Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 9 – Misteri di Dalam Kereta Pangeran Purbaya

Malam temaram dan kabut seolah menjadi teman setia yang baik hati terhadap Ki Wira Sentanu di sudut jalan. Orang ini menguatkan tekad untuk menunggu hingga Agung Sedayu keluar dari kediaman Pangeran Purbaya.

Namun ketika pagi tiba, ketika orang-orang belum banyak yang melakukan kegiatan, dada Ki Wira Sentanu justru serasa dihantam sesuatu yang lebih dahsyat dari lontaran tenaga cadangan.

Dia melihat kereta kuda Pangeran Purbaya meluncur keluar dari regol tanpa pengawalan, tapi dia tidak melihat Agung Sedayu meninggalkan kediaman putra Panembahan Senapati itu. Sama sekali tidak melihatnya!

Sesaat pikiran Ki Wira Sentanu berkecamuk hebat dan liar. Dia juga merasa wajahnya seperti dilempar sandal kayu oleh pikirannya sendiri.

Dia merasa yakin dan mantap dengan keputusannya untuk menunggu, tapi kenyataan yang terjadi pada pagi itu justru menyatakan hal yang berbeda dengan keinginannya.

Bahwa semalaman dia membeku di sudut jalan hanya untuk menunggu sesuatu yang mungkin dapat terjadi atau tidak pernah terjadi.

Timbul dugaan bahwa Agung Sedayu mungkin berada di dalam kereta bersama Pangeran Purbaya, atau bahkan telah meninggalkan kediaman itu lewat jalan lain tanpa pernah diketahuinya.

Keringat dingin merayap di tengkuknya ketika melintas bayangan Sunan Agung. Mungkinkah mereka pergi menghadap Sinuhun pada pagi itu?

Seandainya Agung Sedayu di dalam kereta bersama Pangeran Purbaya, lalu, apa yang terjadi selanjutnya pada nasibnya yang sudah begitu dekat dengan Sunan Agung? Apakah masih dapat mengubah rencana Sinuhun agar berhenti membuat senjata? Apakah akan berhenti dari perenungan mendalam sejak dinobatkan sebagai penguasa Mataram? Apakah akan berhenti dari keinginan menata ulang tanah Jawa?

Ki Wira Sentanu sedikit merasa sulit untuk bernapas. Tiba-tiba dia terserang pening dengan sebab yang sulit dinalar: Agung Sedayu!

Perondaan Ki Demang Brumbung Bersama Pangeran Selarong

Ki Demang Brumbung memacu kuda dengan kecepatan sedang menyusuri jalan yang mulai lengang. Malam di Kotaraja belum benar-benar tidur, tetapi kesibukan telah banyak berkurang. Beberapa kelompok peronda melintas bergantian dengan langkah teratur, sementara cahaya obor di sudut-sudut jalan bergoyang kecil diterpa angin malam.

Sekali-sekali Ki Demang Brumbung menarik napas panjang. Pergaulannya dengan Agung Sedayu ternyata mempengaruhi dirinya saat menghadapi permasalahan. Sikap tenang Agung Sedayu pada saat genting, kecermatan membaca medan dan menentukan tindakan itu benar-benar membuka seluruh ruang pikirannya.

“Kematian Ki Wedoro Anom sudah jelas cukup berat dibicarakan langsung dengan Pangeran Purbaya, tapi itu tidak mungkin dapat dihindari,”gumamnya lirih. “Tapi membangkitkan kecurigaan pada seseorang atau kelompoh sudah hampir pasti tidak akan diungkapkan oleh beliau secara terbuka.’

Kuda tunggangannya kemudian berbelok memasuki jalan yang lebih lebar menuju barak pengawal raja. Dari kejauhan mulai tampak regol barak dengan beberapa obor menyala terang di kanan kiri pintu gerbang. Suasana di sana jauh lebih sunyi dibanding bagian kota lain. Lebih dekat pada kesan angker sehingga orang tanpa kepentingan atau keperluan sudah pasti menjauh.

Masih cukup jauh dari gerbang, sekitar lima belas langkah, Ki Demang Brumbung melompat turun lalu berjalan hingga berhenti di depan gerbang.

Seorang pengawal yang berjaga segera mengenali tanda kepangkatan yang dipasangnya beberapa saat sebelumnya. “Ki Rangga.”

