Kekacauan di jalur selatan berkembang ke arah yang semakin nggrigisi. Selendang api itu kembali meraung. Lingkaran panas yang menyertainya semakin rapat, semakin berat. Setiap kibasan tidak lagi sekad...
Pagi datang dengan aba-aba yang jelas. Ki Wira Sentanu menyeberangi kali ketika cahaya mulai cukup untuk melihat dasar arus. Kudanya menaiki lereng landai dengan tangkas. Bukan kuda perang tapi rupany...
Pada laga yang sedang berlangsung di jalur selatan, suasana tidak kalah mencekam dengan gelanggang Swandaru. Debu-debu dan butiran tanah yang padat terlontar karena getaran tenaga yang terpancar dari ...
Pada waktu sepekan itu, Jalutama benar-benar menunjukkan kecakapannya sebagai seorang ahli waris Sima Menoreh. Rancangan disusun sedemikian rinci, dari gelar perang hingga tenaga untuk pengobatan. Seg...
Pandan Wangi hampir saja terperangah mendengar nama Swandaru disebut sebagai pemimpin permukiman. Tapi ketahanan jiwani putri Ki Gede itu memang luar biasa. Keterkejutan itu sangkat singkat hingga sul...
Ki Sanak yang budiman. Di balik setiap bab yang Anda baca tanpa biaya, ada sebuah kehidupan yang terus berdenyut. Padepokan Witasem berkomitmen untuk menjaga agar kisah-kisah silat ini tetap dapat dia...
Di akhir masa pemerintahan Sri Baginda Kertajaya, dua anak muda dari perguruan Begawan Purna Bidaran tumbuh menjadi sosok yang disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah Toh Kuning dan Ken Arok—dua sa...
Di mana Ki Astaman? Yah, orang ini tidak melontarkan diri pada pergumulan hebat di halaman. Setelah berpisah dari Ki Garjita, Ki Astaman mengambil jalan memutar, mengarahkan perhatiannya pada tempat l...
Laskar gabungan yang dipimpin Pandan Wangi di sayap timur mulai berhasil mendesak mundur orang-orang perguruan bayangan. Pasukan ini bertarung dengan cara yang telah menjadi napas mereka; berkelompok ...
Pada bagian depan atau di dekat regol permukiman, Ki Wedoro Anom melangkah masuk, menyaksikan pertempuran lebih dekat. Dia berdiri beberapa langkah dari pinggir tanah lapangan yang digunakan orang-ora...








