemui Pangeran Purbaya untuk melaporkan pembunuhan itu?

Apakah Agung Sedayu mengetahui ada sesuatu yang hilang?

Ki Wira Sentanu memandang punggung iring-iringan berkuda yang semakin jauh meski bergerak perlahan.

“Tidak. Belum tentu. Dia sudah berpangkat tumenggung dan barak pun tidak sebatas untuk menjaga keamanan Tanah Perdikan. Barak mempunyai tanggung jawab lain, mendidik prajurit biasa agar berkemampuan khusus,” ucap Ki Wira Sentanu dalam hati. “Tapi, bukankah justru pekerjaan baru itu malah lebih sering memaksanya menemui dan bicara langsung dengan Sunan Agung maupun Pangeran Purbaya? Sial!”

Agung Sedayu benar-benar dirasakan sudah menjelma sebagai gangguan besar bagi Ki Wira Sentanu.

“Ki Wira?” Ki Saradan bertanya hati-hati.

Ki Wira Sentanu tersadar dari arus pikirannya. Dia segera menarik tali kekang kudanya lalu memutar arah.

“Ki Sanak boleh kembali ke Gunung Kunir,” perintah Ki Wira Sentanu lalu membedal lambung kuda tanpa menunggu tanggapan Ki Saradan.

Ki Saradan menghela napas pendek. Perubahan sikap Ki Wira Sentanu yang cukup mendadak tanpa pernah dapat diduga meski sebelumnya tampak sangat yakin kembali ke pedukuhan induk.,

Sementara itu, kuda Ki Wira Sentanu menyusuri jalan menuju arah iring-iringan di depan. Dia juga berbuat yan sama dengan tiga orang yang dibayanginya itu: berjalan kaki sambil menuntun kuda.

Meski jarak masih cukup jauh, Ki Wira Sentanu merasa tidak mungkin dirinya keliru. Wajah dan bentuk tubuh lelaki itu sudah pasti: Agung Sedayu.

Kini pikirannya berputar semakin keras. Apakah dia harus mendahului Agung Sedayu lebih cepat menemui Pangeran Purbaya? Jika dirinya ke Pangeran Purbaya, Agung Sedayu bisa meminta pertemuan pula dengan Sunan Agung. Atau sebaliknya, jika dia ke Sunan Agung, itu artinya Agung Sedayu juga dapat melenggang menemui Pangeran Purbaya.

Terlebih, Pangeran Selarong adalah orang yang harus mulai dimasukkan dalam perhitungannya. Yah, benar, pangeran Mataram berusia muda itu seakan berjarak dengan Agung Sedayu tapi rupanya justru dia adalah sekat paling sulit dikelabui oleh Ki Panji Suralaga.

Sunan Agung atau Pangeran Purbaya adalah pilihan yang sama-sama sulit baginya.

Kepatihan? Ki Wira Sentanu mengerti jika dirinya masuk wilayah itu maka sama dengan menyerahkan batang leher tanpa perlawanan.

Tiga orang itu terus berjalan menuju tempat penyeberangan di Kali Progo.

Tidak banyak orang yang berada di tepian sungai saat itu. Sebuah rakit besar langsung membelah aliran Kali Progo menuju Kotaraja ketika Agung Sedayu, Sukra, dan Ki Demang Brumbung naik ke atasnya.

Dari tiga orang yang bepergian itu hanya Sukra yang tidak benar-benar mempunyai kepentingan di Kotaraja. Sukra hanya ingin menjenguk Sekar Wangi sekaligus menemui Kyai Bagaswara di Sangkal Putung.

Hal mendasar lain adalah Agung Sedayu sebenarnya merasa persoalan pembunuhan itu masih dapat diserahkan kepada Ki Demang Brumbung atau Ki Sanggabaya. Namun setiap kali dia mencoba melaksanakan rencananya itu, maka selalu ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Seolah-olah panggraitanya sudah dapat membaca bagian lain yang belum dilihatnya dari peristiwa itu. Atas pertimbangan tersebut, Ki Demang Brumbung pun diajaknya turut serta dengan tambahan tugas yang akan disebutkannya dalam perjalanan.

