Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 7

Matahari bergerak di antara kesenyapan dan perlahan membenamkan diri di balik garis semesta. Awan berpendar merah mengiringi kepergiannya yang akan kembali esok hari. Hari beranjak gelap saat mereka tiba di tepi Jatipurwo.

“Paman,” kata Gumilang sambil menunjuk sebuah tempat. “Apakah Anda melihat api di sana?”

Pandangan Ken Banawa mengikuti telunjuk Gumilang. “Kita berhenti. Kita bergerak dalam kelompok kecil!” Tangan Ken Banawa memberi is-yarat untuk berhenti.
“Bondan, Gumilang! Pergilah dengan beberapa orang.
“Bondan! Ambil jalan memutar dan tempatkan kedudukanmu di belakang mereka. Engkau dapat mengawasi jalur sungai kecil yang berada di belakangmu.
“Gumilang, dekati mereka dari jarak selemparan panah namun jangan lebih dekat lagi.
“Dua orang tetap di sini untuk mengawasi semuanya dan arahkan kuda-kuda ini ke arah pertarungan bila kalian melihat tanda dariku!” Ken Banawa mengatakan itu di depan pasukannya. Ketegasan memancar sangat jelas dari raut wajahnya.

“Baik, Tuan!” Dua prajurit segera menuntun delapan belas kuda itu dengan cekatan dan terampil.
Ken Banawa mengatur siasat dengan cepat sambil meraih busurnya, kemudian berjalan diikuti tiga orang di belakangnya. Mereka mengambil jalur sebelah barat. Bondan segera berlari-lari kecil dengan lima orang prajurit menyusuri jalan kecil di sebelah timur rawa-rawa. Dan Gumilang tetap berada di tempat dengan lima prajurit. Mereka akan bergerak maju menyerbu dengan tanda yang akan diberikan oleh Ken Banawa.
Tak kurang dari jarak dua lemparan panah, Bondan berhenti di bawah sebuah pohon yang besar. Malam yang remang dengan sinar bulan, dibantu dengan nyala api unggun, membuat Bondan sedikit lega karena dapat lebih jelas melihat bayangan tubuh Ubandhana.

“Rebahlah!” bisik Bondan pada empat prajurit yang menyertainya. Mereka mengikuti perintah Bondan dengan saling menatap mata ke-bingungan, empat orang itu tidak melihat atau mendengar sesuatu yang mendekati tempat mereka Tetapi telinga Bondan mendengar derap kaki kuda yang dipacu dengan cepat mendekati mereka. Sejenak kemudian, kelima orang ini melihat dua penunggang kuda yang tiba di seberang sungai.

Seseorang melayang terlebih dahulu di atas permukaan air, disusul temannya yang mengapung lebih rendah di belakangnya. Ketika orang pertama hampir mencapai bagian tengah sungai, orang kedua segera menjulurkan tangannya untuk dijadikan pijakkan oleh orang pertama.
Seketika kaki kanan orang pertama menginjak telapak tangan itu, tubuhnya dengan ringan kembali melesat tinggi sambil menjulurkan pedang yang segera diraih oleh temannya itu. Dalam waktu hampir bersamaan kedua orang ini telah mencapai bibir sungai yang dekat dengan letak pengintaian Bondan.

Melihat ilmu meringankan tubuh serta dan kerjasama yang dipertunjukkan kedua orang itu, Bondan berdecak kagum. “Sungguh ketepatan dan dan keseimbangan kedua orang itu menunjukkan ketinggian ilmu mereka,” gumam Bondan dalam hati.

Mereka berjalan cepat menghampiri Ubandhana yang berada di dekat api unggun.
“Siapa kalian?” Ubandhana mengarahkan tombak kepada dua orang yang baru saja datang.
“Tenang, Ubandhana. Aku Laksa Jaya. Dan ia adalah Patraman” kata Laksa Jaya kemudian melepas penutup muka yang dipakainya.
Ubandhana menatap lekat seorang lelaki muda yang beralis tebal dan bertubuh agak gempal. ”Laksa Jaya, kita berpisah di sini. Mana janjimu?”
“Tidak, Ubandhana. Aku akan berikan janjiku jika Ki Cendhala Geni telah berada di sini dan Arum Sari berada dalam pengawasan kami.”

Ubandhana mengumpat lalu ia berkata dengan kasar, ”Baiklah, kita tunggu kedatangan Ki Cendhala Geni.” Ia berjalan mendekati Arum Sari kemudian bersila. Patraman mengikutinya, berjalan di belakang Ubandhana.
“Apa yang akan kau lakukan, Patraman?” tanya Ubandhana menoleh belakang.
“Aku ingin melihat keadaan Arum Sari, Ubandhana.”
Kelebat mata Ubandhana menyisir Patraman dari bawah ke bagian kepala. Ia sedikit mendengus namun membiarkan pemimpin prajurit itu melangkah di belakangnya.

Di tengah suasana remang-remang, Patraman melihat wajah Arum Sari terlihat sedikit kusut karena kurang istirahat, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Justru Patraman makin terpukau melihat wajah tanpa sedikitpun rias menempel pada kulitnya.
Sekali-sekali terdengar isak gadis itu perlahan memecah kesunyian.
“Patraman,” desis Arum Sari penuh geram ketika melihat lelaki muda yang berjalan di balik punggung Ubandhana. Gadis ini menatap penuh marah pada pemimpin prajurit di Kademangan Wringin Anom.
“Kini kau bersamaku. Tak perlu ada lagi yang engkau perlu takutkan. Engkau aman bersamaku di sini.”

Related posts

Leave a Comment