Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 8 – Lencana yang Hilang Mengubah Kecurigaan Pangeran Purbaya

Di bagian depan kediaman Pangeran Purbaya.

Pengawal yang menerima laporan kedatangan Agung Sedayu bergerak cepat melewati pendapa lalu halaman dalam yang basah dengan embun. Beberapa pelayan yang masih terjaga mengangguk sapa sambil memberi jalan tanpa bertanya.

Saat itu Pangeran Purbaya masih berada di ruang belakang dengan sebuah lampu minyak yang menyala tenang di sampingnya.

“Ki Tumenggung Agung Sedayu mohon izin menghadap, Pangeran,” kata pengawal itu sambil menundukkan kepala.

Alis Pangeran Purbaya mengerut. “Agung Sedayu?”

Pengawal itu mengangguk.

Sesaat ruangan menjadi sunyi.

Pangeran Purbaya perlahan menggeser tubuh lebih dekat ke meja kecil di depannya. Pikirannya segera bergerak menelusuri kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari kedatangan itu.

Agung Sedayu baru saja kembali menjalankan tugasnya di Tanah Perdikan. Belum genap sepekan. Lalu, mengapa sekarang berada di Kotaraja? Datang ke rumahnya pada malam hari, mengapa dia tidak menunggu sampai besok sehingga bisa bertemu pula dengan Sunan Agung?

Pangeran Purbaya segera menghubungkan kedatangan mendadak itu dengan laporan-laporan terakhir yang diterimanya. Benturan antara perondaan ketiga dari pasukan khusus Menoreh dengan kelompok dari lereng Kendil memang belum benar-benar lepas dari pikirannya.

“Apakah keadaan di Menoreh berubah lebih cepat daripada yang diperkirakan? Atau ada kekeliruan darinya membaca maksud Sinuhun?” desisnya dalam hati.

Namun dugaan lain juga muncul dalam benaknya. Bila berkaitan dengan perang tanding melawan adik seperguruannya, Swandaru, Agung Sedayu jelas mustahil membicarakan itu dengannya. Apalagi sampai menemuinya pada malam hari, itu sangat tidak mungkin.

Pangeran Purbaya bangkit perlahan lalu berkata pendek, “Persilakan Ki Tumenggung masuk.”

Pengawal itu memberi hormat lalu cepat meninggalkan ruangan.

Sepeninggal pengawal, Pangeran Purbaya berjalan menuju beranda samping. Pandangannya menerobos halaman yang diterangi cahaya obor dalam jumlah terbatas.

Pikirannya berjalan sejenak ke beberapa hari yang lalu ketika Ki Panji Suralaga dan tiga orang lain datang menghadap padanya. Tujuan mereka jelas tidak main-main: membawa usulan tentang penggantian Agung Sedayu dari kedudukannya sebagai pemimpin puncak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh.

“Tapi Agung Sedayu tampaknya tidak peduli dengan kedudukan maupun jabatan,” bisik Pangeran Purbaa dalam hati. “Dia tidak pernah membicarakan kepentingannya secara langsung atau melalui orang lain. Pangeran Selarong membawa namanya sebagai tumenggung pun sudah jelas bukan permintaan Sedayu. Jadi…?”

Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar ringan mendekat dari arah pendapa depan.

Agung Sedayu memasuki halaman dalam dengan sikap hormat tapi tetap tenang seperti biasanya. Tidak tampak kegelisahan sebagaimana mestinya orang yang datang bertamu pada malam yang cukup larut.

Pangeran Purbaya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata datar,

“Ki Tumenggung datang lebih cepat daripada yang saya perkirakan.”

Agung Sedayu membungkuk hormat.

“Saya mohon ampun bila kedatangan saya mengganggu waktu beristirahat Pangeran.”

“Duduklah,” ujar Pangeran Purbaya sambil menunjuk tikar di beranda.

Malam terasa semakin sunyi ketika mereka sudah duduk berhadapan.

Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Tetapi keduanya sama-sama mengetahui bahwa pembicaraan malam itu tidak akan membawa persoalan ringan.

“Memang sebaiknya tidak perlu ada basa-basi,” kata Pangeran Purbaya memecah keheningan.

Agung Sedayu mengangguk lalu mengatur napas.

“Bicaralah,” perintah Pangeran Purbaya. “Tidak perlu ada yang dapat atau harus disembunyikan.”

Untuk membuka kata dengan menyebut Ki Wedoro Anom sebagai orang Pangeran Purbaya, Agung Sedayu sadar itu bukan awal yang bijak.

“Seseorang akhirnya terbunuh di Tanah Perdikan,” kata Agung Sedayu.

Pangeran Purbaya menautkan alis, kemudian mengangguk. Pikiarnnya mengarah pada beberapa perihal lantas menjadi satu rangkaian. Tangan Pangeran Purbaya bergerak halus seperti tanda agar Agung Sedayu meneruskan keterangan.

“Ki Wedoro Anom,” ucap lirih Agung Sedayu lalu menghembuskan napas panjang secara perlahan.

Pangeran Purbaya menunduk agak lama. Berharap segala akibat yang baik bagi orang yang baru saja disebut namanya oleh Agung Sedayu. Putra Panembahan Senapati kemudian bertanya, “Apakah sudah ada pemeriksaan?”

“Saya, Pangeran,” jawab Agung Sedayu kemudian menjelaskan bahwa lencana keprajuritan bagian sandi milik Ki Wedoro Anom tidak ditemukan di sekitar tempat perkara.

Pada waktu itu, Agung Sedayu seolah sedang membuka tabir yang masih basah oleh embun pagi. Kata-katanya tenang, tetapi setiap keterangan seperti menuntun Pangeran Purbaya berjalan menyusuri tempat kejadian itu dengan mata sendiri.

“Ki Wedoro Anom agaknya sempat mencabut senjatanya,” lanjut Agung Sedayu. “Keris itu masih digenggamnya ketika kami menemukannya.”

“Ada kemungkinan peristiwa itu berlangsung sangat cepat, atau dia mengenal orang yang mendekatinya,” timpal Pangeran Purbaya.

“Atau mereka sudah saling mengenal,” sahut Agung Sedayu.

“Atau mereka sama-sama tidak mengenal,” kata Pangeran Purbaya dengan nada menutup dugaan.

“Tidak ada luka luar yang menimbulkan darah. Tidak ada pergumulan atau perkelahian,’ Agung Sedayu menambahkan. “Satu pukulan tepat di dada.”

“Lainnya?”

“Dua jejak mengarah pada rimbun semak. Kami menemukan Ki Wedoro Anom di antara semak-semak,” terang Agung Sedayu.

Dalam benak Pangeran Purbaya, seluruh keterangan yang diucapkan Agung Sedayu seakan seluruh peristiwa itu bergeser di depannya lalu terlihat menjadi nyata.

Agung Sedayu kemudian berkata lagi, lebih pelan daripada sebelumnya, “Bila lencana sandi itu sengaja diambil, maka pembunuhnya bukan sekadar membunuh, tapi ingin menghapus jejak hubungan Ki Wedoro Anom dengan tugasnya.”

Pangeran Purbaya mengangkat wajahnya sedikit. Ada semburat terkejut tapi hanya sekejap. Dalam hatinya, Pangeran Purbaya mengakui bahwa dugaan Agung Sedayu hampir dapat dianggap benar. Terlalu banyak pertanda yang saling bertaut. Jejak yang mengarah pada semak, tubuh yang disembunyikan, lalu hilangnya lencana sandi. Itu bukan pekerjaan orang yang membunuh karena gugup atau dendam.tetapi ada pertimbangan, ada maksud yang disusun dengan sangat rapi—ini adalah kemungkinan terbesar.

