Padepokan Witasem
Bab 3 Pangeran Benawa

Pangeran Benawa 3

Pangeran Benawa yang belum menginjak lima belas tahun telah menjadi saksi kehidupan di dalam istana Pajang. Banyak orang mengatakan bahwa ia akan menjalani hidup di atas orang kebanyakan sebagai seorang putra adipati. Namun Ki Buyut Mimbasara membentenginya dengan kesederhanaan. Kehidupan di padepokan Ki Buyut mungkin telah melampaui pengertian sederhana bagi Pangeran Benawa. Oleh karena itu, ia dapat mencerna wejangan guru kehidupan yang juga disebut orang sebagai Ki Kebo Kenanga. Kekuatan hati Pangeran Benawa tidak serta merta membuatnya dapat memusnahkan keinginan untuk bertahta.

“Pangeran,” kata Ki Buyut Mimbasara, “bukan sesuatu yang dapat disalahkan ketika orang mempunyai hasrat kuat untuk berkuasa. Tentu ia mempunyai tujuan dan pasti telah menyiapkan rancangan dalam pikirannya. Begitu pula keadaanmu di masa mendatang. Engkau tidak akan berbeda dengan orang kebanyakan, tetapi cara pandangmu adalah pangkal dari pendapat orang. Mereka akan menduga dengan berbagai prasangka tanpa perlu mengetahui siapa dirimu sebenarnya.

“Engkau harus tahu bahwa keadaan seperti itu telah kakek lewati di masa lalu. Letak bintang seolah menetap di sepanjang waktu meski sebenarnya ia terus menerus bergerak. Ketika orang mengira aku telah mati, sebenarnya kebenaran telah bersembunyi cukup rapat.”

“Saya sedang dan sering berpikir mengenai perkara itu, Eyang,” suara Pangeran Benawa mengalun lirih. Kemampuannya berolah pikir benar-benar mengagumkan. Kitab-kitab kuno yang berada di istana Pajang telah berjalan di bawah kedua matanya. Pergaulannya dengan aksara-aksara yang rumit membawa pengaruh besar pada perkembangan pemahamannya. Dengan sebab-sebab yang ditemuinya setiap hari, Pangeran Benawa telah menjangkau wawasan orang-orang yang berusia dua kali darinya.

“Nyatakanlah.”

“Dari banyak kitab yang terhimpun di perpustakaan istana, saya mencari tahu alasan orang-orang yang mengatakan bahwa Eyang mati terbunuh.”

Ki Buyut Mimbasara menarik panjang sudut bibirnya sambil manggut-manggut. “Lalu?”

Pangeran Benawa menggeleng. “Saya belum menemukan itu. Tetapi, andai alasan itu ada, rasanya sulit untuk mengerti di balik kabar kematian Kakek.”

KI Buyut Mimbasara segera bangkit dari tempat duduknya, mengajak Pangeran Benawa berjalan menyusur kaki pegunungan yang diidamkan oleh cucu buyutnya itu. Girang hati Pangeran Benawa dengan ajakan kakeknya.

Sejak usianya merambat menuju angka lima, Pangeran Benawa telah berada di bawah gemblengan Ki Buyut Mimbasara. Nyaris semua kepandaian dan wawasan kakek buyutnya itu dapat diserapnya dengan baik. Ketajaman nalarnya menjadikan segala pemberian ilmu Ki Buyut Mimbasara serasa mudah. Walau sering kali ia didera kesulitan untuk memahami atau mewujudkannya dalam olah gerak, daya ingat Pangeran Benawa adalah karunia kekuatan yang berlebih. Sangat mengagumkan!

Dalam perjalanan mereka, diam-diam, Ki Buyut Mimbasara bersyukur memiliki murid seperti Pangeran Benawa. Ia melimpahkan seluruh kasih pada cucu satu-satunya. Meski demikian, gelisah betah berdiam di ceruk hatinya. Bagi Ki Buyut, pertanyaan Pangeran Benawa mengenai alasan tentang kabar kematiannya adalah sesuatu yang sulit dijelaskan pada anak seusia cucunya.

Lembah di lereng Merbabu begitu sunyi. Seolah mengerti perasaan lelaki yang pernah melewati masa sulit dengan Syeh Siti Jenar maupun Raden Fatah. Melalui arak-arakan mendung tipis, lembah Merbabu seolah ingin berkata, “Nyatakan kesedihan pada setiap batang pepohonan.”

Mata Ki Buyut terpaku, sepertinya ia dapat mendengar suara yang datang dari lembah yang membentang di hadapannya. Kemudian ia tersenyum lalu mendesis, “Jaka Wening akan mencari tahu sekeras usahanya untuk memecahkan Lembu Sekilan.”

Related posts

Leave a Comment