Perguruan di lereng Kendil. Langkah Ki Wedoro Anom terhenti beberapa tombak dari batas luar permukiman. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat agar barisan berhenti. Derap kaki serentak mereda. Bebera...
Pada hari yang ditentukan oleh Ki Rangga Sanggabaya, di halaman timur, sejumlah prajurit berbaris rapi dengan senjata, panji dan rontek dalam genggaman. Mereka tidak lebih dari tiga puluh orang. Di sa...
Hari berikutnya, dalam waktu yang hampir bersamaan dengan rencana Ki Sanggabaya bicara dengan sebagian orang, Ki Gede dan Pandan Wangi duduk di bagian dalam kediaman. Suasana tenang mengalir pelan sep...
Dalam perjalanannya kembali ke Kepatihan, Nyi Ageng Banyak Patra memikirkan ucapan cucunya, Sunan Agung. “Ada rencana yang tetap mereka jalankan, dan itu berhubungan dengan kitab Kyai Gringsing. Tentu...
Matahari belum jauh tergelincir ketika Pangeran Purbaya menerima izin Sunan Agung agar datang menghadap. Beberapa persoalan sudah berada di dalam kepalanya termasuk urusan Agung Sedayu. Hanya dua oran...
Angin pagi berhembus sejuk ketika matahari menebarkan panas yang dapat membangunkan peronda yang ketiduran di gardu jaga. Pembicaraan kemudian beralih ke langkah-langkah yang mungkin dapat ditempuh—si...
Hampir berbarengan dengan habisnya waktu lawatan Ki Gede dan Pandan Wangi di Dusun Benda, Sayoga dan Sukra mundur dari tempat pengintaian ketika senja hampir berlalu. Mereka menempuh jalur yang berbed...
Malam turun dengan sedikit percakapan. Ki Wiraditan, di depan sebagian orang lereng Kening, bercerita tentang kejadian di Jati Anom. Dia mengatakan bahwa sebenarnya Perguruan Orang Bercambuk di ...
Satu hari, dua hari. Waktu terus bergulir seiring persiapan yang dilakukan di lereng Gunung Kendil. Iring-iringan Ki Astaman keluar meninggalkan Dusun RInginlarik dengan kaki melenggang tanpa beban. M...
Pasukan khusus bergerak serempak. Mereka mundur dengan tertib dari sela-sela bangunan, kembali mendekati regol dan bagian luar permukiman, tetapi tidak sepenuhnya melepaskan kepungan pandang. Sikap me...