Rahayu

Bagi para pendekar yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan”, pendaftaran pesan (Pre-Order) telah dibuka dengan investasi Rp75.000.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Tata gerak perolehan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di SINI

Matur nuwun

Sejenak ruangan itu terasa semakin sunyi.

“Orang itu mengetahui arti lencana sandi,” desis Pangeran Purbaya perlahan. “Tidak banyak yang tahu. Apalagi seorang pemburu dan butuh belasan orang biasa untuk dapat membunuhnya. Bila kita bicara perguruan, setidaknya ada bekas perkelahian.”

Tatapan matanya kemudian menembus Agung Sedayu.

“Dan itu berarti lingkaran orang yang patut dicurigai menjadi lebih sempit.”

Agung Sedayu masih menunduk dengan pendengaran penuh terpusat pada Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbaya bangkit perlahan lalu berjalan beberapa langkah. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat menyusun kemungkinan demi kemungkinan.

“Ki Tumenggung,” ucap Pangeran Purbaya, “Di Menoreh, berapa banyak orang yang mampu melakukan perbuatan itu pada Ki Wedoro Anom?”

“Selain Glagah Putih dan Ki Jayaraga, bila kita sebut orang-orang di sekitar Ki Gede Menoreh, maka hanya ada satu nama yang tersisa,” jawab Agung Sedayu. “Pandan Wangi.”

“Bagaimana dengan alasan seandainya Nyi Pandan Wangi adalah pembunuhnya?”

Tentu saja itu adalah pertanyaan yang tidak mengejutkan. Pangeran Purbaya sedang membuka segala kemungkinan yang terlintas dalam pikirannya. Demikian pula Agung Sedayu yang mampu mengimbangi kematangan Pangeran Purbaya dan caranya menempatkan diri untuk mendudukkan perkara.

Maka Agung Sedayu menjawab dengan tenang, “Nyi Pandan Wangi tidak dalam kedudukan yang berseberangan dengan Ki Wedoro Anom. Kehadiran Ki Wedoro Anom di Tanah Perdikan tidak mengganggu segala sesuatu yang sudah berjalan seimbang.”

Pangeran Purbaya mengangguk, katanya lagi, “Bagaimana dengan Dusun Benda?”

“Tidak ada yang terjadi di sana, Pangeran.”

“Termasuk dengan segala yang pernah diucapkan dan diperbuat Ki Wedoro?”

“Semua yang berasal dari Ki Wedoro Anom tidak berakibat buruk atau muncul suatu gangguan,” tegas Agung Sedayu tapi suaranya tetap merendah.

“Swandaru? Bagaimana dengan kemungkinan yang lain, Swandaru misalnya?” lanjut Pangeran Purbaya.

Jantung Agung Sedayu sedikit berdetak lebih kencang ketika adik seperguruannya disebut oleh Pangeran Purbaya.

“Kemampuan Swandaru  dan Pandan Wangi mungkin nyaris seimbang, tapi membunuh Ki Wedoro Anom dengan satu kali pukulan…,” ucap Agung Sedayu lalu mendesahkan napas. “.. itu belum dapat dilakukannya.”

“Jadi tersisa satu orang,” kata Pangeran Purbaya tapi sengaja menggantungkan kalimat.

Agung Sedayu paham arah bidikan. Dia tidak terburu menjawab. Dia sedang menata kata yang dapat menjelaskan tanpa membuat Pangeran Purbaya terdesak.

“Semua orang yang mampu membunuh dalam satu gebrakan sedang berkumpul di rumah Ki Gede Menoreh,” katanya kemudian dengan suara tenang. “Termasuk orang yang mungkin kita anggap sebagai yang terkuat.”

Pangeran Purbaya memandang Agung Sedayu tanpa berkedip. Pikirnya, Sedayu memang sangat cerdas dengan menghadirkan banyak orang lalu mengganti sebutan untuk dirinya sebagai pihak ketiga, yang terkuat. Dan juga tidak mungkin bagi dirinya untuk mencurigai keterlibatan Ki Gede Menoreh dalam pembunuhan itu. Hampir saja Pangeran Purbaya mengembangkan senyum dengan pikiran itu.

