Nagasasra dan Sabuk Inten

Nagasasra dan SabukInten 13 – Perkelahian Mahesa Jenar vs Lawa Ijo

Sementara itu Lawa Ijo telah mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Di dalam hati ia memuji juga keuletan Jaka Soka yang pada akhir tahun ini akan bersama-sama mengadakan semacam pertandingan dengan beberapa orang lainnya, termasuk dirinya.   Diam-diam ia merasa mendapat keuntungan dengan kejadian itu. Sebab dengan demikian ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Jaka Soka, yang pada akhir tahun ini pasti akan menjadi salah seorang lawannya yang berat. Karena itu sejak pertempuran berkobar, perhatiannya terikat kepada setiap gerak Jaka Soka.

Tetapi setelah pertempuran itu berlangsung agak lama, Lawa Ijo menangkap gerak-gerak yang menarik perhatiannya dari lawan Jaka Soka. Maka segera perhatiannya beralih. Gerak orang ini demikian tenang, kokoh dan tangguh. Pastilah ia bukan orang sembarangan. Sesaat kemudian mendadak Lawa Ijo terkejut sekali sampai ia meloncat selangkah ke depan. Matanya dengan tajamnya mengawasi setiap gerak Mahesa Jenar sampai matanya seolah-olah mau meloncat dari kepalanya. 

Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu pada gerak-gerak Mahesa Jenar. Gerakan-gerakan yang pernah dilihatnya, bahkan pernah dialami kedahsyatannya. Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, secepat sambaran halilintar, ia meloncat maju ke tengah-tengah arena pertempuran. Sementara itu dengan nyaringnya mulutnya berteriak, “Jaka Soka, minggirlah!” 

 Baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar serentak terkejut mendengar seruan itu. Apalagi ketika mereka melihat bahwa Lawa Ijo telah meloncat ke tengah-tengah mereka. Maka sesaat pertempuran itu terhenti, dan tanpa berjanji lebih dahulu, mereka bersama-sama meloncat selangkah surut. Wajah Jaka Soka masih merah membara sebagai ungkapan kemarahan yang menyala di dalam dadanya. 

 “Lawa Ijo, apalagi yang kau maui dariku sehingga kau hentikan perkelahian ini. Meskipun aku tidak segera dapat membunuh orang yang sombong ini, tetapi aku sudah bertekad untuk melayani sampai berapa hari pun, bahkan bertahun-tahun sampai salah seorang dari kami hancur,” kata Jaka Soka. 

 “Kau benar Soka, tetapi sudah aku katakan, bahwa daerah ini adalah daerahku, sehingga kaupun harus menurut angger-angger-ku,” sahut Lawa Ijo. 

 Jaka Soka memandang Lawa Ijo dengan mata yang menyalakan api kemarahan.  “Apalagi yang kau kehendaki dariku?” katanya. 

 “Aku tak menghendaki apa-apa lagi daripadamu, Soka, kecuali serahkan orang ini kepadaku,” jawab Lawa Ijo. 

 Mata Jaka Soka bertambah berapi-api lagi.  “Lawa Ijo, apakah kau sudah memandang aku sedemikian rendahnya sehingga kau perlu menolong aku?” kata Jaka Soka lagi. 

 Lawa Ijo mendengus pendek. Sambil menggeleng ia berkata, “Sama sekali tidak, kawan. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, bahwa yang aku hadiahkan kepadamu hanyalah gadis itu saja. Dan sekehendakmulah kalau yang lain-lain akan kau bunuh. Tetapi orang ini tidak. Sebab aku sendirilah yang akan membereskannya.” 

 Mendengar ucapan Lawa Ijo itu, wajah Jaka Soka menjadi semakin menyala. Giginya gemeretak dan tubuhnya menggigil menahan marah. Dengan suara gemuruh ia menjawab, “Aku bukan perempuan yang perlu perlindungan laki-laki. Buat apa aku menerima hadiah dari seekor kelelawar busuk seperti tampangmu itu? Lawa Ijo… jangan coba merendahkan aku.” 

 Meskipun wajah Lawa Ijo nampaknya jauh lebih buas dari wajah Jaka Soka yang tampan itu, namun ternyata kepala Lawa Ijo agak lebih dingin. Karena itu ia sama sekali tidak menunjukkan kegusarannya mendengar kata-kata Jaka Soka itu. Bahkan ia masih menjawab dengan tenang meskipun tampak pula kegarangannya. “Jaka Soka, aku tidak peduli atas tanggapanmu terhadap permintaanku. Serahkan orang itu kepadaku. Sebab aku mempunyai urusan yang lebih penting dari urusanmu. Urusanku menyangkut nama baik dan harga diri perguruanku, sedang urusanmu hanyalah urusan perempuan itu saja.” 