Ki Demang Brumbung yang sebenarnya berpangkat rangga kemudian membalas mengangguk pendek. Pandangan matanya menyapu halaman depan barak yang cukup sepi.

“Mohon bantuan untuk disampaikan Pangeran Selarong, Ki Demang Brumbung ingin bertemu,” katanya tenang.

Pengawal itu tampak sedikit terkejut. Permintaan yang tidak biasa, pikirnya. Tapi dia kemudian berkata, “Baik, Ki Demang. Silakan menunggu sebentar.”

Ki Demang Brumbung menyerahkan tali kekang kuda serta senjatanya pada seorang prajurit muda, lalu menunggu dengan tenang di samping gardu jaga yang berada di balik gerbang barak.

Tidak lama kemudian, langkah seseorang terdengar dari arah dalam. Seorang anak muda berperawakan sedang dengan tubuh yang tidak menonjolkan otot berjalan cepat mendekat ke regol barak.

Pangeran Selarong melangkah mendekat dengan ayunan tenang. Sorot matanya yang tajam sempat berhenti sesaat pada wajah Ki Demang Brumbung sebelum kemudian berubah lebih hangat.

“Ki Demang datang dari jauh pada malam-malam begini?” katanya disertai senyum mengembang.

Hubungan mereka tampak dekat sehingga nyaris tidak ada sekat dalam perkataan.

Ki Demang Brumbung membungkuk hormat secukupnya. “Saya justru khawatir mengganggu waktu beristirahat Pangeran.”

Pangeran Selarong tertawa pendek. “Khawatir tapi tetap mendatangi barak pengawal raja yang hampir tidak mengenal waktu tidur dan mimpi indah.”

Ki Demang Brumbung tersenyum kecil. “Agaknya kekhawatiran itu lebih baik ditidurkan saja.”

Sesaat tegur sapa ramah itu berhenti.

“Pergantian jaga,” sahut Pangeran Selarong sambil menoleh sekejap ke halaman dalam. “Kadang justru lebih sibuk ketika malam mulai dalam.”

Ki Demang Brumbung tidak memberi tanggapan, hanya matanya saja yang memandang arah yang sama.

Beberapa prajurit sedikit menekuk lutut ketika melintas di dekat dua orang itu.

Pangeran Selarong kemudian berkata, “Ki Demang tentu tidak datang hanya untuk melihat pergantian jaga di barak lalu menikmati wedang jahe dan ketumbar.”

“Saya, Pangeran.”

“Marilah, kita masuk ke dalam.”

Pangeran Selarong bergerak pelan, memberi jalan.

Ki Demang Brumbung pun melangkah mengikuti Pangeran Selarong memasuki bagian dalam barak pengawal raja yang diterangi obor dan lampu-lampu minyak.

Mereka lantas duduk berhadap-hadapan ketika seorang pengawal pergi meninggalkan ruangan usai menyajikan wedang hangat.

“Silakan, Ki Demang,” ucap Pangeran Selarong setelah mereka berdua menikmati minuman jahe hangat itu.

“Sepertinya saya tidak perlu meneangkan ulang smua yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Demang Brumbung.

“Bagaimana jika saya juga tidak mengatakan segala yang berkembangi di Keraton maupun Kepatihan?” balas Pangeran Selarong dengan sedikit nada canda.

Tawa kecil menghiasi udara di dalam ruangan itu.

“Pangeran,” sambung Ki Demang Brumbung. “Saya tidak ingin berkeluh kesah mengenai barak pasukan khusus yang tidak pernah memberikan tugas ringan.”

Pangeran Selarong mengangguk.

“Lereng Gunung Kendil, untuk sementara dapat dianggap aman setelah perondaan ketiga yang kami lakukan beberapa hari yang lalu,” ucap Ki Demang Brumbung lalu menarik napas sejenak. “Sebagian dari penghuni lereng, sudah dipastikan adalah bekas pengikut Raden Atmandaru, tapi mereka sudah dibersihkan.”

Ki Demang Brumbung tidak mengatakan telah ditahan atau sebagian terbunuh. Itu sama dengan mengungkit tahanan perang yang sudah ada di barak.

“Tapi sebagian penghuni lereng Kendil yang bukan pengikut Raden Atmandaru bergerak ke arah Gunung Kunir.”