Sementara itu, sedikit jauh di belakang mereka bertiga, Ki Wira Sentanu sedang menahan langkah. Dari tempatnya, dia melihat ketiga orang itu menaiki rakit bersama kuda-kuda mereka, lalu perlahan menyeberang ke sebelah timur.

Beberapa saat kemudian, rakit yang lain tampak bergerak menjemput penumpang berikutnya. Ki Wira Sentanu segera mendekat. Tanpa banyak bicara, dia menuntun kudanya naik ke atas rakit.

Setelah mencapai tepi sebelah timur, dia segera meloncat ke punggung kuda lalu membedal menyusuri jalan yang sama dengan arah ketiga orang sebelumnya.

Rahayu

Bagi para pendekar yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan”, investasi Rp75.000.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis. Selain itu, Panjenengan berhak mengakses penuh pustaka digital Padepokan Witasem melalui link atau akun google. .

Tata gerak perolehan: Transfer

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [Nomor WA Anda].

Matur nuwun

Suasana di Kali Opak, yang membujur di wilayah antara Kali Progo dengan Kotaraja, masih temaram dan masih dapat diseberangi. Dengan begitu, Agung Sedayu dan kelompok kecilnya tetap berderap menuju tanah seberang.

“Ki Lurah,” kata Sukra sesaat sebelum mereka melewati gerbang kota. “Saya langsung menuju Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengangguk. “Berhati-hatilah.”

Sukra memberi hormat pendek pada Ki Demang Brumbung lalu mencongklang kuda ke arah kademangan demi pertemuannya dengan Sekar Wangi.

Kepergian Sukra mendapatkan pengawalan dari tatap mata Ki Demang Brumbung. Rangga ini kemudian berkata pada Agung Sedayu, “Saya masih belum dapat melupakan sepak terjang anak itu di embung.”

Agung Sedayu tersenyum, ucapnya, “Begitulah dia sejak kami saling mengenal.”

“Ki Lurah,” kata Ki Demang Brumbung seolah ditujukan pada dirinya sendiri, lalu tersenyum tipis.

Sambil menggelengkan kepala, dia berkata, “Bagaimana dia dapat bertahan dengan sebutan itu sedang orang yang dimaksudkannya sudah menjadi tumenggung.”

Agung Sedayu tertawa pendek, lalu mengatakan, “bila Ki Demang mengetahui cara untuk mengubah Sukra, mohon saya diberitahu juga.”

Sejenak kemudian tawa renyah bernada rendah pun terdengar di antara mereka.

“Baiklah, Ki Lurah,” sambung Ki Demang Brumbung, ”saya mohon diri. Rasanya sudah tak dapat lagi ditahan rasa untuk menengok lagi tempat bekerja pada awal-awal menjadi prajurit Mataram.”

“Silakan, Ki Demang yang sedang menyamar menjadi rangga,” gurau Agung Sedayu.

Lagi, tawa renyah memenuhi udara sekitar mereka. Tak lama kemudian, mereka berpisah. Ki Demang Brumbung berbelok ke barak pengawal raja yang sekarang dipimpin Pangeran Selarong, Sedangkan Agung Sedayu mengarahkan kuda menuju kediaman Pangeran Purbaya.

Perpisahan itu berlangsung wajar tapi ternyata memberi arti lain bagi Ki Wira Sentanu.

Dia berusaha menangkap maksud dari langkah-langkah Agung Sedayu. Jika persoalan pembunuhan itu memang dianggap penting, mengapa mereka tidak tetap bersama? Tetapi bila persoalan itu tidak terlalu mendesak, mengapa Agung Sedayu langsung menemui Pangeran Purbaya pada malam hari?

Semakin dipikirkannya, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di balik langkah-langkah yang tampaknya sederhana itu. Dan hal itulah yang justru membuat Ki Wira Sentanu menjadi gelisah.

