Padepokan Witasem
Langit Hitam majapahit, silat Bondan, Padepokan Witasem, Gajah Mada, Majapahit
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 1

Penculikan

Demikianlah yang terjadi di pusat kotaraja ketika Laksa Jaya sedang menemui Ki Cendhala Geni di balairung keraton Kahuripan. Laksa Jaya telah mengutarakan semua rincian rencana di depan Ki Cendhala Geni dan Ubandhana. Ki Cendhala Geni pun meminta Ubandhana segera bersiap berangkat pada malam hari sehingga pekerjaan itu dapat dimulai besok ketika pagi telah tiba. Ubandhana tidak keberatan dengan permintaan itu.

Laksa Jaya segera undur diri dan kembali menuju barak prajurit Majapahit di Wringin Anom.

*******

loading...

Keesokan harinya setelah memperoleh keterangan dari seorang penduduk yang ia jumpai di jalan, Ubandhana disertai Ibhakara segera berjalan dengan cepat menuju rumah Ki Demang di Wringin Anom.

Dari jarak sekitar sepuluh langkah, dua orang penjaga berhasil dilumpuhkan tanpa suara dengan senjata rahasia Ibhakara yaitu mata tombak berukuran jari kelingking orang dewasa. Secepat kilat kedua orang ini melintasi jalan dan melayang dengan cepat memasuki rumah Ki Demang. Mereka segera menuju bilik pustaka sesuai keterangan yang diberikan oleh Laksa Jaya. Arum Sari roboh pingsan sebelum menuntaskan pertanyaannya pada tamu tak diundang karena satu jari Ibhakara yang bergerak cepat menotok jalan darahnya. Tanpa kesulitan, kedua orang ini membawa keluar perempuan muda itu dari bilik pustaka.

“Hei! Berhenti!” Seorang peronda memergoki sesaat mereka keluar dari pintu bilik. Ibhakara melepaskan dua mata tombak kecil menembus tenggorokan,  prajurit itu roboh.

Ubandhana melayang melewati tembok yang menjadi dinding halaman rumah Ki Demang.  Begitu ringan dan cepat sekalipun Arum Sari berada di pundaknya. Mereka berdua berlari cepat melintasi padang rumput yang tak begitu luas, lalu menghilang di lembah kecil tempat mereka menambatkan kuda. Dari situ, mereka akan menyusuri jalan kecil menuju pantai di ujung timur daratan.

Kejadian yang begitu cepat ini berjalan tidak sesuai harapan Ubandhana. Satu teriakan seorang perempuan memecah keheningan dan mengguncang seisi bangunan. Seorang pelayan yang tengah berjalan menuju bilik pustaka terkejut mendapati seorang pengawal tergeletak bersimbah darah. Teriakan-teriakan segera bersahutan hingga terdengar oleh Patraman. Ia segera menuju bilik pustaka.

“Ki Lurah! Arum Sari telah diculik!”

“Suruh beberapa orang mengawasi jalan utama. Yang lain, segera melapor pada Rajapaksi  agar menutup jalan ke barat. Kita paksa mereka menuju Trowulan. Jangan biarkan mereka lolos!” Patraman segera memacu kuda ke arah yang ditunjukkan seorang pengawal. Patraman melakukan pengejaran beserta empat orang pengawal yang menguasai ilmu sebanding dengan sepuluh orang.

Setelah melintasi perbatasan Kademangan Wringin Anom, Patraman memerintahkan mereka untuk menyebar ke beberapa padukuhan kecil yang berada di sekitar kademangan. Ia sendiri berbalik arah menuju pendapa kademangan.

Menjelang senja Patraman terlihat memasuki halaman pendapa kademangan. Sejumlah orang terlihat sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Ketika ia sudah berada di pendapa maka yang pertama terlihat olehnya adalah Rajapaksi berurutan selanjutnya Ki Demang, Ki Jagabaya dan beberapa pemimpin pengawal serta para pemimpin dari padukuhan sekitar Wringin Anom.

Ki Demang segera mengawali pembicaraan dengan pemimpin pasukan. Para bekel padukuhan pun turut menyuarakan pendapat saat diminta oleh Ki Demang atau lurah prajurit. Sejumlah rencana pencarian untuk menyelamatkan Arum Sari terus dibicarakan hingga menjelang malam.

Patraman dengan cerdik menggunakan pertemuan itu untuk menegaskan kemampuannya. Ia bersoal jawab dengan pengawal kademangan, bekel-bekel padukuhan dan Rajapaksi. Malam itu Patraman seolah ingin memberi bukti bahwa ia lebih pantas menjadi satu-satunya tokoh panutan. Bahkan ia seperti meminggirkan keberadaan Ki Demang setelah merasa cukup dengan keterangan yang diperolehnya dari Rajapaksi,

Patraman  segera minta diri untuk mengatur pengejaran. “Bagaimanapun penculikan ini adalah tanggung jawabku sebagai pimpinan tertinggi pasukan Majapahit di Wringin Anom ini. Tentu aku tidak akan menyerah begitu saja tetapi aku akan kerahkan juga bantuan dari ibu kota, Ki Demang.”

“Memang sebaiknya begitu, Ki Lurah Patraman. Meskipun kejadian ini bukanlah harapan setiap orang yang ada di pendapa ini, tetapi semestinyalah kita meningkatkan penjagaan serta pengawasan yang lebih ketat di kademangan,” demikian kata Ki Demang sambil menutup pertemuan.

Wedaran Terkait

Penculikan 9

kibanjarasman

Penculikan 8

kibanjarasman

Penculikan 7

kibanjarasman

Penculikan 6

kibanjarasman

Penculikan 5

kibanjarasman

Penculikan 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.