“Apakah sudah dipastikan mereka bakal mendirikan permukiman baru di tempat itu atau Ki Gede sudah berjaga-jaga?” tanya Pangeran Selarong. Sekejap kemudian, tangannya terangkat seolah sedang teringat sesuatu.

“Yang bukan pengikut Raden Atmandaru, mereka tidak dibersihkan?” Pertanyaan dari Pangeran Selarong itu tepat membidik inti percakapan yang akan diutarakan Ki Demang Brumbung.

“Tidak, mereka diizinkan pergi bebas oleh Nyi Pandan Wangi,” jawab Ki Demang Brumbung tapi perasannya sedikit gundah saat mengucapkan nama putri Ki Gede tersebut. Bukan bermaksud mengadukan keputusan Pandan Wangi karena keputusan itu memang wewenang penuh Tanah Perdikan, tapi mengiringkan izin bebas itu dengan pengusiran? Dapat meninggalkan kesan bahwa Menoreh bersikap lunak dan itu bisa berakibat buruk.

“Oh, tentu saja beliau mempunyai alasan kuat di balik izin bebas itu,” ucap Pangeran Selarong. “Setidaknya beliau telah menutup kemungkinan sejak awal bergabungnya kembali orang-orang itu di sebuah jalan atau daerah lainnya. Kita tidak tahu.”

Ki Demang mengangguk, katanya, “Jalur yang menghubungkan Kendil dengan Ringinlarik serta pedukuhan induk, termasuk Dusun Benda memang sudah diawasi oleh Ki Sanggabaya. Jadi jalur yang tersisa memang yang mengarah ke Gunung Kunir saja.”

Pangeran Selarong bergumam pelan, “Mungkinkah itu, menurut Ki Demang, Nyi Pandan Wangi memutuskan secara kebetulan tanpa pertimbangan? Karena, saya pikir, beliau sengaja memaksa mereka ke sana tanpa ada pihak yang sadar. Di Gunung Kunir, dengan paksaan yang berselubung izin, Menoreh dapat lebih mudah mengawasi. Orang-orang itu tidak akan berkembang liar meski tetap ada kemungkinan keadaan kembali kacau. Tapi, sekali lagi, keputusan Nyi Pandan Wangi tidak dapat disalahkan tapi memang kesan yang terlihat adalah sikap lunak Menoreh. Saya akan berada dalam keputusan yang sama dengan beliau karena keyakinan: barak sudah menimbang kemungkinan terburuk yang dapat terjadi di Gunung Kunir.”

”Saya, Pangeran,” sahut tegas Ki Demang Brumbung.

Pangeran Selarong menggeser duduknya sejengkal, lalu berkata, “Sikap lunak itulah yang kemudian dibaca kelemahan barak oleh sebagian orang di Kotaraja. Tidak hanya Keraton tapi juga muncul di sejumlah barak yang mengitari kota.”

“Itulah yang menjadi salah satu sebab kecemasan saya sebagai prajurit di barak pasukan khusus Menoreh.”

Sesaat suasana menjadi hening.

Ki Demang Brumbung yang menahan diri karena sedang menimbang peristiwa pembunuhan Ki Wedoro Anom kemudian bertanya, “Pangeran, bagaimana mungkin orang membaca pergeseran gunung kunir itu sebagai kelemahan? Barak sudah mengawasi dalam jarak dekat meski belum pada pemberian teguran.”

“Orang hanya melihat bahwa Menoreh belum bertindak, barak masih berdiam diri padahal kita tahu Ki Gede dan Ki Tumenggung tidak mungkin mematung. Tapi, Ki Demang, yang dibutuhkan dan diinginkan orang adalah tindakan,” ucap Pangeran Selarong lalu mengakkan punggung. “bukan pengawasan diam-diam atau pengintaian.”

“Saya dapat mengerti, Pangeran.”

“Nah, sekarang, apakah Ki Gede atau Ki Tumenggung Agung Sedayu sudah menyampaikan sesuatu melalui Ki Sanggabaya? Atau mungkin langsung pada Ki Demang sendiri?”

“Saya? Saya hanya diperintahkan mengikuti Pangeran dalam perondaan hingga kami kembali ke Tanah Perdikan.”