“Karena satu kemungkinan tertutup,” lanjut Agung Sedayu, “ada kemungkinan lain yang terbuka.”

“Bagaimana itu?”

Agung Sedayu lantas menguraikan serba sedikit mengenai pengepungan, jalur-jalur yang ditutup dan perondaan lanjutan yang berjarak rapat.

“Dari semua yang dilakukan para pemimpin di barak, maka yang tersisa hanya satu keadaan, Pangeran,” ucap Agung Sedayu. “Menurut beberapa prajurit dan bebahu Dusun Benda, Ki Wedoro Anom hanya mengenal dua jalur saja dari beberapa jalur yang menghubungkan pedukuhan induk dengan Gunung Kendil. Dua jalur itu adalah jalan kecil yang biasa dilewati pedagang atau seseorang jika ingin langsung ke Dusun Ringinlarik. Salah satu dari jalur itu menyambung pula dengan jalan utama dari pedukuhan induk ke Kali Progo.”

Pangeran Purbaya menggeser duduknya sedikit. “Maka, itu artinya?”

“Bila ada seseorang datang dari Kotaraja menuju Gunung Kendil dan tidak ingin masuk lebih dulu ke pedukuhan induk,” berkata Agung Sedayu perlahan, “maka sangat mungkin mereka berada pada jalur perjalanan yang sama. Hanya ada satu jalur yang mengarah ke Gunung Kendil dari jalan utama.”

Pangeran Purbaya menyambar wajah Agung Sedayu dengan tatap mata yang lekat.

Agung Sedayu tetap duduk tenang dan tidak menambah keterangan lagi.

Malam bergerak semakin larut tapi regol kediaman Pangeran Purbaya belum juga terbuka. Ki Wira Sentanu bergeser selangkah dari batang sawo kecik lalu kembali berhenti.

Dia melihat kelompok peronda melintasi jalan di depan kediaman. Pergantian regu jaga pun begitu jelas dilihat olehnya tanpa terhalang kabut yang mulai mengendap, tapi Agung Sedayu belum tampak keluar dari rumah Pangeran Purbaya.

Hingga kemudian seorang penjaga kediaman menutup gerbang dari dalam dengan sedikit celah.

Ki Wira Sentanu menggeram.

Sungguh, dia tidak menduga bahwa Pangeran Purbaya yang terkesan berseberangan dengan Agung Sedayu, malam itu, justru seakan berubah sikap. Pikirnya, jika seseorang berseberangan pendapat maka tidak sewajarnya dapat berlama-lama dengan orang yang berbeda dengannya. Tapi, ini?

Apakah Pangeran Purbaya selama ini memasang dua wajah di hadapannya? Apakah ada kejujuran dari pangeran Mataram itu setiap muncul nama Agung Sedayu dalam pembahasan?

Sejenak dia merenung agak mendalam. Pilihan yang ada pada dirinya adalah menemui Ki Panji Suralaga, tapi bagaimana jika Agung Sedayu keluar dari kediaman? Pada siapa dia bertanya? Sedangkan meminta pengawal kediaman memanggil Ki Panji Suralaga itu jelas seperti membuka kedoknya sendiri. Buat apa seorang pelayan memanggil seorang panji? Apakah dunia sudah terbalik?

“Baiklah, aku akan menunggu sampai Agung Sedayu keluar dari kediaman,” kata Ki Wira Sentanu dalam hati.

Di beranda samping rumah Pangeran Purbaya, kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Agung Sedayu seolah mengingatkan Pangeran Purbaya tentang adanya sesuatu yang mulai menampakkan diri. Sejumlah orang tanpa ragu memperlihatkan kelemahan Agung Sedayu, tapi ternyata senapati Mataram ini justru mampu menjaga keadaan tanpa harus hadir di Tanah Perdikan.