 Oleh keterangan Lawa Ijo yang terakhir itu, nyala kemarahan Jaka Soka menjadi surut. Sedang pancaran matanya yang berapi-api itu pun segera redup dan membayangkan keheranan. Tanyanya kemudian,”Kau katakan bahwa kau mempunyai urusan dengan orang ini perkara perguruanmu?” 

 Lawa Ijo mengangguk, Jaka Soka menjadi bertambah heran. Dan tanpa disengaja ia memandang Mahesa Jenar. Baru sekarang ia memperhatikan lawannya itu dengan saksama. Tubuhnya tegap kekar. Dadanya bidang. Meskipun ia berwajah lunak, tetapi pandangan matanya memancarkan kecermelangan pribadinya. “Pantas bahwa aku tak dapat menjatuhkannya. Siapakah orang ini?” pikir Jaka Soka.  Pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Jaka Soka. 

 Dan sekaligus semua telinga yang berada di sekitar arena itu segera memperhatikan. Sebab pertanyaan yang demikian itu timbul pula di setiap hati orang menyaksikan pertempuran itu. Bahkan di antara mereka telah timbul harapan baru, setelah mereka menyaksikan kridha orang yang mereka anggap tidak lebih dari seorang perantau. Lebihlebih sepasang suami-istri yang telah merasa terlanjur menyuruh orang itu membawakan beban mereka. 

 Maka semua perhatian pada saat itu tertambat pada mulut Lawa Ijo yang akan menjawab pertanyaan Jaka Soka. 

 Sementara itu terdengarlah Lawa Ijo tertawa pendek. Kemudian barulah ia menjawab,  “Jaka Soka… jangan kau terkejut kalau aku mengucapkan nama orang ini. Ia adalah orang yang telah membunuh adik seperguruanku kemarin lusa. Watu Gunung. Dan yang tidak akan pernah aku lupakan, orang ini pernah pula melukai bagian dalam dadaku.” 

 Berdebarlah setiap jantung mereka yang mendengar kata-kata ini. Pastilah orang ini bukan orang sembarangan. Tidak terkecuali Jaka Soka. Sudah sejak lama ia mengenal Lawa Ijo. Dan pernah pula ia berkelahi melawan orang ini. Tetapi tak pernah salah seorang dari mereka berdua dapat mengatasi yang lain. Kalau orang ini pernah melukai Lawa Ijo pastilah ia memiliki kesaktian yang tinggi. 

 Kemudian terdengarlah Lawa Ijo melanjutkan kata-katanya, “Sayang bahwa ia tidak bersikap perwira. Ia menyerang aku pada saat aku sedang meloncat turun dari atap gedung perbendaharaan istana Demak.” 

 Hati Mahesa Jenar melonjak mendengar sindiran Lawa Ijo. Ia sama sekali tak mau menerima keterangan itu. Sebab pada saat ia menyerang Lawa Ijo, ia sedang berusaha untuk melindungi Gadjah Alit yang justru diserang oleh Lawa Ijo dengan sikap yang tidak perwira. Kecuali Lawa Ijo tidak menyerang dari depan, juga pada saat itu Gadjah Alit sedang dikerubut oleh tiga orang. Tetapi meskipun demikian ia tidak merasa perlu melayani fitnah itu. Karena itu ia diam saja. 

Dalam pada itu, Jaka Soka pun segera teringat bahwa memang Lawa Ijo pernah bercerita kepadanya, tentang luka yang dideritanya pada saat ia berusaha memasuki gedung perbendaharaan di Demak. Karena itu sebelum Lawa Ijo menyebut nama Mahesa Jenar, ia mendahului berteriak,“Lawa Ijo, kalau demikian inikah orangnya yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar Rangga Tohjaya yang terkenal itu?” 

 Mendengar nama itu tergetarlah perasaan mereka yang pernah mengenal kebesarannya. Lebih-lebih para pengawal dan para pedagang yang datang dari pesisir utara. Tetapi dalam pada itu, dalam dada masing-masing terbersitlah semacam harapan baru yang menjadi semakin teguh, bahwa jiwa mereka akan tertolong. Karena itu menjadi semakin besarlah hati mereka. Selain itu para pengawal kemudian telah bersiap pula terjun ke dalam pertempuran seandainya Lawa Ijo dan Jaka Soka akan bersama-sama menyerang Rangga Tohjaya. 