“Kami? Apakah itu Ki Demang tidak datang sendiri?”

“Tidak, Pangeran. Malam ini, Ki Tumenggung menghadap Pangeran Purbaya di kediaman. Satu orang lagi, Sukra, sedang menuju Sangkal Putung untuk menengok keluarga Ki Tumenggung.”

“Oh, itu berita baik,” seru Pangeran Selarong tanpa menyembunyikan perasaannya mendengar kedatangan Agung Sedayu di Kotaraja.

Ki Demang Brumbung mengangguk sambil membatin: seorang pangeran muda tetaplah seorang anak muda yang sering jujur dengan perasaannya sendiri.

“Baiklah, baiklah,” lanjut Pangeran Selarong dengan nada sedikit gembira. “Saya penuhi perintah Ki Tumenggung.”

Dia bangkit berdiri lalu berkata, “Marilah, Ki Demang . Kita meronda dengan satu regu pengawal raja.”

Perondaan dilakukan pada malam itu juga. Satu regu pengawal raja, terdiri dari empat prajurit, bergerak pelan di bawah cahaya bulan yang remang-remang. Angin malam membawa aroma jerami basah yang dibakar agak jauh di luar kota.

Iring-iringan peronda itu mengarah ke arah barak pengamanan ibukota, yang terletak di pinggir kota. Salah satu pemimpin regu di barak itu adalah Ki Panji Suralaga, saudara seperguruan Ki Wira Sentanu. Meski begitu, Ki Demang Brumbung belum mengetahui tujuan Pangeran Selarong sehingga, baginya, perjalanan ini hanyalah ronda malam biasa.

“Ki Demang,” ucap Pangeran Selarong pelan dengan sungguh-sungguh. “Saya tidak mengetahui pasti suasana dalam barak, tapi yang terjadi di Kotaraja mungkin cermin dari keadaan di sana.”

Ki Demang Brumbung mengerutkan kening lalu menoleh sekilas pada Pangeran Selarong.

“Mungkin karena terjadi hampir bersamaan dengan kabar lelayu Ki Patih Mandaraka sehingga desakan itu belum terasa sampai Tanah Perdikan,” kata Pangeran Selarong.

“Mohon maaf, Pangeran. Saya sama sekali belum mendapat gambaran dari yang Panjenengan sampaikan.”

Pangeran Selarong mengangguk, menahan napas sebentar lalu berkata. “Di Keraton, beberapa orang membicarakan Tanah Perdikan yang dianggap lemah bersikap.”

Alis Ki Demang Brumbung tertarik ke bawah. “Tanah Perdikan, apakah itu dapat saya artikan bahwa mereka mengarahkan telunjuk pada pengawal dan juga pasukan khusus.”

“Entahlah,” ucap Pangeran Selarong lalu menarik napas panjang dan dalam-dalam. “Pembicaraan mereka begitu kuat menggema meski suasana berkabung masih belum meninggalkan Kepatihan dan Keraton.”

“Apakah Ki Tumenggung sudah mengetahui keadaan itu?”

Pangeran Selarong cepat menoleh pada Ki Demang Brumbung. “Kita sama-sama tahu cara Ki Tumenggung. Andaikata beliau tahu atau misalnya sudah mendengar sendiri, apakah kita juga pasti tahu yang akan beliau lakukan?”

Pangeran Selarong memandang nyala lampu minyak yang bergoyang tertiup angin malam dari samping.

“Yang membuat saya cemas…,” kata Pangeran Selarong, “pendapat itu tidak hanya di Kepatihan maupun Keraton. Orang-orang membicarakan kelemahan itu di barak prajurit yang tersebar di Kotaraja. Lebih buruk lagi, Sinuhun telah mendengarnya.”

Ki Demang Brumbung menarik napas.

“Bahkan,” lanjut Pangeran Selarong, “Pangeran Purbaya pun telah menerima kabar yang sama. Mereka mendengar banyak suara yang menganggap Tanah Perdikan terlalu lunak, terlalu lama menahan diri dan sebagainya yang semuanya mengarah pada sosok Ki Tumenggung.”

“Lalu?” tanya Ki Demang Brumbung pendek.

“Belum ada keputusan.” Pangeran Selarong mengangkat wajahnya, tengadah. “Meski ada kecenderungan, saat itu, Paman Pangeran berdiri di seberang Ki Tumenggung. Setidaknya sampai saat ini belum ada penetapan sikap dari Sinuhun.”

