Padepokan Witasem
Bab 9 Penyelamatan

Penyelamatan 2

“Bukankah kau yang bernama Toh Kuning?” bertanya seorang prajurit jaga.

“Benar.”

“Benarkah kau melarikan diri dari peperangan?”

Toh Kuning menggeleng. Ia menjawab,”Aku tidak melarikan diri dari medan perang. Aku memilih tempat untuk berperang.”

“Itu tidak merubah penilaian orang lain padamu,” kata prajurit itu.

“Aku tidak peduli,” tukas Toh Kuning. Lalu lanjutnya, ”Dapatkah aku bertemu dengan pemimpinmu?”

Prajurit itu menggelengkan kepala. Jawabnya, ”Katakan keperluanmu sehingga aku tidak perlu membuat malu diriku sendiri dengan menerimamu sebagai tamu.”

“Kau akan menyesal jika sikapmu mempersulit kami. Dan akhirnya membawa bencana besar bagi Kediri.”

“Bencana itu adalah dirimu, Toh Kuning.”

“Diam!” bentak seorang pengawal Toh Kuning.

Prajurit jaga itu segera merundukkan tombaknya, namun pengawal Toh Kuning berbuat lebih cepat saat merampas senjata prajurit itu.

“Kau rupanya,” tegur seorang perwira yang bertubuh besar dengan ramah. ”Marilah, kau tentu merasa lelah.”

Toh Kuning berpaling dan membungkuk hormat pada perwira jaga yang baru saja memasuki gardu jaga. “Terima kasih, Ki Lurah,” kata Toh Kuning kemudian memerintahkan kawannya untuk mengembalikan senjata prajurit yang dirampas olehnya.

“Sekarang kau dapat utarakan keperluanmu, Ki Lurah,” berkata perwira itu dengan ramah.

“Sekelompok orang datang kemari untuk membawa keluar Sri Baginda,” kata  Toh Kuning lalu melirik keluar gardu jaga.

“Oh, bagaimana mungkin ia menembus ke dalam istana dalam penjagaan ketat seperti ini?”

“Mereka adalah orang yang ingin meraih kemenangan dengan telak. Dan orang-orang ini mempunyai kemampuan lebih tinggi dari pasukan khusus Selakurung,” kata Toh Kuning.

“Dan kalian dari pasukan khusus Selakurung datang ke sini untuk menyelamatkan Sri Baginda?”

Toh Kuning mengangguk.

Perwira itu memandang bergantian pada Toh Kuning dan kedua kawannya. Ia berkata heran, ”Tiga orang pasukan khusus datang ke kotaraja untuk menghadang rencana penculikan. Hei, apakah aku dalam keadaan tidak sadar?”

“Benar,” sahut seorang pengawal Toh Kuning yang tidak sabar dengan perlakuan berbelit-belit dari para prajurit jaga.

“Tutup mulutmu!” bentak perwira itu.

“Maafkan aku, Ki Lurah,” pengawal Toh Kuning berkata, ”memang benar bahwa kalian tidak sadar dengan bahaya yang akan melanda istana.”

Perwira itu berpaling pada Toh Kuning. Kemudian Toh Kuning mengangguk kepala lalu katanya, ”Salah seorang dari mereka akan melumat habis lima puluh orang dari kalian. Dan maksudku adalah kau dapat segera memberi tahu para pengawal raja untuk memasang dinding rintang. Karena dinding rintang itu akan memberi kita waktu untuk membawa keluar Sri Baginda keluar istana.”

“Baiklah, aku harap kau tidak melakukan kesalahan dengan kabar berita ini,” kata perwira itu sambil bersungut-sungut.

Namun sebelum ia melangkah keluar dari gardu, tiba-tiba terdengar hiruk pikuk di bagian dalam halaman istana. Perwira itu melihat dari celah pintu gerbang dan ia terperanjat saat melihat orang-orang dengan ciri khusus telah berada di balik gerbang. Mereka sedang dikeroyok sejumlah prajurit yang berdatangan karena mendengar keributan di bagian depan. Meskipun demikian, kehadiran pengikut Ki Barungga yang berhasil menerobos memasuki halaman istana telah mempengaruhi kejiwaan para prajurit penjaga. Maka dengan cepat mereka dapat merebut keseimbangan pertempuran di halaman depan.

Perbedaan jumlah ternyata tidak mempengaruhi keseimbangan pertempuran karena kelompok orang yang dipimpin Ki Barungga mempunyai kepandaian di atas rata-rata prajurit Kediri.

Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi tidak seimbang. Satu per satu prajurit Kediri roboh bersimbah darah. Mereka tidak dapat mendesak kelompok Ki Barungga karena yang terjadi justru kelompok Ki Barungga membuat dinding rintang menjadi porak poranda seperti diterjang badai.

Namun Toh Kuning tidak ingin melihat kelompok itu dapat menguasai keadaan, maka dua orang prajurit dari pasukan khusus diperintahkannya untuk memasuki lingkaran pertempuran. Ternyata kehadiran dua orang dari Selakurung ini menjadikan pertempuran semakin sengit. Prajurit jaga dapat segera merasakan perbedaan yang nyata. Kini mereka mulai dapat mendesak lawan-lawannya karena Toh Kuning telah mengikat Ki Barungga dalam satulingkar perkelahian satu lawan satu.

“Gandrik!” Ki Barungga mengumpat kasar ketika melihat Toh Kuning telah menghadang gerakannya. Didorong oleh rasa tanggung jawab yang tinggi atas keselamatan rajanya, Toh Kuning segera menggebrak dengan dahsyat. Sebenarnya Ki Barungga merasa jerih dengan kehadiran Toh Kuning. Ia sebelumnya telah meyakini Ken Arok akan memenangkan perang tanding melawan Toh Kuning. Kemudian ia mengajak orang lainnya untuk meneruskan rencana sebelumnya. Namun sekarang, melihat kehadiran Toh Kuning, ia beralih pikiran bahwa Ken Arok mati dalam perang tanding. Maka ia begitu saja menyerahkan diri pada prajurit Kediri. “Mengapa Ken Arok begitu bodoh lalu mati mengenaskan?” Ki Barungga melemparkan senjata lalu  mengulurkan dua tangannya.

Related posts

Penyelamatan 3

kibanjarasman

Penyelamatan 1

kibanjarasman

Leave a Comment