 Orang-orang dekat Agung Sedayu, baik yang berasal dari barak pasukan khusus maupun barisan pengawal, ternyata dapat menjalankan kehendaknya di lapangan dengan baik. Kenyataan itulah yang kemudian menyingkap sudut lain dari Agung Sedayu di mata Pangeran Purbaya.

“Ki Patih Mandaraka dan Nyi Banyak Patra ternyata mendahuluiku dalam beberapa hal,” ucap Pangeran Purbaya dalam hati.

Percakapan seolah terhenti tanpa diminta, bahkan ketika Pangeran Purbaya menyentuh perang tanding Pancuran Watu Item di dalam benaknya.

Dia berpikir bahwa itu sebenarnya bukan semata pertarungan yang melibatkan sesama murid Kyai Gringsing.

Di dalam pengamatannya, kitab peninggalan Kyai Gringsing itu dapat berkembang menjadi jauh lebih berbahaya daripada sekadar perebutan ilmu di kalangan orang-orang berilmu tinggi. Kabar tentang kesaktian yang menyertainya dapat menjadi panggilan yang tersebar tanpa suara, mengundang orang-orang dari berbagai penjuru untuk datang ke Menoreh dengan kepentingan mereka masing-masing. Jika itu terjadi, Tanah Perdikan Menoreh dapat menjadi ajang pembuktian setiap orang, setiap aliran ilmu dan juga perebutan pengaruh antarperguruan kanuragan.

Akan tiba waktunya sesuatu yang sanggup merobek keamanan dan melukai ketenangan di Tanah Perdikan, pikiran Pangeran Purbaya pun mengarah pada satu keadaan.

Namun Pangeran Purbaya juga melihat kemungkinan yang lebih jauh daripada itu. Kitab Kyai Gringsing dapat berubah menjadi pusat pengaruh yang perlahan mengikat banyak orang dalam satu kehendak, lalu menggerakkan mereka menuju arah tertentu. Dan apabila pengaruh semacam itu jatuh ke tangan orang yang berkeinginan besar, maka guncangannya tidak lagi berhenti pada dunia persilatan, tapi dapat menjalar hingga melahirkan kelompok-kelompok yang bergerak di luar kendali Mataram. Selanjutnya mereka dapat tumbuh menjadi ancaman yang pada akhirnya harus dihadapi sebagai pemberontakan terbuka.

Pangeran Purbaya pun terbawa kembali pada gambar masa lalu: pengakuan dapat menjadi api yang membakar sebuah negeri. Raden Atmandaru bangkit menentang kekuasaan karena menyebut dirinya darah Panembahan Senapati.

Demak pun pernah terguncang oleh hasrat untuk menentukan yang paling berhak berdiri di puncak kekuasaan.

Di belakang semua itu, sering kali yang bergerak bukan kenyataan, tapi keyakinan orang-orang terhadap sebuah pengakuan dan kemauan mendapatkan itu dari banyak orang.

Maka percakapan pun terhenti tanpa diminta.

Baik Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu larut dalam pikiran masing-masing.

Begitu hening dan sunyi meski kadang terdengar suara kesibukan dari ruangan lain. Tapi suasana di beranda itu sanggup meremas jantung seseorang tanpa memandang kedudukan. Pelayan atau rangga dapat berkeringat dingin sambil berdiri dengan lutut bergetar.

“Ki Tumenggung,” kata Pangeran Purbaya memecah keheningan dengan suara tenang. “Anda lebih baik bermalam di sini. Besok kita dapat bersama-sama menghadap Sinuhun.”

“Saya, Pangeran,” sahut Agung Sedayu sembari mengangguk.

Dua pelayan datang atas panggilan Pangeran Purbaya untuk mempersiapkan bilik yang menjadi tempat Agung Sedayu beristirahat.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 4 – Pangeran Purbaya Sedang Menguji Agung Sedayu?

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 7 – Malam Panjang Ki Wira Sentanu: Menunggu Keputusan yang Bisa Mengguncang Rencananya!

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.