“Nyi Banyak Patra,” ucap Pangeran Selarong singkat.

Ki Demang Brumbung segera paham ketika nama itu disebut oleh pangeran Mataram itu. Dia diam sejenak. Rahangnya mengeras. Kemudian bertanya pelan, “Siapa mereka?”

Pangeran Selarong memandangnya lekat-lekat.

“Siapa yang mulai meniupkan pendapat itu di Keraton?” ulang Ki Demang Brumbung.

Pangeran Selarong masih menatap wajah Ki Demang Brumbung, kemudian menggelang.

Ki Demang Brumbung menahan perasaannya yang bergolak, lalu bertanya lagi, “Mengapa ada yang harus dirahasiakan sementara saya adalah bawaha langsung Ki Tumenggung?”

“Sebab saya mengenal Anda, Ki Demang.” Nada suara Pangeran Selarong merendah, tetapi justru terdengar semakin berat. “Kesetiaan Anda pada Paman Sedayu sudah teruji oleh waktu dan peristiwa.”

Ki Demang Brumbung tidak menyahut.

“Anda dapat bergerak bebas menjalankan perintah Ki Tumenggung meski itu hampir tidak masuk akal atau Ki Demang tidak mendapatkan keterangan lain,” lanjut Pangeran Selarong. “Anda hampir selalu berhasil menuntaskan perintah meski Ki Tumenggung tidak merincinya.”

“Apakah saya tampak gegabah di depan Pangeran?” tanya Ki Demang Brumbung.

“Tidak.” Pangeran Selarong menggeleng. “Tetapi kesetiaan Ki Demang justru jauh lebih berbahaya daripada kemampuan seseorang yang memiliki ilmu yang setara dengan Ki Tumenggung. Satu sikap keras dari Ki Demang, saya yakin, itu akan membuat orang lebih berani memberi penilaian buruk pada Tanah Perdikan. Saat ini, semua bawahan langsung Paman Sedayu sudah dianggap sebagai tindakan dan pemikiran Paman Sedayu.”

Ki Demang Brumbung menghembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jalan basah di bawah telapak kakinya.

“Untuk itulah, saya ajak Ki Demang meronda ke tempat ini,” kata Pangeran Selarong.

Ki Demang menajamkan penglihatan, menembus kabut tipis, pada bangunan yang tampak seperti bayangan hitam yang dikitari sejumlah kecil oncor.

“Itu barak dari pasukan pengamanan ibukota,” desah Ki Demang Brumbung.

“Di situlah salah satu orang yang Ki Demang tanyakan  berada dan bertugas,” sahut Pangeran Selarong tenang. “Ki Demang bukan orang yang ceroboh dan gegabah, tapi saya hanya membayangkan seandainya dua orang yang sama-sama mempunyai pasukan tiba-tiba saling menabrakkan kekuatan di sini?”

“Tentu saya tidak sejauh dan seberani itu, Pangeran.”

“Jika bukan Anda, orang lain dapat melakukannya,” kata Pangeran Selarong. “Bahkan Ki Patih pun dibidik sesaat setelah meninggalkan kediaman. Saya tidak ingat, apakah waktu itu Ki Demang Brumbung atau Ki Lurah Plaosan yang berada di dalam kereta? Tapi kejadian itu menandakan bahwa masih terbuka kemungkinan kita sedang dikelilingi oleh orang yang pendek perhitungan.”

Bibir Ki Demang Brumbung terkatup rapat, sementara matanya tetap memandang ke arah barak pasukan pengamanan ibukota yang berdiri suram di balik kabut malam.

Beberapa oncor yang tergantung di gardu depan bergerak-gerak kecil tertiup angin. Cahaya kekuningan itu membuat bayangan para prajurit yang berjaga tampak memanjang di tanah basah.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 8 – Lencana yang Hilang Mengubah Kecurigaan Pangeran Purbaya

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 2 – Ki Wira Sentanu Tidak Sendiri Ketika Agung Sedayu Menjadi Sasaran Dendam

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 7 – Malam Panjang Ki Wira Sentanu: Menunggu Keputusan yang Bisa Mengguncang Rencananya!

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.