Sejak dia menguji Agung Sedayu dengan lontaran tenaga cadangan yang sangat tipis, Ki Wira Sentanu cukup berhati-hati bila berurusan dengan senapati Mataram tersebut. Bahkan ketika usahanya tidak membuahkan hasil saat Agung Sedayu berada di Kepatihan, dia sadar kemampuan senapati itu tidak dapat diremehkan.

Untuk sesaat, dia mengenang ucapan seseorang.

“Agung Sedayu adalah orang yang berbahaya dan mematikan bahkan ketika dia tidak melakukan apa-apa,” ucap Ki Panji Secamerti padanya di masa lalu—sebelum Ki Panji Secamerti melancarkan percobaan pembunuhan terhadap Ki Patih Mandaraka.

Ketika sampai di regol kediaman Pangeran Purbaya, Agung Sedayu segera turun dari kuda tanpa tergesa.

Seorang pengawal yang berjaga di sisi regol memandang tajam sesaat sebelum mengenali wajah yang datang. Pengawal itu cepat membungkuk hormat.

“Ki Tumenggung.”

Agung Sedayu membalas penghormatan, lalu berkata, “Saya mohon izin melaporkan kedatangan pada Pangeran Purbaya. Bila beliau belum berkenan menerima, saya dapat menunggu sampai esok.”

Pengawal itu tampak ragu sekejap. Barangkali karena waktu sudah terlalu malam atau karena kedatangan Agung Sedayu yang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun keraguan itu tidak berlangsung lama.

“Mohon Ki Tumenggung berkenan menunggu.”

Agung Sedayu menyerahkan tali kekang kudanya pada pengawal lain lalu berdiri tenang di dekat regol. Pandangan matanya menyapu jalanan depan yang diterangi obor jumlah terbatas. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang karena malam memang sudah agak dalam. Keadaan terasa sunyi.

Sedikit kejanggalan menyeruak di dalam hatinya. Itu dirasakan sejak siang ketika masih berada di wilayah Tanah Perdikan. Maka kesunyian itu justru memunculkan banyak pertanyaan pula dalam pikirannya.

Panggraitanya justru menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan. Agung Sedayu sadar bahwa ada perhatian kuat yang sedang mengarah padanya tapi tidak terlihat seorang pun yang membayanginya.

Meski perasaan dapat juga salah, tapi apakah Ki Wira Sentanu sedang berada di sekitarnya?

Pertanyaan yang wajar. Oleh sebab pergerakan Ki Wira Sentanu ke Tanah Perdikan sudah diketahuinya dari Pangeran Purbaya bahkan sebelum orang itu meninggalkan gerbang kota.

Sementara itu, cukup jauh dari regol, Ki Wira Sentanu merapatkan tubuh pada pohon sawo kecik. Keberadaannya semakin terlindungi oleh lapisan kabut yang menggantung enggan.

Matanya tajam memandang ke arah regol kediaman Pangeran Purbaya.

“Langsung diterima atau dibiarkan menunggu?” gumamnya lirih.

Baginya, jawaban dari pertanyaan itu dapat berarti sangat banyak. Bahkan mungkin lebih penting daripada isi pembicaraan yang akan berlangsung di dalam nanti.

Seandainya Pangeran Purbaya memutuskan sesuatu yang dianggapnya perlu, maka malam itu dirinya tidak akan dapat mengadakan pembicaraan dengan Ki Panji Suralaga atau Ki Adiyaksa.

Ki Wira Sentanu benar-benar berpikir keras, menimbang semua kemungkinan dan menghimpun segala yang diketahuinya mengenai hubungan antara Pangeran Purbaya dengan Agung Sedayu. Itu adalah malam yang sangat tidak mudah dilewatinya!

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 6 – Agung Sedayu Kembali Diburu Bayangan Lama Menjelang Perang Tanding

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 3 – Jejak Kyai Gringsing Membawa Mereka ke Menoreh

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 5 – Anak Dusun Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.