 Tetapi rupanya Lawa Ijo tidak akan berbuat demikian. “Jaka Soka, karena itulah aku minta kerelaanmu untuk membuat perhitungan dengan Rangga Tohjaya ini. Sebab aku mempunyai dugaan, bahwa ia pun sedang mencari aku. Maka sebaiknya kami tidak menyia-nyiakan pertemuan ini,” kata Lawa Ijo. 

 Sekarang, setelah mengerti persoalannya, Jaka Soka tidak lagi merasa direndahkan oleh Lawa Ijo. Ia pun menganggap bahwa sikap Lawa Ijo yang demikian itu adalah wajar. Karena itu ia menjawab, “Sekehendakmulah Lawa Ijo. Sebab daerah ini adalah daerahmu. Tetapi urusan gadis itu akan tetap menjadi urusanku, meskipun aku akan menunggu sampai kau selesai. Kalau kau tak berhasil dalam usahamu untuk membalaskan dendam adikmu, aku akan juga membuat perhitungan dengan orang ini. Sebab ia dengan sengaja telah mempermainkan aku ketika ia bersama-sama dengan para pengawal yang mengerubut aku.” 

“Bagus. Sekarang minggirlah,” desis Lawa Ijo. Sesudah itu maka Lawa Ijo menghadap ke arah Mahesa Jenar. Matanya yang sudah memancarkan kekejaman serta kebengisan itu menjadi bertambah mengerikan. “Tohjaya, bersiaplah. Aku akan membuat perhitungan,” ujar Lawa Ijo geram. 

 Mahesa Jenar tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat, tetapi ia maju beberapa langkah mendekati Lawa Ijo dengan sikap yang meyakinkan dan penuh kepercayaan pada diri sendiri. 

 Sementara itu langit telah menjadi semakin cerah. Angin pagi yang bertiup lambatlambat menggoyangkan daun-daun pepohonan dan membuat suara berdesir diantara cabang-cabangnya. Suaranya merintih, seolah-olah suara lagu yang mengiringi ratapan hati setiap orang yang menyaksikan permainan maut antara Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya dengan Lawa Ijo. Dua orang yang sama-sama terkenal dari aliran yang berlawanan, yang pada saat itu sedang mengadakan perhitungan hutang pihutang nyawa. 

 Namun betapa moleknya wajah pagi, tak seorang pun yang berada di sekitar arena pertempuran itu sempat memperhatikan. Bahkan tak seekor burung pun di tempat itu yang sempat berkicau menyambut datangnya matahari. 

 Seperti Jaka Soka, Lawa Ijo pun tak akan merendahkan dirinya melawan Mahesa Jenar dengan mempergunakan senjata. Tetapi setelah ia mengembalikan tongkat hitam Jaka Soka, ia tidak menitipkan belati panjangnya, melainkan dengan kekuatan jari-jarinya, belatinya itu dipatahkan, dan kemudian dilemparkan jauh-jauh. Mau tidak mau, mereka yang menyaksikan pertunjukan itu hatinya terguncang. 

 Segera setelah itu, maka dengan suatu suitan nyaring, Lawa Ijo mulai menyerang lawannya. Kedua tangannya direntangkan dan jari-jarinya siap merobek tubuh lawannya. Dengan suatu loncatan yang dahsyat, ia menyambar kepala Mahesa Jenar. 

 Mahesa Jenar sadar bahwa apabila serangan ini mengenai sasarannya, maka ia yakin bahwa kepalanya akan dapat berlubang sedalam jari. Sebelum ini, Mahesa Jenar pernah bertempur dengan Lawa Ijo, karena itu ia tidak dapat mengira-ngirakan kekuatannya, meskipun ia yakin bahwa selama ini pastilah Lawa Ijo telah mendapat tambahan yang tidak sedikit. Melihat serangan Lawa Ijo yang dahsyat itu, segera Mahesa Jenar merendahkan dirinya, tetapi sekaligus dengan tangannya ia menyerang perut lawannya dengan empat jari. 

 Sebenarnya Lawa Ijo sadar bahwa serangannya yang pertama pasti tak akan mengenai sasarannya. Karena itu ia selalu waspada, sehingga ketika ia melihat serangan Mahesa Jenar, dengan tangkasnya pula ia menghindarkan diri. Ia menarik sebelah kakinya ke belakang dan berputar sedikit. Kemudian sambil merendahkan diri ia menghantam tangan Mahesa Jenar dengan sikunya. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau tangannya disakiti. Ia segera menarik serangannya dan mendadak ia meloncat setengah langkah surut, tetapi demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melontarkan dirinya ke samping Lawa Ijo, dan dengan tumitnya ia menghantam lambung. 

