Dironda 18 kali
Perjalanan Pangeran Benawa di lereng dan lembah Merbabu memasuki bagian yang semakin mendebarkan. Terpisah dari orang-orang yang dikenalnya, putra Pajang itu harus berhadapan dengan alam liar, kesunyian, dan bahaya yang tidak selalu datang dalam bentuk yang dapat diduga.
Namun Merbabu ternyata tidak sekadar menguji keberaniannya.
Di tengah keadaan yang memaksanya bertahan seorang diri, sesuatu yang selama ini tersimpan dalam diri Pangeran Benawa perlahan mulai menemukan jalannya. Kemampuan yang sebelumnya belum sepenuhnya dikenali pun muncul justru ketika keselamatan dirinya berada di ujung ancaman.
Sementara itu, jejak-jejak yang tertinggal di sekitar lembah membawa Ki Kebo Kenanga semakin dekat. Tetapi semakin dekat pencarian itu pada tujuannya, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Apakah Pangeran Benawa benar-benar sedang berada dalam bahaya, atau justru Merbabu tengah membawanya menuju sebuah pengalaman yang kelak sulit dilupakan?
Di antara hutan, lereng gunung, dan dinginnya malam, sebuah perjumpaan yang tidak biasa pun menanti. Perjumpaan yang pada akhirnya berubah bentuk menjadi sesuatu yang tidak terduga.
Lembah Merbabu mengajarkan pada Pangeran Benawa untuk melewati batas antara rasa takut, keberanian, dan kemampuan yang belum sepenuhnya dipahaminya—sementara seseorang dari kejauhan mulai menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di lembah itu.
- Pada awal suatu malam, aku dapat melihat bahwa di lereng Merbabu pun perpisahan itu menemui ujung perjalanan.
- Jauh sebelum pangeran Pajang itu terdampar di lereng Merbabu, aku duduk di atas kursi batu dengan hiasan kepala naga yang tepat berada di atas dua pundakku. Aku adalah Dyah Murti dan kau dapat membaca perjalananku melalui prasasti Nir Wuk Tanpa Jalu 3.
- Kau dapat pula membuka Bara di Bukit Menoreh 8, lalu biarkan pikiranmu terbuka saat membaca “Agung Sedayu sudah membaca bahwa Sukra seakan-akan membiarkan dirinya terdesak tapi tetap menjaga agar tubuhnya tidak tersentuh senjata Simbara.”
