Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 27

Tombaknya berputar-putar meliuk-liuk menghantam setiap bagian pertahanan Ken Banawa. Angin yang tergerak karena tombaknya makin berdesir kencang. Ken Banawa tidak menyangka bahwa angin dari tombak lawannya itu sanggup menyakiti kulitnya.

Demikianlah Ken Banawa akhirnya harus mengimbangi serangan demi serangan Ubandhana yang semakin menggila. Lingkaran mereka semakin bergeser mendekati sungai kecil yang berada tak jauh dari rawa-rawa. Ken Banawa tentu akan mencegah tubuhnya terjatuh ke tebing sungai.

Oleh karena itu ia mencari celah kelemahan serangan lawannya. Bersamaan dengan itu ketika ia melihat kelemahan Ubandhana, dengan cepat Ken Banawa menjulurkan satu pukulan ke bawah ketiak musuhnya. Ubandhana menyadari ada bagian yang terbuka lalu dengan cepat ia melontar ke samping . Dan secepat anak panah ia meloncat menuruni tebing.

Ken Banawa menimbang sesaat ketika Ubandhana melepaskan diri darI ikatan perkelahian. Senapati ini berpikir bahwa mengejar lawannya bukanlah tujuan utama mereka.

“Aku harus melepasnya! Yang terpenting adalah mengembalikan keamanan di wilayah,” Ken Banawa berkata pada dirinya. Ia berbalik arah nuntuk melihat keadaan Arum Sari.

“Anak setan!” Ki Cendhala Geni mengumpat Ubandhana yang melarikan diri dari pertempuran. Namun kemudian senyumnya mengembang.  Tanpa diduga kedua lawannya, ia menghantamkan kapak berturut-turut ke permukaan tanah.

Dalam sekejap tanah berhamburan, melesat ke arah Gumilang dan Bondan. Serangan mendadak ini sangat membahayakan keduanya. Debu dan butiran tanah segera menghambur menutup mata serta wajah, menyapu seluruh bagian depan mereka. Kulit mereka terasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum. Bondan dan Gumilang segera melentingkan tubuh satu putaran ke belakang.

Ketika dua lawannya menjauh, Ki Cendhala Geni segera melesat meninggalkan rawa-rawa. Bondan melihatnya, ia mengejar Ki Cendhala Geni ke arah sungai. Sekalipun begitu, luka-luka di pundaknya masih mengalirkan darah begitu deras, akhirnya Bondan harus menghentikan langkahnya. Ia hanya melihat lawannya berlari cepat melintasi permukaan sungai menuju tebing sebelah selatan, lalu menghilang di balik rerimbun semak kering.

“Sungguh hebat. Siapa lagi yang dapat melakukan hal semacam itu?” gumam Bondan dalam hatinya ketika melihat Ki Cendhala Geni menjejak kaki di atas permukaan air sungai.

Di tempat yang berbeda, Ken Banawa segera memerintahkan para pengawal untuk merawat yang terluka meskipun itu dari pihak Laksa Jaya.  Ia juga memerintahkan sebagian pengawal untuk merawat mayat yang terbunuh. Kemudian berjalan mendekati Arum Sari yang masih dicekam perasan tidak menentu.

“Arum Sari, keadaan sudah aman bagimu dan segera kami mengantarmu ke Wringin Anom,” kata Ken Banawa perlahan.

Dari balik mata yang penuh gelisah, gadis ini tidak langsung memandang Ken Banawa. Suaranya bergetar.

“Siapa engkau, Ki Sanak?” bertanya Arum Sari.

“Ken Banawa.” Kemudian senapati ini mengeluarkan potongan besi berbentuk lingkaran dengan ukiran prajurit Majapahit. “Engkau mengenali apa yang ditanganku?” ia bertanya sambil menjulurkan benda itu lebih dekat pada Arum Sari.

“Ya.” Arum Sari menjawab perlahan lalu memberi tanda bahwa tangannya terikat. Sedikit banyak ia mengenal ciri khusus keprajuritan karena sering melihat prajurit Majapahit melakukan pertemuan di banjar kademangan.

“Terima kasih, Ki Banawa. Saya akan sampaikan ini kepada ayah. Dan secara pribadi saya harap ayah sudi mengundang para prajurit terutama Ki Banawa untuk mengucap terima kasih,” kata Arum Sari terisak. Dadanya terasa lapang dan lega karena telah bebas dari cengkeraman serigala dan anjing liar. Seperti itulah ia mengingat Patraman dan Laksa Jaya di kemudian hari.

Related posts

Leave a Comment