 Lawa Ijo terkejut melihat gerakan ini. Kaki Mahesa Jenar bergerak demikian cepatnya. Tetapi Lawa Ijo pun mempunyai cukup pengalaman. Segera ia merendah hampir rata tanah, tetapi demikian ia merendah, kakinya secepat kilat menyambar betis Mahesa Jenar. 

 Sekarang Mahesa Jenar yang berada dalam keadaan yang sulit, selagi satu kakinya terangkat. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cukup tenang, sehingga dalam keadaan yang nampaknya demikian sulitnya ia masih sempat mengelakkan diri. Dengan sebelah kakinya ia menjejak tanah dan meloncat tinggi. Dengan satu gerakan kakinya, Mahesa Jenar dapat mengubah arah, sehingga tubuhnya terjatuh kembali beberapa depa dari lawannya. 

 Lawa Ijo menjadi marah melihat serangan-serangannya yang dilakukan dengan segenap tenaganya itu sama sekali tak berhasil. Karena itu segera ia pun menyerang kembali dengan dahsyatnya. Tangannya, dengan sepuluh jari yang kokoh bergerak menyambarnyambar dari segala arah. 

 Mereka yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpaku seperti patung. Hati mereka terpukau oleh pertunjukan maut yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya. 

 Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak batang-batang kayu yang patah terhantam, baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh Lawa Ijo. Sedang tanah tempat mereka bertempur, seolah-olah telah berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dari segala tumbuhtumbuhan. 

 Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin hebat. Tampaklah betapa hebatnya mereka berdua. Sampai sekian lama tidak nampak siapakah diantara keduanya yang lebih unggul. Lawa Ijo bertempur dengan penuh dendam akan pembalasan, sedangkan Mahesa Jenar bertempur dengan suatu tekad yang telah bulat pula, melenyapkan kejahatan sampai ke akarnya. 

 Demikian dahsyatnya pertempuran itu, sehingga waktu berjalan cepat sekali. Dengan tak terasa, matahari telah miring rendah di ufuk barat. Seolah-olah sengaja mempercepat jalannya untuk menghindari kesaksian, bahwa di tengah-tengah hutan Tambak Baya telah terjadi suatu pergulatan maut yang mengerikan. 

 Daerah pedalaman hutan yang selamanya tak pernah menerima cahaya matahari sepenuhnya itu, kini telah kembali suram. Cahaya matahari yang sudah semakin lemah, tidak mampu lagi menembus sepenuhnya kelebatan daun-daun pepohonan rimba yang liar dan pekat itu.  

 Dua orang perkasa yang sedang bertempur mati-matian itu pun nampak tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki ketahanan jasmaniah yang luar biasa. Baik Mahesa Jenar maupun Lawa Ijo memang pernah mengalami pertempuran sampai berhari-hari. Kali ini mereka telah mengerahkan segala tenaga mereka. Setelah hal itu berlangsung hampir sehari penuh, terasalah bahwa kemampuan mereka mulai menurun. 

 Dalam hal ini, yang lebih merasa gelisah adalah Lawa Ijo. Perasaannya dibebani oleh dendam yang tiada taranya. Sejak dirinya dilukai di halaman Kraton Demak, ia sudah berjanji di dalam hatinya, bahwa pada suatu saat ia harus membinasakan orang yang telah melukainya itu. Ditambah lagi, orang itu pula yang telah membunuh adik seperguruannya. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menghancurlumatkan orang ini. Tetapi ternyata, setelah sekian lama ia merendam diri serta mencecap ilmu gurunya yang sakti, Pasingsingan, dengan penuh semangat, namun sudah sehari ia bertempur masih belum ada tanda-tandanya bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya, apalagi membinasakan. Karena itu ia menjadi tidak sabar lagi. Tujuannya hanyalah secepat mungkin membinasakan Rangga Tohjaya. Dengan demikian barulah ia merasa puas. 

 Untuk mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai Kelabang Sayuta. 

 Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin, tetapi belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang. 

 Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali, demikian terjadi beberapa kali. 

 Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu. 

 Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi buta namun tidak kurang pula berbahayanya. 

 Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila, kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya. Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil. 

 Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar. 

 Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula. 

 Ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan kecil. Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.! 

Seterusnya, tidak hanya rasa perih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi pucat seputih mayat. 

 Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheranheranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh,

Kisah Terkait

Nagasasra dan Sabuk Inten 8 – Bayang-bayang Lawa Ijo: Kekosongan Kekuasaan di Hutan Tambak Baya

kibanjarasman

Nagasasra dan SabukInten 15 – Perkenalan Mahesa Jenar dengan Rara Wilis

kibanjarasman

Nagasasra dan Sabuk Inten 10 – Kemunculan Lawa Ijo

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.